ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
241. Gara-gara ponsel


__ADS_3

Momo sengaja membelakangi Lais saat tidur, berharap sang suami memeluknya dari belakang.


Deg.


Lais memeluk sang istri dengan erat dan menyembunyikan wajahnya di dekat leher Momo.


"Menangislah sayang jika ingin menangis, aku tau aku salah. Sayang maafkan aku, mungkin sudah ribuan kali kamu memaafkan aku tapi aku selalu mengulanginya lagi dan lagi. Mulai sekarang mas pasrah dengan keputusan kamu selanjutnya sayang."


Momo hanya diam.


"Ayo kita keluar dari pulau Jawa ini dan pindah ke Bali atau ke New Delhi." Lais membalikkan tubuh Momo untuk menghadap dirinya.


"Tidak usah mas, lebih baik kamu buang dan hancurkan kartu yang ada di ponsel kamu itu. Gantilah nomor baru yang lebih privasi lagi mas, kamu ini seorang pengusaha. Banyak yang mengincar kamu tidak hanya wanita saja," Momo menatap tajam suaminya.


"Baiklah, sekarang aku akan hancurkan ini." Lais menggenggam erat tangan Momo dan mengajaknya ke area kolam renang.


Lais kemudian menuju gudang yang tak jauh dari area kolam renang itu. Ia mengambil peralatan untuk menghancurkan benda pipih yang harganya sekitar 30 jutaan. Tang potong keramik ia gunakan untuk memotong ponsel tersebut langsung saja menjadi dua bagian.


Cres


Suara benda tersebut hancur begitu saja tanpa pikir panjang 2 kali, Momo yang melihat itu hanya langsung terkejut. Bahkan Lais langsung menghancurkannya dengan palu besi dan menjadi remuk sangat remuk.


"Mas, kenapa ponselnya di hancurkan. Sayang mas ponselnya." Momo meratapi ponsel mahal itu, meski bagi Lais uang segitu tidak ada apa-apanya untuk sekarang ini.


"Lebih baik mas hancurkan sekalian itu ponselnya sayang, dari pada kita perang dingin gara-gara ponsel sialan itu," Lais menyalakan korek api dan bersiap membakarnya, namun Momo hentikan.


"Dia sendiri yang berulah, tapi dia juga yang kesal. Dasar suami labil, untung aku masih bisa menerima jika tidak. Enggak tau lah apa jadinya, mungkin di luaran sana bilang aku bodoh, ya aku memang bodoh karena cinta. Benar kata orang cinta itu buta, tapi aku tulus mencintai suamiku ini. Dia baik, perhatian dan tidak kasar meski aku pernah di tampar dia dan dia mengatakan hal menyakitkan waktu itu. Karena aku juga salah berucap, tapi setelah itu dia lembut padaku. Meski dia masih suka ceroboh dan membiarkan duri masuk ke dalam daging rumah tangga kami." Momo tersenyum miris sendiri.


"Jangan di bakar mas, takut meledak. Kita kubur saja mas." Wajah Momo sangat lucu saat menyarankan hal yang baik.


"???!!!" Lais tersenyum, di situasi seperti ini istrinya masih bisa bercanda, memang wanita unik dan kuat yang pernah ada. Beruntung sekali Lais mendapatkan dirinya ini.

__ADS_1


"Jangan cuma tersenyum mas, sana berangkat mencongkel tanah itu." Tunjuk nya pada tanah yang berada di taman kecil tersebut.


"Tidak usah, mas buang ke tempat sampah saja, lebih baik dari pada nanti kamu mengingat buruknya aku saat menggunakan ponsel itu," Lais membuangnya ke tempat sampah.


Lais langsung memeluk sang istri.


"Apa kamu tau tadi dia menelponku meminta untuk aku mengantarnya lagi ke rumah sakit, aku tidak mau dan aku menolaknya." Lais mulai berbicara.


Momo diam dan duduk di tepian kolam renang sambil menceburkan kedua kakinya. Rasa dingin di kaki tidak terasa saat suaminya menceritakan keluh kesah wanita lain.


"Terus." Momo mulai marah.


