
Ksatria binggung dengan sikap biasa-biasa saja yang di keluarkan oleh Daysi, apakah tidak menarik sama sekali kah dirinya sampai-sampai para wanita yang bergelayut manja di dekatnya tidak membuatnya merasakan sedikit pun kecemburuan dalam dirinya.
Daysi dengan senang hati mengerjakan setiap sudut dari hotel ini, tentu saja sesuai jadwal pembagian tempat bersih-bersih.
"Benar-benar aku tidak memiliki teman saat ini, Abang yang biasanya mengobrol dengan ku kini semakin menjauh saja dariku." Gumam Daysi saat membersihkan kaca.
Hugo yang hari ini check-out hanya menatap sekilas Daysi ingin menyapa namun hari ini ada pertemuan rekan bisnisnya yang membuatnya tidak bisa mengobrol sedikit pun dengan Daysi.
Daysi yang melihat Hugo berlalu begitu saja hanya menatap sekilas saja bayangan dari Hugo. Walaupun dulu ada rasa sayang kepada Hugo tetapi saat ini rasa itu sudah hilang di telan waktu yang lama.
"Semangat Daysi meskipun badai menerjang kamu tidak boleh menyerah begitu saja dengan keadaanmu sekarang, yang terpenting sekarang menjaga kesehatanmu sendiri makan teratur minum di perbanyak plus tidak stres gara-gara drama kehidupan ini." Daysi mengepalkan tangannya dengan semangat.
Di lain tempat.
Ksatria dan Pelangi makan bersama bisa di bilang sarapan pagi untuk kedua kalinya bagi Ksatria Malik. Ksatria yang menjaga postur tubuhnya hanya mencicipinya saja.
Pelangi menatap sekias Ksatria yang sedari tadi tidak memakan makanan yang di pesan. "Apa tidak enak masakannya?" Pelangi menatap mata hitam milik Ksatria.
"Aku sudah kenyang, jika tidak ada keperluan kamu boleh pergi!" ucap Ksatria cuek.
"Bukannya kamu harus berterimakasih denganku, dengan begini kan popularitas hotelmu semakin naik?" Pelangi mengaduk-aduk jusnya.
"Cih... tanpamu hotelku sudah berkembang dan terkenal dengan usahaku tanpa bantuan publik figure!" Ksatria membuang muka.
"Sudah lama aku tidak menemui adikmu, apa dia baik-baik saja Ksatria?" Pelangi meminum jusnya.
"Dia tidak di negara ini. Apa kamu sering menemuinya diam-diam di belakangku?" Ksatria menatap tajam sosok Pelangi di depannya ini.
__ADS_1
"Terakhir 1 bulanaan yang lalu lebih tepatnya di luar kota ini, dia sedang mengadakan acara kecil-kecilan karena baru saja membuka coffe. Apa kamu tidak tau Ksatria." Pelangi mengedipkan matanya dan berlalu pergi.
Ksatria masih termenung di tempat. "Berarti selama ini Aurel tidak di luar negri tapi masih di sekitaran kota ini. Kenapa aku bisa sebodoh ini sihhh..., aku akan mencarinya sampai ketemu walaupun harus menghabiskan seluruh hartaku demi keselamatan adikku." Ksatria berpikir jernih.
Rasanya tidak mungkin ia memberitakan kehilangan seseorang seperti Daysi waktu itu, jika ia melakukan hal yang sama pasti nyawa Aurel dalam taruhan karena si bajing** berkeliaran dimana-mana saat ini.
"Eemmm... aku harus turun tangan sendiri, jika orang-orangku yang bergerak pasti ketahuan jika Aurellia adik kandungku, aku harus menyamar kali ini." Gumam Ksatria mencari beberapa nomor yang akan melancarkan penyamarannya tanpa orang lain tau termasuk paman yang menghianati keluarganya dulu.
Keesokan harinya.
Daysi yang sudah siap-siap berangkat kerja terkejut dengan seseorang yang berpenampilan menakutkan. Mengenakan topi hitam pakaian serba hitam dan juga ada jengot di sekeliling wajahnya.
"Dari sorot matanya sih aku tau itu pak Ksatria sebagai bukti, nah... ini dia coba aku cek dengan warna putih, jika dia ketakutan setengah mati berarti dia adalah Ksatria." Daysi mengeluarkan mainan kecil berupa tikus putih.
