
Kediaman Malik.
Cheval yang sudah siap dengan pakaian rapi nya kini menunggu sang adik keluar dari kamar nya, tak berapa lama Sindy keluar dengan seragam blazer kebesaran nya dan ia menggunakan bando pagi ini.
Cheval sampai terpana menatap sang adik yang sangat cantik dari segi mana pun bahkan jika dilihat dari puncak Monas sekali pun.
Sindy yang sedari tadi di tatap terus oleh sang kakak mengabaikan nya, ia harus siap mental satu mobil dengan Cheval pagi ini. Saat berada satu mobil dengan nya Sindy hanya menatap ke arah luar jendela saja, bahkan ia tidak mau berbicara sedikit pun dengan Cheval.
"Apa tidak capek diam tanpa berbicara dengan ku." Menata sekilas Sindy yang berada di samping kemudi nya.
Sindy hanya menggeleng kan kepala nya lagi dan membuat kepala Cheval seakan mau meledak di diami seperti ini, padahal baru saja rukun sekitar 2 bulan namun kini hubungan nya kembali memanas.
"Maaf kan aku oke, aku janji tidak akan menggangu privasimu lagi mulai hari ini." Cheval menghenti kan laju kendaraan nya di area depan sekolah Sindy, dengan segera Sindy keluar tanpa berterima kasih atau pun berucap satu dua huruf saja.
Seperti biasa Sindy mendapat sambutan dari para penggemar nya dan itu membuat Dhela merasa cemburu sekali, kenapa Sindy yang hanya seperti itu jadi primadona sekolah ini bahkan para mahasiswa juga mengidola kan nya di tambah lagi Cheval sang pujaan juga berpihak pada nya.
Dhela yang sedari tadi panas dingin melihat Sindy yang berpenampilan menarik langsung menghentikan Sindy yang sedang menatap tajam diri nya.
"Jangan sok kecakepan lo, mentang-mentang banyak prestasi di sekolah ini." Menyenggol bahu Sindy sampai Sindy hampir jatuh.
Setelah kepergian Dhela dari pandangan nya ia segera membenar kan seragam blezer nya yang sedikit tidak tertata rapi.
"Buang-buang tenaga saja." Ucap acuh Sindy berlalu pergi.
Cheval yang sedari tadi mengikuti Sindy semakin kagum dengan sosok adik nya yang super dingin ini. Namun saat akan melangkah lagi ia terkejut dengan kedatangan Momo sang adik lebih tepat nya adik sepupu Sindy.
"Aa Cheval berhenti, emmm nanti sepulang kuliah mampir ke rumah ya, tadi bunda titip pesan pada Momo datang ya please...," dengan wajah memelas.
"Iya," jawab singkat Cheval berlalu pergi.
__ADS_1
Momo yang sudah biasa dengan sikap cuek Cheval membiarkan nya lagian ia kenal Cheval sejak masih kecil sampai sekarang jadi tidak heran lagi Momo menghadapai sifat cuek Cheval.
Sepulang dari kampus, Cheval menunggu sang adik dengan galau bahkan Lay dan Daylon di acuh kan lagi seperti biasa nya.
"Kesambet apa sih tuh anak, jangan-jangan kesambet setan bucin," Daylon tertawa kencang dan langsung di lempar polpen oleh Cheval. Dengan sigap Daylon menerima polpen milik Cheval.
"Polpen mahal broo... sayang kalau di buang." Daylon memasuk kan nya ke dalam tas.
"Usaha keluarga lo mendadak bangkrut sampai-sampai polpen itu kamu ambil juga," ledek Lay pada Daylon.
"Sayang broo jika di buang gini-gini 200 ribu broo." Daylon tersenyum bahagia.
Sementara Cheval hanya melamun sambil menunggu kepulangan Sindy, tetapi yang di tunggu tidak kunjung datang membuat Cheval merasa tidak nyaman.
"Ehh... lo mau kemana Val." Ucap teriak Lay.
"Cari Sindy," melanjut kan langkah nya.
"Ehh... emang nya boleh seorang kakak mencintai adik nya?" pertanyaan aneh keluar dari bibir Daylon.
