ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
S3. Jujur


__ADS_3

Gauri terlihat sangat malu, apa coba maksudnya. Gauri malah malu sendiri pasti Mimi juga tau sebab terkadang Mimi memberikan obat itu pada Gauri secara langsung. Tapi belum tentu pengguna obat bisa berhasil mencegahnya, tergantung tubuh masing-masing orang, setiap orang memiliki tubuh yang berbeda-beda.


"Mbak Mimi, jika saya berhenti minum obat ini. Apakah saya akan hamil secepatnya?" Gauri masih polos dan berusaha ingin tau sekali.


"Iya mbak Gauri, jika nanti pak bos yang meminta mbak Gauri untuk berhenti meminum pil itu pasti mbak Gauri akan merasakan menjadi seorang ibu secepatnya!" jawaban yang tidak ingin di dengar.


Lagian siapa yang mau jadi ibu untuk anak dari pria seperti Aldy itu, arrogant dan psikopat.


"Ee ... he... he..., begini saja saya bahagia mbak Mimi tidak perlu sampai mengandung anaknya, bisa-bisa saya tersiksa dua kali." Tersenyum kikuk.


Gauri tidak tau mau bicara apalagi di tambah Mimi adalah orang kepercayaannya bisa di bilang mata-mata rumah ini.


"Tapi kemarin kalau tidak salah dengar pak bos ingin punya satu anak kandung, tapi yang saya bingung siapa calon ibunya. Sedangkan pak bos belum menikah, tapi di lihat dari gelagat pak bos seperti nya mbak Gauri yang akan menjadi calon ibu untuk anaknya." Tanpa Mimi sadari Gauri sudah melebarkan mata dab telinganya.


Apa tidak salah dengar, di jadikan ibu untuk calon anaknya saja. Gila itu orang, apa gak mikir nanti perasaan seorang ibu yang kehilangan anaknya tapi beda cerita jika ibunya gak ingin anaknya. Sedangkan dirinya, sudah hidup sebatang kara di siksa jiwa raganya apa orang itu gak mikir akibatnya nanti. Seenak jidatnya bilang ini dan itu, apa dia gak tau tersiksa batin orang yang di buat trauma.


"What's, telinga saya tidak kemasukan air kan apa saya salah pendengaran check ..." Sambil menjewer telinganya sendiri.


Mimi menggelengkan kepalanya.


Gauri menepuk dahinya.


"Mampus gue." Lirih.


Berusaha kabur dari villa ini tapi apalah daya kakinya tidak kuat berjalan puluhan kilo meter dari pusat kota, bahkan untuk lepas saja rasanya mustahil sekali.


"Mbak Gauri bilang apa? tidak bakalan terkena masalah ko mbak. Asal mbak tau, dulu pak bos juga mempunyai seorang adik perempuan ia sudah menikah tapi suaminya meninggal saat bertugas di perbatasan Indonesia dan luar negeri, ia merawat adiknya yang sedang berbadan dua waktu itu. Adiknya memiliki kandungan lemah dan harus ekstra penjagaannya tapi sayangnya sang adik juga ikut-ikutan menyusul suaminya meninggal, beliau meninggal saat melahirkan anaknya begitu juga dengan bayinya tidak ada yang selamat saat operasi itu terjadi. Maka dari situ pak bos jadi laki-laki seperti ini mbak, dan satu lagi yang harus mbak tau ... tapi mbak jangan bilang-bilang mbak tau dari saya ya mbak." Memohon dengan sangat tulus.


Gauri mengangguk lagi.


Mimi bernafas lega, setidaknya cerita masa lalu bosnya sedikit di ketahui oleh Gauri, agar Gauri mau tetap tinggal di villa ini dan merubah bosnya yang dingin itu menjadi hangat dan dapat tersenyum dengan lepas tanpa adanya beban sama sekali dalam hidupnya.


"Mbak."


"Hem.. ada apa mbak Mimi?" Gauri melihat bunga yang berada di vas bunga.


'Kenapa villa nya penuh dengan bunga, bunga mawar lagi seperti dirinya. Bunganya sangat cantik tapi tidak dapat di sentuh tangkainya jika tidak berhati-hati maka durinya yang tajam akan menusuk siapapun yang mencoba merusak dirinya.'


