ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
S3. Kode perhatian


__ADS_3

Sarapan pagi


Gauri menikmati roti bakar dengan selai keju dan coklat. Aldy juga sama, semua yang dimakan Gauri ia juga mau memakannya pagi ini.


"Ehem." Aldy mengkode tapi Gauri tidak paham dengan kode yang Aldy tunjukkan.


Aldy geram langsung mengebrak meja dan susu hangat milik Gauri langsung tumpah di kakinya.


"Aw," terkejut dan berdiri agar airnya tidak membasahi badannya.


Terkejut sebab gebrakan dan juga gelas mengenai dengkulnya.


"Kamu terkena gelasnya?" hawatir dan langsung melihat lutut Gauri dan ada sedikit memar di bagian dengkul.


Aldy menyuruh Mimi untuk mengambilkan kotak obat. Mimi dengan sigap langsung mengambilnya yang kebetulan tidak jauh dari ruang makan.


Gauri terpesona dengan sikap yang ditunjukkan oleh Aldy pada dirinya.


'Gauri.. sadar.. sadar.. laki-laki yang berada di depanmu ini tidak dapat kamu miliki Gauri, jangan mudah mencintai seseorang yang tidak pernah menganggap kamu ada di dalam hidupnya.'


Gauri segera memalingkan wajahnya.


Aldy kecewa saat tatapan matanya di abaikan oleh Gauri.


"Maaf." Samar-samar Aldy mengucapkannya bahkan hampir tidak terdengar oleh telinga Gauri.


Gauri melebarkan telinganya tapi percuma kata-kata samar tadi tidak mungkin akan terulang lagi, bukannya tidak mungkin tapi mustahil jika itu terjadi.


Setelah sarapan pagi Gauri seperti biasa hanya jalan-jalan di area taman di villa, baginya sekarang di kurung di tempat ini adalah tempat yang sangat menyenangkan. Meski tidak dapat keluar sedetikpun tanpa perintahnya ia bahagia dan nyaman, tidak ada rumah atau tempat tinggal yang nyaman jika dirinya sendiri tertekan.


Aldy menatap dari balkon hendak memanggil tapi sayangnya salah satu wanita yang berada di dekatnya memeluk dirinya dari belakang.


Gauri melihat kejadian ini lagi, sudah biasa dirinya melihat adegan mesra dan biasa juga hatinya teriris melihatnya,tapi apa hak dirinya untuk iri bukankan tidak ada hak selama ini. Lagi pula jika di ingat-ingat bukankah dirinya hanya di jadikan partner dan juga ajang balas dendam yang tak pernah ia ketahui kesalahan dirinya apa sebenarnya.


Saat di dalam mobil hanya sepenggal saja ceritanya saat menodongkan pisau kecil di hadapan.


Aldy tidak bisa terus-terusan begini, jika wanita di belakangnya terus bermain-main bisa saja ia lepas kendali meski belum naik tapi.. jika di biarkan maka akan ada cerita selanjutnya. Bukankah ini bagus di lihat Gauri agar wanita itu bertambah sakit hati dan menderita setiap saat.


'Mesra sekali mereka, kalau denganku hanya perlakuan kasar dan kata-kata kasar yang terlontar tidak ada kata-kata manis sama sekali.' Gauri tetap berada di taman sambil menyentuh bunga-bunga mawar.


Jarinya memang sudah tertusuk durinya tapi ia tahan, rasanya tidak sakit yang lebih sakit hati dan badannya.


'Kapan penderita ini berakhir, jika aku menyerah bukannya dengan mudah Aldy menemukan aku dan menyiksaku lebih kejam lagi. Sebenarnya apa sih salahku padanya hingga aku harus menerima perbuatan yang tidak pernah aku lakukan. Besok atau nanti aku bertanya deh.' Gauri masih menatap dua insan yang saling berciuman itu.


Kejadian ini mengingatkan dirinya dengan sosok Shandy yang sama seperti Aldy, bahkan kedekatan mereka sama.


