ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
89 Tamu tak di undang


__ADS_3

Keesokan hari nya.


Daysi seperti biasa berusaha bangun dari ranjang tidur nya sementara Ksatria sudah hilang dari samping Daysi. Rasa kesal menyelimuti Daysi bagaimana tidak di saat diri nya membutuh kan bantuan sang suami sudah hilang duluan.


"Dasar suami gak peka, sudah tau punggungku rasa nya sakit seperti ini tidak di bantu dulu untuk bangun malah sudah kabur duluan, gara-gara dia juga aku seperti ini." Daysi mengomel sambil berusaha duduk dari ranjang tidur. Setelah memakan waktu 5 menit akhir nya Daysi bisa bangun dari tidur nya.


"Akhir nya bisa berdiri juga, kamu ini pagi-pagi tidak membuat mual tapi membuat mamamu tidak bisa bangun," mengusap perut nya yang menojol bagian bawah.


Ksatria yang baru masuk ke dalam kamar langsung menyambut Daysi dengan gembira serta makanan di nampan.


"Selamat pagi bidadariku calon ibu untuk anak-anakku," mendekat ke arah Daysi yang tak kalah menyungging kan senyum manis nya.


"Pagi pageran ku yang bak malaikat, hampir saja aku mengumpatmu loh Sat." Daysi menerima nampan yang berisi roti panggang selai coklat lumer dan segelas susu.


"Kenapa, apa gara-gara saya tidak menolongmu pagi ini?" mengerut kan alis nya.


"Iya itu salah satu nya dan yang kedua kamu tidak mencium keningku pagi ini!" sambil mengunyak roti panggang yang Daysi yakini buatan Ksatria karena rasa nya sangat berbeda.


CCUPP... satu kecupan mendarat di kening Daysi, Daysi tersenyum lebar setelah mendapat ciuman seperti ini.


"Tapi ada satu lagi kesalahan kamu Sat." Menatap mata hitam milik Ksatria.


"Apalagi Daysi...," Ksatria mulai marah.


"Kamu marah ya sama aku, aku tidak jadi makan. Sudah rasa nya hambar tidak gurih gak ada susu dan madu, ngegas pula bicara nya." Menyilangkan kedua tangannya sambil menatap arah lain.


"Maaf Daysi, saya tidak bermaksud seperti itu. Maaf ya," sambil memelas seperti kucing yang membutuh kan kehangatan.


"Iya," sambil melanjut kan makan nya.


Ksatria sangat senang roti panggang buatan nya yang penuh dengan cinta di makan habis oleh Daysi sang istri. Yah meski pun tidak selezat buatan Daysi setidak nya usaha pagi ini membuah kan hasil.


"Saya pergi mandi dulu ya," mengusap lembut pipi Daysi.


Daysi segera menyiap kan pakaian kerja Ksatria, beberapa hari ini Ksatria cuti tidak enak jika ia tidak masuk lagi, sebagai pemilik dan pimpinan hotel terbaik kota ini harus menjadi contoh yang baik apalagi sudah ada sang buah hati tinggal menunggu bulan kelahiran saja.

__ADS_1


Sekitar 15 menit Ksatria sudah selesai membersih kan diri, Daysi menunggu Ksatria selesai berpakaian.


"Pasang kan dasiku," memberikan dasi pada Daysi. Dan membungkuk kan badan nya sedikit.


"Sudah selesai," sambil merapi kan kemeja Ksatria.


Ruang makan.


Sacha dan Aurellia yang menunggu di ruang makan kini tersenyum melihat sang kakak semakin romantis saja.


Sarapan pagi ini terasa nikmat dengan ada nya candaan dari Daysi dan Aurellia yang sama-sama kompak nya jika mengerjai para suami nya masing-masing.


"Sacha hari ini apa kamu mau kerja dari pada di rumah bisa habis loh menghadapi mereka," ucap berbisik Ksatria.


"Saya mau kerja saja menghadapi singa bunting dan singa manja kepalaku rasa nya ingin di perban lagi." Ucap Sacha berbisik juga. Ksatria ingin sekali tertawa dengan sebutan unik nya.


"Saya berangkat dulu ya Daysi dengan Sacha ada urusan tentang proyek hotel kedua," menyalami istri nya dan mencium kening Daysi.


