
Gauri begitu menikmati makanannya yang berlauk kan ayam dan sayuran sehat, sedangkan Aldy justru menikmati wajah cantik istrinya. Tak pernah ia sangka-sangka jika wanita di hadapannya kini sedang makan bersama dengan dirinya di pagi setengah siang itu.
"Hak.." membuka mulutnya lebar-lebar.
Gauri paham dan langsung menyuapi suaminya, Aldy bahagia sekali sudah lama dirinya tidak di perhatikan begini oleh orang yang ia anggap membuat nyaman dan tulus tidak seperti orang lain yang mendekati dirinya lantaran latar belakang yang baik bahkan cukup baik dari orang lain.
Sedih saat butuh bantuan tanpa adanya uang semua tidak ada yang bergerak sama sekali.
"Kenapa air mata kamu menetes, mas?" Gauri jadi bingung kan gak ada angin atau hujan tapi dari pelupuk mata Aldy menetes air bening di ujung matanya.
Aldy menggeleng.
"Tidak.. tidak.. apa-apa sayang hanya terharu dan senang sudah lama aku tidak merasakan di suapi oleh orang yang aku sayang dan cintai, dari orang-orang yang aku pedulikan Gauri!" menghapus jejak air matanya sendiri.
"Ya sudah.. sini aku suapi kamu lagi. Ayo.. buka mulutnya mas." Menyendokkan lagi makanan yang berada di piringnya ke mulut Aldy.
Aldy yang berbahagia mengangguk dan membuka mulutnya lagi, rasanya begitu nikmat saat di suapi istri tercinta. Dulu ia pernah berangan-angan jika suatu hari nanti ada yang menyuapinya seperti waktu kecil dulu, sayangnya tidak pernah sekalipun kedua orangtuanya mau menyuapinya malah seorang baby sitter yang merawatnya yang menyuapi dirinya makan, dan terakhir saat adiknya masih remaja dan belum menikah dulu.
"Terimakasih sayang," Aldy mengusap bibirnya dengan tisu usai makan.
Aldy mengambil alih piring Gauri dan mengisinya kembali dengan nasi dan juga pelengkap lainnya, Gauri juga sama seperti dirinya bahagia. Bahkan pancaran kebahagiaan Gauri terlihat begitu mendambakan selama ini jauh lebih besar harapannya dari pada dirinya ini.
"Ayo buka mulutnya."
Pada akhirnya pagi setengah siang makanan yang masuk ke dalam perut begitu nikmat, Aldy kenyang sebab di suapi oleh Gauri sedangkan Gauri juga sama kenyang seperti Aldy.
Banyak kebahagiaan dan juga cinta, Aldy sempat berpikir jika kisah hidupnya akan sangat rumit. Kehilangan Gauri dan harus menikah dengan Bella setelah itu ia menyesal dan tau kenyataan jika Bella mengandung anaknya orang lain, dan yang lebih parahnya lagi Gauri tidak mau menemuinya lalu beberapa tahun kemudian ia mengetahui kenyataan bahwa Gauri memiliki putra yang sangat tampan seperti dirinya waktu kecil dulu, pasti dirinya saat itu terpuruk dan hanya berada di dalam hidup yang penuh dengan penyesalan dan air mata.
Tapi sekarang Aldy justru bersyukur semua itu tidaklah nyata dan hanya pikirannya sendiri yang buruk tentang kejadian yang tidak-tidak.
"Hari ini kita mau kemana? kenapa menyuruhku untuk berdandan?" Gauri tidak nyaman saat salah satu seorang perias mendempul wajahnya dengan makeup mahal di depannya.
"Supaya kamu terlihat cantik di depan aku!" masih memandangi wajah ayu dan anggun milik Gauri.
"Bukannya setiap hari aku cantik sebab perawatan kulit dan wajah dari skin care yang kamu belikan mas." Kesal juga sih hampir setiap hari dulu selalu menjadi sasaran orang-orang salon untuk mendandani dirinya agar terlihat menarik di depan mata semua orang.