Gauri tertunduk dan memalingkan wajahnya ternyata darah yang berada di jarinya tidak kunjung berhenti, ia segera pergi dari taman dan menuju dapur sebab antara taman dan dapur lebih dekat jaraknya.


"Mbak Mimi, ada plaster?" sambil memegang jarinya yang berdenyut ngilu.


"Astaga mbak Gauri, kenapa bisa begini?" hawatir setengah mati jika bosnya tau bisa tamat riwayatnya.


Mimi segera mengobati jari Gauri yang terkena duri tidak hanya satu tapi 3 sekaligus makanya darahnya sedikit sulit di atasi sebab terlalu dalam menusuknya.


"Aduh.. mbak pelan-pelan." Sambil menahan tangannya yang perih.


Aldy tersadar jika Gauri sudah tidak ada di taman, kemana wanita itu. Ia menatap kesana kemari tapi hasilnya nihil.


"Kamu keluar." Aldy beranjak pergi.


Wanita tadi menggerutu padahal belum juga pelepasan tapi sudah di hentikan di tengah jalan.

__ADS_1


"Awas saja jika lagi-lagi wanita murahan itu, aku akan hancurkan dia sampai dia enggan untuk hidup lagi." Sambil mengepalkan tangannya.


Bella tidak terima di perlakuan begini, dulu sebelum wanita sialan itu datang ke villa milik Aldy Samporna tidak pernah begini bahkan Aldy masih mau menyentuh dengan keperkasaan, tapi.. apa sekarang yang ia peroleh hanyalah penghinaan semata.


Bella turun dari kamar Aldy dan mencari keberadaan wanita jalan* dan Aldy laki-laki incarannya, tidak terima menemani lebih lama dari wanita jalan* itu tapi malah wanita itu yang selalu di utamakan akhir-akhir ini. Tidak adil baginya.


"Aldy sayang." Langsung merangkul tepat di depan Gauri.


Gauri yang tadinya senang raut wajahnya menjadi sedikit muram, apalagi Aldy membalas pelukan dari wanita yang bernama Bella.. Bella itu, wanita cantik seksi modis dan menggoda di atas ranjang siapa saja yang berada di dekatnya pasti tergoda.


'Tubuh kucel ku ini tidak ada apa-apanya, mau merubah tampilan tapi tidak punya uang meski ada tetap saja tidak dapat aku ambil dan aku nikmati uangnya.'


Gauri membalikkan badannya bukan membalikkan tapi lebih tepatnya, menutupi rasa sedih di hatinya. Sedih harus sadar diri lagi, padahal sudah ia terapkan setiap hari dan detiknya di larang adanya perasaan yang akan menyakitkan untuk dirinya sendiri.


"Ga..." Terhenti saat Bella dengan terang-terangan mencium bibir Aldy tidak tau malu.


Mimi mengekori Gauri takutnya terjadi apa-apa pada Gauri.


Gauri mengusap air matanya yang luluh membasahi kedua pipinya, kenapa hatinya selemah ini dan serapuh ini. Apa seperti ini hati seorang wanita yang selalu mengharapkan kasih sayang dan cinta padahal orang itu tidak ada sedikit rasa bahkan hanya naf$u belaka yang ada, apa salah dirinya menanggapi semuanya dengan rasa cinta. Apakah salah hatinya memilih, jika salah maka hancurlah perasaan peduli dan suka.


"Mbak Gauri." Lirih sekali Mimi memanggilnya.


Gauri tersenyum sambil melihat Mimi yang tidak berani menatap dirinya, Mimi pasti sudah tau semuanya bukan tanpa harus dirinya berkata-kata lagi.


"Iya mbak Mimi," menampilkan senyum palsunya.


"Mau saya ambilkan minuman atau camilan atau makanan berat mbak?" menunduk.


Gauri menggeleng.


"Tidak perlu mbak Mimi, lihat stok lemari pendingin yang berada di kamar saya masih penuh!" ia menuju lemari pendingin dan menunjukkan semua isinya yang belum ia sentuh sama sekali semenjak 2 Minggu yang lalu.


"Tapi mbak..."


