
Ksatria tidak habis pikir nafsunya anak muda ini memang benar-benar tidak terkendali lagi. Untungnya mereka berdua sudah di nikahkan jika tidak pasti sekarang berbeda cerita. Bahkan bisa jadi keluarga Malik jadi hujatan media sosial.
Sindy yang baru saja turun langsung menuju dapur untuk membantu Mala menyiapkan makan malam. Sindy terlihat sangat cantik dengan pakaian santai yang ia kenakan.
Cheval yang melihat sang istri memasuki dapur langsung mengikutinya.
"Sayang." Ucap Cheval meraih pergelangan tangan Sindy.
"Ada apa Aa?" Sindy menatap sang suami.
"Aku bantu siapkan makan malam ya, sudah lama aku tidak menyentuh peralatan dapur semenjak kamu larang." Sambil memanyunkan bibirnya.
Mala yang mendengar ini semua langsung berpamitan pergi dari pada jiwa jomblonya meronta-ronta.
Cheval dengan cepat ia beradaptasi dengan peralatan dapur, pisau yang ia gunakan begitu lincah di tangan Cheval memang benar-benar seperti chef yang ahli dalam bidang memasak. Suara potongan sayur terdengar indah sekali dan berirama dengan suara teflon yang berisi bawang bombai. Bau harum yang keluar dari masakan buatan Cheval membuat siapapun melayang ke langit.
"Apa sebegitu enaknya bau ini sampai-sampai kamu lebih terpesona dengan masakan ku daripada aku yang membuatnya?" tanya Cheval yang berhasil membuat Sindy malu sekali.
"Ee... he... he... iya Aa, masakan Aa lebih mempesona malam ini!" jawab Santai Sindy yang membuat Cheval geram.
"Awas saja nanti malam, tidak akan aku lepas dan beri ampun kamu." Ancam Cheval penuh siasat.
"Buktikan saja," Sindy tak mau kalah ia pun menerima tantangan dari sang suami.
Cheval yang mendapatkan kode kegirangan sendiri sedangkan Sindy hanya geleng-geleng. Di abaikan saja keanehan sang suami dari pada pusing memikirkannya.
Makan malam terasa tenang di ruang makan. Ksatria heran dengan keadaan saat ini, tidak biasa-biasanya ruang makan tenang tanpa ada yang berebut makanan, apa makanannya tidak enak.
"Eeheemm... tumben diam, apa sakit gigi tiba-tiba merasuki kalian berdua. Bukannya kalian baru saja masak bersama." Ksatria mengambil tumisan sayur.
__ADS_1
Sindy masih sangat kesal atas perilaku Cheval sewaktu di kamar mandi usai memasak tadi, Sindy sudah bilang capek nanti saja namun Cheval tetap bersih kukuh melakukannya. Meski tidak sampai sakit pinggang lantaran hanya satu kali pelepasan saja.
Daysi sedikit curiga dengan gelagat Sindy yang super cuek dan sepertinya permasalahan tadi siang belum selesai, sebaiknya setelah makan malam ini menyuruh mereka berdua segera kembali ke kamarnya saja.
"Aa, Sindy, usai makan malam segera kembali saja ke dalam kamar, selesaikan permasalahan kalian berdua. Mama dan papa tidak mau kalian bertengkar, ingat kalian berdua sudah menikah selesaikan permasalahan kalian dengan baik-baik." Ucap Daysi sambil mengunyah makanannya.
"Haduh... ma, apa mama tidak tau putra sekaligus menantumu ini menyiksaku tadi di kamar mandi, malah sekarang mama suruh kami berdua untuk menyelesaikan permasalahan kami berdua usai makan malam. Sepertinya besok pagi... ah... sudahlah di pikirkan nanti saja dari pada makanan ini di diamkan saja, kasihan kalau tidak segera di nikmati." Dalam hati Sindy berkeluh kesah.
Karena mereka berempat duduk berhadap-hadapan dengan pasangan masing-masing.
Sindy yang tengah menikmati makanannya langsung menghentikan kunyahan di dalam mulut saat tangan nakal Cheval mulai menyentuh pahanya.