Padahal Gauri sebenarnya tidak nyaman di perlakuan begini, ia tertekan dalam hidup dan dirinya juga bukan seorang penjabat tinggi atau seorang publik figur. Dirinya hanya orang biasa dan kurang pantas, tapi.. ya terserah deh jika itu dapat menyenangkan hati dan mata Aldy yang notabenenya sekarang adalah suaminya.
"Iya juga sih.. tapi itu tidak benar sepenuhnya sayang. Lagi pula pada dasarnya kamu sudah cantik tinggal poles sedikit saja sudah sangat luar biasa, rasanya tidak rela jika kamu keluar dengan tampilan yang begitu anggun dan menarik hati. Bahkan.. mantan suami kamu itu saja tergila-gila lagi ke kamu, aku cemburu banget loh." Sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Gauri tersenyum, lucu ya ternyata Aldy saat ngambek di tambah lagi bibirnya manyun.
Gauri yang tidak tahan langsung mencubit pipi Aldy membuat semua yang berada di ruangan tersebut tercengang.
"Aww.." memegang pipinya.
"Sakit..." Matanya berkaca-kaca.
Gauri mendelik tidak percaya, kenapa jadi gini apa ada yang salah setelah jadi bucin?
"Benarkah?" mengusap pipi Aldy dengan lembut.
Antara terkejut dan heran, tapi yang jelas satu semua orang pandangannya tertuju pada Aldy dan Gauri. Pasangan yang baru menikah terlihat sangat romantis dan serasi sekali. Mungkin ini yang namanya takdir dari Yang Maha Kuasa untuk makhluknya di bumi, harus selektif dalam memilih pasangan hidup agar tidak ada kata-kata menyesal di kemudian hari.
Ketika di dalam mobil genggaman tangan Aldy tidak lepas sama sekali dan Gauri membiarkan itu, ia juga merasakan kenyamanan saat Aldy bersikap begini perhatian dan penuh dengan cinta saja, biarkan Aldy bahagia untuk sekarang agar dia lekas kembali seperti dulu sebelum semua orang yang ia cintai dan sayangi satu persatu pergi meninggalkan dia sendirian menghadapi kenyataan hidup.
"Kita mau ke taman bermain?" wajah Gauri mendadak ceria padahal baru beberapa detik yang lalu wajahnya masam.
"Iya, apa kamu suka sayang?" Aldy begitu antusias sekali.
__ADS_1
Demi istri tercinta apapun akan ia lakukan agar senyum di wajah Gauri agar kembali lagi, sudah cukup penderita yang ia berikan selama ini pada Gauri kini saatnya kebahagiaan untuk Gauri seorang.
"Iya.. aku sangat-sangat suka mas!" gembira riang.
Sengaja wahana tidak ia pesan hari ini biarkan saja banyak pengunjung yang datang di area taman bermain itu agar terlihat alami dan normal. Aldy sadar jika Gauri suka keramaian untuk menikmati kebahagiaannya, hanya dengan begitu rasa lelah yang ia rasakan akan sedikit luntur dan tidak menjadi beban di pundaknya.
Setelah keluar dari mobil kini Aldy dan Gauri sama-sama masuk ke area taman bermain wahana, tempat yang selalu ia impi-impikan selama ini. Sepanjang hidup baru kali ini Gauri menginjakkan kaki di tempat bermain, dulu memang dirinya tidak mampu sebab uang yang ia miliki harus ia simpan agar saat ujian sekolah datang atau keperluan untuk dirinya habis.
"Kamu suka sayang?" Aldy menatap wajah Gauri yang berkaca-kaca.
"Terimakasih mas.. baru kali ini aku merasakan di tempat ini, terimakasih banyak mas!" malah meneteskan air mata.
Aldy mengusap kedua pipi Gauri yang basah dengan ibu jarinya.
"Sudah.. jangan menangis lagi aku tidak pa dari menenangkan wanita menangis di depanku, ayo kita nikmati berdua hari ini. Aku akan sering-sering mengajak kamu ke tempat ini aku janji sayang."
