ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
219. Redanya salah paham.


__ADS_3

Makanan masih di nikmati sambil menenggak air putih. Hanya ada keheningan di ruang makan.


[POV Lais]


Usai makan malam aku dan Momo berada di ruang belajar Princess banyak pertanyaan yang di lontarkan Princess mulai dari menghitung, menggambar yang bagus dan mewarnai.


Momo yang kualahan menghadapi Princess sungguh sangat menggemaskan ekspresinya, aku berdoa semoga Allah selalu melindungi rumah tangga kami dari mala petaka dan gangguan yang tidak kami harapkan terjadi, biarlah berjalan seperti air mengalir saja.


"Papa." Panggil lirih Princess padaku.


"Iya sayang ada apa," aku langsung menghampiri Princess.


Aku menyentuh dahi Princess yang mendadak sangat panas sekali, ada apa ini. Langsung saja aku gendong tubuh kecil Princess dan langsung menyuruh Amin untuk menjalankan kemudinya langsung ke Rumah Sakit anak terdekat dari rumah.


Momo yang melihat langsung ke jadian ini sangat hawatir dan cemas, terlihat dari raut wajahnya yang sangat-sangat sedih.


"Mas... semoga Princess tidak kenapa-kenapa ya." Ucap Momo menyentuh tangan kemudian dahi Princess.


"Semoga," jawabku juga ikutan panik, dulu pernah Princess demam seperti ini sewaktu ia terjatuh saat bermain dan sekarang dia demam lagi, apa Princess tadi jatuh di sekolah atau di rumah.


Rumah Sakit Anak.


Segera aku gendong tubuh kecil Princess dan memasukkannya ke ruang khusus untuk di periksa, Dokter masih memantau keadaan Princess saat ini.


Setelah hasil lab keluar Princess di nyatakan terkena Demam Berdarah atau DBD, anak sekecil Princess terkena demam berdarah padahal rumahku aku jaga dan rawat serta menyewa beberapa pekerja untuk membersihkan kediaman Erdana Khan namun nyatanya putriku masih terkena DBD.


"Mas, aku sangat hawatir dengan keadaan Princess dia putri yang ceria dan aktif kenapa harus dia yang terkena penyakit ini, kenapa tidak aku saja." Momo bersedih di dalam dekapanku.


Kami berdua berada di ruang rawat Princess, sudah ada infus di tangan kecil Princess.


"Mama."


"Iya sayang, mama di sini," jawab Momo memegang tangan kecil Princess.


"Mama." Ucap lirih Princess di selingi tangis.


"Iya, mama di sini sayang," jawab Momo dengan sabar.


Bukannya malah diam justru Princess menangis sejadi-jadinya, Lais terkejut dengan sikap aneh Princess sang putri.


"Papa ada di sini sayang, mau apa sayang. Mama Momo juga di sini sayang."


"Tidak mau..., aku mau mama bukan mama Momo," ucap Princess menangis.


DDEEGGHH


Jantung Momo berdenyut ngilu mendengar Princess berucap demikian, Momo berusaha sabar dengan putrinya yang sedang sakit.


"Aku keluar dulu mas." Pamit Momo padaku, aku tau pasti Momo terluka dengan ucapan Princess yang mencari ibu kandungnya.


Momo yang berada di luar ruangan hanya meratapi dirinya.


"Aku tau jika aku bukan mama kandungnya, aku tau dan sadar diri." Momo tidak mampu untuk masuk ke ruangan tersebut.


15 menit kemudian.


Seorang wanita cantik memasuki lobby rumah sakit dan berjalan di koridor rumah sakit menuju ruang rawat Princess.


Momo yang melihat ibu kandung Princess yang masuk ke dalam ruang rawat Princess hanya menatapnya saja, bahkan dia juga tidak menyapa.


"Dia ibu nya Princess, cantik dan modis. Sementara aku, lusuh dan tidak layak di pandang. Sudah 10 menit berlalu Lais juga tidak keluar semenjak ke datangan Aura, coba aku lihat di kaca pintu." Momo berjalan melihat ke arah kamar Princess.


"Princess memegang kedua tangan orang tuannya dan menyatukan mereka, apa Princess sudah tau jika dia ibu kandungnya," Momo menghela nafas panjangnya.


Momo berjalan meninggalkan Rumah Sakit, ia tidak sanggup melihat adegan selanjutnya. Hatinya sakit sekali sekarang. Momo segera menghentikan taxi untuk mengantarnya pulang ke rumah, jika nanti di tanya sewaktu di rumah jawab apa adanya saja.


