ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
169 S2


__ADS_3

Dukungannya ya kakak-kakak, terimakasih banyak.


***


Kamar Cheval dan Sindy.


Cheval tetap menyuruh Sindy untuk mengenakannya di depan dirinya, padahal Sindy saja tidak mau.


"Cepat gunakan sayang, aku ingin melihatnya seperti apa tubuh istriku jika hanya memakai lingerie itu." Cheval sudah tidak sabaran lagi apalagi di bagian bawahnya.


"Iisshh Aa, padahal milik Aa sudah tidak sabaran," Sindy segera mengganti pakaiannya dengan pakaian seperti saringan tersebut di depan sang suami. Usai berganti pakaian.


"Wah...." Mulut Cheval tidak bisa menutup lantaran melihat tubuh seksi dan bagus Sindy.


Cheval yang sudah tidak sabaran langsung menerkam Sindy, padahal tadi dia bilang sendiri pada Sindy untuk memimpin permainan. Namun setelah melihat godaan yang halal tersebut malah Sindy di buat kualahan, dengan ulah Cheval yang tidak ada henti-hentinya dalam permainan panasnya tersebut. Sindy memukul lengan kokoh Cheval untuk berhenti sejenak.


"Aa berhenti sebentar, aku capek Aa." Keluh Sindy yang langsung di hentikan oleh Cheval namun tubuhnya masih bersama.


"Kenapa, sebentar lagi oke," Cheval melanjutkan aksinya.


Pagi hari.


Sindy yang sudah bangun terlebih dahulu langsung membersihkan dirinya dan menyiapkan pakaian kerja untuk Cheval.


"Sindy mana Aa tumben belum bangun dia, biasanya pagi-pagi sekali dia sudah bangun lebih dulu?" tanya Daysi yang sedang menyiapkan sarapan pagi.


"Belum bangun Ma, capek dia Ma semalam!" jawab Sindy minum air putih.


"Sepertinya akan ada suara tangis bayi kecil." Suara Ksatria yang tiba-tiba muncul membuat Sindy tersedak air putih.


"Uhuk... uhuk..., apa sih Pa," ucap sewot Sindy yang berlalu pergi dari dapur dari pada nanti di tanyai yang bukan-bukan oleh mama papanya.


Ksatria memeluk sang istri seperti biasanya, usai lari pagi dengan bau keringat yang masih menempel di tubuhnya.


"Aku sangat mencintaimu Ma." Ksatria mencium leher Daysi.


"Pa..., ini di dapur kasihan tuh ada mbak Mala," Daysi mengingatkan Ksatria, agar tidak brutal di dapur.

__ADS_1


"Baiklah." Ksatria segera melepas dekapannya dari tubuh Daysi dan duduk dengan tenang sambil menikmati coklat panas.


Cheval yang baru bangun tersenyum mengingat kejadian tadi malam. Betapa seksi tubuh istrinya ini.


"Aa, ayo bangun apa Aa tidak berkerja untuk mencarikan nafkah istrimu ini?" Sindy menyadarkan dari lamunan Cheval.


"Iya Aa sudah bangun sayang, Aa masih tidak menyangka jika kamu berpakaian seperti itu sangat menggoda sekali. Bahkan aku sangat menyukainya sayang!" Cheval menatap sang istri yang mengenakan pakaian kasualnya.


"Padahal tadi malam Aa sendiri yang mengomel pada kak Emillia untuk mengambil hadiah darinya justru sekarang malah kebalikannya setelah aku kenakan. Menjilat ludahnya sendiri." Omel Sindy.


Cheval yang tadinya memakan permen karet rasa mint langsung membuangnya ke tempat sampah dan langsung mencium dan memberikan sentuhan luar biasa dengan bibirnya.


"Eemm...," Sindy terkejut saat Cheval mengabsen dalam mulutnya dengan penuh cinta bahkan sudah menuntut di bagian bawah sana.


Sindy melayani sang suami kembali pagi ini dan terpaksa harus mandi untuk yang ke dua kali nantinya.


"Sudah ya Aa, aku lelah." Sindy berusaha melepaskan diri dari pangkuan sang suami.


"Sebentar lagi nanggung sayang," jawab Cheval dengan suara yang penuh nafsu dan kenikmatan.


"Pa kita makan dulu ya." Daysi menawari sang suami.


