
Daysi masih memikirkan ucapan Aurellia, apa benar yang tengah Aurel bicarakan itu adalah Abang temannya berkerja di hotel. Kenapa Aurellia bilang ia baru patah hati karena pujaanya sudah menikah.
"Eemmm... Relli kalau boleh tau siapa namanya?" Daysi bertanya dengan ragu-ragu.
"Namanya Abang Prasetya. Memang ada apa Daysi?" Aurellia menatap wajah Daysi seperti ada yang aneh.
"Eehh... tidak apa-apa, apa kamu mencintainya Relli." Daysi memainkan jari jemarinya.
"Aku cuma kagum saat ini, pria setampan dan semanis Abang cintanya harus bertepuk sebelah tangan, salah dia juga sih mencintai sahabatnya tetapi kurang bergerak cepat jadinya di miliki orang lebih dulu," Aurellia mengela nafas panjang.
"Iya betul kenapa tidak di ungkapkan dari dulu kalau mencintai wanita itu, mungkin saja wanita itu mau mempertimbangkannya. Bisa jadi wanita itu terluka dengan pernikahan saat ini." Daysi tersenyum sangat lebar.
Aurellia sungguh tidak curiga bahwa wanita yang di maksudkan adalah sahabatnya sendiri saat ini.
"Aduh Relli jangan membicarakannya lagi, aku merasa tidak enak dengan Abang. Pantas saja Abang selama ini sangat perhatian padaku," Gumam Daysi dalam hati sambil menenagkan perasaanya saat ini.
"Ya sudah, kita makan dulu yuk. Kamu sudah makan belum apa perlu aku ambilkan?" Aurellia memecah keheningan sesaat tadi.
"Eemm boleh tetapi aku makan di sini saja, aku malas bertemu orang yang tidak bisa melupakan masa lalu bahkan masih menyimpan kenangan lamanya!" Daysi menyindir keras Ksatria Malik. Daysi membatin Ksatria dan mengumpatnya berkali-kali bahkan merutuki Ksatria dengan kata-kata yang pedas namun di ungkapkan dalam hatinya saja.
Ksatria Malik hanya bersin-bersin saat berada di gasebo rumahnya. Ia hanya merutuki kebodohannya mengapa ia tidak menghapus foto lamanya dengan Arabelle, saat ini pasti Daysi mengumpat nya habis-habisan bahkan kata-kata pedas dan sindirannya tidak terlupa.
"Tunggu di sini ya, aku ambilkan." Aurellia segera menuju dapur tetapi sebelum di dapur ia mengasi situasi saat ini, apa sang kakak ada di dalam rumah atau tidak setelah merasa aman Aurellia buru-buru mengambil 2 makanan.
Ria dan Mala yang melihat tingkah aneh Aurellia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, di dalam pikiran Ria dan Mala heran mengapa Aurellia seperti sedang mencuri saja padahal ini kan kediamannya sendiri. Apa ada peraturan baru jika mengambil makanan harus meminta izin dulu pada si boss tetapi mengapa si bos tidak memberi tau semua asisten yang berkerja di kediamannya, itu menjadi tanda tanya besar.
__ADS_1
Ria menyenggol lengan Mala, "eh Mala ada peraturan baru ya di rumah ini. Kenapa mbak Aurel mengambil makanan mengendap-endap seperti itu, apa si bos melarang makan jika tidak di izinkan makan?" Ria tidak tahan dengan pikirannya akhirnya bertanya pada Mala.
Mala menggelengkan kepalannya. "Tidak tau Ria, mungkin saja coba nanti aku tanya si mbok." Mala mengayun-ayunkan mainan di depan Aak Cheval yang sudah bangun sedari tadi.
Di kamar Daysi.
Aurellia membawa nampan berisi makanan untuknya dan Daysi, masakan tidak bisa di ragukan lagi karena ahli dalam bidang memasak sudah mahir dari dulu. Makanan tersebut habis tak tersisa sedikit pun, mereka berdua mengeluhkan kekenyangan dengan makanan buatan mbok Yati dan Mala.
"Hhaah... kenyangnya, aku baru kali ini makan kenyang secara sembunyi-sembunyi kayak maling." Aurellia meminum air putih.
"Aa... hha... haa..., kamu ada-ada saja Relli apa tadi kamu mengambil makanan dengan sembunyi-sembunyi?" Daysi memainkan ponsel milik Aurellia, sudah menjadi kebiasaan dari dulu sewaktu SMA jika Daysi selalu meminjam ponsel Aurellia sedangkan Aurellia mencontek hasil pemikiran Daysi.
