
Daysi dengan malas menyuapi Ksatria sampai makanan habis di piring tersebut. Ksatria bahkan menyuruh Daysi mengelap sisa makanan di sudut bibirnya dengan tisu yang ada di atas laci tempat tidur.
"Iisshhh... dasar manja." Akan tetapi dengan telaten Daysi tetap menjalankannya meskipun ia menggerutu saat melakukannya.
Ria yang melihat adegan tersebut tidak tinggal diam ia mengambil gambar diam-diam untuk di kirimkan kepada Aurellia. Ano yang melihat Ria mengambil foto diam-diam juga mengamati hasil jepretannya apakah bagus tidak di kamera ponsel Ria.
Ria terkejut untungnya ia tidak berteriak apalagi menjatuhkan ponselnya jika itu terjadi kemungkinan besar foto yang di ambil akan gagal karena ulah Ano yang datang tiba-tiba.
"Ihh... kamu ngapain disini?" Ria menatap sekilas wajah Ano.
"Huusstt... jangan berisik, aku juga ingin lihat si play boy benar-benar jatuh cinta." Bisik Ano sangat lirih.
Ria mengangguk paham, setelah cukup pengambilan gambar Ria segera pergi ia takut jika di ketahui aksinya barusan, cukup Ano saja yang memergoki aksinya barusan. Berani betul ucapan Ano semoga Ksatria Malik tidak mendengar ucapannya barusan itu.
Setelah selesai menyuapi Ksatria. Daysi menyodorkan segelas air putih kepada Ksatria. Dengan senang hati Ksatria menerima pemberian Daysi. Ksatria memajukan wajahnya bersiap-siap menerima sodoran minum oleh Daysi namun dengan cepat-cepat Ksatria merebut gelas tersebut.
"Tidak usah sok perhatian aku bisa sendiri kalau satu gelas air putih." Ksatria meminum air tersebut sampai tandas.
"Siapa juga yang mau, aku juga terpaksa melakukannya," Daysi masih kokoh dalam pendiriannya untuk membentengi hatinya terhadap pesona Ksatria Malik.
"Apa kamu tidak memiliki daya tarik terhadapku Daysi?" Ksatria mentap sekilas wajah Daysi yang kebinggungan menjawab apa.
__ADS_1
"Daya tarik..., ke kamu?" Daysi menujuk tubuh Ksatria. "Aku usahakan tidak akan terjadi. Pertanyaan konyol yang terlontar!" sanggah Daysi segera bangun dari tempat duduknya dan meninggalkan Ksatria sendirian yang masih mematung.
"Akan aku buat kamu terpesona denganku Daysi." Ksatria sedikit meninggikan suaranya. Saat Daysi hendak memegang handel pintu.
Daysi menoleh sebentar, "aku tunggu dan aku yakin jika orang yang jatuh hati lebih dulu itu kamu pak Ksatria Malik yang terhormat," Daysi segera pergi dari ruangan panas tersebut karena perdebatannya tadi.
Ria yang melihat dari kejauhan hanya tersenyum melihat Daysi yang baru saja keluar dari kamar tersebut. Daysi hanya melihat sebentar tanpa curiga apa yang tadi di lakukan oleh Ria. Ria tersenyum saja untung ia dengan segera mengirim foto dan menghapusnya setelah pengiriman gambar berhasil.
Ksatria Malik berusaha bangun, Dokter Ano yang datang ke kamar tamu hanya tersenyum melihat satu langkah kemajuan dari hubungan rahasia tersebut. Ano segera melepas selang infus karena carian di dalam infus sudah habis sementara itu, Ksatria juga sudah pulih dari keadaannya tadi.
Ksatria menatap tajam Ano yang mengemas peralatan medis. Mendapati tatapan yang mematikan Ano segera keluar dari ruangan tersebut.
"Pantas saja mbak Daysi gak betah, si boss begitu menakutkan auranya." Ano menebah-nebah Dadanya saat berada di luar kamar tersebut.
"Dokter Ano, sini sebentar." Panggi Daysi pada Ano. Ano dengan segera mendekati Daysi.
"Ada apa mbak?" Ano menenteng tas kerjanya.
"Sudah baikan dianya, kenapa kamu sudah bersiap-siap kembali?" Daysi sedikit menghawatirkan keadaan Ksatria.
"Sudah baik-baik saja mbak, mbak tenang saja daya imun si boss kuat bahkan sangat kuat saat ini!" Ano sedikit bercanda kepada Daysi.
__ADS_1
Daysi hanya tersenyum palsu. "Terimakasih ya Dokter Ano," Daysi melambaikan tangannya yang mengartikan ucapan selamat tinggal. Ano menganggukan kepalanya dan segera pergi dari kediaman Ksatria Malik.
Ria sedang berkeliling ke tempat lain, Daysi menghela nafas panjang ia buka sedikit pintu tempat Ksatria berbari tadi lebih tepatnya berpura-pura tadi.
"Kemana dia??? kenapa tidak ada disini. Apa jangan-jangan pingsan lagi seperti tadi. Tapi bukannya Dokter Ano bilang jika pak Ksatria sudah baikan saat ini, lalu dimana dia sekarang?" Daysi segera pergi dari tempat tersebut dan menuju kamarnya.
Hari ini Daysi benar-benar bolos kerja, siap-siap besok mendapatkan omelan dan cacian dari teman-temannya lagi.
"Untung hidupku sudah penuh drama jadi tinggal melanjutkannya saja." Daysi merebahkan tubuhnya di ranjang tidur sambil menatap langit-langit kamarnya yang bernuansa kuning es mambo dan merah jambu.
Hari semakin siang Daysi ternyata tertidur dalam lamunannya. Suara ketukan pintu terdengar nyaring sehingga membuat Daysi terkejut dan langsung melomlat dari ranjang tidurnya, jika ada orang yang melihatnya pasti akan menertawakannya saat ini, untung ia di kamar sendirian kalau tidak pasti sangat malu saat ini.
"Daysi buka pintunya, apa kamu lupa dengan tanggung jawabmu?" Ksatria masih mengetuk pintu kamar Daysi berkali-kali.
"Isshh... iya sebentar!" Daysi dengan malas membuka pintu tersebut. "Mau apa lagi, kan sakitmu sudah sembuh bahkan kamu juga bisa kesini sambil mengetuk pintu seperti habis di hantui saja." Daysi segera keluar dari kamarnya.
"Memang aku sudah sembuh tapi bukannya tadi kamu memilih untuk merawatku agar aku tidak memberhentikan biaya anak panti?" Ksatria menjelaskan perjanjiannya tadi pagi.
"Oke... oke... tidak usah di ingatkan aku juga masih ingat betul ancamanmu!" Daysi segera membalikkan tubuhnya.
"Eeiitss... mau kemana?" Ksatria menarik kerah baju Daysi yang berhasil membuat Daysi berhenti.
__ADS_1
"Heyy... lepas dulu leherku tercekik!" Daysi menatap malas wajah Ksatria. Ksatria dengan segera melepaskannya.
"Upps... sorry."