
Abang akhirnya memberanikan diri bertanya pada Aurellia setelah pulang dari kedai waktu sore hari. Aurellia yang di ajak berbicara serius binggung kenapa tiba-tiba seperti tertangkap basah mencuri ponsel saja.
"Ada apa sih Bang, sepertinya ada hal yang penting?" tanya Aurellia kebinggungan dengan sikap Abang yang aneh.
"Aurel jujur padaku apa kamu sudah menikah," memegang ke dua pundak Aurellia, Aurellia menganguk pelan bertanda iya.
Abang yang mendapati Aurellia menikah diam-diam seperti Daysi waktu itu, hanya mematung pikirannya langsung kosong dan tidak dapat berucap apa-apa.
"Selamat," ketus Abang pergi meninggalkan Aurellia sendirian di taman.
Butiran bening keluar dengan cepat di pipi cantik Aurellia, ia tidak bermaksud menyembunyikannya tapi ia juga binggung harus bicara dengan Abang mulai dari mana.
Abang yang telah pergi mengendarai motornya kini membelokkan ke sebuah club, pikiran kacaunya merasuk bahkan menari-nari di dalam otak Abang.
"Haahh... memang kalian berdua sama saja, selain sahabat sejak SMA menyakiti dengan hal yang sama," Abang memesan satu gelas wine dan menikmatinya perlahan.
Kediaman Malik.
Aurellia yang matannya sembab kini masuk ke dapur dan mencari es batu untuk menyamarkan bengkak di kedua mata. Mbok Yati yang melihat mata sembab Aurellia langsung mendekat.
"Nak Aurel ada masalah?" tanya mbok Yati.
"Eehh... tidak ada mbok, tadi sewaktu di jalan banyak debu yang masuk sampai mata saya bengkak!" sambil tersenyum.
"Nak Aurel tidak berbohong." Kembali menanyai Aurellia.
"Tidak mbok, saya pergi dulu ya mbok." Aurellia segera berlari menuju kamar.
Sacha yang melihat Aurellia berlari menuju kamar, langsung menyusulnya dengan cepat. Sacha membuka pintu kamar yang tidak ia kunci.
"Ada masalah, apa Abang sudah tau pernikahan kita sampai kamu seperti ini?" memberikan sapu tangan bersihnya pada Aurellia. Aurellia mengangguk kemudian menerima sapu tangan dan menggunakannya.
"Pantas saja kamu bersedih apa dia marah, punya hak apa dia marah." Sacha langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk meredam amarah yang tiba-tiba melanda dirinya.
Aurellia menatap ke arah luar balkon dan membiarkan surai rambutnya tertiup angin sore ini. Aurellia berkali-kali menghembuskan nafas berat untuk meringankan beban hati dan pikirannya. Sacha yang baru saja selesai membersihkan badan langsung mengenakan pakaian yang sudah di siap kan Aurellia.
"Pink," Sacha tersenyum melihat pakaian merah jambu tersebut.
__ADS_1
Sacha berjalan mendekati Aurellia yang sedang berdiri di tepi balkon sambil menatap sorot lampu kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya.
"Apa kamu masih mencintainya." Sacha membuka obrolan yang berhasil membuat Aurellia bersedih lagi.
Aurellia tidak menjawab pertanyaan Sacha menandakan ia masih memiliki rasa, Sacha hendak pergi namun di cegah dengan tangan Aurellia yang memegang pergelangan.
"Bantu aku melupakan perasaanku padanya," Aurellia langsung memeluk tubuh Sacha.
Sacha yang terkejut dengan sikap Aurellia langsung membalas pelukannya. "Saya akan membantumu, karena itu kewajiban saya untuk membuat kamu mencintai saya." Mengusap lembut surai rambut Aurellia.
Aurellia menenggelamkan wajahnya di dada bidang Sacha, Sacha yang sedari tadi jantungnya dag dig dug sangat keras Aurellia dapat mendengarnya dengan jelas.
Pagi hari.
Seperti biasa Daysi dan Ksatria sarapan lebih dulu, Daysi heran dengan sepasang suami istri yang baru menikah tersebut.
"Sat kemana mereka berdua?" tanya Daysi di sela-sela makan.
"Lagi tidur bersama mungkin!" jawab santai Ksatria.
