ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
38 Cocok menjadi Papa Mama


__ADS_3

Ksatria tersenyum sambil mendekati Daysi. "Apa kamu menyukai bayinya?"


Daysi menoleh dengan tersenyum. "Iya, dia sangat tampan dan menggemaskan sekali!" jawab Daysi tersenyum sambil mengendong dan menimang-nimangnya.


Sebelum menyentuh bayi tersebut Daysi sudah membersihkan dirinya saat sampai di rumah, itu sudah kebiasaannya dari dulu.


Semua asisten dan body guard Ksatria segera pergi karena Ksatria mengisyaratkan tangannya.


"Apa kamu berencana memiliki bayi sendiri dengan suamimu?" Ksatria memancing amarah Daysi, namun Daysi malah tersenyum.


"Iya, suatu hari nanti." Daysi berucap tanpa melihat kearah Ksatria yang terbengong dengan ucapan Daysi barusan.


"Ayo kita buat kalau begitu, aku kan suamimu jadi ayo kita lakukan. Selain itu biar Aurel mau kembali juga ke rumah ini." Ucap Ksatria polos.


PPUUKK..., Daysi memukul lengan Ksatria Malik.


"Mimpi sana, jangan kejauhan nanti jatuh sakit. Aku akan memiliki bayi dengan orang yang aku cintai tentunya bukan kamu si play boy sana sini mau," Daysi meletakkan bayi tersebut ke dalam box bayi dan menggoyangkannya.


"Eeitts... bukannya yang sana sini mau itu kamu, sebentar dengan Abang terus berganti dengan mas-mas yang menghantar kamu waktu itu, kemudian sama si pemilik OK ikan. Terus apa bedanya aku denganmu, Daysi?" Ksatria menatap tajam wajah Daysi. Daysi juga tidak kalah tajamnya menatap wajah Ksatria.


"HHUUHH...," Baik Daysi maupun Ksatria segera memalingkan wajahnya masing-masing.


OOWEEKK... OWEEKK...


Suara Cheval membuyarkan perdebatan kedua orang tersebut, dengan segera Ksatria dan Daysi menyentuh tubuh Cheval dengan sesama, seketika bayi tersebut terdiam, sepertinya takdir memang menyatukan keduanya untuk bersama melalui kehadiran Cheval.


"Kamu gendong dulu dia, aku akan buatkan susu dulu." Daysi segera menuju meja yang ada di dekat sofa dan menuangkan susu formula kedalam botol kecil sesuai takaran.


Setelah membuatkan susu Daysi menggendong Cheval dalam pelukannya dan memberikan susu formula tersebut dengan telaten. Siapapun yang melihat Cheval pasti langsung jatuh hati, Cheval memiliki wajah kebule-bulean karena memang garis keturunan dari sang ayah.


"Hay... si tampan, senang tidak di peluk dan di timang seperti ini, lucunya jadi tambah gemes deh sama kamu." Daysi menciumi wajah Cheval yang mulai chubby.

__ADS_1


Ksatria yang melihat pemandangan tersebut bahagia sekali. Memang sangat beruntung Ksatria menikahinya ia telaten dalam urusan rumah bahkan saat ada bayi milik orang lain ia tetap menerimanya lapang dada. Setelah puas melihat senyum Daysi saat menimang Cheval. Ksatria menuju kamarnya untuk membersihkan dirinya.


Pukul 7 malam.


Ksatria dan Daysi makan di ruang makan, hanya ada keheningan di ruang makan tersebut kecuali sedok dan teman-temannya. Bahkan Daysi membiarkan Ksatria menghabiskan masakannya, memang beberapa bulan terakhir ini Ksatria selalu menghabiskan masakannya sendiri.


"Bukannya kamu bisa memasak, kenapa selalu menghabiskan masakanku sendirian. Aku juga ingin makan hasil masakanku sendiri?" Daysi mengambil sayur dan lauk masakan Mala.


Ksatria hanya menatap sekilas dan menjulurkan lidahnya. "Biarin biar kamu marah, jika kamu marah aku suka lihat kamu ngambek seperti itu!" Ksatria melanjutkan mengunyah ayam kecap buatan Daysi.


"Terserah, aku tidak akan memasak lagi mulai hari ini jika kamu terus-terusan tidak menyisakan masakanku untukku sendiri." Ancam Daysi pada Ksatria.