Ksatria yang terkejut dengan tikus tersebut berusaha tenang agar penyamarannya berhasil tanpa orang lain mengetahuinya.
Daysi yang melihat ketenangan dari orang tersebut hanya menatap sekilas.
"Aku kira si boss menyebalkan plus arogan itu ternyata orang lain." Daysi berlalu pergi dan mengambil tikus mainan tersebut. Dan segera mengendarai motornya di pikiran Daysi orang tersebut mungkin body guard Ksatria yang baru.
"Hhuff... lega, megerikan sekali tikus putih itu," Ksatria segera masuk kedalam mobil saat Daysi sudah berlalu pergi dari garasi.
Meskipun Ksatria sendirian menyetir mobilnya tetap saja beberapa body guardnya mengikutinya dari jauh, karena amanah dari orang tua Ksatria dulu yang menyerahkan keselamatan anak-anaknya.
4 jam kemudian.
Sampailah Ksatria di kota kecil. Meskipun kota ini kota kecil tetapi tetap saja ramai meskipun tidak seramai ibu kota. Banyak orang berlalu lalang di jalanan beraspal.
__ADS_1
Ksatria membuka ikon ponselnya dan mencari alamat sesuai dengan alamat yang di kirim oleh Pelangi lokasinya. Jalan rainbow nomor 4 blok D. Ksatria tersenyum dengan coffe yang baru berdiri di tempat tersebut, hari semakin siang banyak yang berkunjung bahkan mengantiri sambil diiringi tawa ceria.
Ksatria segera mendekati coffe tersebut berharap penyamarannya tidak di ketahui oleh Aurellia sang adik namun dengan sekali tatapan Aurellia tau jika itu sang Kakak yang tengah menyamar, dengan pikiran cerdiknya Aurel sekali melihat bisa mebebak orang-orang yang baru ia ketahui.
Aurellia berjalan mendekati sang Kakak yang duduk di bangku paling pojok.
"Kakak kenapa kesini dan tau darimana, apa si Pelangi majalah dewasa itu yang memberi tau Kakak?" Aurell berbicara terus terang dengan Kesatria.
"Ucapanmu kenapa seperti itu ke Pelangi, meskipun ia model majalah dewasa yang sedang naik daun bukan berarti sikapmu ke orang lain seperti itu, walau bagaimana pun ia juga baik ke kamu sejak kamu SMA dulu!" ucap Ksatria membela Pelangi.
"Iya tidak akan aku ulangi lagi ucapanku barusan." Ucap Aurellia cemberut. Ksatria gemas dengan adiknya yang suka sekali cemberut dan sulit di bujuk jika sudah marah.
"Apa kamu tidak ada niatan untuk menawarkanku minuman Aurel?"
"Tidak... kalau Kakak belum bersikap baik pada sahabatku Daysi!" Aurellia melipat silang tangannya di dada.
"Astaga Aurel..., kenapa selalu menyangkutkan ini itu dengannya sih. Kenapa???" ucap Ksatria penuh penekanan.
"Kenapa Kakak tidak berusaha membuka hati untuk Daysi dan melupakan masa lalu Kakak dan berhenti bermain-main dengan kekasih Kakak sih. Kapan... akan berhenti, apa menungguk Kakak semakin tua berkeriput dulu dan tidak mempesona baru berhenti bermain-main." Sindiran keras untuk Ksatria Malik.
"Ya tidak seperti itu juga Aurel, membuka hari kan tidak langsung bisa jatuh cinta dengan sekali melihat saja Aurel, semua kan butuh proses juga. Apalagi dia dan aku rasanya tidak mungkin cocok Aurel." Elak Ksatria Malik.
"Tidak usah mengelak lagi Kak, bukannya Kakak diam-diam sudah ada rasa dengan Daysi?"
"Jangan asal berbicara Aurel, dapat info palsu darimana kamu, sampai-sampai berbicara seperti itu." Ksatria berdiri dan mengambil air mineral yang ada di atas etalase.
"Aku tidak dapat info palsu Kak bahkan info real dari orang-orang rumah," Aurellia menutup mulutnya seketika.
__ADS_1