ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
55. Malam tak terlupakan


__ADS_3

Ruangan pribadi Ksatria Malik.


Ksatria menatap wajah laki-laki yang ada di depannya itu dengan intens.


"Kenapa anda menatap saya terus, jangan bilang kalau anda ini...," belum sempat meneruskan kata-katannya hawa dingin menusuk tulang belulangnya.


"Gay, kamu pikir saya tidak waras sampai-sampai saya menyukai sesama jenis. Istriku di rumah sangat cantik dan menggoda buat apa cari yang sama denganku. Satu lagi jika kamu ingin membuat dirimu di cintai wanita bagaimana jika kamu berkerja sama dengan saya. Rencanannya bulan depan saya membangun hotel kedua saya di kota ini apa bisa saya mengandalkanmu?" Ksatria menatap pemuda yang ada di depannya.


"Oke siap, sekalian perkenalkan nama saya Sacha. Senang bisa berkerja sama dengan anda Pak Ksatria Malik!" sambil tersenyum lebar.


"Cihh... tadi saja murung seperti kain lap sekarang bersinar-sinar seperti kaca." Ksatria tidak habis pikir dengan Sacha.


"Eemm pak Ksatria bolehkah saya menginap di tempat anda?" Sacha mengusap-usap lengannya. Ksatria melototkan matannya.


"Kamu ini, sudah di beri hati minta jantung sekalian otak juga biar lengkap." Ucap sinis Ksatria pada Sacha.


Sacha tidak tinggal diam ia berpura-pura tertindas. Agar Ksatria berbaik hati, ini adalah kelemahan Ksatria melihat orang seperti itu membuatnya tidak tega.


"Boleh yaa pak Ksatria, saya mohon bukannya kediaman bapak sangat besar?" Sacha menangkupkan kedua tangannya seraya memohon.


Ksatria memijat pelipisnya rasa pusing menghadapi kecerewetan Sacha seperti adik dan istrinya, saat meminta sesuatu.


"Haduhh... kenapa Tuhan mengirimkanku makhluk seperti ini, kalau yang memelas sepeti ini istriku aku dengan senang hati. Sementara ini aku bahkan tidak mengenal asal usul keluargannya karena identitas yang aku dapatkan cuma ia kuliah dan berkerja di salah satu perusahaan besar, cuma itu saja." Dalam batin Ksatria mengeluh.


Lalu ia menatap Sacha. Ksatria menhela nafas panjang.


"Kamu tidur di hotel ini saja sementara waktu sampai kamu benar-benar punya uang untuk menyewa tempat tinggal sendiri." Ksatria memberikan solusi namun wajah Sacha mendadak sedih.


"Saya ingin tinggal dengan anda pak Ksatria bukan di hotel ini. Saya juga ingin merasakan kemewahan rumah anda pak," ucap Sacha tanpa di saring ucapannya.

__ADS_1


"Cihh... laki-laki matre, enggak akan aku biarkan kamu tinggal di kediamanku, menggangu keromantisanku dengan istri tercintaku saja. Kalau tidak mau terserah tinggal di kolong jembatan atau jalannan juga terserah kamu sendiri." Ksatria meninggalkan Sacha sendirian di ruangannya.


Okta yang baru saja di temui oleh Ksatria, langsung menyuruh bawahannya untuk menyiapkan kamar dan makanan untuk orang yang berbuat heboh tadi pagi dengan aksi yang hampir membuat hotel Royal Malik tambah terkenal. Mau tidak mau Sacha mengiyakan dari pada ia tidur di jalanan apalagi sekarang musim penghujan.


Sore hari.


Ksatria segera memacu kendaraannya menuju kediamannya. Ksatria mencari keberadaan Daysi namun tidak menemukannya tiba-tiba Ksatria ingin masuk kedalam kamar mandi kamarnya, Ksatria langsung melototkan matannya saat melihat pemandangan yang menakjubkan sekali. Seperti mendapatkan lottre saja sore ini.


Daysi yang sadar kedatangan Ksatria langsung menutupi tubuhnya dengan jubah handuk, ia tidak mengucapkan kata-kata pedas lagi pada Ksatria pasca kecelakaannya beberapa hari yang lalu.


"Eemm Daysi, maaf tadi pagi aku langsung buru-buru ke hotel karena ada sesuatu yang gawat ada seseorang yang..." Daysi tersenyum saat Ksatria berucap begitu polosnya.


"Kamu selesaikan dulu bersih-bersihnya aku tunggu di sofa." Daysi melambaikan tangannya. Ksatria tersenyum saat mengetahui jika istrinya tidak marah padanya.


