ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
245. Demi THR


__ADS_3

Di dalam mobil.


Princess memeluk boneka dengan erat. Rasanya hari ini benar-benar lelah, Momo yang juga lelah tetap bertahan duduk di depan. Princess sudah masuk ke alam mimpi dan berbaring di jok belakang yang sangat luas.


"Apa kamu senang mas dapat ke pemancingan ikan?" Momo yang mengantuk berat masih bertanya apakah suaminya hari ini senang.


"Iya, terimakasih sayang!" Lais menatap sekilas sambil tersenyum.


"Syukurlah jika mas senang dan suka." Momo mengusap perutnya dan ikut tertidur lantaran capek.


Lais merasa sangat kasihan terhadap istri dan putrinya.Lais mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang lantaran perjalanan saat ini sedang ramai, namun lancar tidak macet.


Sesampainya di rumah, Lais mengangkat tubuh istrinya dan menyuruh salah seorang pembantu untuk menidurkan Princess malam ini dan menemani Princess.


"Istriku yang luar biasa, kamu hebat sayang. Wanita yang mengagumkan, tidak ada wanita yang mampu menandingi kamu sekarang. I love you my Momo." Kecupan di dahi Momo membekas.


Lais segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu, ia tidak nyaman jika setelah keluar dari rumah tidak mandi. Meski tubuhnya terasa lelah sekali, lagian tadi sewaktu di pemancingan ikan tidak tersentuh air kecuali cuci tangan dan kaki. Kecuali saat di kamar mandi.


Selesai membersihkan diri Lais ikut membaringkan tubuhnya dan beristirahat. Sambil memeluk tubuh istrinya.


Keesokan harinya.


Lais yang kelelahan hampir saja tidak makan sahur karena hampir habis imsak nya. Untung saja tadi sempat berdoa dan menengguk air putih dan 3 buah kurma. Setidaknya ada sesuatu yang masuk ke dalam perut, lagian kurma juga sangat bagus untuk tubuh kita.


Lais merasakan telinganya berdengung sebentar, kata orang jika telinga berdengung ada yang membicarakannya. Entah itu benar atau tidak, yang pasti ia merasakan telinganya berdengung cukup keras dan lama.


Lais perbanyak istighfar, kenapa bulan yang suci ini masih ada saja yang membicarakan dirinya yang bukan-bukan.


"Semoga mereka membicarakan aku tentang yang baik-baik bukan yang buruk." Doa Lais dalam hati.


Saat di perusahaan Lais terlihat sedikit tidak bersemangat, seperti ada masalah dalam dirinya.

__ADS_1


"Arman." Panggilnya tegas.


"Siap Pak bos, ada apa!" Jawab Arman dengan penuh hormat.


"Jangan sampai ada orang yang tidak berkepentingan masuk ruangan aku, ingat itu. Jika kamu ceroboh, siap-siap THR kamu tahun ini aku tiadakan." Ancamnya berlalu pergi.


Arman yang sebagai sekretarisnya hanya menunduk takut dan menelan saliva nya dengan kesulitan.


"Baik Pak bos," Arman sudah siap siaga di depan ruangan Lais. Di situlah selam ini Arman tapi terkadang namanya juga manusia bisa khilaf kapan pun itu, termasuk dirinya.


Tiba-tiba ada orang yang masuk ke perusahaan ini dan membuat ulah, sepertinya ini di sengaja terjadi. Tidak mungkin jika tidak di sengaja tiba-tiba ada orang membuat onar, katanya Lais berbuat tidak adil pada anaknya yang berkerja di sini. Lais yang mendengar laporan dari Arman segera turun dari lift pribadinya.


"Ada apa ini?" Lais menatap orang yang berbuat onar itu.


"HEY KAMU." Teriaknya pada Lais sambil menunjuk-nunjuk.


"Arman tolong kamu urus ibu itu, pergi ke ruangan HRD kasih santunan yang cukup untuk dia dan pastikan dia tidak membuat ulah di sini, dan satu lagi masukkan dia ke panti atau penampungan lansia." Ucap Lais pergi begitu saja.