"Em.. itu mbak Gauri, sebenarnya saya di suruh pak bos untuk mendadani mbak secantik mungkin hari ini dan di suruh datang ke hotel!" Mimi menatap netra Gauri yang hanya fokus pada bunga mawar berwarna putih itu dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Iya." Gauri mengiyakan saja.


Lagi pula apa haknya untuk bebas, menjadi tawanan dan di penjara di villa ini. Padahal kesalahan apa yang ia perbuat hingga harus menanggung dosa seperti sekarang, apa dirinya begitu hina sampai-sampai semua orang menganggapnya rendahan.


Hatinya terluka tapi raganya berusaha baik-baik saja dan tersenyum layaknya orang bahagia, meski tak mendapatkan kebahagiaan tapi biar orang lain tau jika dirinya sedang baik-baik saja tanpa adanya luka.


Mimi begitu sangat telaten saat merias wajah Gauri, sungguh luar biasa Mimi ini. Apa dulu menjadi orang kepercayaan Aldy melakui seleksi yang ketat dan akurat.


"Mbak, apa belum selesai riasan wajah untuk saya?" menatap dari pantulan secara sembunyi-sembunyi.


Gauri sekarang memang tidak suka dengan cermin, sedih berkepanjangan jika melihat pantulan wajahnya sendiri. Sesak di dada teramat perih, biar orang lain berpendapat buruk tentang wajahnya yang terpenting ia mendinginkan hatinya yang selalu penuh dengan amarah yang ia pendam sendirian.


"Sebentar lagi mbak Gauri, mbak kamu sangat cantik sekali dengan polesan seperti ini. Kenapa mbak tidak mau saya dandani setiap hari?" Mimi ingin sekali merias wajah cantik natural Gauri.


Gauri hanya tersenyum mendengar Mimi yang suka ceplas-ceplos saat berbicara tanpa rem tentunya.


"Gak mau mbak, mengantisipasi jerawat bersarang dan bersemi!" sambil tersenyum.


Gauri terpaksa melihat wajahnya sendiri di pantulan cermin, seperti bukan dirinya yang sesungguhnya. Apakah ini wajah keduanya, jika iya kenapa wajah pertama miliknya tidak seberuntung wajah keduanya.


Wajah pertama miliknya hanya ada kepedihan, semoga dengan gantinya penampilan membuat hidupnya lebih cerah lagi,semoga hanya ada kata-kata doa saja yang mampu ia ucapkan setiap langkah hidupnya.


"Mbak Mimi tadi kenapa ceritanya tidak di lanjutkan, padahal saya penasaran loh." Gauri membahas cerita yang masih sepenggal itu.


Mimi mendadak lupa, lalu ia tanpa sengaja di pantulan cermin teringat bosnya.


"Cerita yang mana sih mbak Gauri?" aktingnya totalitas sekali.


"Kalau gak mau cerita, saya tidak mau di make-up in biar kamu di pecat saja!" acuh dan mengikuti semua sifat dingin Aldy.


Mimi menelan salivanya.


'Kenapa rasanya mbak Gauri seperti pak bos ya.. dan perintahnya harus juga di laksanakan. Ya, ampun jika nanti mereka berdua benar-benar menikah dan memiliki seorang anak bukankan sama artinya aku bunuh diri secara perlahan dan diam-diam sebab tekanan batin yang menyakitkan seperti ini.'


Mimi menggeleng.


"Cepat cerita." Gertak Gauri membuat nyali Mimi menciut.


"Sebenarnya pak bos laki-laki setia pada cintanya dan dia sulit untuk move-on ke lain hati mbak Gauri, jadi saya mohon jangan menganggap sikap semena-mena nya itu adalah sikap kasarnya. Sepertinya pak bos mulai membaik moodnya jika dekat dengan mbak Gauri," lirih sekali ceritanya.


Mungkin ia takut ada orang lain yang tau kisah ini dan membuat dirinya di pecat.


"Masak sih mbak, gak percaya." Sambil manggut-manggut tidak percaya, pasti hoax nih.