PPLLAAKK
Sindy menepuk tangan Cheval dengan kerasnya, Cheval segera menarik tangan kirinya dan menahan rasa sakit di punggung tangannya.
"Eehh... itu pa, tadi ada lalat yang tiba-tiba hinggap. Dari pada nanti menyentuh makanan dan membuat sakit perut, bukannya lebih baik di tepuk biar tidak jadi hinggap di makanan, betul tidak Aa?" Sindy menatap sang suami dengan tatapan mengancam karena tangan Sindy sudah berada di pinggang Cheval dan bersiap untuk mencubitnya.
"Ee... he... he..., benar pa tadi ada lalat hinggap di lenganku kemudian pindah di kaki Sindy makanya Sindy tepuk biar kapok lalat itu!" Cheval mengngeles.
Ksatria menyudahi makan malam.
"Ma, apa mama sudah selesai makan malamnya, jika sudah ayo kita ke gazebo sudah lama kita tidak menikmati taburan bintang di langit." Ksatria minum air putih.
"Sudah pa ayo," Daysi segera menyusul sang suami.
Kini tinggal pasangan suami istri muda yang masih menikmati makan malamnya, lumayan terkuras tenaga Sindy. Setelah memasak makan malam, melayani sang suami di kamar mandi.
"Sakit sekali sayang pukulanmu, kenapa kamu memukulku tadi." Mengusap punggung tangannya yang masih berdenyut ngilu.
__ADS_1
"Makanya tuh tangan di jaga dengan baik, kalau tidak mau terkena pukul lagi," Sindy menikmati makanannya.
Sindy mengambil beberapa lauk dan nasi lagi untuk menyuapi sang suami yang sedang bersedih. Ekspresi wajahnya terlihat menggemaskan saat tertindas seperti ini, seperti anak bayi saja.
"Jangan menampilkan ekspresi seperti kucing jatuh dalam got Aa, terlalu kasihan." Sindy menyuapi makanan pada Cheval.
Cheval segera membuka mulutnya dari pada melanjutkan kesedihannya.
"Siapa yang bersedih, aku cuma meratapi diriku yang malang ini," sambil menikmati suapan dari Sindy.
"Bukankah itu sama saja Aa." Tetap menyuapi sang suami sampai ia terlupa jika dirinya juga lapar.
"Aa sudah kenyang, giliran kamu sayang yang aku suapi," mengambil alih sendok yang di pegang Sindy.
Benar-benar pasangan romantis tidak ada yang bisa menandinginya. Setelah makan malam Cheval dan Sindy kembali ke dalam kamar.
"Aa." Panggil Sindy yang sedang bersandar di dada bidang Cheval.
"Ada apa, kenapa kamu terlihat begitu gelisah sayang?" Cheval memainkan anak rambut Sindy.
"Kenapa mama dan papa tidak memarahiku ataupun mengomel, apa Aa tidak bicara tentang aku yang menggigit lenganmu yang sebelah kanan ini," sambil menyentuh lengan Cheval yang tinggal bekas gigitan saja, sedangkan bengkak akibat gigitan sudah tidak ada.
"Kenapa aku harus lapor ke mereka, ini permasalahan kita berdua sayang tidak ada yang boleh masuk ke area rumah tangga kita baik itu mama ataupun papa, jadi lupakan kejadian tadi sayang. Aku merasa sangat-sangat bersalah padamu saya jika kamu mengungkit masa lalu." Terang panjang lebar Cheval.
Sindy mempererat pelukan Cheval yang melingkar di perut ratanya. Air mata yang ia tahan sedari siang saat di perjalanan kini jatuh juga tetapi segera ia usap agar Cheval tidak tau, tetapi terlambat Cheval sedari tadi menatap wajah cantik istrinya.
"Kenapa menangis lagi, jadi tambah jelek saja." Mengusap dengan lembut.
"Siapa yang menangis, ada serangga kecil masuk ke dalam mata," elak Sindy, namun Cheval tidak percaya.
__ADS_1