
Aku up lagi ya, mohon dukungannya ya kakak-kakak dan teman-teman.
***
SMAN 1 KEBANGSAAN.
Sindy hanya menghela nafas saat dirinya sampai sekolah dan seperti biasa Cheval sang suami di kerumunan banyak orang dan banyak bunga ini dan itu di berikan pada sang suami.
"Sindy, sebentar lagi ujian kenapa wajah di tekuk plus kusut kayak cucian baru di cuci." Ledek Momo yang datang bersama dengan Lais.
"Kalian, apa jangan-jangan jadian hem...?" sambil menunjuk wajah Momo dan Lais bergantian.
"Haa... siapa yang jadian. Lagian diakan pegawai di kedai bunda, kami datang berdua lantaran ada pekerjaan yang harus kita urus, oh ya Sindy kami ke kelas dulu ya," pamit Momo pada Sindy.
Sindy hanya mengangkat jempol tangannya sambil memberi semangat pada Lais.
"Sama-sama jatuh cinta tetapi malu mengakui, iish... anak muda yang malu-malu." Sindy menggelengkan kepalannya seraya tertawa.
Dhela yang melihat Sindy selalu happy padahal dia tidak punya teman, muncul rasa iri dalam hati. Sebenarnya Dhela itu orangnya baik dan pengertian hanya saja kasih sayang dari kedua orang tuannya yang kurang membuat dia semena mena dan mau menang sendiri, ia butuh di perhatikan. Teman-temannya hanya mau dekat dengan Dhela lantaran ia cantik dan kaya saja, andai Dhela dari keluarga sederhana pasti dia tidak punya teman yang sosialita seperti saat ini.
__ADS_1
"Sombong mentang-mentang banyak yang mengagumi." Sambil mengibaskan rambutnya.
Sindy yang mendengar ucapan pedas Dhela membiarkannya dan menanggap angin lalu saja. Lagian buat apa nanggepin hal-hal yang tidaklah penting saat ini.
Sindy berjalan menuju ruang kelasnya dan duduk di bangku yang sudah di persiapkan.
Usai sekolah Sindy mampir ke toko buku untuk membeli perlengkapan ujian, sebenarnya pihak sekolah sudah menyiapkan namun untuk berjaga-jaga saja jika alat tulis yang di siapkan sekolah tidak sesuai selera.
Cheval yang sudah selesai dengan pekerjaan barunya mencari sang istri di seluruh penjuru sekolah namun tidak menemukan keberadaan Sindy di manapun.
"Iisshh... kamu dimana sih, kalau pulang duluan kenapa tidak bilang dulu sih." Cheval menatap salah satu siswi yang sedari tadi ia cari.
"Kenapa kamu tidak minta izin dulu sih sayang, kalau mau pergi kan aku bisa mengantarmu kemana kamu pergi, dan kenapa kamu tidak telpon atau setidaknya mengirim pesan singkat. Apa sekarang mengirim pesan singkat begitu mahal sampai-sampai kamu pelit mengeluarkan sedikit kuota untuk mengirum pesan padaku, ayo jawab pertanyaanku barusan?" Cheval memegang pundak Sindy.
"Apa Aa sudah selesai berbicara, kuotaku habis!" ucap Sindy berlalu pergi dan menuju parkiran untuk masuk ke dalam mobil Cheval.
Cheval yang hanya di anggap angin lalu berdecak kesal, kenapa punya istri yang teramat ia cintai sedingin ini ucapannya. Apa dirinya membuat kesalahan baru pagi, mampus ini jika iya.
Cheval segera menyusul sang istri yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil jeep wrangler miliknya.
__ADS_1
"Sayang apa kamu lapar?" tanya Cheval sambil menggunakan seat belt.
"Iya, aku ingin makan batagor Aa tapi yang ada di depan bank BNI itu!" Sindy tersenyum sangat manis pada Cheval jika ada maunya.
"Batagor, pengen banget makan itu. Apa tidak mau yang lain kenapa harus di tempat yang ramai itu yang mengantri sampai berdesak-desakan sih sayang." Cheval mencoba mejelaskan pada Sindy agar ia mengurungkan keinginannya.
"Kalau Aa tidak mau ya sudah, aku turun sini saja lagian aku punya uang ko buat naik ojek sama abang-abang tukang ojek," Sindy membuka seat beltnya.
"Stop... oke... oke... aku hantar tapi kamu yang beli sendiri oke."
"Eemmm... dasar suami ngak peka," gumam lirih Sindy.
"Aku peka ko sama kamu, aku yang beli saja kalau begitu." Cheval tidak mau di kira laki-laki kurang peka.
"Benarkah, terimakasih suamiku sayang,"
"Terimakasihnya nanti saja saat di rumah."
Cheval tersenyum licik dengan penuh kemenangan.
__ADS_1