Ksatria tersenyum. "Jangan menyentuh Cheval kalau begitu, bagaimana penawaran yang adil bukan?"


Daysi memutar bola matanya. "Mengancam. Oke... oke... aku akan memasak makanan untukmu asalkan aku bisa bermain sama si chubby Cheval!" Daysi pasrah dengan tawaran Ksatria yang menurutnya sangat merugikan dirinya.


Setelah makan malam. Daysi segera menuju kamar Cheval, Ria yang sedang menidurkan Cheval langsung berpamitan saat melihat Ksatria dan Daysi datang bersamaan masuk kedalam kamar Cheval.


"Terserah asalkan orang yang menjaganya dapat di percaya, kasihan jika dia tersiksa karena tidak cocok dengan orang yang merawatnya," Daysi mengayun-ayunkan box bayi.


"Aku yakin bisa di percaya, aku mengambilnya dari tempat penyalur tenaga kerja bahkan terpercaya di kota ini." Ksatria tidak mau kalah berdebat dengan Daysi, baginya sudah seperti makanan sehari-hari perdebatan kecil ini.


"Aku pegang kata-katamu, aku mau ke toilet." Daysi segera menuju kamar mandi.


Ksatria segera berdiri dan menatap wajah tampan bayi yang di rawatnya saat ini. Ksatria menyentuh pipi chubby Cheval, Cheval tersenyum saat Ksatria menyentuh bibir mugilnya dengan tangan telunjuk Ksatria.


Daysi yang baru selesai dari kamar mandi langsung menatap tajam wajah Ksatria yang tersenyum sambil menyentuh Cheval yang berada di dalam box bayi.


"Sudah cocok jadi papa kamu."


"Kamu juga cocok jadi mama," Ksatria segera duduk di samping Daysi. Daysi mengeserkan tubuhnya.

__ADS_1


"Eeittss... jaga jarak biar aman. Dan patuhi protokol kesehatan juga." Daysi bergeser bahkan pindah tempat duduk.


Ksatria menatap Daysi yang pindah tempat duduk. "Kenapa pindah, apa tidak nyaman duduk berdekatan dengan pria tampan sepertiku?" Ksatria menampilkan deretan gigi putih rapinya.


"Iya, membuat tidak nyaman diriku!" jawab Daysi asal.


"Tidak nyaman apa gerogi berdekatan denganku. Sepertinya kamu sudah ada rasa untukku saat ini?" Ksatria langsung to the point. Daysi menundukkan kepalannya.


"Pede banget!" Daysi menggerutu sangat jelas.


"AA... HAA... HAA..., aku bercanda kenapa kamu semarah itu. Lagian jika kamu suka denganku sungguhan aku pertimbangkan jika itu dirimu." Ksatria masih tertawa saja.


"Apa didalam kamar ini tidak ada cermin. Kenapa bisa ada orang senarsis dirimu ini." Sambil menujuk seluruh anggota badan Ksatria dengan jari telujuknya yang di putar-putar.


Keesokan harinya.


Daysi sudah siap-siap berkerja akan tetapi ia urungkan karena mendengar Cheval menangis dengan kencang saat di jemur oleh Ria di samping rumah dekat taman bunga.


"Kenapa dia menagis mbak Ria, apa dia belum meminum susunya?" Daysi langsung mengendong Cheval.


"Sudah mbak baru saja minum, entah mengapa dia menagis sangat kencang!" Ria masih berada di samping kereta dorong Cheval.


Daysi mengurungkan niatnya pergi ke hotel. Setelah Cheval tenang Daysi mengetik pesan dan meminta izin untuk cuti kembali, entah sudah berapa banyak Daysi cuti bulan ini.


Saat berada di gendongan Daysi dengan seketika Cheval terdiam bahkan tersenyum dalam tidurnya.


"Mbak Daysi dia langsung diam begitu saja, saat berada di gendogan mbak Daysi." Ucap Mala pada mbok Yati yang baru saja dari dapur.


"Iya betul Mala, memang nak Daysi berbakat merawat bayi dan sangat cocok jika memiliki bayi sendiri dengan aden Ksatria." Mbok Yati segera mendekati Daysi.


Ksatria yang tidak sengaja mendengar mbok Yati menuji Daysi. Ksatria tersenyum sangat lebar, namun dengan seketika musnah jika mengingat ucapan Daysi yang pedas di dengar telinga.

__ADS_1


__ADS_2