ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
S3. Ancaman Aldy


__ADS_3

Sesampainya di sebuah villa yang cukup mewah dari segala penjuru ruangan itu. Gauri menatap ketakutan apalagi saat para pelayan rumah ini menatapnya dengan tajam dan seperti siap-siap menerkam mangsanya.


Aldy yang mengenakan topeng kini membuka penutup wajahnya ketika masuk ke dalam salah satu ruangan yang sudah di siapkan.


"Kamu, lepaskan saya." Gauri memberontak namun percuma saja usahanya sia-sia.


Aldy yang awalnya ingin menakuti Gauri justru terpancing suasana yang amat ia rindukan dari kekasihnya dulu. Tanpa persetujuan dari Gauri ia bermain-main di atas tubuh Gauri, Gauri merasa jadi wanita yang paling menjijikkan di dunia ini, setelah penolakan suami yang menikahinya selama dua tahun lamanya dan berakhir hari ini hubungannya. Namun nasib buruk tidak berhenti di sini saja, ternyata nasibnya jauh lebih buruk lagi.


Selain tersiksa batin ia juga tersiksa raga dari perbuatan laki-laki yang kini berbaring di sampingnya tanpa sehelai pakaian.


"Hu... Hu... Hu...." Gauri yang berada di kamar mandi menangis sesenggukan ia tidak sanggup menatap dunia esok pagi. Ada niatan untuk mengakhiri hidupnya sekarang, tapi tidak jadi ia takut sendiri jika mengakhiri hidupnya.


"Tidak, jika aku mati sekarang. Aku tidak bisa balas perbuatan orang-orang yang menyakiti aku." Gauri menghapus air matanya.


Saat keluar ia melihat Aldy yang sudah berpakaian kembali.


"Kemarilah, baca dan kamu tanda tangani sekarang. Jika ingin bebas temani aku setiap aku butuhkan, dan hangatkan ranjang ku selama empat bulan." Aldy menyodorkan polpen dan sebuah pen Lancing Device pada Gauri.


Aldy mau Gauri bertanda tangan selain itu harus disertai bukti cap darah sebagai bukti kuatnya.


Nasib apa ini.


"Kenapa aku seperti orang yang berhutang uang banyak di rentenir dan sudah jatuh tempo dan harus membayar, aku tidak pernah menyinggung orang ini. Masa gara-gara tidak sengaja menabraknya sewaktu di hotel berakhir seperti ini, ini benar-benar tidak masuk di akal." Batin Gauri yang masih melamun dan tidak segera membaca lembaran perjanjian itu.


Aldy membentak Gauri.


"BACA." Aldy geram dengannya yang tidak bisa lebih cepat membaca dan mengambil keputusan.


"Iya," Gauri membaca semua isi itu, mulai dari menyiapkan pakaian kerjanya sampai melayaninya selama 4 bulan.


"Kenapa aku terus yang di rugikan, bukannya seharusnya aku yang meminta pertanggung jawabkan atas perbuatan dia yang melecehkan seorang gadis. Punya salah apa sih aku pada dirinya, sampai-sampai terjebak seperti ini, tapi baguslah setidaknya jika nanti di jalan bertemu Shandy bisa buat acara pembalasan padanya." Batinnya ngomel-ngomel Gauri tapi sikapnya jadi bodo* lantaran pesona Aldy yang mengikat.


Semua orang yang melihat dia tidak tau jika Aldy orang yang seperti ini. Semena-mena dan mau sendiri.


Setelah membaca, Gauri menandatangani nya. Berkali-kali Gauri memikirkan itu semua, jika ingin hidup dan membalas perbuatan Aldy dan Shandy harus setuju dengan ini.


"Sudah aku tanda tangani, tinggal ini saja." Cetek, Gauri segera meletakkan telapak ibu jari di atas kertas yang sudah tertempel materai.


Katanya dulu saat perjanjian Gauri akan menemaninya pergi namun nyatanya berbanding terbalik.


"Malam ini puaskan aku dan berdandanlah yang cantik sayang." Aldy bersikap lembut.


Gauri tersipu malu, selama ini ia terbawa perasaan pada Aldy yang merupakan orang yang mengikat dirinya di jeruji besi berapi.


"Aku harus sadar diri, wanita seperti ku ini sudah buruk dan jelek jika ada orang lain yang tau. Nanti setelah kontrakku dengannya habis, aku harus bagaimana menghadapi masyarakat?" Tanya dalam diri sendiri.


Malam pun tiba.


Gauri yang sudah cantik dengan mini dres nya kini menunggu Aldy kembali. Harap-harap Aldy membawa kebahagiaan tapi dalam kenyataan Aldy membawa seorang wanita yang sangat cantik, dengan wajah sedikit bule dan sangat cantik.


"Siapa dia sayang?" Tanya perempuan yang ada di samping Aldy.


"Bukan siapa-siapa, ayo temani aku malam ini. Puaskan aku!" Jawab Aldy tanpa menatap sedikit pun Gauri.