'Kalau mood membaik gak mungkin deh, lah aku saja di anggap partner saja gak bisa jadi yang lain misalnya bebas gitu. Lagian.. bukannya wanita itu yang selalu hadir setiap hari , berarti dia yang membuat mood Aldy membaik bukan aku. Kenapa rasanya gak rela dia dengan yang lain.'


Gauri berkelana dengan pikirannya sendiri.


"Beneran loh mbak.. mbak.. mbak.. mbak Gauri." Panggilnya tapi tidak ada respon dari Gauri.


Mimi menghela nafas, percuma juga bicara panjang lebar jika lawan bicaranya diam-diam saja gak nyambung di ajak ngobrol lagi. Mimi beranjak pergi ke lemari pakaian di luar kamar Gauri, pakaiannya sudah di pesan oleh bosnya dan khusus untuk Gauri.


"Haduh.. pak bos pak bos.. jika suka ya bicara kenapa, bukan cuma di ajak ehem terus setiap hari, gak siang, gak malam bahkan pagi juga. Kenapa gak di sah kan dulu baru bergoyang, ini tidak goyangnya dulu sah nya gak tau kapan. Kalau sah kan bakalan ada dedek junior pasti cantik seperti ibunya dan bakalan tampan seperti pak bos. Uhuy..." Mimi berharap lebih.


Mimi berjalan lagi menuju kamar Gauri, ternyata masih sama Gauri melamun dan diam di depan cermin. Apa cermin di depannya bisa bicara.


"Mbak Gauri." Panggil Mimi yang ternyata langsung menyadarkan Gauri.


"Iya mbak Mimi," menoleh.


"Mbak coba dulu dipakai." Menempelkan tepat di depan dada Gauri.


Gauri terkejut dengan pakaian yang akan ia kenakan, dress cantik berwarna kuning kunyit pas sekali dengan badannya yang lumayan bersih bukan putih.

__ADS_1


"Wah... mbak cantik banget, sampai aku terpesona. Ya ampun jangan sampai aku belok.. amit-amit jabang bayi." Sambil mengusap-usap perutnya.


Gauri tertawa.


"Aa.. ha.. ha... Kamu ada-ada saja mbak. Terpesona ko dengan sesama jenis sih mbak, gak boleh lagian kita di takdirkan berpasang-pasangan dengan lawan jenis bukan sesama jenis. Oh ya mbak Mimi, sepatunya gimana?" Gauri menatap kakinya yang mulus dan panjang.


"Lagian mbak Gauri sih penyebabnya, kenapa secantik ini. Aku saja gak secantik mbak Gauri!" manyun.


"mbak Mimi cantik itu relatif, semua cantik di muka bumi ini bagi seorang wanita atau perempuan. Tergantung selera masing-masing, menurut kita cantik tapi belum tentu di mata orang lain cantik, begitu juga dengan saya. Saat kamu melihat saya kamu menganggap saya cantik tapi saat nanti saya ke hotel belum tentu saya di anggap cantik, pasti saya akan di anggap wanita bayaran Aldy yang datang berkunjung yang tidak lain seperti seorang wanita jalan* saja mbak. Oh ya mbak jadi pergi atau ngobrolnya di lanjutkan lagi." Gauri masih saja menyunggingkan senyum.


Mimi mengangguk dan mempersilahkan Gauri untuk berjalan terlebih dahulu dan dirinya mengekor di belakang badannya Gauri.


Hotel


Gauri terkesima dengan bangunan megah itu, kenapa ada hotel semewah ini pasti setiap malamnya mahal sekali, padahal yang pernah ia kunjungi dulu tidak semewah ini hanya hotel berbintang biasa tidak seperti ini.


Gauri terus saja terpesona, banyak orang keheranan melihat keberadaan Gauri seperti orang yang tidak pernah datang di tempat orang menginap dalam jangka waktu tertentu, ada yang menyewa semalam, perjam dan juga beberapa hari untuk urusan bisnis tertentu.


"Mari lewat sini mbak, sudah di tunggu pak bos." Ucap salah satu karyawan hotel.


