
Typo berterbangan di karya ini, harap di maklumi ya. Terimakasih pembaca setia IBAM. Love you semua.
***
Daysi duduk sambil menikmati langit yang sudah mulai gelap, entah mengapa saat ingun menikmati bintang dan bulan di angkasa cuaca sangat tidak mendukung padahal Daysi sudah menyiapkan tenda bahkan api unggun, namun cuaca seperti akan hujan saja. Dan benar saja gerimis mengundang mau tidak mau Daysi lari begitu juga dengan Ksatria karena jarak antara taman dengan rumah lumayan jauh jadinya basah kuyup semua.
"Eemm... dingin banget Sat, aku mandi dulu ya." Pamitnya pada Ksatria namun dengan segera Ksatria memegang erat pergelangan tangan dan langsung menariknya masuk kamar mandi bersama.
"Kita mandi sama-sama oke," Ksatria menyalakan air hangat.
"Tapi Sat..."
"Huss... diam aku tidak akan melakukan apa-apa, kita hanya berendam saja. Jangan-jangan kamu ya yang berpikiran mesum?" sambil mencolek pipi Daysi. Wajah Daysi tambah memerah kalau tadi karena kedingunan kalau sekarang kepanasan gara-gara Ksatria.
"Siapa yang berpikiran mesum!" Daysi melepas semua pakaiannya. Ksatria yang melihat Daysi seperti itu hanya menatap intens setiap lekukan tubuh Daysi yang terpahat sempurna ini.
Daysi dengan segera masuk bath tub, tubuhnya langsung hangat seketika, Ksatria juga langsung melepas pakaiannya dan ikut masuk kedalam bath tub. Selesai berendam Ksatria dan Daysi keluar dari kamar mandi mengenakan jubah handuk dan saling mengeringkan rambut dengan hair dryer.
Suasana romantis masih menyelimuti sepasang suami istri ini sampai-sampai tangisan Aak Cheval membuayarkan keromantisan keduannya. Ksatria menghela nafas panjang.
"Aak menagis kamu hampiri dulu, sepertinya malam ini sama seperti kemarin." Ksatria melepas pelukannya dari tubuh Daysi.
"Eemm... oke, aku coba ke kamar Aak dulu ya. Bye... bye... suamiku jangan galau jangan sedih ya," Sambil memberikan ciuman di udara. Ksatria segera menagkapnya dan memasukkannya dalam hati.
"Haah... istriku semakin pandai menggoda, aku tidak boleh kalah. Masa laki-laki tidak bisa mengeluarkan rayuan mautnya, kan aku tampan mempesona plus berduit tebal," sambil menatap wajahnya di pantulan kaca yang berada di almari besarnya.
Kamar Aak Cheval.
Daysi segera menggendong dan menimang-nimang tubuh kecil Aak Cheval yang seketika langsung berhenti menangis karena merasakan kehangatan sentuhan seorang ibu.
"Aak... cepat besar ya, biar Aak bisa di ajak bermain. Oh... ya Aak, Papa lagi membuatkan taman bermain dan tempat olah raga golf untuk Aak, makanya cepat besar ya." Daysi begitu gemas dengan pipi chubby Cheval.
__ADS_1
"Baik Mama," suara anak kecil Ksatria.
Daysi langsung tersenyum lebar saat melihat sang suami sudah ada di sampingnya dan meminta Cheval untuk ia timang-timang.
"Lucunya tambah tampan, jika kita memiliki bayi sendiri pasti setampan Aak." Ksatria menghujani ciuman pada Cheval.
"Ya... tidak bisalah sama seperti Aak, orang tuanya aja beda," Daysi menggelengkan kepalannya, bagaimana bisa sama sementara beda orang tua apalagi ayah Cheval bule.
"Aku yakin anak kita bisa sama kaya Aak, Daysi." Ksatria langsung ngegas ucapannya.
"Santai dong, gak usah pakai ngegas juga bicaranya," Daysi duduk di sofa di susul Ksatria duduk, baru saja ingin duduk Cheval menagis kencang lagi.
"Kenapa dia menangis lagi?" Ksatria segera berdiri.
"Dia minta kamu berdiri waktu menimangnya, padahal tadi aku duduk dia anteng loh diam aja bahkan tersenyum!" Daysi memamerkan jika dirinya tadi bisa menenagkan Aak Cheval walaupun ia duduk di sofa.
