ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
S3. Di ikhlaskan saja


__ADS_3

Aldy menatap selang infusnya.


"Apa tidak ada kabar tentang Gauri?" tanya Aldy pada orang yang ia suruh melacak keberadaan Gauri.


"Ini pak Aldy, ada tapi..!" ragu-ragu memberikan bukti rekaman dan juga keberangkatan Gauri dari pulau X ke pulau Y.


Aldy membulatkan matanya saat melihat postur tubuh Gauri dan juga Shandy yang jelas-jelas mereka adalah mantan suami istri yang skenarionya ia buat dan sekarang ia sesali. Seharusnya Shandy dan Gauri tidak pernah di pertemukan jika ujung-ujungnya mereka sama-sama lagi padahal jelas-jelas sudah menerima uangnya Shandy.


"Dasar laki-laki penghianat, sudah di berikan uang segitu besar tapi mengingkari perjanjian. Awas saja kamu Shandy." Mengepalkan tangannya.


Di tempat lain Shandy berada di tempat kerjanya yang lain tapi Gauri masih berada di pedesaan.


Shandy terkejut saat ada beberapa orang sedang mengawasi dirinya, tapi ia sedikit cerdik dan membuat orang-orang itu terkecoh. Tidak akan ia biarkan Gauri tidak aman keselamatannya dari Aldy.


Saat itu..


"Shandy.. aku mohon.. jangan sampai Aldy tau keberadaan ku di tempat ini, aku.. mohon padamu Shandy."


"Ada apa Gauri sebenarnya.. ceritakan semua padaku Gauri.. apa yang terjadi padamu?" Shandy terus bertanya tapi jawabannya nihil tidak ada, Gauri bungkam.


Kata-kata Gauri selalu terngiang-ngiang di benak Shandy, Shandy yang tidak tega mengiyakan lagi pula Gauri berada di tempatnya dan harus ia jaga juga bukan keselamatannya.


"Kalian semua.. mau membawa saya kemana?" tersenyum miring.


"Diam.. dan ikut kami, jangan banyak bicara yang tidak penting!" tegas tapi tidak menakutkan sama sekali.


Shandy hanya mengikuti saja, ia juga ingin tau dimana tempat tinggal Aldy yang sebenarnya. Ia juga terkenal pindah-pindah dan sulit di lacak kecuali orang-orangnya yang sudah terpercaya tidak akan berhianat pada Aldy Samporna.


'Aku juga ingin tau dimana kamu menyiksa Gauri hingga ia seperti ini sekarang. Apa saja yang kamu paksakan ke dia? apakah kamu juga meniduri Gauri sampai mentalnya kena. Tapi.. kenapa Gauri tidak cerita, mungkin dia.. menutup aibnya agar bajinga* seperti kamu tidak di cap buruk. Dasar laki-laki berengse* sekali tidak memikirkan perasaan orang yang di lukai.'


Shandy mengepalkan tangannya saat tiba di suatu tempat yang asing, sepertinya villa ini milik Aldy. Shandy mengikuti orang yang membawanya sedari di restoran miliknya sampai tempat Aldy.


Shandy menatap laki-laki yang berada di tempat tidur dan tidak ada keinginan untuk hidup lagi sepertinya. Apa sebegitu besar efek kepergian Gauri tapi jika tidak mau Gauri pergi kenapa membuat Gauri terluka dan pergi, sampai-sampai Gauri memohon-mohon agar tidak memberitahu keberadaannya sekarang pada Aldy.


"Pak Aldy."


Shandy memang memanggilnya dengan sebutan Pak begitu juga dengan Aldy pada Shandy juga pak padahal saat itu sama-sama masih lajang tanpa pasangan kecuali pasangan ranjang saja.


"Silahkan duduk dulu," sambil menunjukkan sofa tidak jauh dari tempat berbaring.


"Terimakasih, ada apa pak Aldy mengundang saya dengan cara tidak terhormat seperti ini dengan menculik saya di tempat usaha saya?" pertanyaan yang cerdas sekali.


Aldy lagi-lagi smirk dengan tatapan tajamnya.


"Anda pasti sudah tau apa tujuan saya menyuruh anda kemari bukan?" Aldy tidak terlalu suka berbasa-basi, baginya menghabiskan waktu saja.


