ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
182 S2


__ADS_3

Jangan lupa pencet love, like, rate bintang lima.


Terimakasih sudah memberikan dukungan untuk karyaku ini dan masih setia membacanya.


***


Cheval yang berhasil mengejar Sindy langsung menariknya dalam pelukan. Semua yang melihat kejadian ini sangat terkejut, ternyata Cheval memiliki hati yang lembut untuk adiknya.


"AA." Sindy berteriak dan mendorong tubuh Cheval untuk melarikan diri ke dalam toilet.


Sindy menebah dadanya berulang kali, benar-benar jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.


"Untung bisa lepas, apa Aa tidak sadar ini di kampus. Bisa-bisanya berbuat aneh-aneh." Sindy memperbaiki tampilannya.


Cheval yang menunggu sang istri di depan toilet dengan tersenyum saat ada yang menyapa dirinya. Sindy terkejut saat melihat di samping kiri keluar toilet ada suaminya.


"Aa, sejak kapan di situ?"


"Dari tadi, sewaktu kamu masuk ke toilet!" Cheval menarik tangan Sindy dan mengajaknya masuk ke dalam kelas.


Di tempat lain.


Momo bingung mau di apakan kotak-kotak tersebut. Mau di buka bukan miliknya, namun jika tidak di buka ia penasaran dengan isinya.


"Aku buka deh dari pada penasaran, lagian orang-orang memberikan hadiah untuk Aa apa tidak capek, aku saja tidak pernah mendapatkannya. Sungguh menyebalkan sekali." Momo membuka kotak kecil ada sebuah cokelat dan ungkapan cinta.


Lais tanpa sengaja melihat Momo sedang membuka hadiah langsung duduk di sebelahnya sambil meledek.


"Ciye... yang dapat pengagum dadakan." Lais menatap Momo yang masih terlihat kesal saat memegang salah satu kotak hadiah.


"Pengagum apanya, ini milik Aa. Aku bingung mau di apakan atau di bakar saja ke tempat sampah," pikiran sempit Momo keluar.


"Dasar bodo*, mungkin kamu tidak membutuhkan tapi untuk orang lain ini sangat bermanfaat. Sini aku bawa pulang, lagian tasku cukup besar untuk menampung hadiah-hadiah itu." Membuka tasnya.


Momo mulai memasukkan satu persatu hadiah tersebut. Tidak ada drama saling bertabrakan tangan atau lainnya, lantaran sama-sama memasukan ke dalam tas secara bergantian saja.


"Gantian oke." Ucap Lais di iringi senyum tampannya.

__ADS_1


"Iya," Momo memasukkan benda tersebut terlebih dahulu dan menatanya dengan rapi.


Setelah selesai Momo hanya diam tanpa berani menatap mata Lais yang sedari tadi menatapnya tidak ada henti-hentinya.


"Ada apa sih, kenapa menatapku seperti itu, menakutkan tau tatapanmu pada ku?" Momo menatap sebentar wajah Lais.


"Kamu itu menggemaskan!" jawab spontan dan langsung mencubit dengan gemasnya pipi Momo.


"Sakit tau." Mengusap pipinya.


Kelakuan anak muda yang selalu tergesa-gesa dan membuat terbawa perasaan orang lain, contohnya seperti ini perhatian lebih ternyata hanya candaan, tidak ada kata-kata cinta yang keluar hanya ada perilaku layaknya sepasang kekasih dan itu sangat miris dan menyakiti salah satu dari mereka.


"Momo, ayo makan malam. Aku traktir ya untuk membalas bantuan sewaktu aku kehujanan dan pingsan kemarin itu." Ajaknya pada Momo yang masih saja duduk menjauh dari Lais.


"Emm iya boleh," Momo tersenyum kemudian ia pergi dari hadapan Lais.


Lais sangat gembira dapat lampu hijau dari Momo. Ia berusaha dengan pelan-pelan lagi untuk mendekatinya.


Sindy yang sedang mendengarkan suaminya mengajar mahasiswa dan mahasiswi mengawasi dari jauh, suami tampan dan pintarnya sangat mengagumkan.


"Aku tidak akan pernah memuji dan memamerkan suamiku di depan orang lain, aku tidak mau suamiku di kagumi orang lain dan mendatangkan seorang perebut lelaki orang. Cukup dalam hati aku terkagum-kagum pada suamiku."