"Iya Ma, bisa-bisa puasa Papa jika menunggu pekerjaan paginya yang lama sekali keluarnya," Ksatria minum air putih terlebih dahulu sebelum sarapan.


Cheval yang baru selesai dengan mandinya begitu juga dengan Sindy.


"Aa bantu keringkan rambut ya." Cheval mengambil hair dryer dan mulai mengeringkan rambut Sindy, namun sebelum di keringkan Cheval mengolesi dengan vitamin rambut agar tidak kering dan rusak karena terkena hair dryer.


"Terima kasih Aa, sekarang giliran aku ya Aa, duduklah disini," Sindy bangkit dari ranjang tidur dan membelakangi sang suami untuk mengeringkan rambutnya.


Cheval menikmati sentuhan lembut dan kecil di kepalanya sambil memejamkan matanya. Sindy yang melihat ke enakan sang suami langsung mencabut salah satu rambutnya.


"Aww sakit sayang." Langsung membuka matanya dan gagal sudah penghayatannya.


"Makanya Aa lihat-lihat jika mau memejamkan mata, apa Aa tidak kasihan dengan perutku yang menangis tersendu-sendu ingin sarapan pagi, coba dengar Aa," Cheval langsung menempelkan telinganya di perut Sindy namun bukan tangisan yang di dengar melainkan kkrruukk... kkrruukk... berkali-kali.


"Tidak menangis perutmu sayang, cuma ada suara peletuk-peletuk dan kkrruukk saja." Cheval mendadak bodo* seketika.

__ADS_1


Sindy langsung bangkit dan tidak menggubris suaminya yang hanya pintar di dunia perduitan dan tidak mengerti hal konyol seperti ini.


"Terserah Aa deh, aku mau makan mengisi tenaga pagi ku," melambaikan tangannya.


Cheval juga langsung menyusul sang istri.


Kediaman Mahendra.


Sebelum berangkat berkerja Lais menatap kediaman Momo yang nampak sepi atau tidak ada Momo sama sekali makanya terlihat sepi padahal banyak pekerja yang sedang memperbaiki rumahnya dan berganti dengan warna yang baru dan perbaikan bagian out door.


"Momo, kamu di mana apa kamu tidak tau setiap pagi sebelum berangkat berkerja aku kesini, bahkan ketika aku pulang kerja?" Lais segera menyalakan mesin motornya.


Momo yang mengintip di balik jendela hanya menatapnya dari jauh, rasa cinta ini biar dirinya sendiri yang tau dan simpan rapat-rapat sampai nanti.


Sacha yang sudah berangkat dari pagi langsung melakukan tugasnya apalagi ia sedang mendesain bangunan baru. Tidak ada kata istirahat kecuali lelah dan lapar serta ke kamar mandi.


"Pagi mbak Momo." Sapa Ami asisten rumah tangganya yang sudah berkerja beberapa bulan ini.


"Pagi Bu Ami," jawab Momo duduk dan mengambil sarapannya.


Sepi hatinya tidak ada keceriaan lagi untuknya, laki-laki yang di cintai. Momo menyudahi angan-angan belakanya dan segera menghabiskan makannya.


Rumah Nadia.


Emillia begitu cari perhatian pada ibunya Nadia bertanya ini itu bahkan ikut menanam beberapa tanaman yang sangat asing untuk Emillia.


Nadia tidak menghiraukannya lagian pagi ini ada pekerjaan di Royal Malik.


"Bu aku berangkat dulu ya." Pamit Nadia mencium tangan ibunya yang masih terdapat lumpur namun Nadia tidak peduli, selagi ibu yang baik ini ada di dunia.


Emillia yang tadinya membantu ibunya Nadia langsung berpamitan juga.


"Ibu calon mertua, eh maksudnya ibu Tiyas saya pamit dulu ya." Mencium tangan Tiyas.


Tiyas yang melihat anak muda seperti ini mengingatkannya tentang almarhum suaminya yang sama seperti Emillia, ceria dan punya tekat lebih untuk mencari perhatian orang terdekat dari orang yang ia cintai.


"Semoga kalian berdua berjodoh." Tiyas segera melanjutkan pekerjaannya yang kurang sedikit lagi selesai dan tinggal menyiraminya dengan air sedikit untuk beradaptasi.

__ADS_1


__ADS_2