
Cheval sedikit tidak tenang saat tidur ia membolak-balik kan badannya menatap kesana kemari namun bayang-bayang orang yang akan menghancurkan hotel terus melekat di ingatannya, apa benar dia rasanya gak mungkin dan mustahil jika dia dalang di balik ini semua. Tapi apa maksudnya coba jika dia yang melakukannya, tidak mungkin karena dendam pribadi pada dirinya.
"Coba aku cek lagi, apa benar dia pelakunya yang sesungguhnya." Mencari alamat email yang ia sadap di laptopnya.
'Jika benar dia pelakunya, bagaimana perasaan Mama dan Papa yang sudah menganggapnya sebagai anak sendiri?' Sambil mencari cara dan ide untuk bertemu dengannya lagi tapi dengan cara yang baik dan benar serta harus memikirkan cara yang matang agar ia tidak curiga sama sekali.
Pagi hari.
"Ngantuk banget tapi kenapa Sindy gak bangunin pagi ini?" belum sadar sepenuhnya jika Sindy masih di dalam selimut dan hanya kepalanya saja yang terlihat.
Cheval beranjak pergi dan langsung masuk ke dalam kamar mandi dalam keadaan tidak sadar 100 persen dan ia masih dalam mode malas untuk mandi pagi, terpaksa menyalakan shower air hangat untuk menetralkan rasa dingin dan kantuknya secara bersamaan.
Guyuran shower ia nikmati selagi air hangatnya meluncur kebawah, ia menatap tubuhnya sendiri lalu tersenyum penuh makna di tambah pagi-pagi selalu bangun sendiri.
"Terpaksa sabun jadi korban." Cheval segera menyelesaikan ritual mandi paginya.
Usai mandi ia mengenakan jubah handuk dan masuk ke dalam kamar tapi ia tidak melihat ke arah tempat tidur dan langsung menuju ruang ganti. Pakaian formal warna biru muda dengan jas yang ia padukan sangat pas di tubuhnya saat ia beranjak pergi dan akan keluar dari kamar ia sedikit curiga dengan selimut yang menggembung di tempat tidurnya.
__ADS_1
Dag
Dig
Dug
Pagi-pagi senam jantung saja gara-gara ada gembunggan di atas tempat tidur.
"Siapa di dalam selimut?" mengambil kemoceng dan mencongkelnya.
Sret
"Sayang ... sayang ... bangun sayang." Bergegas mendekatinya dan menyentuh dahinya.
Cheval menempelkan dahinya ke dahi Sindy dan mengecek suhu badannya yang panas, Cheval yang sudah rapi dengan stelan jasnya melonggarkan dasi dan segera mencari kompres instan dan menempelkannya pada dahi Sindy, Sindy tidak bisa bangun sebab demam yang ada di tubuhnya.
"Sayang bangun dong." Cheval mengusap-usap dahi lalu ia menyentuh lehernya yang sama panasnya.
__ADS_1
Selimut yang di pakai Sindy ia singkirkan lalu AC yang ada di kamarnya ia matikan lebih dulu dan membuka sedikit jendela kamarnya agar udara segar masuk.
"Sayang." Cheval bingung dan langsung mencari Mamanya untuk membantu dirinya mengobati Sindy yang sedang demam.
Ia menuruni anak tangga dengan panik dan hawatir, kenapa tiba-tiba saja Sindy demam kenapa ia tidak tau jika sang istri sakit tadi malam.
"Ma ... Mama." Mencari Daysi kesana kemari namun tidak menemukan sosok Mama yang ia cari, sedangkan Daysi di kamar Inre karena Inre rewel dan tidak mau di tinggal sedetikpun oleh dirinya katanya takut ada sesuatu.
Cheval menelusuri semua ruangan tanpa terkecuali tapi tidak ada yang terakhir kamar putrinya mungkin Daysi ada di sana dan benar saja Daysi sedang memakaikan pakaian seragam pada Inre.
"Ma, Aa cari-cari ternyata Mama ada di sini." Cheval duduk sebentar.
"Ada apa sih Aa cari-cari Mama?" tumben-tumbenan ia mencari sampai berkeringat seperti itu.
"Begini Ma, Sindy demam Ma!" jawaban Cheval langsung membuat Daysi hawatir akan keadaan putrinya.
***
__ADS_1
Maaf sebelumnya jika up sering telat, karena Emak sakit ya. Mohon doanya semoga lekas sembuh dan bisa menulis lagi seperti biasanya, terimakasih banyak ya sudah berkenan mampir dan memberi semangat.