Lais hanya berdoa dan berharap Momo sang istri tidak salah faham dan tidak melihat hal ini, tapi Lais tidak tau jika Momo sudah melihatnya dan sekarang Momo sudah pergi dari rumah sakit ini tanpa izinnya.


Momo yang berada di dalam taxi menangis, sang sopir hanya menatap dari balik kaca spionnya, wanita dengan pakaian sederhana sangat cantik di pandang. Kenapa bisa wanita seperti penumpangnya ini menangis sendirian setelah keluar dari Rumah Sakit apa keluarganya ada yang terluka atau terkena musibah yang lain.


"Mbak, ini tujuannya ke mana ya mbak apa sesuai dengan aplikasi yang mbak tuju?" tanya sang sopir dengan hati-hati.


"Iya, hantar saya langsung ke alamat itu saja ya pak!" jawab Momo dengan menampilkan gigi putihnya.


"Baik mbak." Ucap sang sopir.


Kediaman Erdana Khan.


Semua orang yang melihat Momo pulang sendirian langsung menimpali banyak pertanyaan ini itu namun Momo hanya menjawab ingin istirahat saja.


Saat berada di dalam kamar Momo terus-terusan menatap layar ponselnya berharap sang suami mengirimkan pesan singkat padannya, namun tidak ada satu pun yang masuk.


"Apa dia tidak sadar aku pulang sendirian." Momo mengusap air matanya yang tidak ingin berhenti sedikit pun.


"Aku siap dan berlapang dada jika aku harus kehilangan orang yang aku cintai lagi selain bunda dan ayah, aku lebih baik melihat orang-orang yang aku cintai bahagia, dengan begini aku bisa tenang melihat mereka bahagia." Momo berjalan ke arah balkon dan menatap langit yang tidak ada satu pun bintang yang menyinari malam ini.


Bintang dan bulan saja tau jika hatinya saat ini bersedih dan terluka.


"Sayang." Pelukan hangat terasa di perut Momo, ia hafal betul dengan perasaan ini. Namun tiba-tiba panggilan itu musnah seketika.


Momo menatap kesana kemari mencari keberadaan sang suami yang ternyata tidak ada di dekatnya saat ini.


"Hhaahh... ternyata hanya bayangan saja, jika nanti aku benar-benar kehilangan kamu apakah aku sanggup mas. Bertahun-tahun aku menjaga diriku untukmu saja, tetapi dalam sekejab mata kebahagiaan yang baru aku dapat sirna dan hancur." Momo berjalan masuk ke dalam kamar dan tak lupa ia mengunci kembali pintu ke arah balkon tersebut.


[POV Momo]

__ADS_1


Aku teringat betul saat kamu terkena scandal dulu, kamu menghamili ibunya Princess. Hatiku benar-benar hancur lebur saat itu, tetapi aku berusaha damai dengan perasaan yang aku pendam sendirian. Apa kamu tau mas aku selalu diam-diam mengikuti akun media sosialmu, aku ingin selalu dekat denganmu meski aku yakin aku tersakiti karena aku terlalu mencintaimu mas.


Aku mengusap cincin pernikahan kami yang nampak cantik dan elegan, apakah kamu masih mengenakannya juga mas atau kamu sudah melepasnya sekarang.


Dengan segera aku ke kamar mandi sebelum aku tidur, pikiranku sudah merancau kemana-mana entah itu akan jadi kenyataan atau tidak.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah satu malam, aku berkali-kali mengecek ponselku tetapi nihil hasilnya, Lais begitu tega tidak mencari keberadaanku dan tidak meneleponku sebentar saja.


Lais yang berada di rumah sakit mencari kemana-mana keberadaan Momo, namun tidak menemukannya bahkan ponsel miliknya ke habisan daya.


"Iihh... dasar ponsel sialan, kenapa di saat seperti ini tidak bisa di gunakan. Mau pinjam charger tidak kenal orang-orang di sini."


Lais yang sudah hawatir langsung pulang setelah memastikan sang putri tidur yang di temani Aura sang ibu kandung.


Karena ini sudah masuk dini hari, jalanan sepi dan tidak ada orang yang berlalu lalang, hanya beberapa saja untungnya Amin yang membawa mobil saat ini.


"Pak Amin, apa tadi bapak lihat Momo keluar dari rumah sakit?" tanya Lais hawatir.


"Maaf pak boss saya tidak melihat, karena setelah saya menghantar tadi saya hanya di parkiran saja boss!" jawab Amin sambil fokus mengemudi.