Gauri tidak dapat berkata apa-apa yang ia rasakan kebahagian yang tiada taranya. Asalkan bersama Aldy kebahagiaannya bertambah berkali-kali lipat dari sebelumnya.
"Iya, aku tidak akan menangis lagi mas. Sudah capek air mataku jatuh kemarin-kemarin sampai mata pedih dan bengkak," cengegesan.
Aldy mengacak-acak rambut Gauri dengan gemasnya.
"Mau coba permainan itu?" menunjuk salah satu permainan yang ada di wahana tersebut.
"Boleh!" langsung menuju ke stand permainan lembar gelang ke botol.
Meski belum pernah mencobanya pasti bisa meski ada gagal sebab belum pernah merasakan sensi permainan yang ada di taman ini.
Berkali-kali Gauri mencobanya dan hanya satu yang masuk dan dapat imbalan snacks ringan saja 1 biji. Aldy sedari tadi tertawa melihat tingkah konyol Gauri yang benar-benar seperti anak kecil yang baru datang kemari.
"Yah... gagal lagi deh." Cemberut.
"Sini aku yang main oke, kalau masuk semua aku dapat imbalan apa sayang?"
"Siappp.. laksanakan tuan putri yang cantik!" jawabnya dengan hormat.
Gauri tersipu lagi.
Mungkin tergantung tangan dan konsentrasi yang tinggi, kenapa Aldy semenakjubkan seperti itu. Kenapa semua permainan ia bisa mainkan bahkan ahli sekali, apakah ia sering mengajak kencan para kekasihnya itu di tempat-tempat beginian, lagian di beli saja bisa pasti saat menyenangkan hati wanitanya dulu dengan cara berlebihan dan tidak tanggung-tanggung.
Gauri segera menepis pikiran jeleknya tentang Aldy dengan masa lalunya,biarkan jadi pelajaran dan masa depan saatnya perbaikan diri.
"Yes.. berhasil lagi, ambil mainannya sayang." Menengok ke arah Gauri.
Aldy mengerutkan dahinya, ada apa dengan istrinya.
"Kenapa?" menatap intens wajah Gauri.
"Tidak apa-apa mas!" menyunggingkan senyum terbaiknya.
"Mikirin apa sih sayang?" mengusap pipi Gauri dengan lembut.
Lagi.. lagi Gauri hanya menggeleng saja dan membuat Aldy harus lebih sabar menghadapi istrinya, mungkin Gauri masih kepikiran perbuatannya dulu yang menyia-nyiakan dirinya lahir dan batin bahkan melampiaskan amarah dan naf$unya pada Gauri padahal Gauri sendiri sudah memohon-mohon ampun agar di lepaskan dan di bebaskan, nyatanya malah terbelenggu di tali emas yang tidak bisa Gauri putuskan tali tersebut.
"Aku jujur ya, sebenernya sedari tadi aku tuh mikirin kamu yang sering ganti-ganti pacar. Pasti kamu sering bawa pacar-pacar kamu ketempat-tempat seperti ini kan mas?" menengadah sambil melihat langit.
Gauri tidak mampu menatap netra Aldy, dirinya akan terpesona lagi pada Aldy dan itu kelemahan dia. Meski Aldy dulu pernah bersikap kasar tapi perhatiannya mengalahkan itu semua, seolah-olah sikap kejam Aldy lenyap tiba-tiba.
'Eh.. aku kira dia marah denganku sebab aku melukai dia dengan sikap egoisku dan buta sebab dendam salah alamat, tau.. taunya malah mikirin aku yang suka gonta-ganti wanita.'
__ADS_1
Aldy menepuk jidatnya.
"Itu tidak benar, meski aku suka Gonta ganti tapi sekali saja tidak pernah mas ajak ketempat ini sekali pun Risma, dia juga tidak pernah aku ajak ke tempat ini. Terakhir.. aku kemari bersama adikku Alda tapi.."
Aldy tidak mampu bercerita hatinya lemah dan sakit sekali mengingat adiknya yang sudah tenang di alam sana.
