
Jangan lupa pencet like, favorit, rate dan hadiah jika berkenan. Terimakasih banyak yang sudah mau mampir dan membaca karyaku.
***
Daysi menepuk pundak kiri Momo.
"Momo... apa kamu baik-baik saja, masuk dahulu dan ceritakan semua pada Mama." Daysi mengajak Momo masuk ke dalam.
Ksatria tidak mengikuti para wanita yang sedang berbicara hal pribadi terlihat dari nada bicara Daysi yang sedikit berbisik pada Momo.
"Ma... papa ke ruang atas dulu ya ma, ada hal penting yang harus papa kerjakan dan selesaikan." Pamit Ksatria pada Daysi.
"Iya pa, jangan lupa nanti makan malamnya," Daysi mengingatkan sang suami.
"Baiklah ma, nanti waktu makan malam papa usahakan tidak akan terlambat lagi." Ksatria bergegas pergi.
Daysi masuk ke ruang khusus tempat curhat yang berdekatan dengan ruang keluarga. Momo mengikuti langkah kaki Daysi untuk memasuki ruangan tersebut.
"Apa kamu tidak ingin berbagi keluh kesahmu pada mama?" Daysi menggenggam tangan Momo.
Momo hanya menggelengkan kepalanya dengan penuh keyakinan sekali.
"Akan tetapi mama tidak yakin Momo, mama yakin kamu menyembunyikan sesuatu kan pada mama. Ayolah jawab dengan jujur dan tulus." Daysi menatap dengan tatapan tidak percaya dengan alasan Momo.
"Apakah yakin kamu tidak menyembunyikan sesuatu pada mama." Pancing Daysi.
"Tidak mama," elak Momo.
__ADS_1
"Baiklah jika tidak mau terbuka pada mama, tetapi jika mama bisa menebak keluh kesahmu yang ada di dalam hati makan kamu harus jawab jujur dan mama tidak mau kamu hanya menggeleng dengan cepat." Daysi terus mendesak Momo supaya berbicara jujur dan tidak ada yang di tutup-tutupi sedikit pun.
Momo terlihat sekali dia berpikir keras kedepannya harus seperti apalagi.
"Momo diam-diam ada rasa untuknya, tetapi Momo tidak berani mengungkapkannya. Momo takut persahabatan kami hancur begitu saja karena cinta, mama apa salah jika aku mencintainya. Kenapa ayah begitu menentang ku untuk berhubungan dengan Lais mama?" Momo meneteskan air matanya.
Daysi hanya bisa menghibur perasaan Momo dengan menepuk pundak Momo berkali-kali. Kali ini Momo menangis lagi di pelukan Daysi, dulu juga pernah menangis sewaktu ia ada rasa dengan Cheval sang kakak namun ia merelakan demi Sindy, tetapi yang sekarang. Hanya helaan nafas Momo yang terdengar keluar ia tidak bisa berbuat apa-apa di tambah Lais yang juga tidak ada kabar sedikit pun.
"Apa kamu sudah menelpon atau mengirim pesan untuknya, walau bagaimanpun ayah kamu juga bersalah dalam hal ini maka cobalah untuk menghubunginya Momo." Saran dari Daysi.
"Baiklah ma, coba Momo telpon. Kalau begitu Momo mau pulang dulu saja ma sambil menenangkan diri ma," Momo langsung berpamitan dan memesan taxi online.
Daysi tidak bisa mencegah kepergian Momo dari rumah ini. Meski sudah berulang kali Momo di suruh untuk menginap satu atau dua hari tetapi tetap saja ia tidak mau menginap jika tidak ada sang bunda. Dulu sering menginap saat bundanya masih ada tetapi sekarang ia tidak mau ia lebih memilih dengan sang ayah saja, rasa takut kehilangan orang tua membuatnya enggan untuk meninggalkan Sacha.