Sesampainya di rumah, Nila yang baru saja membukakan pintu langsung bercerita semua tentang yang ia lihat mulai dari Momo masuk ke rumah ini tadi setelah dari Rumah Sakit. Hati Lais begitu teriris mendengar Momo yang seperti itu, bahkan kamarnya ia kunci sedari pulang tadi.


TTOOKK


TTOOKK


"Sayang, buka pintunya." Ucap Lais yang terus saja mengetuk pintu.


Cceekklleekk.


"Mas," Momo menatap ke pulangan sang suami yang masih saja tidak percaya, takut seperti kejadian di balkon tadi yang hanya hayalan nya saja.


Lais langsung memeluk Momo dengan erat dan menciumi ubun-ubun Momo berkali-kali.


"Aku sangat-sangat mencintaimu sayang, maaf aku baru pulang." Memeluk Momo dan seakan enggan untuk melepasnya.


"Mas... sesak aku," Momo menatap Lais.


Dengan sekali angkat saja Momo berada di atas bahunya, Momo sangat kesal kenapa sang suami tidak menggendongnya ala-ala romantis kenapa harus seperti ini seperti karung beras saja.


[POV Lais]


"Kamu masih marah padaku sayang." Ledekku sambil aku menciumi tangannya yang halus selembut kapas.


"Tidak, hanya kesal saja denganmu mas, apa kamu akan menikah lagi dan menjadikan Aura sebagai maduku nanti?" Momo menyilangkan tangannya, aku segera lari ke arah pintu dan menguncinya dengan rapat.


"Tidak dan tidak akan pernah!" jawabku meyakinkan Momo.


"Terus, kamu mau menceraikan aku." Mata Momo mulai berkaca-kaca. Dengan segera aku bungkam bibir mungilnya yang masih saja bicara yang bukan-bukan.


"Bicara yang aneh-aneh lagi akan aku hukum lebih parah dari ini," ucapku sambil mengusap bibirnya yang sangat basah karena ulahku yang menikmatinya seperti menghisap permen.


"Aku sempat kecewa, putrimu sedang sakit kenapa kamu seperti ini. Kita berdua bukan anak kecil lagi, kita harus berpikir yang lebih dewasa, Momo yakinlah padaku dan percayalah aku tidak akan melukaimu sayang," aku peluk tubuh Momo yang masih menatapku.


"Aku akan selalu percaya mas, tetapi jika takdir tidak mempersatukan kita aku harap mas ikhlas dan begitu juga denganku." Ucapan Momo sangat menyayat hatiku.


Aku tau jika Momo sudah kehilangan kepercayaan dirinya saat Princess mencari ibu kandungnya dan bukan dirinya, aku tau Momo menyayangi dan mencintai putriku seperti putri kandungnya sendiri, pasti dia sangat terluka hatinya.


"Yakinkanlah Princess lagi sayang, aku yakin kamu bisa."


"Jika aku tidak bisa dan Princess tetap menginginkan Aura sebagai istrimu bagaimana?" tidak habis pikir aku kenapa pikiran Momo bisa sesempit ini dan tidak mau memperjuangkannya, kenapa dia selalu mengorbankan perasaannya demi orang lain, apa dia tidak ingin hidup bahagia di dunia ini.


"Kenapa kamu berpikiran seperti ini sayang." Aku mencoba menanyakan apa alasannya.


"Aku sangat mencintaimu Lais dan aku siap terluka lagi dan lagi demi kamu," jawab Momo sebelum ia pingsan di pelukanku.


"Momo... Momo... sayang, sadar sayang." Aku segera mengambil minyak angin untuk menyadarkan Momo.


Aku sentuh dahi dan lehernya yang terasa sangat panas, Astagfirullah dia demam juga jangan sampai ia terkena DBD juga seperti Princess. Aku segera turun ke dapur dan mengambil air untuk mendinginkan suhu badannya, setelah aku mengambil air tersebut aku teringat jika aku ada stok kompres pereda panas untuk orang dewasa, segera aku ambil dari kotak obat dan menempelkannya.


"Semoga cepat turun demam mu sayang." Aku segera melepas pakaianku dan pakaian Momo tubuh kami sama-sama polos, yang aku tau jika demam tidak kunjung turun dan semakin panas dengan cara ini bisa menurunkannya, karena sudah lebih dari satu jam panas Momo tidak kunjung turun.


Haduh... kamu kenapa bangun sih, tahan dulu oke jangan masuk. Apa kamu tidak tau istriku sedang sakit tahan dulu ya sampai besok pagi semoga Momo ku sembuh ya. Ucapku dalam hati seraya menetralkan gejolak laki-laki normal ku ini.