10 menit kemudian. Ksatria sudah selesai dengan acara bersih-bersihnya dan langsung mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambutnya dan di bantu Daysi agar lebih cepat kering. Ksatria meletakkan hair dreyer di meja depannya ia duduk.


"Eemm Daysi tadi ada pemuda yang ingin mengakhiri hidupnya, makannya aku segera menuju hotel aku tidak mau hotelku menjadi tambah terkenal dan masuk trending topik dan mengakibatkan para wartawan mengincar hotelku." Ksatria memegang telapak tangan Daysi.


"Yahh... untungnya aku bisa menaganinnya sampai ia urungkan niatnya mengakhiri hidupnya. Dan saat ini ia aku beri tugas untuk menjadi arsitek hotelku bulan depan Daysi!" memainkan jari Daysi yang kecil-kecil di tangannya.


"Terus ia setuju dan mau gitu?"


"Iya dia mau, bahkan aku sangat kesal saat mengingat wajahnya. Hampir saja aku memukul wajahnya, sudah di beri hati minta jantung!" wajah Ksatria nampak kesal sekali.


"Maksudnya di beri hati minta jantung itu apa?" Daysi melepas genggaman tangan Ksatria.


"Yah sudah di beri pekerjaan tetep ngeyel ingin tinggal disini, enak aja ya aku ancam saja jika tidak mau tinggal di hotel ya terserah mau di jalanan atau di kolong jembatan. Lalu aku tinggal pergi saja dari pada pusing!" Ksatria menyenderkan kepalannya di tembok.


"Kalau aku sih pasti melakukan hal yang sama jika di posisi dirimu Sat, oh yaa tentang permintaanmu itu bagaimana apa kamu benar-benar menginginkannya?" Daysi menunduk malu dengan ucapan barusan.

__ADS_1


Ksatria langsung menata dengan wajah yang berseri-seri bahagia rasannya tidak percaya Daysi mengucapkan hal tersebut.


"Benarkah kamu ikhlas melakukannya denganku Daysi?" Ksatria sudah tidak sabaran ia meraih dagu Daysi dan memberikan hisapan-hisapan lembut di bibir merah muda Daysi.


Daysi tidak membalas perbuatan Ksatria saat ini ia hanya mematung seperti boneka hidup saja. Ksatria melepas bibirnya sambil menatap wajah Daysi dengan penuh tanda tanya.


"Kenapa, balaslah ciumanku Daysi." Daysi menganggukkan kepalannya. Ksatria meraih tengkuk Daysi agar lebih kuat lagi hisapannya.


Setelah merasa kehabisan nafas Ksatria melepas dan memberi jeda agar normal kembali nafas keduannya. Karena ciuman memabukkan itu membuat Ksatria dan Daysi hanyut dalam permainan sorenya tersebut. Untung saja pintu telah dikunci sebelumnya jadi tidak akan ada yang berani menggangu dua insan yang di mabuk cinta.


"Sat..., aku... aku... takut," ucap lirih Daysi saat Ksatria menurunkan celana yang di kenakan Daysi saat ini.


"CCCUPP..., bukannya aku pernah bilang jika aku tidak akan merengutnya dengan paksa jika kamu belum siap dan ikhlas melakukannya. Jadi bagaimana apa kamu siap melakukannya?" di selingi ciuman.


Sungguh permainan Ksatria saat ini membuat Daysi melayang tak karuan, meski ada ketakutan di wajahnya namun tubuhnya berkata lain.


"Aku mulai ya?" tanya Ksatria yang langsung di angguki Daysi.


Setelah permainan selesai Ksatria duduk sambil menyenderkan punggungnya di ranjang tidur sambil mengecek laptopnya. Banyak email yang masuk karena akhir-akhir ini banyak yang mengajaknya berkerja sama.


Daysi yang menutupi tubuhnya dengan selimut kini menatap Ksatria dengan malu, bagaimana tidak malu Ksatria membuatnya berkali-kali pelepasan, Ksatria melirik Daysi dengan tersenyum sambil mengacak rambut Daysi yang basah karena keringatnya.


"Kenapa, masih kurang lagi?" Ksatria menggoda Daysi.


"Tidak, sudah cukup. Aku lapar Sat, ambilkan makan ya!"


"Sebentar aku ambilkan." Ksatria bangkit dari ranjang dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebentar.


Setelah mengenakan pakaiannya Ksatria keluar kamar untuk mengambilkan makanan. Nampan yang di bawa Ksatria cukup ringan meskipun isinnya sangat banyak bahkan piring yang ia gunakan sampai tidak terlihat tepinya.

__ADS_1


***


__ADS_2