"Iya lah aku takut kakak menanyaiku apa aku berhasil membujukmu, makanya aku sembunyi-sembunyi!" Aurellia melirik Daysi yang merampas ponselnya. "Kebiasaan kamu selalu sama, mengintrogasi ponselku. Apa tidak ada kerjaan lain selain kepoin ponselku?"
"Tidak ada, aku rindu saat masa-masa itu, di mana kamu selalu mengajakku pergi jalan-jalan selepas sekolah padahal aku waktu itu berkerja part time, sungguh aku sering dapat omelan dari si boss. Tapi untungnya aku punya skil memelas biar percaya aku telat karena apa!" senyum Daysi mengembang sekitika saat mengingat kejadian itu.
"Aku bukan orang pendendam jadi aku sudah memaafkanmu yang terpenting saat itu adalah pertemanan kita. Tapi kamu jahat ke aku setelah lulus SMA kamu meninggalkanku tanpa kabar dan tau-tau baru setengah tahun saat aku mendonorkan ginjalku padamu," Daysi bosan dengan permainan yang baru ia download.
"Karena aku harus sekolah bisnis di luar negri, itu juga karena terpaksa, kan kamu tau sendiri bagaimana kakakku jika sudah memiliki ke inginan semua harus terjadi." Aurellia memandang langit-langit kamar Daysi yang bernuansa cerah.
"Iya aku tau, tapi Relli aku sedih dengan sikap kakakmu yang seperti itu, apa dulu mereka saling mencintai sampai-sampai kakakmu menyimpan banyak fotonya?" Daysi menatap wajah Aurellia.
"Masud kamu Arabelle, hanya teman dekat yang aku tau dan kakak mempunyai perasaan lebih saat itu namun Arabelle menolak kakak saat kakak hendak melanjutkan S2 nya di luar negri. Gara-gara kejadian itu kakak jadi play boy semua wanita yang ia anggap cocok ia ajak berkencan!" jawab santai Aurellia.
DDEEGGHH..., jantung Daysi seakan mau lepas dari tempatnya mendengar itu semua dari mulut Aurellia.
__ADS_1
"Jadi, selama ini Ksatria hanya menganggapku cocok jadi teman kencannya saja. Apa yang kamu pikirkan Daysi, kamu tidak usah berharap lebih jika ia tulus mencintaimu," dalam hati Daysi ia berusaha menenagkan hatinya yang teramat sakit saat ini.
"Oohhh jadi begitu Relli, aku mengantuk biarkan aku tidur sendiri ya," Daysi tersenyum palsu.
"Oke, nanti jika perlu apa-apa cari aku ya. Bye... bye...." Aurellia segera pergi dari kamar Daysi.
Daysi menghempaskan tubuhnya di ranjang setelah mengunci pintu kamarnya. Daysi terbayang-bayang dengan perlakuan manis Ksatria Malik padanya beberapa waktu ini. Banyak usaha yang di lakukan Ksatria untuk membujukknya namun kini sirna sudah, hati yang luluh karena sikapnya beberapa hari lalu.
Daysi terlelap dalam tidurnya karena lelah menangis setelah kepergian Aurellia dari kamarnya.
Sore hari.
Daysi yang sudah rapi karena ia baru saja selesai mandi, ia sudah menemukan ponselnya yang berada di dapur dan di simpan oleh mbok Yati. Aroma parfum lembut Daysi tercium oleh Ksatria, Ksatria hafal dengan wangi ini. Aroma yang membuatnya nyaman saat memeluk Daysi.
Ksatria memegang pergelangan tangan Daysi saat Daysi hendak pergi dengan motor kesayangannya.
"Kamu mau kemana?" Ksatria menatap wajah cantik Daysi.
"Pergi!" jawab singkat Daysi dan mengenakan helmnya.
"Aku hantar oke." Ksatria menawari Daysi untuk naik mobilnya.
Daysi punya ide jahil untuk mengerjai Ksatria nanti, hitung-hitung mengeluarkan emosi hatinya.
"Baiklah," Daysi melepas helmnya dan langsung menuju mobil milik Ksatria. Ksatria kegirangan dengan Daysi yang sudah mau menuruti keinginannya untuk menghantarkan kemanapun perginya nanti.
__ADS_1
***