"Terus... ya seperti yang kamu lihat sayang, aku menghancurkan benda itu," menunjuk tempat sampah.


"Jika aku yang tidak menyuruh menghancurkan sim card pasti kamu tetap memakainya kan." Sindir Momo menatap malas suaminya.


"Aku berencana membuangnya sayang, tapi rekan bisnis banyak yang mengajak kerja sama," Lais menautkan jari jemarinya dan memutarkan nya berkali-kali.


"Jadi???" Momo mendongakkan kepalanya ke atas, pandangannya tertuju pada sang suami.


Momo bingung mau bereaksi apa, ia terharu dengan sikap manis dan kecil seperti yang Lais tunjukkan saat ini.


"Mas, jika nanti anak kita lahir. Apakah kamu masih bisa bersikap adil dan tidak membedakan atau bersikap kekanak-kanakan lagi?" Pertanyaan Momo membuat Lais kebingungan sendiri.


Momo paham dengan ekspresi yang di pancarkan suaminya, pasti ia bingung harus bersikap adil untuk siapa yang lebih dulu.


Kemudian ia membuat keputusan.


"Aku akan mengutamakan istriku lebih dahulu kemudian anak-anakku, kamu dan anak-anak butuh perhatian aku secara penuh. Jadi aku akan bersikap adil dan tidak akan mengecewakan kamu sayang, mas janji." Lais menarik dagu Momo dan menciumnya lagi.


Rasa manis dari bibir istrinya membuat Lais hilang kendali, ia hampir melakukannya di pinggiran kolam.

__ADS_1


Cubitan keras menyadarkan Lais sekarang dirinya dan sang istri berada di tempat yang sangat terbuka di rumahnya.


"Alhamdulillah suamiku sudah sadar, tapi kenapa setelah kamu berucap begitu manis dan penuh keyakinan selalu kembali lagi sih mas?" Pertanyaan Momo sambil menggerutu.


"Maaf sayang, maafkan mas mu ini sayang!" Hanya kata maaf yang terucap dari bibir lembut Lais.


Momo berdiri dan beranjak pergi, lebih baik ia masuk ke dalam rumah. Rasa lapar di perut membuatnya langsung menuju dapur, ia ingin sekali ayam di masak bersama saus yang banyak. Ia sudah mengambil semua bumbu instan yang ada di lemari pendingin.


"Sayang, aku saja yang memasaknya." Menawarkan diri dan langsung mengambil kendali.


Momo membiarkan suaminya melakukannya, lagian berkali-kali di maafkan tapi berkali-kali juga ceroboh.


Setelah memasak, Lais langsung memberikan pada Momo. Ia terkejut saat sang istri sama sekali tidak menyentuhnya.


"Kenapa? Apa kamu tidak suka dengan masakan aku sayang?" Lais duduk di depan Momo.


"Iya, aku tidak ingin makan itu!" Momo mengambil ayam baru lagi untuk di masak sendiri.


Momo dengan kasar menyentuh peralatan dapur, tiba-tiba moodnya jadi hancur gara-gara masakan yang tidak sesuai seleranya itu.


Setelah jadi Lais mendekat, masakannya sama persis tapi kenapa Momo tidak mau.


"Sayang bukannya masakan aku dan kamu sama saja." Lais menunjuk ayam yang ada di meja makan kecil tersebut.


"Tidak mau makan masakan kamu mas," Momo berlalu pergi usai menyelesaikan masakannya.


Ia menuju ruang keluarga dan menonton acara di salah satu televisi yang di pandu oleh host komedian terkenal di Indonesia. Acara yang lucu dan kocak setiap harinya membuat Momo tersenyum sendiri saat melihat acara itu.


"Aa... ha... ha..., kenapa harus berdandan seperti itu sih. Aa... ha... ha...." Momo tertawa sambil mengunyah ayam saus.


***

__ADS_1


Berusaha konsentrasi dengan alur yang sudah di siapkan. Jadi nikmati alurnya saja dulu.


Terimakasih sudah berkenan mampir dan membaca sampai bab ini. I love you teman2


__ADS_2