"Hati-hati ya jangan lupa berdoa, saat melakukan pekerjaan." Mencium punggung tangan Ksatria.


Sacha dan Aurellia yang biasa melihat hal tersebut tidak heran lagi lagian sudah suami istri sah dalam agama dan negara.


Selepas kepeegian Sacha dan Ksatria, Daysi mengajak Aurellia untuk bermain dengan Cheval pagi ini seperti biasa Aurellia selalu menjadi kuda untuk Cheval naiki. Daysi tertawa untung nya ada bayi di dalam perut nya jadi tidak jadi sasaran Cheval bermain, entah mengapa Cheval sudah paham jika di perut mama nya ada adik kecil. Mungkin karena ikatan batin yang kuat.


"Saya capek berhenti dulu ya Aak isi tenaga," ucap Aurellia sambil menyuapi buah pada Cheval. Dengan senang Cheval membuka mulut nya dan memakan buah tersebut.


"Lucu nya," Daysi langsung menciumi pipi gembul Cheval berkali-kali.


Hotel Royal Malik.


Pekerjaan Ksatria dan Sacha menumpuk pagi ini banyak masalah yang harus segera di selesai kan baik di sini mau pun di tempat proyek kedua hotel royal Malik saat ini. Dengan cekatan Sacha memberes kan pekerjaan nya begitu juga dengan Ksatria yang baru saja selesai meeting dengan para investor nya.


Setelah meeting Ksatria keluar dari hotel dan niat nya pergi membeli sesuatu untuk Daysi malah bertemu dengan istri nya Hugo si Dhita.


"Hai Ksatria sendirian saja mana istrimu?" sambil tersenyum ramah ke Ksatria.

__ADS_1


"Dia dirumah!" jawab dingin Ksatria.


"Boleh kah saya mampir kerumah." Dhita mencari perhatian.


"Terserah, asal kan istriku aman dan nyaman," berlalu pergi meninggal kan Dhita.


"Oke...," dengan senyum terbaik nya.


Keesokan hari nya.


Dhita bersama Hugo berkunjung ke kediaman Malik sekitar pukul 10.00 pagi, serta membawa buah tangan. Dhita dengan gembira memeluk Daysi dan menciumi pipi Cheval dengan gemas nya.


"Aduh... tampan nya cocok jadi menantuku," Dhita terus menghujani ciuman di pipi Cheval.


Cheval hanya tertawa karena merasa geli dengan ciuman tersebut.


"Hey... sudah, habis Aak di gendongan kamu." Langsung meraih Cheval dari pangkuan Dhita.


Sementara Hugo hanya tersenyum banyak kecanggungan saat ini, Ksatria yang memang tidak ke hotel langsung turun karena tadi mendengar ada tamu yang tak di undang berkunjung ke rumah nya.


"Eehh kamu si pemilik ok ikan," duduk di seberang Hugo.


"Ya...," dengan tersenyum kecut."


Tak banyak pembicaraan yang terjadi antara Ksatria dan Hugo, mereka hanya mendengar celotehan Dhita dan Daysi yang saling membanggakan anak nya masing-masing. Yang satu nya membanggakan anak perempuan nya cocok jadi istri masa depan Cheval yang satu nya tidak berharap Cheval mengenal nya, jadi perdebatan tersebut sangat lucu di dengar padahal anak-anak masih sangat kecil bahkan belum mengenal ini itu.


"Aku tidak setuju jika Aak harus punya istri seperti anakmu," ucap terus terang Daysi.


"Nama nya jodoh mana tau, bisa-bisa kan kita besanan. Bagaimana jika kita menjodoh kan anak-anak kita," Dhita menyaran kan perjodohan pada Daysi.


"Nih orang makin lama makin ngeselin saja sikap nya, sudah kecentilan kepedean nya juga tinggi. Aduh jadi kasihan sama Hugo dapat istri model kayak gini." Dalam batin Daysi menggerutu.


"Jadi bagaimana, setuju tidak?"


***

__ADS_1


Slow update.


Terimakasih ya teman-teman, author tetap update meski yang mampir sedikit demi teman-teman yang masih setia dan stay di karya ku ini.


__ADS_2