
Ksatria yang sudah ikut memanas dengan suasana saat ini, bagaimana tidak sedari tadi dua insan yang ada di depan nya hanya berucap kami... kami... saja sampai Ksatria menjamur menanti jawaban sang adik tersayang dan adik ipar nya tersebut.
"Jadi apa sih jawaban kalian berdua, jangan berbelit-belit." Ksatria membuka botol minuman bersoda.
"Kami," Sacha menghela nafas panjang dan menghembus kan nya. "Akan tetap melanjut kan pernikahan ini, ikatan suci yang mengikat kita berdua tidak akan pernah kami rusak dengan hal yang merugikan kedepan nya." Jawab Sacha secara tegas.
Ksatria berdiri dari duduk nya dan menepuk pundak Sacha, "aku pegang kata-katamu, aku percaya kamu bisa menjaga adik ku yang masih manja ini," mencubit pipi Aurellia.
"Aww..., sakit kak." Mengusap pipi nya yang memerah.
Dalam benak Ksatria, Aurellia tetap lah adik keci tersayang nya meski pun usia nya sama dengan sang istri. Ksatria berlalu pergi dengan hati yang tenang, hampir saja Ksatria menghabisi Sacha jika ia benar-benar memilih wanita itu. Akan tetapi ternyata Sacha tetap pada pendirian nya dan memilih sang adik, mungkin kedepan nya akan ada batu-batu kecil yang menganggu jalan nya.
Aurellia tertunduk setelah kepergian sang kakak, ia bahkan tidak berani menatap wajah tampan milik Sacha. Sacha yang melihat Aurellia tidak berani menatap nya langsung meraih kedua pipi Aurellia agar ia menatap wajah nya.
"Apa kamu tidak ingin melihat suamimu," Sacha menggoda dan tersenyum sangat lebar.
Aurellia yang baru saja menatap mata Sacha langsung terhipnotis dengan pesona yang di miliki Sacha. Senyum yang sangat mempesona Sacha tunjuk kan pada Aurellia, tanpa Aurel sadari bibir Sacha sudah menikmati bibir nya. Aurellia baru sadar saat bibir nya digigit Sacha.
"Jangan banyak melamun kan wajah tampanku," tersenyum jahil.
"Apaan sih," betapa malu nya Aurel saat ini, bagaimana bisa ia tidak merasakan sentuhan Sacha pada bibir nya, Aurellia tersenyum-senyum saja.
Ksatria dan Daysi yang sedari tadi mengintip dua insan yang sedang beromantisan jadi ingin juga, Ksatria bahkan sudah memeluk tubuh Daysi dengan posesif.
"Sayang aku juga mau," rengek Ksatria sambil menciumi rambut Daysi yang di biarkan terurai panjang.
"Isshhh kebiasaan deh," Daysi memukul lengan Ksatria pelan.
Pagi hari.
__ADS_1
Daysi yang baru selesai mandi, langsung mengering kan rambut nya. Untung nya ia punya hair dryer jika tidak pasti malu pagi ini. Ksatria yang sudah rapi dengan jas nya langsung mendekati Daysi untuk memasang kan dasi nya.
"Sudah rapi," sambi membenar kan jas Ksatria.
"Bagaimana dengan rambut ku." Menatap diri nya di pantulan kaca.
"Sudah rapi, ayo turun," Daysi berjalan dahulu sementara Ksatria segera menyusul sang istri.
Saat berada di meja makan Sacha dan Aurellia makan terlebih dahulu bahkan sesekali Sacha menyuapi Aurellia dengan penuh cinta, Ksatria yang melihat keharmonisan sang adik dengan suami nya tersenyum lega.
Daysi segera mengambil kan makanan untuk Ksatria dan untuk diri nya sendiri, Ksatria langsung menerima piring yang di berikan oleh Daysi dengan senang hati. Setelah sarapan pagi Ksatria berpamitan pada Daysi dan tidak lupa menghujani ciuman pada Cheval yang sedang makan dengan Ria yang menyuapi nya.