"Orang-orang seperti ini harus segera di selesaikan, jika tidak pasti akan berulah lagi dengan menambah pasukannya." Lais menatap pekerjaannya yang sudah menumpuk dari kemarin.


Ddrreett


Ddrreett.


Ponsel baru Lais bergetar, tertera nama sang istri yang tengah menelponnya. Kemarin saat dirinya di pemancingan ia menyuruh Arman untuk membelikan ponsel baru. Dan baru tadi pagi ia mengirim pesan singkat pada istrinya saat di rumah, tentu saja dengan ucapan manis dan rayuan maut untuk tuan putrinya itu.


"Hallo sayang, tumben telpon. Ada apa?" Lais tersenyum-senyum sendiri saat di telpon istrinya.


"Apa tidak boleh aku telpon mas, apa cuma dia saja yang boleh!" Momo yang berada di balik telpon hanya mendengus kesal.


"Eh... kenapa jadi bahas orang tidak berkepentingan itu sih, siapa yang tidak memperbolehkan kamu telpon sih sayang, boleh ko seharian mas juga bisa melayani telpon kamu sayang." Lais berusaha tidak menyingung perasaan istrinya yang sensitif.

__ADS_1


"Beneran?" Tanya nya seraya tidak percaya.


"Iya sayang... beneran, oh... ya tumben telpon. Apa mau kesini sayang, mas tunggu ya!" Lais tersenyum-senyum sendiri.


"Siapa juga yang mau kesitu, jangan kepedean deh." Momo membuka pintu ruangan suaminya mendadak.


Lais terperanjat dari tempat duduk lantaran terkejut dengan kedatangan istri dan anaknya yang tiba-tiba.


"Sayang, kenapa buka pintu mendadak sih." Sambil mengelus dadanya berkali-kali.


"Jika aku tidak masuk langsung, pasti kamu larang kan mas," Momo duduk di sofa dan memberikan coklat pada Princess.


Momo yang tadi saat di minimarket tidak ingin coklat, mendadak mau makan coklat.


"Kalau tidak aku turuti makan coklat, baby nya ileran enggak ya. Tapi jika nanti ileran bagaimana, apalagi nanti bayinya mempesona dan menggemaskan. Mana ada yang mau mencium kalau ileran terus." Momo hanya menatap coklat yang hanya sebatang yang di pegang oleh Princess.


Lais yang melihat sang istri seperti binatang buas yang siap-siap menerkam mangsanya, langsung menelpon Arman untuk membelikan coklat berbagai macam rasa di minimarket depan kantor.


Arman yang tadinya berkerja kini, kelimpungan sendiri. Dengan lari seribu ia pergi, dari pada THR tinggal kenangan lebih baik ikhlas menjalani. Masa iya mau pakai pakaian baru harus gagal total, padahal daftar belanjaan sudah ia catat tinggal menunggu THR turun.


"Mas, aku tidak dapat THR nih. Aku beberapa bulan yang lalu berkerja loh mas di sini, masa iya tidak dapat?" Momo mendekati meja kerja suaminya.


"Ha... aa... apa uang yang mas kasih kurang sayang, kenapa minta THR segala sih!" Lais menarik lembut pergelangan tangan Momo agar duduk di pangkuannya.


"Itu beda mas, aku mau dapat THR tahun ini. Masa bos besar seperti Lais Erdana Khan pemilik jam berlian, tidak mampu memberi THR pada karyawan kecil sepertiku." Momo membenarkan letak dasi suaminya.


"Tapi kan kamu bukan karyawan lagi sayang, jadi tidak dapat THR tahun ini," mengusap perut Momo.


"Tidak adil, masa aku tidak dapat THR." Pura-pura ngambek demi THR.


***

__ADS_1


Masih lanjut up ya, terimakasih sudah membaca sampai bab ini.


__ADS_2