"Saya tau, tapi.. saya akan segera mengirim uang anda kembali berserta bunganya jika anda benar-benar kekurangan uang!" jawab menohok Shandy.


Memang sudah ia persiapkan uang ini sudah lama sekali berjaga-jaga jika harinya tiba dan ternyata hari itu tiba juga sekarang.


Aldy juga tidak kalah ingin bicara monohok.


"Ck.. saya tidak kekurangan uang jika, uang segitu bagi saya tidak ada apa-apanya. Lagi pula yang saya inginkan adalah calon isteri saya kembali, bukannya anda yang membawa dia pergi dari saya. Padahal jelas-jelas Gauri milik saya saja, apa masih tidak rela sudah jadi mantan?" Aldy membenarkan posisi duduknya agar ia nyaman menghadapi Shandy yang ternyata sudah banyak sekali perkembangan.


Ia hampir salah mengira jika Shandy masih sama dan juga bodo* ternyata tidak. Hampir satu tahun tidak bertemu langsung dan hanya orang-orang suruhan saja yang bergerak ternyata mengubah segalanya. Menyesal? jawabnya tidak tapi yang ia sedih kan kenapa harus mengenalkan Gauri pada Shandy jika ujung-ujungnya Shandy yang sok jadi pahlawan kesiangan, apa dia kekurangan wanita sampai-sampai mantan istri saja di kejar lagi.


"Sejak kapan? oh.. pantas saja dia terlihat sedih sekitar satu bulanan yang lalu. Ternyata anda penyebabnya, Cih.. laki-laki seperti abda yang tega melukai bahkan membuat wanita lain hamil apa masih punya wajah untuk melihat Gauri, saya.. rasa tidak pantas anda bersama lagi. Setidaknya saya tidak pernah melukai Gauri secara sadis seperti anda ini pak Aldy Samporna, saya permisi kalau begitu," Shandy segera beranjak pergi

__ADS_1


Bukan ini yang di inginkan Aldy tapi jawaban Aldy tadi memang benar tidak ada yang salah.


"Tunggu." Aldy menghentikan langkah Shandy.


"Ada apalagi bapak menghentikan saya pergi?" Shandy langsung berbalik arah menatap lurus Aldy yang tersenyum miring.


"Kembalikan Gauri pada saya!" seperti pengemis saja di depan mata Shandy.


"Apa pantas seorang pengusaha kaya raya tajir melintir memohon begini, apa tidak malukah anda menjadi pengemis murahan. Seharusnya anda malu dengan kelakuan anda itu, dan selamat ya semoga langgeng dan lancar sampai pernikahan dan lahirannya atau sebaliknya lahiran dahulu baru menikah. Dan.. satu lagi, Gauri.. titip salam semoga bahagia sampai maut memisahkan." Segera pergi dan enggan untuk menengok lagi ke belakang.


Aldy mengepalkan tangannya.


Ada beberapa orang hendak menghentikan kepergian Shandy namun Aldy sudah mengisyaratkan agar melepasnya saja, akan ada cara lain menemukan Gauri bukan dengan cara yang baik agar dia tidak lari lagi.


"Laki-laki pengecut dan menghamili wanita lain seperti aku, apakah masih pantas di sebut laki-laki. Apa perlu aku menikahi Bella dan membuat Gauri kembali pulang saat tau aku akan menikahi wanita lain?" bermonolog sendiri.


"Tapi.. Gauri saja tidak peduli, katanya tidak ingin meninggalkan aku sendiri. Tapi.. tapi.. apa nyatanya ini, dia pergi begitu saja tanpa pamit bahkan dia.. dia.. mengucapkan selamat kepadaku. Apa.. tidak ada rasa sedikit saja kemanusiaannya padaku?"


Menyesal memang terjadi terakhir tidak ada yang terjadi di depan, jika di depan namanya mengambil cicilan dan pusing selanjutnya.


Shandy puas dengan keadaan Aldy sekarang, memang pantas orang yang tamak kehilangan apa-apa yang berada di sampingnya, ia kira hanya dirinya yang merasakan kehilangan. Akhirnya Aldy yang membuat skenario terkena jebakannya sendiri. Sedari tadi Shandy tidak pernah luntur senyum terbit di kedua sudut bibirnya yang manis bahkan semanis madu itu.