"Mbak.. tolong ya keluar dulu, saya ingin istirahat dan bilang pada pak bos kamu jangan mengganggu saya hari ini. Sekali ini saja," Gauri menyembunyikan wajahnya di balik bantal.


Mimi segera mengundurkan diri dari kamar Gauri dan menutupnya secara perlahan. Ia menatap kesana kemari kenapa sepi suasana villanya, saat di dalam kolam renang ada sepasang laki-laki dan perempuan full naked siapa lagi jika bukan bosnya dan wanita murahan yang bernama Bella.. Bella itu.


Mimi geram tapi ia tahan


Sedangkan di kamar Gauri yang kebetulan bersebelahan dengan kolam rena, ia hendak menenangkan pikirannya tapi malah melihat adegan panas.


Tes


"Kenapa tidak di dalam kamar, setidaknya aku tidak melihatnya secara langsung. Kamu berhasil Aldy berhasil melukai hati aku, pasti kamu tertawa di atas penderita ku ini. Aldy jika nanti kamu mengusirku aku harap kamu mengusirku secara baik tidak secara penghinaan." Gauri menutup gorden pelan-pelan.


Gauri menatap tas kecilnya dan melihat isi dompetnya, meski tidak banyak tapi bisa untuk naik taksi dan makan selama satu minggu lamanya. Berusaha hemat dan irit saat pengeluaran, kehidupan yang ia lalui begitu keji dan kejam sekali.


"Aku memang banyak dosa, tapi aku juga ingin sedikit saja bahagia dan tidak dalam jeratan merah orang-orang kaya seperti mereka berdua."


Gauri tidak memiliki apa-apa selain tubuhnya dan tas kecilnya sebab saat pergi berkerja di warung bubur kacang hijau waktu itu dirinya di culik oleh Aldy dengan menodongkan senjata tajam.


Aldy lagi-lagi berhenti, ia tidak mau melanjutkan dan mendorong tubuh Bella padahal sedikit lagi.


'Sial.' Bella langsung mengambil handuk dan berlari menuju mobil pribadinya.


Aldy dengan santai mengenakan jubah handuk dan masuk ke dalam villa, ia mencari keberadaan wanita yang berhari-hari menghantui dirinya setiap waktu. Wanita yang ingin ia hancurkan kini malah berbalik menghancurkan misinya, mungkin sikap polos dan patuhnya membuat hati sedingin salju dan sebeku es di Antartika kini mulai mencair.


Gauri tertidur setelah ia lelah dengan pikirannya sendiri, Aldy menatap wanita yang beberapa minggu ia siksa itu dengan tatapan kasihan.


"Kamu.. ini." Merapikan anak rambut yang menutupi wajah cantik Gauri.

__ADS_1


Aldy beberapa detik menatapnya dan menikmati setiap ukiran cantik di depannya yang sedang tertidur sambil sesekali menyentuh pipi Gauri.


"Maafkan saya." Aldy beranjak pergi.


Gauri membuka matanya kembali dan kini air matanya menetes kembali.


"Biarkan aku mengagumimu dari jauh, setidaknya.. jika aku mengagumi kamu. Kamu tidak marah kan, kecuali aku bilang cinta ke kamu?" bertanya keluh kesahnya pada bayangan semu.


Gauri sudah sangat-sangat sadar sekali mulai sekarang hatinya ia netralkan tanpa adanya campuran apa-apa. Setidaknya jika sakit dan patah hati lagi dirinya tidak di dalam titik terburuk sebab jatuh sendirian.


Segera ia menuju ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin agar hatinya juga ikut menjadi dingin dan tidak panas lagi akibat dari amarahnya sendiri.


"Segar sekali."


Gauri benar-benar kehilangan semangat untuk hidupnya sendiri. Buat apa sekarang, jika saja waktu dapat di putar kembali ia tidak ingin berada di zona sekarang, zona dimana dirinya terluka sebab mencintai orang tanpa ia tau dan tampa di balas oleh orang itu.