Pagi hari.


Momo yang baru bangun merasakan gesekan kulit, ia tatap tangan yang melingkar pada tubuhnya. Ia terkejut dengan tubuhnya yang polos tanpa sehelai pakaian.


"Dasar mesum." Mencubit hidung Lais dengan kuat, sampai-sampai Lais gelagapan saat bernafas.


"Ihhh... sakit tau," aku mengusap hidungku yang berdenyut ngilu.


"Ini kenapa tubuhku polos mas?" Momo menutupi tubuhnya yang polos, sambil menatapku dengan tatapan yang sudah siap mencincang ku sekarang.


"Kamu demam sayang tadi malam, makannya aku memelukmu dari semalam!" jawabku sedikit gugup.


"Beneran tidak sedang berbohong, tidak menyentuhku semalam." Momo menujukku dengan tidak percaya jika aku tidak menyentuhnya.


"Beneran aku tidak berbohong sayang, bahkan aku sekuat tenaga menahannya karena aku tau kamu sedang sakit," aku sangat terpojok.


Momo langsung memelukku dan secara otomatis tubuh kami bertempelan satu sama lain.


"Terimakasih mas, ayo kita ke Rumah Sakit." Momo memberikan ciuman selamat pagi di pipi kiriku.


"Ayo," aku bangun dari tidurku dan masuk ke kamar mandi bersama Momo.

__ADS_1


Momo hanya mengomel di dalam kamar mandi, lantaran aku tidak bisa menahan nafsuku yang besar padannya.


30 menit kemudian.


"Apa kamu capek sayang." Godaku dengan mengeringkan rambutnya.


"Tidak, cuma rasanya aku ingin merantai nafsumu untuk sementara, sakit tau pinggangku," jawab ketus Momo sambil mengusap dan memijat pinggangnya.


"Sakit sakit tapi kamu tadi sangat menyukainya sayang." Ucapku berbisik tepat di telingannya.


Sungguh luar biasa bisa menikah dengan Momo, dia cantik dan baik aku sangat kagum dengannya, walaupun terkadang dia sedikit seperti anak kecil jika marah.


"Ini mas, pakai ini saja ya." Momo memberikan pakaian casual padaku.


Iisshh... Momo selalu tau pakaian apa yang ingin aku kenakan sekarang.


"Bagaimana cocok tidak?" aku menatap diriku melalui pantulan kaca.


Rumah Sakit Anak.


Aku dan Momo berjalan ke koridor rumah sakit menuju ruang rawat Princess. Sesampainya di sana aku melihat Aura sedang menyuapi Princess dengan penuh cinta.


"Selamat pagi Princess." Ucapku dengan senyum yang merekah padannya.


"Papa... mama...," ucap Princess sambil mengunyah makanannya.


"Lais, aku mau berkerja aku titip Princess ya." Aura segera memberikan mangkuk berisi bubur padaku.


Aku menatap Momo memastikan dia tidak cemburu, sebenarnya aku senang sekali Momo cemburu berat padaku yang artinya ia sangat mencintaiku, tetapi aku tidak mau Momo terluka sangat dalam yang mengakibatkan aku kehilangan dirinya lagi.


"Momo jaga Princess untukku ya, aku percaya kamu mama yang luar biasa untuk Princess." Aura menatap Momo kemudian ke Princess.


"Iya, akan aku jaga Princess seperti putri kandungku sendiri," jawab Momi begitu sangat dewasa.


Aura segera pergi dari ruangan tersebut, rasa sesak di dada sangat mengusik ketenangannya, seharusnya dulu ia tidak mengejar karir saja tetapi percintaan juga. Sesal memang terjadi di akhir cerita.


"Princess." Momo duduk di samping Princess.


"Mama," Princess mulai bermanja-manja lagi ke Momo.


Sungguh sangat cemburu aku melihat kedekatan ini, untung Princess tidak di lahirkan laki-laki jika dia laki-laki aku tidak akan membiarkan Momoku dekat dengan putraku, karena yang lahir seorang putri tidak apa-apa sedikit mengalah. Lagian Princess sekarang sedang sakit.


"Eehhemmm... sarapan dulu, baru di lanjutkan pelukannya ingat Princess mamamu ini milik papa seorang, kamu hanya pinjam sebentar." Ucapku menggoda Princess.


"Tidak boleh, mama cuma punya Princess," jawab Princess dan langsung memeluk erat tubuh Momo.


"Papa suapi kamu ya Princess." Lais menyodorkan satu sendok tidak penuh pada Princess.