Momo menatap ke arah luar jendela, mulai sekarang apapun yang akan terjadi mau tidak mau harus di hadapi sendirian. Sudah waktunya berubah dan menjadi manusia dewasa dan berpikiran jernih tanpa ke kanak-kanakan lagi. Tidak ada namanya main-main yang ada fokus dan serius dengan urusan masa depan yang akan segera datang dan berubah seiringnya waktu berlalu.
"Mbak apa benar ini tujuannya ke arah danau buatan?" tanya sang sopir taxi.
Sepuluh menit kemudian.
Danau buatan memang tidak jauh dan tempat yang sering di kunjungi orang baik senang atau sedih semua di luapkan di danau buatan ini.
"Cerita macam apa ini, apa hanya aku yang merasakan sendiri seperti ini. Andai jika ada pilihan aku lebih baik memilih untuk tidak di lahir kan ke dunia ini." Momo melempar batu kecil ke danau.
Suara sepatu orang mendekat terdengar nyaring ke arah Momo sedang duduk dan menikmati pemandangan alam buatan ini.
Tepukan pundak mengejutkan Momo yang masih asik dengan pikirannya.
__ADS_1
"Hey... anak ayah." Filan tersenyum lebar pada Momo.
Momo hanya memutar mata dengan malas, baru kali ini berjumpa dengan orang yang ingin ia hindari. Dulu Sindy yang sering di goda semenjak tau Sindy milik Cheval ia gantian menggoda Momo adik sepupu Sindy.
"Kenapa kamu ke sini mau menertawakan ke sedihanku ini." Dengan sewot Momo berucap.
"Tidak, jangan salah faham dulu. Tadinya aku mau menenagkan diri juga tetapi saat melihatmu kenapa tidak sekalian aku goda dan membuat aku bahagia lagi," jawab Filan dengan santainya.
"Terserah, yang penting tidak merugikan aku." Momo berdiri dari duduk bersandarnya di bawah pohon besar.
"Eehh... mau kemana kamu Momo, tunggu aku," Filan mengikuti langkah kaki cepat Momo.
Filan berlarian sampai banyak mengeluarkan peluh dan kecapekan.
"Kenapa sih kamu mengikutiku, apa tidak ada pekerjaan." Omel Momo sambil menujuk-nunjuk Filan yang masih menyeka keringatnya.
Filan menggeleng dengan cepat.
Momo menepuk jidatnya, harus alasan apalagi agar Filan tidak mengikutinya. Mau menenagkan diri jadi gagal gara-gara ada gangguan mendadak. Apa dia tidak punya kekasih hati, tetapi mana mungkin dia punya ke kasih hati jika dirinya saja seperti ini playboy tingkat menengah saja.
"Momo ayo berkencan, aku yang traktir oke." Ajak Filan dengan berterus terang tanpa modus terlebih dahulu seperti biasanya.
"???!!!" Momo menyentuh dahi Filan. "Kamu sehat, tidak sedang ada gangguan pikiran kan, sejak kapan seorang Filan tidak modus saat dengan perempuan, rasa-rasanya otak kamu tertukar deh setelah ujian akhir sekolah." Momo menggeleng-geleng kan kepalanya seraya tidak percaya.
"Eehh... aku tulus seperti ini masih kamu bilang modus. Ini beneran loh tanpa ada yang di tutup-tutupi," Filan menyodorkan tangannya untuk menyambut Momo dalam genggamannya.
Bukannya menerima justru sebaliknya Momo menolak mentah-mentah, bukan sok jual mahal namun ia tidak mau ada urusan lebih dengan Filan yang gadisnya ada di mana-mana di kota ini.
__ADS_1
"Modus sana ke perempuan lain jangan aku, itu tidak mempan dan tidak berlaku padaku." Momo segera masuk ke warung kecil dekat danau buatan tersebut.
Filan yang tidak mau ke hilangan kesempatan terus mengikuti Momo sampai masuk ke warung kecil. Seumur hidup baru kali ini Filan masuk ke sebuah warung kecil di pinggiran jalan seperti ini. Karena kehidupannya yang serba kecukupan membuatnya tidak pernah merasakan ini sebelumnya.