ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
146 S2


__ADS_3

Jangan lupa like, favorit, rate dan komen. Terimakasih.


***


Lais yang masih berada di kediaman sang kakek kini duduk di ayunan sambil memandang foto Momo yang terpajang di layar ponselnya. Sang kakek yang tau langsung memuji kecantikan Momo.


"Dia cantik sekali, apa dia kekasihmu yang ada di Indonesia." Erdana menyentuh daun yang berada di pohon yang ia tanam sedari tanaman tersebut kecil dan berwujud biji saja.


"Bukan, tetapi dia calon istriku yang akan datang," Lais mencium potret Momo.


"Dasar anak muda, kamu pikir kakek tidak pernah seperti itu. Kakek juga pernah bahkan baju mendiang nenekmu dulu sebelum dia menjadi istriku saja aku curi dan aku simpan." Erdana membatin dirinya dulu sama seperti cucunya sekarang yang sedang di mabuk asmara dalam diam.


"Lamar saja, sepertinya kakek pernah melihat gadis itu dimana ya." Duduk di depan Lais, tetapi bukan di ayunan melainkan di atas batu yang berbentuk kursi yang sangat nyaman untuk di duduki.


"Ayahnya tidak merestui, dia adalah gadis yang di jodohkan denganku kemarin," jawab Lais mengingat kejadian kemarin.


Sungguh terluka hatinya, satu kali di jodohkan tapi di saat bersamaan di pisahkan. Lais sampai sekarang tidak berani menghubungi Momo, padahal rindu menusuk hatinya.


"Cepat hubungi dia nak, apa kamu mau dia jatuh di tangan laki-laki lain?" Erdana berjalan dengan tongkatnya dan pergi meninggalkan Lais yang dilema galau di ayunan.


Lais terlupa belum mengganti sim card-nya dengan yang baru.


"Sudahlah aku lupa mengganti dengan sim card yang baru, nanti saja jika sudah pulang ke Indonesia." Lais menatap langit yang berwarna cerah seperti hatinya yang bahagia meski rindu melanda.


Kediaman Sacha Mahendra.


Momo sedang membuat kue melalui resep di internet, baru kali ini ia membuka internet setelah berhari-hari tidak membuka akun pribadinya.


"Aku akan belajar sesuatu lagi, bukannya kamu ingin mencicipi kue ini Lais." Momo menyeka air matanya yang sedikit keluar dari pelupuk matanya.


Di rumah ada beberapa asisten rumah tangga, karena sekarang dapur sudah di gunakan oleh Momo maka, untuk makan malam menggunakan jasa penghantar makanan.

__ADS_1


Semua hidangan sudah tertata rapi di meja makan, sederhana namun terlihat nikmat untuk di santap bersama.


Sacha Mahendra yang baru saja pulang kini mencari keberadaan sang putri saat masuk ke rumah, ada bau yang begitu enak. Sacha segera menuju ke arah bau wangi dari makanan tersebut.


"Wah... buat apa kamu Momo?" Sacha menatap cup-cup kecil yang sudah tertata rapi dengan hiasan berwarna-warni.


"Ini kue kering ayah!" Momo mengeluarkan kue kecil dari oven.


Sacha mengacak rambut Momo, "ayah ke atas dulu ya, segera ke meja makan ya." Sacha berlalu pergi setelah mencicipi beberapa kue kering buatan Momo.


Makan malam.


Momo berusaha tersenyum dan tidak marah pada sang ayah, meski hatinya teriris luka. Sacha yang tidak tau perasaan Momo tidak menanyakannya padahal sang putri sedang galau, maka dari itu ia mencari kesibukan namun tetap saja di dalam relung hati terdalamnya ia merasakan kesepian yang teramat dalam.


"Ada apa, apa makanannya tidak enak." Sacha mengambilkan mie goreng untuk Momo.


Momo segera tersenyum lebar.


"Ayo dong Momo bangkit jangan galau, gelisah, merana seperti ini, seperti baru putus cinta saja." Momo menyemangati dirinya sendiri.