Gauri memeluk erat tubuh Aldy dan memberikan kehangatan padanya, agar suaminya tidak bersedih lagi. Nasib Aldy dan Gauri memang tidak jauh berbeda, dirinya tidak tau berasal dari mana yang ia tau tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini. Tapi sekarang Gauri sangat bersyukur dengan kehadiran Aldy di hidupnya.
Aldy juga sangat berterimakasih sudah di pertemukan dengan wanita yang bernama Gauri, wanita yang mampu merubah hidupnya yang dulu suram kini cerah mereka seperti bunga yang bermekaran.
Aldy menyembunyikan wajahnya di celetuk leher Gauri dengan menempelkan hidungnya dekat area sensit1f Gauri. Gauri menahan sekuat tenaga agar ia tidak bersuara di tempat umum begini.
'Memang sialan Aldy ini, apa gak lihat suasana apa. Lihat-lihat kondisi dong.. apa gak sadar ini tempat umum dan yang ia endus-endus area sens1tif.'
Gauri mencoba menjauhkan sedikit dan memindahkan wajah Aldy tapi percuma saja. Aldy sepertinya sengaja melakukannya.
"Jangan di pindah." Protesnya.
Gauri mematung, bingung tapi geli juga.
Gauri pasrah saja lagian tidak mungkin juga Aldy akan berbuat macam-macam padanya di tempat umum seperti taman bermain di siang bolong begini.
Beberapa bulan kemudian.
Gauri merasakan badannya panas dan tidak nyaman bahkan perutnya terasa seperti di aduk-aduk.
"Sayang.. kamu tidak apa-apa?" tanya Aldy yang berada di depan pintu kamar mandi.
"Iya.. tidak apa-apa!" jawab Gauri dari dalam.
Tapi rasa hawatir mendera di dada, kenapa istrinya pagi ini mendadak pucat dan badannya panas di sertai perutnya terasa di aduk-aduk apakah Gauri berbadan dua.
"Gauri.. kita periksa ke rumah sakit ya."
"Tidak," setelah mengeluarkan sesuatu yang mengganjal dari dalam perutnya ia keluar dari kamar mandi dan mencari kotak obat untuk mengoleskan minyak angin.
"Kenapa tidak mau?" Aldy membantu memperbaiki baju Gauri yang sudah ganti dengan pakaian biasa.
"Aku sudah tidak apa-apa mas!"
Tapi sebagai suami ia sangat hawatir dengan kesehatan istrinya, di tambah lagi badannya panas tinggi.
'Kecapekan atau hamil sih istriku, atau jangan-jangan maagnya kambuh sebab makan tidak teratur setiap paginya.'
Aldy menebak-nebak saja.
Setelah mengoleskan minyak angin di perut, punggung,leher, telapak kaki dan tangan.
"Benarkah baik-baik saja?" menyentuh area dahi dan leher.
Pasti gara-gara ulahnya tadi malam yang lepas kendali lagi bahkan berkali-kali menyirami rahim Gauri sampai kembung, pasti ulahnya yang selalu memaksa dan memimpin permainan panasnya dan pada hari ini berakhir semua, wanita yang ingin ia bahagiakan tidak hanya jiwanya tapi juga raganya malah ini kini sakit sebab ulahnya.
"Maafkan aku sayang, pasti gara-gara semalam yang terus mengajak kamu bermain." Sambil mengusap-usap perut Gauri yang masih rata.
"Iya.. tidak apa-apa mas, lagian sudah waktunya sakit ya sakit mau bagaimana lagi coba. Bukannya sakit juga baik untuk tubuh kita agar kita beristirahat dan tidak hanya mengejar dunia akhirat saja," masih menyunggingkan senyum padahal wajahnya sangat pucat sekali sambil menahan gejolak di perutnya.
"Ini minum teh hangat dulu sayang." Memberikan pada Gauri.
Gauri menerima selagi hangat, sebenarnya mau menolak belum terisi apa-apa tapi sudah di sodorkan teh hangat.
__ADS_1
*
Belum selesai ya ceritanya, masih up beberapa bab lagi. Terimakasih sudah mendukung dan membacanya sampai selesai.