Usai mengajar di kelas Sindy ia menuju perpustakaan seperti biasanya, meski sudah lulus S2 tidak membuatnya lupa untuk mencari ilmu dan wawasan lebih lagi.


Sindy yang terabaikan tidak menemui Cheval seperti kemarin, biarlah suaminya sendiri yang menyapa.


"Lapar, makan dulu di kantin deh. Mumpung masih jam segini."


Sindy memesan makanan yang ia sukai, berbagai macam menu ada di atas meja. Tanpa basa basi Sindy langsung mengambil yang ia mau kemudian ia membayar makanan tersebut sebelum ia duduk di salah satu tempat yang kosong untuk menikmati makanannya.


Cheval yang baru sadar jika ia tidak sedang bersama Sindy ia mencari kesana kemari, ia menatap ke seluruh penjuru kampus namun tidak menemukan bidadari cantiknya.


"Kamu di mana sih, masa iya sudah pulang lebih dulu. Kenapa tidak menunggu Aa sih." Gumam lirih Cheval dan terus mencari keberadaan Sindy yang menghilang seperti tertelan oleh bumi.


DDRREETT


DDRREETT.

__ADS_1


Sindy merogoh ponselnya yang berada di dalam tas, ada nama suami tersayangnya.


"Iya Aa ada apa." Sindy masih saja santai mengunyah makanan, padahal suaminya kalang kabut mencarinya di seluruh tempat di kampus.


"Kamu dimana, kenapa tidak ada di area kampus. Aku mencari kamu, kamu baik-baik saja kan?" nada bicara Cheval terdengar sangat hawatir.


"Aku baik-baik saja, aku berada di kantin kampus Aa. Kemarilah!" Sindy sangat gembira sang suami sedang menghawatirkan dirinya.


Cheval menutup telponnya dan langsung menemui sang istri yang kini tengah asik makan di salah satu kursi.


"Sindy." Sapa dengan lembut.


"Iya Aa," melanjutkan makannya yang tinggal sedikit saja. "Apa Aa tidak lapar, apa perlu aku pesankan makanan." Cheval menggelengkan kepala.


Saat berada di perjalanan Cheval terus saja menggenggam erat jari jemari Sindy.


"Kenapa sih Aa dari tadi menggenggam tanganku terus menerus, memangnya ada apa Aa?" Sindy bertanya-tanya.


"Aku hawatir denganmu, nanti jika sudah sampai rumah kamu bergantilah dengan pakaian olah raga, aku ingin mengajarimu sedikit bela diri untuk berjaga-jaga saja!" jawab Cheval yang masih fokus melajukan mobilnya.


"Iya Aa." Sindy pasrah dan patuh pada suaminya, lebih baik suaminya yang mengajarinya dari pada sang papa yang pada akhirnya mengomelinya jika tidak segera bisa menguasainya.


Perjalanan menuju rumah tidak terjadi apa-apa


dan pulang dengan selamat sampai tujuan.


"Kenapa tidak turun sayang, masih mau membeli sesuatu tadi sewaktu di jalan?" Cheval membuka seat belt di tubuh Sindy.


Menggeleng. "Tidak Aa, tidak ada!" jawabnya sedikit gugub.


"Pasti ada sesuatu yang ingin kamu beli, iya kan. Ayo ngaku biar kita kembali membeli di tempat itu." Cheval kembali memasangkan seat belt pada Sindy namun di cekal pergelangan tangannya.


"Tidak usah Aa, aku hanya ingin makan masakan Aa hari ini," tersenyum kemudian ia berlalu pergi meninggalkan suaminya.


Cheval segera keluar dari mobilnya dan menyusul sang istri yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah.


Istrinya ini selalu membuat terkejut, baru saja masuk ke rumah namun pakaiannya sudah berganti saja, bahkan pakaian olah raga yang ia kenakan.

__ADS_1


"Sindy, ko cepat sekali berganti pakaiannya. Padahal Aa baru saja sampai di pintu masuk." Mencium dahi istrinya.


"Pakai kekuatan sihir dari hati," jawabnya masuk ke dalam ruang makan.


__ADS_2