Pplakk... pundak Daylon di gampar Lay dengan keras sampay Daylon mengadu kesakitan entah sudah berpa kali Lay memukul pundak nya dalam hitungan hari ini, seperti nya pundak nya akan membekas cap lima jari milik Lay.
"Ya boleh lah secara kan bukan adik kandung ja... eemm... eem...," mulut Lay di bekap oleh Daylon dengan kencang.
"Mulut lo, kalau bicara di kontrol dong ini tempat umum. Kalau orang lain sampai tau habis riwayat lo sama usaha keluarga lo." Bisik Daylon pada Lay dengan melepas bekapan tangan nya.
"Iisshh... bau tau, habis pegang apa sih lo. Gue juga tau kali." Mengusap-usap bibir nya dengan sapu tangan.
"Ee... hee... hee... sorry tadi buang sampah lupa cuci tangan," Daylon cengegesan.
__ADS_1
Sementara Lay memuntah kan isi perut nya yang tidak bisa keluar.
Di depan kelas Sindy.
Parasiswa siswi yang melihat Cheval dari jendela semua pada salah tingkah siapa yang di cari Cheval, semua mengira diri ku dan diri ku. Hampir semua merasa kepedean saat Cheval tersenyum sangat tampan, akan tetapi tidak untuk satu orang yaitu Sindy.
Sindy membiar kan semua senang, mungkin memang Cheval sedang mencari seseorang yang Sindy yakin saat ini buka diri nya.
Bell bunyi sepulang sekolah terdengar sangat nyaring di telinga, Sindy mengemasi barang-barang nya dengan santai mumpung hari ini tidak ada kegiatan sekolah di jam luar sekolah. Sindy yang melihat kakak nya di kerumunin orang banyak lewat begitu saja tanpa menatap sang kakak. Cheval yang berbadan tinggi melihat Sindy berlalu pergi tersenyum pada orang yang mengerumuni nya dan menerima beberapa pemberian tersebut.
Parkiran kampus.
Tangan Sindy di tarik oleh Cheval dan langsung mengajak masuk Sindy tanpa menunggu persetujuan dari sang pemilik nya. Sindy hanya memutar bola mata nya dengan malas. Cheval segera duduk menjalan kan kemudi nya, saat di perjalanan hanya ada keheningan kecuali suara mesin mobil dan kendaraan yang lain di luar mobil ini.
"Kita mampir ke rumah bunda dulu." Ucap Cheval yang masih fokus dengan kemudi nya. Sindy hanya mengangguk kan kepala.
Sesampai nya di rumah ayah Sacha dan bunda Aurel, Cheval menghenti kan laju mobil nya tepat di area taman rumah ini. Kediaman ini cukup besar seperti kediaman Malik atau rumah utama.
"Assalamualaikum bunda." Cheval menyalami Aurellia yang berada di dapur sambil mengoven roti.
"Waalaikumsalam, ehh... anak ganteng mau mampir kesini biasa nya menolak, sama siapa kesini. Sudah punya pasangan belum?" Aurellia menatap seseorang yang tak lain adalah keponakan gadis nya yang baru saja masuk dapur dan memberi salam.
"Bunda," mencium tangan punggung Aurellia.
"Keponakan bunda tambah cantik, oh.. ya Sindy kata nya Momo kamu minggu depan lomba lari ya dengan sekolah lain?" Aurellia mengeluar kan roti yang baru saja selesai di oven.
"Iya bunda," jawab singkat Sindy dan mulai memakan roti isi strawberry kesukaan nya.
Cheval langsung ikutan makan, saat melihat Sindy makan nya sedikit belepotan langsung Cheval bersih kan dengan ibu jari nya. Sampai terdengar deheman dari Aurellia.
__ADS_1
"Eehhemm... kalau pacaran jangan di sini, ketahuan ayah kamu di jemur Aa oleh papamu nanti." Ucap Aurellia ceplas ceplos.
Cheval langsung menarik tangan nya dan betapa malu nya saat ini namun tidak untuk Sindy yang sikap nya biasa-biasa saja bahkan masih lanjut memakan roti nya.