Usai makan bersama dengan sang ayah, Momo berpamitan ke kamarnya terlebih dahulu.


"Lais, bagaimana kabarmu. Hanya beberapa hari saja tidak melihatmu aku sangat merindukanmu, apa kamu tau Lais jika aku punya perasaan lebih untukmu." Menyentuh jaket yang di berikan Lais usah ujian kemarin.


Hari berganti tak terasa waktu wisuda sudah di lalui, banyak siswa dan siswi yang membuat kenang-kenangan seperti berfoto dengan berbagai gaya terjadi.


Momo hanya menatap teman-temannya dari kejauhan. Senyum Momo terbit saat melihat seseorang yang teramat ia rindukan, namun dengan segera Momo hapus senyum dari ujung bibirnya. Ia teringat kejadian waktu itu, ia malu bahkan sangat malu jika bertemu dengannya kembali.


Lais berjalan mendekati Momo.


"Momo." Lais duduk di samping Momo.

__ADS_1


"Iya," Momo menggeser tempat duduknya.


"Kenapa menjauh, kenapa kamu menghindari ku Momo?" Lais meraih tangan Momo dan menggenggamnya dengan erat dan enggan untuk melepasnya lagi.


Momo hanya menggelengkan kepala saja, satu kata tidak ada yang keluar dari mulut Momo.


"Baiklah jika kamu tidak mau berbicara, aku sudah memaafkan ayahmu jadi aku mohon jangan mendiami ku dan menjauhiku lantaran kamu malu bertemu denganku lagi, itu sungguh-sungguh menyiksa batinku Momo." Lais meluapkan isi hatinya.


"Maaf... maaf... Lais," lirih Momo menahan air matanya yang mulai jatuh.


Lais mengusap air mata Momo yang berjatuhan kian deras dari pelupuk mata cantiknya. Pelukan hangat langsung Lais berikan untuk menguatkan Momo, bukannya berhenti menangis justru Momo bertambah parah menangisnya sampai terisak-isak.


Lais mengusap punggung Momo. "Jangan menangis lagi oke, tambah jelek saja wajahmu." Mengusap pipi Momo dengan penuh cinta.


Momo tertunduk malu dengan kelakuan romantis Lais, kenapa dia melakukan hal semacam ini membuat orang salah mengartikannya.


"Lais aku mohon jangan melakukan hal semacam ini, membuatku berharap lebih padamu. Jangan salahkan aku jika aku tidak bisa berhenti mencintaimu Lais." Momo segera menatap ke arah lain untuk menetralkan perasaanya ini.


"Apa kamu akan terus-terusan menghindariku Momo, apa kamu tidak mau bertemu lagi dengan sahabatmu ini?" Lais hanya pasrah duduk di samping Momo.


Seketika Momo sadar jika dirinya selama ini hanya di anggap sahabat sedangkan Momo menganggapnya lebih, terluka ya pasti hati Momo terluka mendengar kenyataan seperti ini. Sakit menusuk hati berkali-kali bahkan racun juga ikut masuk ke dalam hati.


"Aku pergi dulu ya." Pamit Momo pada Lais tanpa mau menoleh pada dirinya.


Lais yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya menatap kepergian Momo dari hadapannya. Sebenarnya Lais ingin memberi tau isi hatinya, namun belum sempat mengungkapkannya Momo sudah lebih dulu membatasi dirinya dengan rasa bersalah yang teramat dalam, padahal Lais sudah memaafkan atas apa yang terjadi waktu itu tanpa mengungkit dan meminta penjelasan yang masuk akal.


"Sudahlah, mungkin dia masih butuh waktu lagi, aku tidak akan memaksamu asalkan kita bertemu setiap hari itu sudah cukup bagiku, sayang." Ucap lirih Lais yang hampir tidak bisa di dengar saat menyebut akhir kalimat dengan sebutan sayang untuk Momo.


***


Cinta memang tak selamanya bisa indah, cinta juga bisa berubah menjadi sakit. Begitu yang ku rasakan kini perih hatiku tinggal kehancuran.

__ADS_1


__ADS_2