"Oooo," Daysi melajutkan makannya.
Sacha baru saja menghantarkan berkas-berkas laporan pada Ksatria saat akan meninggalkan ruangan pribadi Ksatria, Sacha mendapatkan pertanyaan mengejutkan dari Ksatria.
"Habis berapa ronde semalam?"
Sacha langsung berhenti di depan pintu. "Belum kak masih sebatas pelukan saja," Sacha membuka pintu dan keluar dari ruangan Ksatria.
Mendadak Sacha merasakan panas di pipinya, ia sangat malu dengan pertanyaan Ksatria barusan. Beberapa orang yang melihat Sacha yang wajahnya memerah terpana, ketampanan Sacha memancar.
"Wahh... tampannya pak Sacha," ucap salah seorang karyawan hotel.
Sacha membiarkan orang-orang membicarakannya selagi itu masih dalam kewajaran orang normal. Satpam yang berjaga di pintu keluar dan masuk membukakan pintu untuk Sacha. Sesampainya di dalam mobil Sacha menghembuskan nafas lega, betapa malunya saat ini dirinya dengan pertanyaan Ksatria yang mengiyang-ngiyang di pikiran.
"Lebih baik aku mengecek pekerjaan orang-orang yang ada di proyek pembangunan hotel ke dua saja." Sacha melajukan mobil dengan kecepatan rata-rata.
Sesampainya di tempat proyek Sacha tidak konsentasi dengan pekerjaannya, ia terus memikirkan Aurellia di tambah lagi dengan ucapan Ksatria sewaktu di hotel tadi.
__ADS_1
"Bisa gila saya kalau seperti ini, pekerjaan bisa kacau. Lebih baik aku pulang saja atau menemui Aurellia di kedai barunya saja." Sacha langsung masuk lagi ke mobil setelah ia berpesan pada sang mandor.
Kedai kopi Aurellia Abang.
Mata Sacha memencing saat melihat tulisan besar terpampang nyata.
"Apa tidak ada nama lain untuk kedai itu, bikin orang sakit mata saja membacanya." Sacha masuk ke dalam kedai, ia di sambut dengan ramah oleh karyawan kedai ini.
"Permisi ada yang bisa saya bantu, atau mas nya mau pesan kopi menu andalan di kedai ini?" tanya seorang pelayan perempuan dengan tersenyum.
"Emm boleh, saya mau bertemu dengan Aurel apa dia ada di sini." Sacha duduk di salah satu kursi pelanggan.
"Ada mas sebentar saya panggilkan, permisi," pelayan tersebut berlalu pergi setelah berpamitan.
Aurellia yang di beri tau karyawannya jika ada yang ingin bertemu langsung keluar dari tempat ia meracik kopi saat ini. Aurellia mengerutkan dahinya saat tau siapa yang berkunjung dan mencarinya.
Sacha termenung sampai tidak menyadari kehadiran Aurellia yang sudah duduk anggun di sampingnya.
"Katanya mencariku, tidak jadi ya?" dengan senyum menggoda.
Sacha terkejut dengan ucapan Aurellia yang mendadak, "sejak kapan kamu duduk di situ."
"Baru saja,"
Tidak berapa lama kopi pesanan Sacha datang, Sacha menyeruput sedikit kopi buatan kedai ini.
"Eemm... enak, apa kamu yang meraciknya?"
"Iya, syukurlah jika kamu juga suka dengan kopi buatanku." Aurellia tetap menampilkan senyumnya.
Disisi lain, Abang yang baru saja turun dari motor tersenyum kecut melihat kebersamaan Aurellia dengan seorang yang ada di sampingnya. Abang berlalu pergi dan masuk tanpa menyapa Aurellia seperti kemarin-kemarin.
Sacha yang melihat Abang kesal dengan kehadirannya saat ini ingin sekali membuat Aurellia berpihak padannya, sesuai keinginan Aurellia kemarin Sacha akan mengajari bagaimana cara mencintai. Sacha menggengam erat tangan Aurel dan sesekali tersenyum.
Aurellia yang mendapat perilaku mengesankan ini tersipu malu, debaran di jantungnya tiba-tiba datang. Aurellia berusaha menetralkan debaran namun percuma bukannya membaik malah semakin parah saja.
***
__ADS_1
Sacha Mahendra.