
Pagi hari.
Hari ini hari pertama ujian akhir, karena para adik kelas libur jadinya sekolah lumayan sepi hanya siswa siswi satu angkatan saja yang hadir, mereka belajar di dekat taman kemudian teras sekolah dan beberapa ada yang di kantin sekolah ini.
"Sayang, semangat ujiannya." Ucap Cheval yang sudah meraih tengkuk Sindy dan memberikan ciuman untuk menyemangati sang istri.
Sindy malu sekali dengan kelakuan Cheval, apalagi ini di area parkir sekolah. Sindy berusaha memberontak tetapi percuma saja ia kalah tenaga dengan sang suami.
"Hati-hati sayang." Cheval tersenyum puas setelah melahap habis bibir mungil istrinya yang lembut berasa buah tersebut.
Sindy tidak pernah menggunakan lipstik dia hanya menggenakan pelembab bibir saja agar tidak kering bibirnya.
"Iya Aa," Sindy keluar dari dalam mobil dengan sangat malu, untuk ciuman barusan tidak membuat bibirnya bengkak.
Sesampainya di depan ruang ujian Sindy menghela nafas untuk mempersiapkan diri untuk ujian akhir sekolah.
4 Hari kemudian.
Sore hari.
Momo sudah berdandan secantik mungkin, ia sangat tidak rela kecantikannya ini di perlihatkan kepada orang lain apalagi dengan orang yang sama sekali tidak ia kenal, bahkan fotonya saja ia tidak tau.
"Ayah... apa benar aku akan menikah setelah pertemuan ini?" Momo memonyongkan bibirnya.
"Iya!" jawab datar Sacha sambil membenarkan dasi yang bertengger di lehernya.
"Hhuuff... sudahlah, melawan orang tua juga berdosa." Momo segera memasukkan ponselnya ke dalam tas kecilnya.
HOTEL RONA
Sesampainya di restoran Momo di buat keheranan dengan kelakuan sang ayah yang begitu heboh dengan menyewa body guard yang sangat-sangat tidak di perlukan sama sekali.
"Ayah apa tidak bisa mereka itu pergi." Menatap semua body guard sewaan Sacha dengan tatapan membunuh.
__ADS_1
Para body guard yang terlihat tegas takut tiba-tiba dengan tatapan menakutkan yang Momo tunjukkan.
"Ayah takut kamu kabur seperti cerita-cerita yang ayah pernah tau dan pernah ayah dengar," Sacha tersenyum dengan bahagia.
"Hhah... memangnya aku tokoh di dalam cerita itu." Gumam lirih Momo.
Sesampainya di ruangan yang sudah di pesan Sacha dan Momo duduk di kursi yang sudah di sediakan. Sambil menunggu orang yang akan datang, putra dari keluarga Erdana Khan.
TTAAKK
TTAAKK
Seseorang datang dengan menggunakan pakaian rapi, orang di balik penutup wajahnya sedikit terkejut dengan ke datangan orang tersebut.
"Maaf saya telat." Suara yang terdengar sangat familiar dengan nada baring ton seperti ini.
Kemudian Lais membuka penutup wajahnya, seketika Sacha Mahendra memelototkan matanya begitu juga dengan Momo yang juga tak kalah terkejutnya di ruangan VVIP hotel ini.
"Ayah... sakit pergelangan tanganku, apa bisa di lepas dulu?" Momo bertanya sambil memberontak.
"Jika ayah lepas pasti kamu bakalan kabur dari pengawasan ayah, ayah tidak mau kamu jatuh di pelukan laki-laki yang nampak polos tapi penuh dusta!" jawab Sacha tetap bersih kukuh menarik tangan Momo sampai memerah dan sakit.
Momo yang sudah berada di dalam mobil bersama sang ayah dan 2 body guard hanya pasrah, ia akan menerima nasib apa pun yang akan menimpa rasa cintanya pada Lais. Sementara 4 body guard yang lain kembali ke asalnya dan bekerja kembali jika di butuhkan tenaganya.
Kediaman Erdana Khan.