Mimi tidak ikut turun dan menunggu di mobil, Mimi tau jika bosnya sedikit main-main pada Gauri tapi ia tidak tau ada kejutan apa saat Gauri nanti masuk ke ruangan pribadinya Aldy.


"Saya masuk sendiri?" bingung.


'Kalau nanti lihat pemandangan hot gimana, seperti kejadian tadi pagi. Ck.. kasihan mata suciku yang sudah tidak suci lagi sebab ulah orang jahat ini.'


Tok


Tok


Tok


Tidak ada sahutan sama sekali. Gauri membukanya sedikit dan memasukkan kepalanya ke dalam sambil mengecek di dalam ada orang atau tidak. Gauri lalu memilih duduk di salah satu sudut kursi dan menunggu suara itu berhenti, apalagi jika bukan suara bercinta.


"Dasar penjahat, baru tadi dengan aku sekarang aku datang malah kasih tau sudah ada partnernya." Gauri menggerutu.


Sedangkan Aldy sengaja benar-benar sengaja membuat Gauri tersiksa batinnya.


'Sepertinya dia datang, aku harus membuat wanita ini pergi dulu. Lagian sudah selesai permainannya.'


"Pergi dan jangan lupa pakaian kamu itu." Tunjuknya secara jijik.


Bagaimana tidak wanita yang ia sewa hari ini begitu sangat agresif tapi sedikit pun Aldy tidak tergugah sama sekali malah ia ingin melihat wanita itu pelepasan sendiri di depan matanya agar Gauri percaya jika dirinya sedang bersenang-senang dengan wanita lain, ingin lihat reaksinya seperti apa.


Gauri melihat wanita itu baru saja keluar tanpa menoleh sedikitpun, sedangkan Aldy yang ia tunggu belum keluar pasti sedang membersihkan diri. Beberapa menit kemudian terlihat Aldy keluar dengan handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya.


"Sudah selesai?" Gauri menatap dingin tubuh Aldy dan merasakan jijik benar-benar jijik jika di jamah Aldy lagi.


Kenapa ada manusia seperti Aldy yang suka celup sana sini tanpa memikirkan efek nantinya.


"Sejak kapan datang?" pura-pura tidak tau padahal ia tau dan semua ia rancang senormal mungkin.


"Sejak wanita tadi mendesah hebat berkali-kali di situ!"cuek dan dingin.


"Miliknya sangat hebat dan hangat, saya suka miliknya bahkan milikku tidak mau tidur sama sekali jika dengannya." Bohongnya Aldy pada Gauri padahal kenyataannya hanya Gauri yang dapat melakukan itu semua.


"Ada apa menyuruh saya kemari dan berdandan seperti ini?" Gauri bertanya-tanya dan menatap netra Aldy yang berwarna kelabu.


"Tidak ada!" Aldy berkata seperti orang yang tidak salah sama sekali.


"Benarkah?" sedikit memancing dengan tubuh berpakaian seperti ini mudah sekali terekspos dengan mudah.


Gluk


Aldy terpesona, benar-benar terpesona akan pancaran tubuh Gauri yang besar di bagian atas dan bawah yang belakang, taulah itu tempatnya apa.


"Apakah sudah terpesona?" mendekat dan semakin mendekat.


Wanita tadi saja tidak tau malu, buat apa dirinya masih malu-malu padahal sama-sama tidak suci lagi. Saat hendak mendekat lagi dirinya teringat perlakuan kasar Aldy yang semena-mena, lalu ia memundurkan pandangannya dan memalingkan wajahnya.


Aldy bertanya-tanya, kenapa tidak di lanjutkan menggodanya. Apa setelah membangunkan pergi begitu saja, tidak bisa dirinya butuh pelepasan sekarang di tambah miliknya yang sudah berdiri semenjak kedatangan Gauri.


"Kenapa mundur? ayo lanjutkan. Bukannya kamu kesini mau menggoda saya dengan pakaian mini kamu." Aldy merentangkan kedua tangannya.


Gauri acuh.


Aldy geram langsung menarik pergelangan tangannya dan menarik masuk ke dalam pelukannya.


"Aduh.. sakit tau, bisa tidak lebih lemah lembut dan kalem," protes lagi.