Ia menatap jarinya yang terbalut plaster lalu ia menuju sebuah laci yang tidak jauh dari tempat tidur ia mengambil kotak obat dan mulai mengganti plaster di tangan kanannya dengan hati-hati, ternyata sakit juga sebab lukanya kembali basah sebab terlalu lama ia mandi.


"Andai.. hidupku dapat aku tentukan sendiri, pasti.. sangat menyenangkan bukan. Aku terbelenggu di dalam lembah hitam dan naf$u saja, aku harap jika suatu saat nanti aku terbebas maka aku akan memilih orang yang benar-benar tulus denganku dan tidak mementingkan hawa naf$unya saja." Gauri berpikir jernih.


Orang lain pasti menyebutnya wanita terbodo* di dunia, mau-mau nya bersama Aldy dan menjadi simpanan bayangan serta penghangat ranjangnya saja. Sudah tidak mendapatkan apa-apa malah yang di dapat hanya kekasaran dan dosa saja.


"Aku harus memperbaiki diri jika ingin mendapatkan suami yang aku inginkan," meyakinkan diri sendiri meski masih banyak dosa yang ia perbuat.


Gauri kembali ke kamar mandi dan ia bersuci dan membersihkan dirinya, ia ingin benar-benar bertaubat dan tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, jika nanti Aldy marah sebab ia menolaknya biar saja tubuhnya terluka parah setidaknya hatinya masih kuat.


Malam hari


Gauri sebagai umat muslim ia melaksanakan sholat Isya lalu ia berdoa dengan memohon Kepada Allah agar dirinya di hindarkan dari hal-hal buruk kedepannya dan meminta agar hatinya kuat serta tubuhnya mampu menghadapi semuanya sendirian tanpa ada orang lain yang tau.


Aldy mendengar doa Gauri dan mengamininya.


"Di sini aku yang salah, aku yang menyebabkan Gauri menderita. Tapi.. dia juga yang menyebabkan kekasihku meninggal, apakah aku salah jika aku membalas dendam atas kematian Risma?" gumam lirih dan bertanya pada dirinya sendiri.


Aldy beranjak pergi dari pada Gauri mengetahui jika dirinya sedari tadi mendengar doanya.


Gauri menatap ke arah pintu, sepertinya tadi ada orang tapi siapa ya. Atau Aldy yang datang tapi kenapa tidak langsung masuk saja seperti biasanya, berkuasa dan semena-mena.


"Tumben gak nyelonong masuk, biasanya langsung masuk tanpa permisi bahkan pergi juga tanpa permisi. Apa dia mulai punya kesopanan sedikit, aneh." Gauri melipat mukena dan sajadah lalu ia kembalikan ke dalam lemari pakaian.


Tidak banyak pakaian yang ia punya hanya beberapa saja sisanya lingerie saja dan jubah handuk.


"Ko lapar ya, sedari sore aku tidak makan pasti ini penyebabnya." Gauri menuju lemari pendingin ada susu dan beberapa roti.


Gauri keheranan perasaan tidak ada susu dan roti tadi siang, dan setahunya Mimi juga tidak masuk kecuali pagi tadi terus siapa dong yang meletakkan semua makanan ini.


"Kalau ada racunnya gimana, aku bakalan keracunan dong." Bimbang dan tidak jadi ia makan takut juga ia.


Tapi jika tidak di makan perutnya kelaparan.


"Makan saja deh biarin ada racunnya lebih baik dari pada tersiksa jiwa raga."


Gauri langsung melahapnya setelah mengucap bismillah terlebih dahulu agar makanan yang ia makan tidak di ambil sarinya oleh setan.


"Ini saya tambahi, seperti kamu kelaparan." Aldy tiba-tiba datang memberikan satu piring nasi goreng.


Gauri mengerutkan dahinya,tumben ini orang baik apa jangan-jangan modus lagi. Gauri menepis pikiran buruknya terhadap Aldy.


"Iya kelaparan," langsung menerima dan memakannya.


Aldy tersenyum melihat Gauri yang kelaparan seperti orang kerasukan saja.

__ADS_1


__ADS_2