ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
84 Kehidupan


__ADS_3

Aurellia yang mendapat pertanyaan dari Sacha seperti itu tersenyum kikuk, mulutnya keluh mau menjawab apa antara malu dan takut di tertawakan.


"Ayo jawab kenapa melamun," Sacha menati jawaban Aurellia yang ada di pangkuannya.


"Eemm itu drama luar negri yang aku lihat, mereka selalu melakukan hal itu." Aurellia menutup wajahnya sesudah berucap.


Sacha yang sedari tadi terdiam kini tertawa terpingkal-pingkal sampai Aurel sedikit risih dengan tawa Sacha yang tidak berhenti tersebut.


Di tempat lain.


Ksatria dan Daysi masih menikmati masa-masa bulan madunya di Bali, masih ada 4 hari lagi untuk menikmati keromantisan ini, namun tiba-tiba Daysi demam tinggi. Ksatria kebinggungan kenapa Daysi bisa demam setinggi ini sampai harus di larikan ke Rumah Sakit.


Ksatria sedih niatnya ingin berbulan madu dengan sempurna jadi gagal karena Daysi sakit saat ini.


"Cepat sembuh sayang," menyentuh tangan Daysi yang tertanam jarum infus.


Daysi mulai membuka matannya, setelah merasakan ada yang aneh di punggung tangannya dan benar saja jarum infus sudah terpasang. Daysi menatap sebelah berankar tempat berbaring tubuhnya saat ini.


Senyum mengembang di bibir mungil Days saat melihat sang suami sedang tidur sambil memegang tangan. "Ksatria bangun," Daysi mengusap lembut surai rambut Ksatria.


Ksatria langsung terbangun saat Daysi memanggilnya dengan lirih, "kamu sudah sadar Daysi, bagaimana keadaanmu dimana yang sakit. Saya panggilkan Dokter ya." Menyentuh dahi, leher dan telapak tangan Daysi.


"Aku tidak apa-apa tidak usah panggilkan Dokter ya," berusaha tersenyum manis meski pun kepalannya masih berdenyut.


"Baiklah, makan dulu ya." Menyuapi Daysi, mau tidak mau Daysi membuka mulutnya.


Meski rasanya hambar namun tetap di telan oleh Daysi untuk menghargai sang suami yang berada di sampingnya dan tidak ingun membuat sang suami tambah hawatir dengan keadaannya saat ini.


"Mau lagi," tanya Ksatria yang penuh dengan gelak tawa.


"Tidak, aku sudah kenyang. Lagian kenapa sih kamu menyuapiku satu mangkuk penuh, perutku besar nih." Daysi mengeluh sambil menujukkan perutnya yang buncit.


"Dasar rakus, banyak makan kenapa yang besar cuma perutnya saja yang lain lurus banget kaya jalan tol." Sindir Ksatria yang menyentuh perut buncit Daysi.


PPLLAAKK.

__ADS_1


"Tidak usah di sentuh, katanya badanku lurus kayak jalan tol." Sambil memalingkan pandangannya keluar jendela.


Ksatria tersenyum melihat Daysi marah seperti ini. "Tambah gemes deh kalau seperti ini," mencubit pipi tembam Daysi.


"Sakit Sat, apa kamu ingin aku pingsan lagi?" dengan ketus Daysi menatap.


Sepulang dari Rumah Sakit, Ksatria langsung memesan tiket penerbangan saat ini juga, masalah biaya itu kecil bagi Ksatria. Dari pada kelamaan disini dan Daysi sakit lagi lebih baik segera pulang ke Ibu Kota saja. Setelah semua barang-barang selesai masuk ke dalam koper Ksatria menyuruh body guardnya untuk memasukkannya sebelum ia naik pesawat.


Kediaman Malik.


Sacha dan Aurellia sedang menikmati camilan di ruang televisi sambil duduk berdekatan. Mereka berdua tidak tau jika hari ini Ksatria dan Daysi pulang.


Suara langkah terdengar menuju ruang televisi. "Eehheemm romantisnya pasangan suami istri ini." Ksatria mengambil camilan di meja.


Sacha dan Aurellia segera menjauh satu sama lain seketika.


"Lanjutkan saja, kami mau istirahat dulu ya, bye... bye...," Daysi melambaikan tangannya.