Tapi justru ini yang menyenangkan di hati Aldy, keluhan wanita yang selalu ia siksa di tempat tidur di villa miliknya.


"Jangan lebay." Sambil memijatkan pinggang Gauri.


Pasti pinggangnya sakit akibat ulahnya semalam dan tadi pagi.


Gauri merasakan nyaman saat sentuhan tangan Aldy memijat pinggangnya. Aldy menatap wajah Gauri yang begitu menikmati pijatannya, kenapa wanita ini begitu polos tapi pura-pura tegar di hadapan semua orang padahal luka di dalam hatinya.


"Turun." Perintahnya mendadak.


Gauri mengangguk dan menundukkan pandangannya tidak berani menatap netra Aldy yang begitu tajam serta dingin.


"Tatap mata saya."


Gauri menggeleng.


"Kalau kamu tidak menatap mata saya, kamu akan saya sentuh di tempat ini." Ancamnya yang berhasil membuat netra Aldy dan Gauri saling bertemu.


Sekejap wajah Gauri berubah menjadi wajah kekasihnya yang sudah lama meninggal.


'Risma sayang.'


Aldy lalu mengedipkan matanya kembali dan ternyata bukan Risma Mawar melainkan Gauri wanita yang sudah membuatnya lupa kepedihan yang Risma rasakan.

__ADS_1


'Tidak boleh, aku harus membuat apa yang harus aku perbuat. Gara-gara wanita ini kekasihku tiada.'


Aldy mengepalkan tangannya, sedangkan Gauri bersiap-siap akan di siksa oleh Aldy sebab sorot matanya sudah memerah dan giginya sudah di gerakkan.


"Sini kamu." Langsung saja menyeret lengan Gauri dengan kasar dan memaksa Gauri untuk masuk ke dalam kamar mandi.


Gauri tidak menangis tapi dadanya merasakan sesak yang teramat dalam.


"Aldy.. bunuh saya saja jika itu membuat kamu bahagia dan puas." Cicitnya menatap Aldy dengan tatapan kosong.


Aldy menatap tajam Gauri dan sedikit menyipitkan matanya.


Aldy mengangkat bada Gauri dan mendudukkan tubuh Gauri di atas Wastafel.


"MMM...." Ciuman kasar lagi yang di peroleh Gauri.


Gauri merasakan bibirnya sedikit terluka sebab Aldy mengigit dan menghisap dengan kuat tanpa ampun. Tapi pelan-pelan berangsur lembut dan nikmat sekali kecupan Aldy, Aldy berhenti sebentar dan memberi jeda pada Gauri agar mengambil nafas banyak-banyak lalu melanjutkan kembali kenikmatan antara bibirnya dan bibir Gauri yang saling bertautan.


Gauri merespon dan merangkul tengkuk leher Aldy.



"Pulanglah." Aldy memperbaiki jasnya.


"Iya," Gauri tidak mampu lagi menatap netra maupun tubuh Aldy.


Takut dan hawatir di apa-apakan lagi tapi menikmatinya juga.


"Jangan lupa, nanti pakaian yang aku kirim kamu pakai untuk nanti malam." Aldy berbicara tanpa menatap Gauri bisa-bisa naik lagi naf$unya.


"Pakaian apa lagi? pakaian jaring tipis itu lagi. Bukannya setiap malam pakai itu bahkan sudah menumpuk satu lemari pakaian jaring kusus yang rusak dan satu lemari penuh lagi kusus yang masih baru yang belum kamu robek. Buat apa lagi mengirim pakaian tipis itu lagi, sayang uangnya lebih baik kamu kasih ke orang lain sebagai shodaqoh. Amalan penting untuk bekal nanti," Gauri beranjak pergi tapi lagi-lagi Aldy mencekal pergelangan tangannya.


"Benar juga, tapi aku ingin kamu memakai yang aku pilihkan sendiri. Bersiap-siaplah Gauri." Aldy sedikit bingung jika dekat dengan Gauri.


Setelah tangannya ia lepas dari pergelangan tangan Gauri ia menyambung ucapannya lagi, seolah-olah tidak mau di katakan orang yang tidak setia atau sering mendua dan selingkuh.


