
Ruang Rawat Aurellia dan Sacha.
Jarum infus dan alat bantu pernafasan masih melekat di tubuh Sacha sementara Aurellia masih belum sadar karena pengaruh obat bius yang lewat cairan infus. Ksatria yang sudah di hubungi langsung menuju rumah sakit bersama Daysi, setelah menemukan ruang rawat Aurellia dan Sacha segera masuk dan melihat bagaimana keadaan sang adik dan ipar nya.
"Kasihan sekali kamu Aurel, baru saja kamu merasa kan bahagia namun kebahagiaan itu terenggut juga, semoga lekas sembuh." Ksatria mengusap tangan Aurellia.
Ksatria duduk di sofa pikiran nya kacau saat Ano menjelas kan jika kecelakaan Aurellia dan Sacha akan merubah kehidupan mereka berdua 180 drajat. Ksatria tidak siap jika sang adik akan kehilangan cinta nya lagi. Kemungkinan besar Sacha akan kehilangan ingatannya karena cidera parah di bagian tengkorak, sementara Aurellia cidera ringan.
"Semoga cepat sadar kamu Relli," menatap Aurellia yang masih memejamkan mata.
Pagi hari.
Aurellia yang baru sadar langsung beteriak memanggil nama Sacha, Daysi yang baru masuk langsung menghampiri Aurellia.
"Relli tenang ya, Sacha ada di ruang sebelah." Daysi mencoba menenagkan Aurellia.
"Saya mau ketemu Sacha, Daysi. Kemarin kita kecelakaan dan dia banyak sekali mengeluarkan darah dari kepala nya." Berusaha turun dari brankar nya.
"Kamu tenang ya, nanti kesana melihat Sacha ya." Namun ucapan Daysi tidak di anggap Aurellia.
Aurellia tetap bersih kukuh turun dari barankar mau tidak mau Daysi membantu memapah Aurellia menuju kamar rawat Sacha. Setiba di ruang rawat Sacha, Aurellia menetes kan air mata.
"Sacha," Aurellia menyentuh pipi Sacha dengan lembut berharap Sacha segera sadar. Namun nihil hasil nya. "Daysi...," menatap wajah Daysi dengan sendu.
"Sabar oke, berdoa Kepada Yang Maha Kuasa Relli." Mengusap lembut pundak Aurellia. Aurellia mengangguk kan kepala sambil menatap wajah pucat Sacha sang suami.
Daysi yang sudah mendengar cerita dari Ksatria tadi malam hanya bisa berpura-pura agar Aurellia tidak down dan sedih yang mengakibat kan deperesi berat.
"Kamu masih mau disini Relli?" tanya lembut Daysi.
__ADS_1
"Iya, saya ingin menemani Sacha sampai dia sadar," Aurellia memegang telapak tangan Sacha dan menggengam erat.
"Tapi kamu juga masih butuh istirahat Relli, aku takut kesehatan kamu tambah menurun. Apa kamu mau melihat Sacha sedih nanti saat dia bangun." Daysi mengngigatkan Aurellia.
Aurellia menggeleng. "Tidak, ayo hantar saya kembali masuk ke ruangan saya akan istirahat lagi, nanti ke sini lagi kalau saya tidak lelah." Aurellia berdiri dari kursi yang baru saja ia duduki, sebelum keluar Aurellia mencium berkali-kali pipi Sacha.
Sudah satu minggu berlalu, namun Sacha masih setia dengan brankar yang ia tiduri, sedikit pun Sacha belum ada tanda-tanda untuk bangun. Aurellia yang keadaan nya membaik terus menjaga dan merawat Sacha dan ia tidak lupa untuk menjaga diri nya sendiri sebelum merawat Sacha, tentu nya di bantu Daysi yang selalu mengigat kan nya setiap hari.
"Bangun dong Sacha saya mohon, kata kamu ingin membantu saya. Kamu tau Sacha saya sedih tempat yang seharus nya membuatku tidak akan pernah melupakanmu kini benar-benar menjadi nyata, namun bukan kebahagiaan melainkan kesedihan dan jalan itu saksi nya." Mengusap lembut pipi nya yang sudah basah karena air mata.