"Jangan lupa pelan-pelan ya sewaktu buat baby," imbuh Ksatria sambil tersenyum penuh arti.


Makan malam.


Hanya ada suara sendok dan garpu yang saling beradu bersama piring tanpa sepatah kata dari orang-orang yang menikmati masakan mbok Yati dan Mala.


Ksatria yang masih santai menikmati makanan sudah biasa jika terjadi keheninggan, tetapi tidak untuk Daysi tiba-tiba ia melontarkan ucapan namun tidak di jawab.


"Apa tidak ada yang mau bertannya bagamana liburan kami di Bali." Daysi menatap Aurellia dan Sacha bergantian. Namun hanya gelengan kepala yang menjawab.


Selesai makan semua orang sedang mendiami Daysi sesuai perintah Ksatria Malik, karena nanti tengah malam akan ada kejutan untuk Daysi.


DDEENNGG... DDEENNGG..., jam menujukkan pukul 12 malam.


CCTTEEEKK..., tiba-tiba lampu padam. Daysi yang tidak bisa tidur mencari sosok Ksatria namun tidak menemui sang suami yang biasannya tidur di samping.


"Sat, kamu dimana." Daysi setengah ketakutan.

__ADS_1


"Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun." Ucap semua orang yang masuk kedalam kamar.


Daysi menutup mulutnya, rasa haru dan bahagia menyelimuti Daysi. Setelah kue ulang tahun sampai di depan Daysi, Daysi memohon Kepada Sang Pencipta agar segera di berikan momongan.


Saat akan meniup lilin, Daysi merasakan ingin mengeluarkan sesuatu saat mencium bau coklat yang tajam menurut indera penciumannya. Ksatria yang melihat Daysi berlari menuju kamar mandi langsung memberikan kue ulang tahun tersebut pada Aurellia. Semua orang menatap arah kamar mandi setelah Daysi keluar dan juga Ksatria banyak tanda tanya yang bermunculan.


Tiba-tiba Daysi menujukkan alat test pack pada semua orang, semua terkejut bukan main di hari bahagia ini dua garis tertera nyata.


"Selamat atas kehamilan mbak Daysi," ucap semua orang.


Setelah semua orang mengetahui hal tersebut Daysi merasa ulang tahunnya kali ini sangat berwarna tidak seperto tahun-tahun kemarin.


"Selamat ya Daysi," Aurellia menyentuh perut datar Daysi.


"Terimakasih Relli," sambil tersenyum.


Sacha yang sedari tadi menemani Aurellia juga ikut bergembira, tidak lama lagi rumah ini tambah ramai tidak cuma Cheval saja melainkan ada adik-adiknya juga.


"Kami pergi dulu ya," Aurellia melambaikan tangannya.


Setelah kepergian Aurellia dan Sacha, Daysi langsung mendekati kue ulang tahun yang belum ia sentuh sama sekali.


"Bukannya tadi kamu mual mencium bau itu?" tanya heran Ksatria.


"Iya itu tadi sekarang tidak setelah lilinnya padam!" Daysi memotong kue rasa coklat tersebut dan melahapnya hampir setengah dari kue tersebut.


"Kamu kelaparan atau gimana sih calon mama, kenapa kue sebesar itu kamu makan sendiri." Ksatria langsung mengambil kue yang ada di meja.


"Aku masih lapar, biarkan aku memakannya sedikit saja," sambil memelas.


"Tidak, sayang kuenya jika kamu muntah lagi lebih baik aku bagi-bagikan ke asisten rumah dari pada mubazir." Ksatria membawa keluat kue tersebut.


Namun Daysi tidak hilang akal ia menuju lemari es dan mengambil 3 susu kotak berukuran 250 ml dan beberapa kripik. Dengan cepat Daysi memakan sebelum Ksatria kembali ke kamar. Setelah puas Daysi merebahkan dirinya si sofa sambil kakinya selonjoran di meja.


Ksatria yang baru saja masuk terkejut dengan apa yang di lakukan Daysi sang istri, hanya dalam waktu 10 menit semua makanan habis terlihat daru beberapa bungkus makanan ringan dan susu kotak. Karena tidak tega membangunkan Daysi, Ksatria mengendong tubuh Daysi dan membaringkannya di ranjang tidur.

__ADS_1


__ADS_2