
Momo tersenyum-senyum sendiri membayangkan mereka besar nanti seperti apa, apakah akan tumbuh seperti dirinya dulu yang sering membuat ulah ini dan itu jika tidak mendapatkannya akan menangis sekencang-kencangnya.
"Aa ... ha ... ha ... lucu pastinya." Lamunan Momo membuat beberapa pelayan dan juga tukang kebun ikut berbahagia, di tempat ini sang majikan sedih senang bahagia bercampur menjadi satu.
Tapi sayang mereka tidak berani bertanya saat Momo sedih karena apa sebab Momo memilih diam dan menghabiskan banyak makanan untuk meredakan emosi yang ada di dalam hatinya jika tidak kuat ia akan pulang ke rumahnya sendiri.
Siang hari.
Inre sudah pulang sekolah, Cheval masih asik berkerja di kamar sedangkan Sindy yang sudah baikan langsung terjun ke dapur membantu menyiapkan makan siang yang hasilnya malah dapat semprotan dari Daysi yang mengomel dari huruf a sampai z.
"Kenapa cepat sekali kembalinya sayang? di marahin sama Mama kan, makanya jika Aa bilang gak boleh jangan bandel kena omelan kan jadinya." Cheval ingin sekali tertawa saat melihat Sindy yang manyun.
"Ngeledek nih Aa, bukannya menghibur malah di ledekin istrinya," duduk di samping Cheval sambil menyilangkan kakinya sambil bergumam tidak jelas, Cheval mendengar ocehan istrinya jadi tidak fokus berkerja justru ingin tertawa saja sepanjang siang ini.
"Aa ... ha ... ha ..., sabar sayang ... sabar. Bukannya orang sabar di sayang Tuhan." Mengusap dad4 Sindy.
Plak
"Tangannya gak usah cari kesempatan," mulai mengomel yang tandanya ia sudah sehat seperti biasanya lagi.
"Alhamdulillah jika kamu sudah sehat sayang, dengan tanda-tanda kamu seperti ini, bisa marah-marah dan mengomel lagi." Cheval bersyukur sekali jika istrinya sudah kembali sehat.
Sindy memelototkan matanya, jadi selama ini suaminya menganggap jika dirinya bisa marah-marah seperti ini tandanya ia sehat, benar-benar kurang waras suaminya ini.
Sindy langsung memukul Cheval dengan bantal yang ada di sampingnya.
__ADS_1
Bugh
Bugh
"Rasain, ini baru benar jika aku suka marah-marah." Sindy kesal sekali dengannya.
"Ampun ... bojoku galak," masih saja menggoda Sindy dan Sindy yang masih tersungut candaan Cheval terus menghujani Cheval dengan pukulan berkali-kali sampai Cheval menyerah.
"Dasar Aa ini, semakin bertambah usia makin usil aja bicaranya. Kenapa sih Aa bisa bicara begitu ke aku, gak sakit sih saat Aa bicara demikian tapi buat orang kesel tau." Ketus Sindy.
"Tapi walaupun bojoku galak, tapi Aa tetap sayang dan cintanya hanya untuk Sindy seorang," sambil memeluk tubuh Sindy dengan erat.
"Sudah tau jika cinta Aa untuk Sindy seorang dari dulu, kalau gak cinta mana mungkin bertahan sampai sekarang. Aa, kalau suatu hari nanti Aa menduakan aku, aku harus gimana Aa?" pertanyaan Sindy langsung di sambut ciuman oleh Cheval berkali-kali di seluruh wajahnya.
"Jangan bicara yang aneh-aneh, itu tidak akan pernah terjadi dan tidak akan pernah Aa lakukan. Lagian ya, untuk apa sih kita mencari yang lain hanya demi mencari yang lebih sempurna, itu tidak penting sayang yang terpenting kita perbaikan diri terus bukannya lebih baik membuat diri kita yang menjadi sempurna dari pada mencari lagi!" jawaban panjang lebar Cheval sambil menutup laptop.
Sindy menatap seluruh ruangan yang waktunya sudah di ganti termasuk gorden dan sepray tempatnya sekarang berbaring.
"Aa, bantuin gantiin sepray ya." Bergelut manja di lengan Cheval padahal saat hamil ia paling anti berdekatan dengan yang namanya lengan kokoh itu.
"Iya boleh, tapi Aa lapar sayang. Makan dulu yuk baru kita beberes kamar, lagian bukannya kamu butuh tenaga untuk mengisi perut kamu ini," Cheval menyarankan.
"Ayo Aa." Sindy berjalan lebih dulu dan segera menuju ruang makan yang ternyata sudah siap semua, Sindy semangat sekali tapi mendadak ia sedih.
Semua orang sudah berada di meja makan.
__ADS_1
"Sindy sayang, kenapa diam? Tidak jadi lapar perut kamu." Cheval mengambil makanannya sendiri.
"Jadi Aa, tapi apa boleh aku makan ini semua?" Menunjuk semua menu yang ada.
"Boleh kok boleh, asalkan di habiskan!" Cheval mengiyakan saja dari pada sakitnya kambuh lagi kan gawat nanti malam gak bisa ngapa-ngapain.
Daysi dan Ksatria saling menatap satu sama lain dan tersenyum melihat anak-anaknya yang bahagia seperti ini.
"Ayo di habiskan saja makanannya, lagian mubasir jika tidak habis selain itu untuk kesehatan kalian juga apalagi musim juga tidak menentu panas dingin cuacanya, penting untuk kita semua menjaga badan dan minum air hangat di perbanyak lagi." Ksatria menyarankan.
Semua orang mengangguk sebab memang benar musim sekarang cuacanya tidak bisa di prediksi akan seperti apa, ya meski terlihat sehat dan baik-baik saja apalagi terlihat suka makan belum tentu besok tidak bisa sakit, contohnya Sindy yang gampang sekali sakit padahal Putri dan suaminya jarang sekali terkena sakit.
Beberapa hari kemudian.
Lais mengajak istri dan anak-anaknya untuk jalan-jalan kesebuah pedesaan di sebuah perbukitan tidak jauh dari kota, sebenarnya Momo menolaknya tapi ternyata putrinya Princess ingin sang mama ikut serta jadi mau tidak mau ya akhirnya berangkat juga ke sana juga.
"Sejuk ya pemandangan pagi di desa ini ya sayang." Lais menggenggam tangan Momo sedangkan kedua anak kembarnya di titipkan ke pengasuhnya yang berada di saung tidak jauh dari tempatnya bercengkrama dengan sang istri.
Ada beberapa bodyguard juga yang ikut hanya untuk berjaga-jaga saja.
"Iya mas, saking sejuknya aku suka banget tempat ini dan juga rasanya aku tidak mau pulang mas," Momo menghirup dalam-dalam udara dingin yang ada di desa ini, sebab jarang sekali dirinya bisa menikmati tempat se sejuk ini.
"Momo." Sambil memegang kedua tangan Momo ia mempersiapkan dirinya menyatakan ketulusan hati.
"Iya, ada apa mas," Momo di buat tersipu malu oleh Lais.
__ADS_1
"Aku mencintaimu sayang, lebih dari ini asal kamu tau dan selamanya mas tidak mau berpisah darimu Momo." Lais mencium punggung tangan Momo.