Dengan segera Princess membuka mulutnya dan mengunyah bubur tersebut. Momo hanya menatap sang putri yang makan dengan belepotan, sungguh menggemaskan sekali dia.


"Iihhh... sangat menggemaskan." Momo mengelap bubur yang ada di sudut bibir Princess.


Tatapan teduh dan penuh kasih sayang sangat meneduhkan hati, wanita yang begitu sempurna ini adalah istriku tercinta, tidak banyak orang yang bisa menyayangi putri orang lain dengan tulus meski itu putri kandung suaminya.


TTOOKK


TTOOKK


"Hallo..., selamat pagi." Ucap Sindy yang baru saja datang.


Princess yang belum mengenal Sindy hanya terpana melihat Sindy yang hampir mirip dengan mama Momo. Apa dia kembaran mama Momo, pertanyaan itu muncul di benak Princess.


Momo langsung bangkit dari duduknya dan langsung memeluk Momo, setelah menikah ia belum bertemu dengan Momo sekalipun.


"Bagaimana kabarmu Momo?" Sindy melepas pelukannya.


"Baik Sindy, kalau kamu." Momo menatap kesana kemari mencari keponakannya yang gendut itu. "Dimana Inre, Sindy? kenapa dia tidak di ajak ke sini."


"Dia sudah masuk sekolah, tadi aku titip ke suster sebentar," Sindy mendekati Princess gadis cantik putri Lais.


"Haai... cantik, apa sudah makan." Sindy memberikan sebuah boneka perempuan dengan rambut yang sangat panjang dan cantik.


"Sudah tante, tante ini kembaran mama?" Princess berucap dengan sangat menggemaskan.


"Apakah sebegitu miripnya sampai-sampai tantemu ini bisa semirip mamamu." Sindy menanyai Princess dan Princess menjawabnya dengan anggukan yang penuh keyakinan sekali. "Ohhh..., sayangku yang cantik, tante ini kakak sepupu mama Momo sayang, makannya tante mirip dengan mama Momo," Sindy mengusap surai rambut Princess yang sedikit berantakan.


"Benarkah, yeee... Pincess punya kembaran mama Momo asik." Princess sangat bahagia dengan ke datangan Sindy di tempat ia di rawat. "Mama," panggil Princess menatap Momo.


"Iya, sayang. Ada apa?" Momo duduk lebih dekat dengan Princess.


"Kapan Pincess pulang Mama, Pincess mau sekolah," jawab Princess menatap selang infus yang masih menancap di tangan kanannya.


"Sabar sayang, kalau sudah sembuh pasti Princess pergi ke sekolah jadi Princess harus berjuang untuk sembuh dengan cara sering tersenyum dan menuruti ucapan Dokter, mama dan papa." Momo menjelaskan dengan penuh kelembutan.


Hati Lais langsung meleleh mendengar penuturan Momo. Sindy yang mendengar ucapan Momo yang selalu dewasa sejak dulu membuatnya iri hati, bagaimana tidak Momo yang baru saja menikah bisa bersikap sedemikian rupa, sementara dirinnya yang sudah menikah sebelas tahun lamannya masih merasa seperti anak kecil, yang masih butuh bimbingan untuk berjalan dan berbicara.


"Eehh... aku pulang dulu ya Momo, aku terlupa tadi kalau papa titip kue yang ada di dekat rumah sakit ini, aku pergi dulu ya," sambil cipika cipiki dengan Momo kemudian beralih ke Princess. "Tante pulang dulu, nanti kalau sudah sembuh main ke rumah tante ya." Mencium ubun-ubun Princess.


"Baik tante cantik," jawab Princess dengan asiknya memeluk boneka pemberian Sindy.


Setelah keluar dari ruang rawat Princess, dalam hati Sindy sungguh kasihan dengan curhatannya tadi malam, begitu besar kasih sayang yang Momo curahkan entah orang yang ia cintai menganggap atau tidak, Momo juga bercerita ia siap terluka lagi dan lagi demi orang-orang yang ia cintai dan sayangi ini.


"Momo."


"Iya mas, kenapa?" Momo menatap wajah Lais yang masih saja merasa bersalah pada dirinya.

__ADS_1


"Maaf ya. Aku tidak ingin kamu menganggap aku ini laki-laki gampangan dan mau menurut sana sini, aku... aku... benar-benar minta maaf sayang!" jawab Lais menggenggam erat tangan Momo.


"Iya, aku sudah memaafkan kamu mas, sudahlah jangan di bahas lagi kasihan ada Princess." Momo menatap sang putri yang sedari tadi mengawasi kedua orang tuannya.


__ADS_2