Sementara Sacha dan Aurellia belum berangkat berkerja karena hari ini Sacha izin cuti untuk pergi ke luar kota menemani Aurellia sebab ada masalah dengan kedai Aurellia yang ada di luar kota.
Empat jam telah berlalu.
"Apa ada yang terluka." Sacha menanyai salah satu karyawan kedai ini.
"Tidak ada pak, cuma kedai saja yang terbakar," sambil menunduk kan kepala.
Sacha yang mendapat jawaban merasa lega setidak nya kebakaran ini tidak menelan korban jiwa, Aurellia memberikan santunan pada semua karyawan nya sebagai ganti rugi karena kehilangan pekerjaan karena musibah tersebut.
Sacha dan Aurellia masuk kedalam mobil, Aurellia masih sangat sedih dengan apa yang terjadi saat ini.
"Aurel, sabar oke." Mencium dahi Aurellia dan mengusap pipi cantik nya.
Malam hari.
Ksatria yang lebur hari ini baru saja kembali ke rumah, seperti kemarin-kemarin Daysi menyambut kepulangan Ksatria dengan penuh cinta. Cheval yang belum tidur langsung merangkak menemui sang papa dan meminta untuk di gendong. Ksatria yang gemas segera menciumi pipi gembul Cheval.
__ADS_1
"Apa kamu sudah makan Sat?" membawakan tas kerja nya.
"Belum, masak apa hari ini," duduk di ruang makan.
"Ayam kecap." Mengambil kan makanan.
"Sepi banget rumah, apa Sacha sama Aurel belum pulang?" melahap masakan yang super enak hasil karya Daysi.
"Tadi aku mendapat pesan singkat, eemm... kata nya kedai Relli kebakaran hari ini," Daysi menggantikan Ksatria menggendong Cheval.
"Terus... apa ada korban dari kejadian ini." Menghenti kan makan nya.
"Aku tidak tau, tadi Sacha hanya mengirim pesan itu saja,"
Hampir pukul 9 malam tetapi belum ada tanda-tanda jika Aurellia pulang, tapi tidak lama mobil masuk ke area halaman ini. Susah di pasti kan itu mobil Sacha. Sacha menggendong Aurellia karena Aurel tertidur di dalam mobil. Sesampai nya di kamar Sacha langsung merebah kan tubuh Aurellia dengan lembut agar dia tidak terbangun dari tidur nya.
Ksatria yang menunggu Sacha turun di ruang keluarga, Sacha yang baru sampai langsung duduk dan membicara kan semua kejadian di kedai hari ini, Ksatria juga sama yakin nya sepeti Aurellia jika ini musibah tapi tidak untuk Sacha karena ini terlalu aneh. Kemarin ia menolak Sonya dan hari ini kebakaran terjadi, ini terlalu aneh dan kebetulan.
"Mikirin apa, dia yang kembali terus berusaha merusak hubungan mu dengan Aurel?" tanya Ksatria yang seolah tau pikiran Sacha.
"Kenapa kamu tau pikiran ku sih, apa sekarang kamu jadi paranormal pembaca pikiran," Sacha tertawa.
"Enak saja, aku tidak bisa membaca pikiran tetapi melihat gelagat kamu aku sudah bisa menebak nya, apa yang ada di pikiran mu itu." Sambil menujuk tubuh Sacha.
Ksatria yang merasa kan jika Sacha dengan Aurellia membutuh kan refresing sekalian honey moon, langsung mencari beberapa tempat yang cocok dan bagus, setelah menemu kan nya ia booking beberapa yang bagus.
"Aku sudah memesan tiket dan penginapan, besok kamu pergi dengan Aurellia untuk menang kan pikiran dan sekalian honey moon." Ksatria berlalu pergi.
Sacha terbengong dengan apa yang baru saja di ucap kan Ksatria, honey moon melayang-layang dalam pikiran Sacha.
__ADS_1