"Andai.. kamu tidak ceroboh, pasti Gauri masih betah bersama kamu. Tapi.. sayangnya kamu bodo*, di saat begini baru menyesal itu tidak ada untungnya lagi. Yang ada.. Gauri semakin tidak menyukai kamu dan itu mempermudah aku mendapatkan kembali rasa simpati lalu cintanya yang padam ke aku." Shandy mengetik beberapa pesan pada Gauri.


Gauri di tempat lain kini berkerja di perkebunan dan juga persawahan seadanya pekerjaan serabutan asalkan bisa makan dan nyaman. Cukup.. dulu ia makan enak tapi hidup tidak bahagia yang ada hanya ketakutan dan kehawatiran berlebih akan keselamatannya sendiri.


Meski terpencil tapi di sana internet sudah lancar tanpa signal macet-macetan.


Tuiing.


💬 Aku baru saja di villa Aldy, dia menderita dan meminta kamu kembali.


Gauri membaca tanpa membalasnya, sebab pekerjaannya banyak tidak hanya panen sayurnya saja tapi juga harus membersihkan yang lain, jika ada sayuran yang kurang bagus akan di pilih lagi dan di bagi-bagikan ke orang-orang yang berkerja di sawah dan untuk tetangga pemilik sawah juga.


"Gauri.. besok jangan lupa ya panen di sawah sebelah, panen cabai." Ajak salah seorang pekerja juga.


"Siap.. asalkan ada ininya pasti gercep," sambil guyonan.


Lagi pula sudah biasa antara Gauri dan buruh pekerja lainnya bicara tanpa tau malu jika menyangkut pekerjaannya sendiri dan juga uang, tapi akan beda jika menyangkut orang yang semena-mena dan bertindak uangnya.


"Beres.. itu lancar seperti kemarin-kemarin. Lagian.. yang punya orangnya baik dan tampan loh." Ucap Narsih.


"Halah... pasti orangnya tua dan berumur, sudah jelas tampannya dia saat dia masih muda dulu kan?" gak percaya dengan ucapan Narsih.


"Tapi beneran loh Gauri, dia masih tampan dan juga muda loh. Anaknya pak Antok." Narsih terus saja memuji-muji orang itu lagi.


Hampir setiap hari bahkan sampai telinganya pening bukan bude* lagi.


"Iya.. iya.. tampan dan baik. Nanda kan namanya," Gauri menebaknya.


Narsih terkejut, apa pernah bertemu Gauri dan Nanda.


"Ko kamu bisa tau sih Gauri. Kamu.. pernah ketemu dia?" Narsih mendekati Gauri.


"Pernah tapi gak sering juga, dia tiba-tiba datang memperkenalkan diri bahkan memberi tau jika dia anaknya orang paling kaya di desa ini. Aku gak peduli dia orang kaya yang aku pedulikan aku gak mau bersangkutan dengan orang kaya lagi. Trauma tau gak sih!" jawabnya memang Gauri tidak suka hartanya berlebihan di tambah lagi jika suka pamer ini itu.


"Trauma??" Narsih menatap keheranan.

__ADS_1


Gauri keceplosan hampir saja Narsih tau rahasianya, jangan sampai ketahuan lagi bisa-bisa Shandy malu dan tidak di segani lagi di desa Berkah.


"Eh.. enggak ko. Cuma trauma saat berkerja punya majikan yang galak sekali bahkan tidak akan segan-segan memotong gaji karyawan yang berkerja di tempatnya." Alasan belaka Gauri untuk menutupi aib jika dirinya status janda tapi belum pernah mengganti identitas KTPnya dengan alasan berpindah-pindah tempat tinggal.


"O.. aku kira trauma pernah jadi orang kaya, lagian.. bukannya enak ya jadi orang kaya dan gak perlu kerja keras dengkur tanah bahkan berkubangan dengan tanah liat dan kotoran hewan," Narsih memang ingin jadi orang kaya tapi ya begitu kembali ke nasib masing-masing.


Jika semua orang kaya dan tidak ada yang mau berkerja lagi di sawah dan perkebunan apa mau makan makanan tidak berasal dari tanah alias makanan tidak sehat yang terbuat dari pabrik tanpa adanya petani di balik usaha pabriknya.


