ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
29 Sakit perut gara-gara risoles


__ADS_3

Dalam batin Daysi bersorak-sorak gembira karena jerih payahnya sedari tadi pagi membuahkan hasil. Daysi yakin betul dengan risoles buatannya tidak akan membahayakan perutnya. Memang ada cabai di mangkuk samping risoles, Daysi berharap jika Ksatria juga tidak menghabiskan cabai tersebut. Akan tetapi jika perutnya sanggup ya itu terserah si pemilik tubuh saja.


Daysi segera pergi ke garasi motor seperti biasanya dan tetap itu-itu saja yang ia kenakan. Bahkan jaket kebesarannya ya cuma itu saja serta tas punggung yang memiliki gantungan kunci snow white tetap menggelantung cantik di resleting tasnya. Entah sejak kapan Daysi menggunakannya yang jelas atribut yang di gunakan Daysi adalah kebesarannya dan saksi perjuangan hidup Daysi selama ini.


Ksatria Malik melangkahkan kakinya keluar dari ruang makan, niatnya ingin berangkat ke hotel mengingat ini masih pagi dan sudah jadwalnya dari dulu kalau jam berkerja artinya ia harus berkerja meskipun saat ini harta yang di miliki masih bisa menopang kehidupannya sampai tahun berganti.


Namun Ksatria baru teringat jika ia barusan terlalu banyak memakan cabai sebab risoles buatan Daysi sangat enak. Ia yakin betul jika Daysi yang membuat risoles tersebut. Ksatria Malik memegang perutnya yang sakit.


"Aaww... sshh... sakit sekali. Rasanya seperti dililit kuat-kuat perutku ini." Ksatria segera menuju kamar mandi.


Daysi yang masih berada di parkiran motor terdiam saat namanya di panggil berkali-kali oleh Ria. Ria segera mendekat ke Daysi.


"Si boss perutnya sakit setelah memakan risoles buatanmu. Mbak Daysi di suruh tanggung jawab oleh si boss." Ria segera pergi setelah memberi tau Daysi.


Daysi menelan salivanya dengan kasar berharap Ksatria Malik tidak menghukumnya hari ini. Daysi segera masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan Ksatria Malik. Suara pintu terdengar berkali-kali di kamar tamu dengan segera Daysi masuk ke ruangan tersebut.


1 jam an Daysi hanya melihat Ksatria Malik dengan wajah pucat dan gemeteran karena menahan sakit di perutnya yang memintannya untuk segera di keluarkan lagi isinya.


Tiba-tiba saat Ksatria baru keluar dari kamar mandi pandangannya buram sambil memegang perut yang sakit dan kepala yang berputar-putar. Akhirnya BBRRUGGHH.... Ksatria jatuh pingsan.


"MBBAKK... RIA... TOLONG...." Daysi teriak sekuat tenaga. Para asisten rumah Ksatria menuju sumber suara.


Mereka semua terkejut saat melihat si boss pingsan di depan kamar mandi. Daysi segera memundurkan badannya saat beberapa asisten mengendong tubuh Ksatria Malik menuju ranjang tidur. Ria langsung menelpon Dokter kepercayaan keluarga Malik.

__ADS_1


10 menit Dokter tersebut datang di kediaman Ksatria Malik. Segera mengecek tubuh Ksatria saat Daysi menceritakan kronologi dari kejadian ini. Dokter memberikan infus kepada Ksatria Malik karena ia kehabisan carian yang menyebabkan ia tidak sadarkan dirinya.


"Tolong semua keluar dulu, saya mau berbicara 4 mata dengan mbak Daysi." Ucap Dokter Ano. Semua orang segera berpamitan pergi dari ruangan tersebut.


Daysi kebinggungan dengan permintaan Dokter Ano. Daysi hanya berdiri sambil meremas ujung bajunya dengan kuat-kuat, yang. Dengan penuh keberanian akhirnya Daysi menatap wajah Dokter Ano.


"AA... HHAA... HHAA..., jangan takut mbak Daysi saya tidak akan menyuntikkan obat xx untuk mematikan syaraf kepada mbak Daysi. Tenang oke..., saya mau tanya mbak Daysi apa mbak tidak tau jika si bos Ksatria Malik tidak bisa memakan cabai lebih dari 2 biji saat makan?" Ano menatap wajah cantik Daysi. "Aadduhh... maafkan saya si boss karena menatap wajah istri si boss yang cantik ini." Dalam batin Ano meronta-ronta.