"Saya dan wanita tadi tidak melakukan apa-apa, dia bermain sendiri kamu jangan salah sangka." Aldy secara tidak sadar menjelaskan hal yang seharusnya ia hindari dan tidak ia jelaskan pada Gauri.


'Salah sangka, jika ada orang lain yang mendengar langsung pasti menyebut orang ini urat malunya sudah gak ada. Masih bisa-bisanya bilang jangan salah sangka, padahal jelas-jelas suara desah4n wanita tadi yang begitu menikmati bahkan memanggil-manggil nama dan kata-kata faster itu apa coba, mustahil dan aneh.' Gauri tidak percaya sama sekali.


Bahkan wanita yang biasanya datang itu saja ia sentuh sana sini mana mungkin wanita yang jauh lebih cantik tadi tidak di apa-apakan.


"Saya pulang dulu," tanpa menoleh dan berlalu pergi.


Aldy hanya menatap kepergian wanita yang sudah membuat gairahnya selalu naik tapi berhasil juga menurunkannya. Dulu seingatnya ia tidak pernah begini bahkan dengan Risma saja tidak pernah, dulu Risma selalu meminta lebih dulu tapi dan dirinya tidak bisa memuaskan Risma.


"Ga.." percuma saja memanggil jika Gauri sudah menghilang di balik pintu ruangannya.


Hatinya merasa sangat lega saat ia bicara jujur, tapi kenapa dirinya merasa bersalah bukankah ini harapannya membuat Gauri terluka lagi dan lagi tanpa ampun agar wanita itu tidak tahan lagi akan siksaan tiada henti.


"Gara-gara kasihan melihatnya. Jangan sampai dia kepedean lagi, bisa-bisa besar kepala dia. Cih.. gak layak di jujur in tapi kalau gak jujur sedikit nanti malam gagal lagi." Aldy bermonolog sendiri.


Aldy sedikit keheranan kenapa Gauri tidak datang bulan, apakah pil kontrasepsi yang ia pesankan tidak bagus kualitasnya atau jangan-jangan hamil.


Efek samping pil KB yang umum timbul.




Mual dan reaksi mual karena pil KB biasanya akan hilang dengan sendirinya setelah 2 bulan penggunaan.




Sakit kepala dan nyeri payudara.




Perdarahan di luar masa haid.




Kenaikan berat badan.




Gairah sek$ yang menurun.




Perubahan suasana hati yang terjadi secara mendadak atau mood naik turun.




Tidak mendapatkan tamu bulanan saat sedang mengonsumsi pil KB tidak selalu jadi ciri-ciri kehamilan. Pil KB mengontrol kehamilan dengan cara memasukkan hormon tertentu ke dalam tubuh. Perubahan hormon ini bisa mempengaruhi siklus menstruasi pada wanita yang mengkonsumsi pil pencegah kehamilan.


Pil KB aman digunakan oleh sebagian besar wanita. Wanita muda yang bisa selalu ingat untuk mengonsumsi setiap hari dan menginginkan proteksi sempurna dari kehamilan dapat menggunakannya. Namun, tidak semua wanita dapat menggunakan alat kontrasepsi ini dan harus dengan bertanya kepada orang yang ahli dalam bidang tersebut dan di anjurkan berkonsultasi dengan Dokter atau bidan setempat. (Copas Google tapi sudah di rombak)


"Tapi setelah di lihat-lihat seperti tidak hamil, aku akan menyuruh Mimi untuk membeli testpack." Aldy meluncurlah pesan singkat ke Mimi dengan terpaksa.


Biasanya seorang Aldy tidak akan menyuruh atau mengirimkan pesan seperti ini, ada apakah gerangan nya sikapnya berubah 180 Drajat. Apakah jatuh cinta.

__ADS_1


Memang ya cinta tidak dapat di prediksi kapan akan datang dan pergi terus berganti seiring waktu berjalan, padahal niat awal bukan rasa suka yang di tanam melainkan rasa benci atau jangan-jangan benci jadi cinta. Singkatan benci adalah benar-benar cinta.


__ADS_2