"Ya.. sudah, berdoa yang kencang dan keras saat Sholat di tambah lagi sedekah pasti bakalan cepat kaya, Narsih." Gauri tersenyum saat mengingatkan Narsih untuk sedekah.


"Halah... buat apa sedekah dan sholat rajin-rajin Gauri.. jika ujung-ujungnya gak punya duit juga. Padahal aku juga sudah sedekah kesana kemari, masukin duit ke kotak amal masjid saja gak ada gantinya. Kaya.. dari mana coba, katanya sedekahkan uang pada orang akan mendapatkan gantinya berkali-kali lipat, tapi... buktinya apa coba. Aku tetap saja begini miskin terus," celotehnya Narsih.


"Kurang ikhlas." Gauri hanya berkata 2 kata saja dan berhasil membuat Narsih terdiam dan bungkam.


Gauri lebih baik melanjutkan pekerjaannya lainnya saja dari pada mendengar gosip dan mengagumi wajah ciptaan Allah SWT.


"Hey.. Gauri. Tunggu aku," lari cepat-cepat tapi ujung-ujungnya tersungkur ke parit.


"Makannya yang iklas biar berkah kerjanya gak cuma sia-sia doang. Kufur nikmat itu namanya kurang bersyukur di beri ini masih aja kurang dan kurang lagi." Gauri mengingatkan tapi juga sedikit menggerutu sebab orang yang di ingatkan selalu saja begitu.


Tidak boleh mengingatkan orang lain dalam keadaan hati juga ikut memanas, sebaiknya bicara saat keadaan baik-baik saja.


Shandy terus saja menatap layar ponselnya tapi tidak ada balasan apa-apa dari Gauri, kemana dia.


"Dasar tidak berperasaan membuat orang menunggu, mau menyusul jauh juga harus keluar pulau pakai pesawat lagi." Shandy mengecek penerbangan hari ini yang cepat dan tidak perlu menunggu lama untuk menemui Gauri lagi.


•


•


Aldy termenung lagi ia menyuruh salah seorang untuk mengurus acara pernikahannya dengan Bella, Bella yang barusan mendapatkan kabar baik ia bahagia. Akhirnya Aldy pikirannya terbuka dan mau menikahinya dan juga demi calon buah hatinya ini.


Acara pernikahannya tidak kecil dengan sengaja Aldy membesarkan acara pernikahannya untuk bulan depan dan di carikan tanggal yang bagus dan baik melalui saran dari beberapa ustadz besar. Dan ternyata jatuh pada tanggal cantik dan sama.


"Kenapa bisa aku secepat ini menyiapkan semuanya, tak terasa sudah dua minggu berlalu setelah bertemu Shandy waktu itu, bagaimana ya kabar Gauri sekarang. Apa dia sudah mendengar berita ini?" Aldy memang mempersiapkan acara besar-besaran agar Gauri tau dan kembali lagi.


Itu hanya harapan Aldy tapi tidak untuk Gauri, Gauri sebenarnya sedih. Apalagi konsep yang di gunakan adalah ide darinya tapi pengantin wanitanya bukan dirinya melainkan wanita yang sedang mengandung buah cinta antara Aldy dan Bella. Mereka pasangan yang cocok, satu cantik yang satunya tampan dan sama-sama orang kaya tidak seperti dirinya yang miskin dan berpendidikan rendah.


"Selamat ya Aldy."


Gauri berbicara pada layar ponselnya saat membaca berita,bahkan kabar pernikahan Aldy dan Bella masuk di siaran tv dan juga beberapa channel YouTube dan sosial media lainnya juga masuk berita trending topik bulan tersebut.


"Aku tidak marah jika wanita lain yang berada di sisi kamu. Justru aku bahagia tidak memisahkan antara anak dan ayahnya serta antara ibu dan anaknya, semoga langgeng."


Gauri mengusap air matanya yang sempat terjatuh di pipinya.


Seseorang datang mengejutkan Gauri.


"DOR."


*


Terimakasih sudah mampir dan support karya aku sampai selesai.


Semoga kita selalu sehat dan dalam lindungan Yang Maha Kuasa.


Mampir juga ya di karya aku yang lainnya🥰

__ADS_1


__ADS_2