"Ini tidak adil, dia mengerjaiku lagi. Sudah tadi menggangu keromantisan sekarang aku tidak di biarkan duduk." Ksatria mengeluh.
"Gitu saja mengeluh, katanya mau punya bayi sendiri. Belum punya saja sudah mengeluh apalagi punya sendiri?" Daysi berdiri dan meraih tubuh mungil Cheval untuk di tenangkan dan di tidurkan.
"Penyihir cantikku, kamu benar-benar menyihir Aak dengan cintamu sampai-sampai dia langsung diam dan tertidur lagi." Bisiknya pada Daysi.
"Makannya kalau mau menimang anak kecil yang tulus biar dia gak ketakutan seperti melihat hantu saja," sambil meletakkan Cheval di ranjang box.
"Kamu menyebutku hantu?" Ksatria menatap tajam.
"Tidak, aku tidak menyebutmu hantu. Tapi jika kamu merasa ya sudah!" sambil cengegesan.
"Awas yaa." Mencubit pipi Daysi.
Pagi hari.
__ADS_1
Tak terasa 7 bulan lebih berlalu.
Suasana kediaman Malik sangat ramai hari ini acara resmi pengadopsian Aak Cheval serta acara penting lainnya seperti Aqiqah dan tedak siten juga di langsungkan bersama.
Daysi tengah mengenakan pakaian adat begitu juga dengan Ksatria, Aurellia yang pulang sejak kemarin setelah berbulan-bulan di luar kota kini tersenyum saat melihat sosok Cheval yang semakin tampan dan menggemaskan.
"Keponakan tante semakin besar dan menggemaskan, Aak apa sudah siap punya adik?" sambil mencium wajah Cheval berkali-kali.
Cheval sekarang tidak rewel lagi semakin besar bahkan sekarang ia sudah mulai merangkak di kursi dan di tempat lainnya untuk belajar berdiri dan melangkah.
"Waahhh... Aak hebat sudah mau jalan ya, biar bisa bermain sama Papa Mama dan juga tante?" Aurellia menghujani ciuman lagi.
Tiba-tiba Ksatria langsung saja mengambil alih Cheval ke tangannya.
"Kakak... kenapa menggendong Aak, aku ingin bermain dengan Aak." Aurellia protes.
"Eenggak... kakak tidak akan memberikan Aak padamu, bisa-bisa pipi chubby Aak habis kamu cium," segera membawa Cheval pergi dari hadapan Aurellia. Aurellia bersedih namun seketika harapannya cerah saat Daysi melintas.
"Daysi tolong aku, kakak tega padaku tidak mengizinkan aku bermain dengan Aak." Adu Aurellia pada Daysi. Daysi dengan tajam langsung menatap Ksatria.
Ksatria yang di tatap singa betina pura-pura mengalihkan pandangannya dan menujukkan beberapa hiasan dinding pada Cheval. Cheval berusaha menyentuh namun karena jauh Cheval hanya mengayun-ayunkan tangannya.
"Lihat Daysi, kamu lihat sendirikan jika kakak tidak mengizinkanku bermain dengan Aak. Tolong bantu aku please bisakan?" sambil mengerjab-ngerjabkan matanya dengan manja.
"Oke aku bantu, kali ini saja!" Daysi berjalan mendekati Ksatria.
"Nanti malam enggak dapat jatah loh kalau kamu tidak membiarkan Aak pada Relli, hitung-hitung untuk menjaga Aak nanti malam." Rayu Daysi tepat di telinga Ksatria.
Ksatria langsung menyerahkan Cheval pada Daysi, Daysi tersenyum bahagia.
"Kamu jaga dengan baik, awas kalau kenapa-kenapa," Daysi menepuk pundak Aurellia dan pergi meninggalkan Aurellia, karena hari ini hari tersibuknya karena acara di jadikan satu.
__ADS_1
Aurellia sangat bahagia bisa bermain lagi dengan Cheval. Tak terasa semua acara telah selesai semoga setelah acara ini semakin menguatkan rumah tangga Ksatria dan Daysi kedepannya. Meski ia tau jika setiap rumah tangga pasti memiliki masalah dan perbedaan pendapat.
Karena lelah Ksatria dan Daysi segera membersihkan diri dan beristirahat, untuk melonggarkan otot-otot tubuh yang kaku sehabis acara tersebut.