Gerakan tangan Sacha terasa di telapak tangan Aurellia, Aurellia segera menatap mata Sacha.
"Kamu bangun Sacha," sambil menciumi pipi Sacha. Sacha yang masih setengah sadar hanya diam tanpa berekspresi sedikit pun. "Saya panggilkan Dokter ya." Aurrllia memencet tombol yang ada di tembok.
Dokter segera datang dan memeriksa keadaan Sacha saat ini, Dokter terkejut dengan apa yang di dapati. Setelah selesai pemeriksaan Dokter segera keluar dari ruang rawat Sacha dan memberi tau pada Aurellia jika suami nya baik-baik saja, bahkan Dokter berucap jika Sacha tidak hilang ingatan meski cidera parah di bagian tengkorak.
Aurellia berjalan dengan bahagia menuju brankar Sacha, "apa masih sakit." menyentuh kepala Sacha.
"Benar kah." Mencium sekilas pipi dan dahi Sacha yang masih berbalut kain kasa.
"Iya, kamu duduklah disini," menujuk sebelah tempat istirahat nya.
"Tapi...," menatap Sacha yang sedang sedih, "Huuhh... baiklah."
Sacha yang rindu dengan istri nya langsung meraih tengkuk Aurellia dan memberikan sentuhan luar biasa di bibir Aurellia dan Aurellia membalas nya dengan luar biasa juga.
Daysi dan Ksatria yang baru datang terkejut dengan sugguhan pemandangan yang waw di lihat.
"Eehhemmm...," suara deheman Ksatria membuyarkan dua insan yang saling menyesapi satu sama lain tersebut.
__ADS_1
"Kakak," ucap malu-malu Aurellia sementara Sacha hanya tersenyum.
"Haduh..., kalian ini lihat kondisi dong. Jangan-jangan jika tidak ada kami berdua pasti kalian sudah berbuat yang lebih di brankar itu kan kasihan brankar nya." Ksatria tertawa.
"Saya juga tau batasan." Ucap santai Sacha.
"Tau batasan tapi lahap banget barusan, seperti menikmati es cream saja," ledek Ksatria.
Aurellia dan Daysi hanya menjadi penonton berdebatan.
"Memang bibir nya senikmat es cream ko, bahkan saya kurang ini." Tak mau kalah dari Ksatria.
"Haduh, ini orang apa setelah kecelakaan otak nya tambah bermasalah. Bukan nya kata dokter kemungkinan kamu bakal hilang ingatan kenapa seperti nya sekarang tidak?" menyipit kan mata ke arah Sacha.
"Keajaiban!" jawab singkat Sacha.
"Di museum kan saja kalau begitu kamu." Ksatria yang kesal karena Sacha membalas ucapan nya langsung menyilang kan tangan di depan dada dan segera duduk di sofa.
Perdebatan yang baru saja terjadi membuat Ksatria dan Sacha memaling kan wajah satu sama lain. Ruangan yang tadi nya ramai kini sepi setelah perdebatan dua orang laki-laki yang tidak mau mengalah antara dengan yang sakit dan sehat.
"Aku suapi ya," Aurellia memecah kan keheningan. Sacha mengangguk dan membuka mulut nya, dengan lahap Sacha memakan bubur tersebut.
Ksatria yang merasa sang adik akan bermesraan dengan suami tengik nya segera pergi begitu juga Daysi yang berpamitan karena Ksatria keluar ruangan tanpa berpamitan. Daysi mengejar Ksatria yang sudah melangkah jauh bahkan Daysi harus berlari di koridor Rumah Sakit, langkah kaki Ksatria yang lebar membuat Daysi kualahan sampai parkiran mobil.
Sesampai nya di dalam mobil, Daysi langsung menggunakan seat belt untuk pengaman tubuh nya. Ksatria fokus mengemudi tanpa ekspresi senyum.
"Kita makan dulu yuk aku lapar Sat," mengusap perut nya.
"Ayo," Ksatria melaju kan kendaraan nya kesebuah restoran dekat dari Rumah Sakit.
__ADS_1
Sesampai nya di restoran Daysi memesan menu sesuai keinginan nya saat ini.