Momo meneteskan air matanya dengan sangat deras, ia kecewa dengan sang ayah yang seenaknya mengambil ke putusan tanpa bicara lebih dahulu pada dirinya dan mengapa tadi Lais juga tidak berbicara ataupun mencegah kepergian dirinya tadi.
"Apa dia tidak ada rasa padaku selama ini." Sambil menatap dirinya sendiri di depan layar ponselnya.
Momo hanya menatap layar ponselnya berharap Lais mengirimkan pesan singkat untuk dirinya namun nihil hasilnya, tidak ada satu pun pesan yang masuk di ponselnya. Momo membatin ia tidak menyangka jika orang yang akan di jodohkan yaitu Lais dan ia baru tau jika Lais adalah Erdana Khan, keluarga dari orang yang menyelamatkan ayah dan bundanya dulu.
"Sudahlah, cinta dalam diam memang sesakit ini jadi harus siap kapanpun akan terluka lagi dan lagi." Momo segera menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan berganti pakaian tidur saja.
__ADS_1
Hari yang begitu lelah baru saja ia lalui dengan berat, tetapi bukannya reda justru sekarang bertambah berat dan susah saja. Bagaimana kedepannya hubungan ini apakah lanjut atau tidak.
Di tempat lain.
Lais yang melakukan perjalanan ke luar negri lebih tepatnya ke New Delhi hanya menatap ke arah luar jendela pesawat yang ia tumpangi. Sudah lama semua keperluan Lais untuk berangkat ke New Delhi di siapkan oleh orang ke percayaan dari keluarga Erdana Khan.
"Momo maafkan aku, aku tidak bisa memeluk kamu lagi." Mengusap foto Momo yang ia gunakan sebagai wall paper layar ponselnya.
Lais sebenarnya tidak ingin melukai Momo akan tetapi jika ini di lanjutkan bukannya membuat hubungan pertemanan ini semakin ke arah saling mencintai bahkan menyukai saja.
"Tetapi apa salahnya jika aku mencintainya, lagian dia kan tidak memiliki seorang ke kasih selama ini." Lais berpikir jernih bagaimana caranya agar dirinya dan juga dengan Momo bisa bersama namun dapat restu dari sang ayah Momo.
Perjalan sudah sampai ke New Delhi, Lais akan menghabiskan waktu beberapa hari saja untuk mengunjungi sang kakek yang belum pernah ia temui seumur hidupnya bahkan fotonya saja tidak punya.
Sekitar 2 jam perjalanan dari bandara menuju kediaman Erdana Khan. Sesampainya di kediaman sang kakek Lais hanya menatap bangunan besar yang banyak di tumbuhi tanaman hias, seorang pria setengah abad lebih sedang mengenakan tongkat dan berjalan mendekati mobil yang di kenakan sang cucu laki-lakinya.
Lais bergegas keluar dan dengan sopan memberi salam pada sang kakek yang rambutnya keseluruhan sudah memutih tersebut.
"Kakek." Sapa Lais sambil menyentuh kaki sang kakek.
"Berdirilah nak," sambil menyentuh kedua pundak Lais.
Anggap saja bahasa India ya kakak kakak.
"Iya kakek,"
"Duduklah ke sini nak lebih dekat dengan kakek." Ucap Erdana Khan yang sudah lebih dahulu duduk di ayunan area taman tersebut.
"Kakek, maafkan Lais yang baru bisa berkunjung ke sini," Lais duduk di dekat sang kakek.
"Kamu sudah besar sekali, kamu sama persis dengan ibu kamu. Dulu kakek ingat sewaktu ibumu mengandung kamu, saat kamu masih berumur 3 bulan ayah kandung kamu meninggal dan sampai detik ini kakek tidak tau siapa yang menyebabkan ayahmu meninggal. Kakek juga terkejut saat tiba-tiba ibumu menikah dengan laki-laki bajingan itu." Erdana Khan bercerita yang selama ini Lais tidak ketahui kebenarannya.
Memang Lais tau Marc William bukan ayah kandungnya tetapi yang paling mengejutkan ternyata sang ayah kandung meninggal karena di bunuh kemungkinan besarnya.
__ADS_1