Daysi menggelengkan kepalanya, toh selama ini perut Ksatria Malik baik-baik saja saat memakan masakannya yang lain. Dan baru kali ini hal aneh terjadi saat mengkonsumsi cabai secara mentah.


"Saya tidak tau Dokter Ano, memang tadi saya yang membuatkan gorengan risoles kepada pak Ksatria dan saya juga menyiapkan cabai di mangkuk kecil. Saya benar-benar tidak tau jika pak Ksatria menghabiskannya!" Daysi menunudukkan kepalanya.


"Berarti ini yang salah si boss." Ano langsung menatap si boss yang baru saja siuman.


"Tamat sudah riwayatku sebagai dokter pribadi kediaman Ksatria Malik. Hiks... hiks...," batin Ano menangis.


Ksatria Malik menatap tajam Ano dan Daysi yang sedang berhadapan bahkan jarak di keduanya hanya berkisar 1 meteran. Ano yang mendapatkan tatapan tajam langsung memundurkan tubuhnya menjauh dari Daysi.


Ksatria langsung duduk menyenderkan tubuhnya. Kepala Ksatria memang masih berdenyut karena kehabisan cairan tadi. Kenudian matanya menatap tajam tubuh Daysi yang masih mengenakan seragam kerjanya.


"Daysi sini. Ano aku mau berbicara sama dia kamu keluar dulu." Perinta Ksatria Malik pada Ano. Ano segera pergi dari ruangan panas tersebut.


Daysi berjalan mendekat ke arah Ksatria Malik. Ksatria Malik tidak tinggal diam saja.

__ADS_1


"Ini gara-gara makanan yang kamu buat, kamu harus tanggung jawab dan merawatku hari ini." Ksatria melipat kedua tangannya di dada.


"Kenapa harus aku pak. Kan bapak sendiri yang salah kenapa cabai semangkuk kecil di habiskan padahal risoles berjumlah 10 biji saja," Daysi tidak mau mengalah dengan sikap Ksatria yang menurutnya sangat ceroboh kali ini.


"Oke... kalau kamu tidak mau bertanggung jawab. Penawaran saja kalau begitu, memberhentikan beasiswa anak-anak panti dan memberhentikan sembako anak-anak panti atau merawatku?" tanya Ksatria yang membuat Daysi galau.


Daysi kesal dengan ucapan Ksatria yang selalu mengancam tentang keselamatan anak-anak panti.


"Iisshhh... oke aku akan bertanggung jawab untuk ini!" Daysi duduk di kursi kecil samping Ksatria terbaring.


"Aku lapar ambilkan makanan untukku, gara-gara kamu aku jadi seperti ini." Ksatria berhasil membuat Daysi menuruti kemauannya terlihat jelas jika Daysi mau.


Daysi segera pergi dari ruangan tersebut dan menuju darpur untuk mengambilkan makanan untuk Ksatria Malik. Mbok Yati yang melihat hanya tersenyum semoga ini awal yang baik.


Ano yang masih berada di ruang tamu menikmati secangkir tehnya dengan Ria sang asisten rumah ini. Meskipun Ria hanya asisten namun ia juga salah satu asisten kepercayaan rumah ini bahkan sering kali dulu ia berhasil mengecoh para pekerja lainnya saat membatu Aurellia kabur dari rumah ini tanpa sepengetahuan orang-orang di kediaman ini. Bisa di bilang agen mata-mata juga.


Ano menatap wajah manis ria. Ria yang di tatap Ano segera mengeluarkan ponselnya untuk menghilangkan gerogi dalam dirinya.


Daysi berjalan membawa nampan berisi makanan dan minum. Ksatria yang melihat Daysi membawa makannan untuknya tersenyum dalam hati. Daysi memberikan nampannya di depan Ksatria, namun segera Ksatria tolak mentah-mentah.


"Aku tidak mau, kamu harus suapi aku."


Daysi berdecak kesal. "Dasar manja yang sakit perut bukan tangan, kenapa tidak makan sendiri?" Daysi duduk di kursi kecil sambil menyendok penuh makannan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2