Gauri hanya meremas gaun yang ia gunakan, tidak boleh menangis di sini. Salah sendiri sudah tau jika Aldy seperti itu kenapa masih menaruh rasa cinta padanya.

__ADS_1


Sayup-sayup Gauri melangkah ke lantai 2 dimana ia mendengar pembicaraan Aldy dan wanita bule itu.


"Kenapa sih kamu mau menampung dia, katanya cuma mau balas dendam atas kematian Risma. Tapi kenapa kamu biarkan dia tinggal." Manjanya pada Aldy.


"Justru itu, dengan adanya dia disini aku buat sesakit mungkin dia. Mulai dari pernikahan yang aku rancang dengan Shandy kemudian membuat dia jatuh cinta padanya dan menceraikannya secara nyata," ucap Aldy begitu percaya diri.


Ia tidak tau jika Gauri sedari tadi mendengar. Ia melangkah pergi dari tempat itu, percuma saja jika lari dari sini. Pasti hidupnya juga sama menderita juga.


"Begitu bodohnya aku, mau minta tolong tapi dengan siapa. Bahkan di dunia ini tidak ada yang aku kenal kecuali orang yang menorehkan luka padaku." Gauri benar-benar lemah sekarang dan ia memutuskan tidur lebih awal.


Pagi hari.


"Gauri bangun, sudah siang masih enak-enakan tidur. Sana kerja cari uang aku mau makan." Siti berteriak seenak jidatnya.


Mentang-mentang pemilik rumah kontrakan dadakan tadi malam.


Ternyata kejadian pahit itu hanya mimpi dia dalam semalaman. Sungguh aneh, kenapa bisa seperti itu.


"Iya... Iya... Mbak," Gauri beranjak ke kamar mandi. Setelah kejadian ia di usir dari hotel milik Aldy beberapa jam yang lalu.


Kini Gauri berkerja sebagai tukang penjual bubur kacang hijau itu pun juga dadakan karena Siti beralasan sakit perut dan menyuruh Gauri untuk menggantikannya berkerja pagi ini, meski gaji kecil tidak apa sambil menunggu panggilan kerja yang lain. Sudah banyak Gauri menyebar lamaran, bahkan di hotel milik Aldy juga ia lamar kerja.


"Mimpi apa aku semalam, benar-benar horor jika di ingat." Gauri berusaha melupakan mimpinya itu, semoga tidak jadi nyata dan harus waspada mulai sekarang.


"Hey jangan melamun, kamu masih baru berkerja. Sana layani pembeli yang antri, jangan sampai pembeli kabur karena tidak kamu tanggapi." Gauri terkejut dengan teguran Bu Titin.


"Baik bu Titin" Gauri memasang wajah cantik padahal hidupnya penuh liku-liku yang tak berujung.


"Gauri sana layani pembeli yang lain." Titin menunjuk seorang laki-laki berperawakan tinggi dan tampan.


Apa nasib orang tidak punya selalu di jatuhkan dan di rendahkan dengan orang kaya seperti laki-laki yang berada di depannya sekarang.


"Mau pesan apa pak?"


"Bubur kacang hijau, apa lagi" cuek, acuh dan dingin.


Menyebalkan sekali batin Gauri.


"Sebentar ya pak akan saya siapkan buburnya, di bawa pulang atau di makan di tempat ya pak buburnya?" Gauri bertanya dengan nada lembut sekali, selayaknya pelayan yang melayani pembelinya dengan ramah tamah tentunya.


"Kamu ini tuli ya, apa tidak dengar jika saya pesan bubur dimakan di tempat. Kenapa masih tanya sih" ketus sekali bicaranya Aldy ke Gauri.


Gauri bertanya-tanya apa salahnya hingga di bentak-bentak di tempat umum bahkan hari ini hari pertamanya berkerja, jika mau membuat dirinya di pecat silahkan saja lakukan saja jika bisa. Gauri tidak takut jika nama baiknya di coreng atas kesalahan yang tidak pernah ia perbuat sama sekali dalam hidupnya yang pahit itu.


Lagian sama saja jika ujung-ujungnya di pecat tanpa pesangon seperti dulu-dulu sudah biasa dan terbiasa kebal sekali hatinya. Termasuk cemooh dari laki-laki yang katanya orang kaya tapi level makannya di tempat ini, bahkan ia terlihat jijik duduk di salah satu kursi dan meja yang tersedia di warung kecil.


"Dasar orang kaya sombong" gerutu saat di belakang warung dan mencuci beberapa bekas mangkuk bubur, ia harus sabar dan kuat seminimal mungkin harus menghindari laki-laki yang namanya Aldy itu.


Takut mimpi itu ternyata benar-benar nyata terjadi, dari pada terikat dengan orang kaya lagi terus berakhir sama seperti kemarin-kemarin lagi, ia tidak mau mengulang masa lalu yang pahit itu, masa lepas dari yang sakit mengulang yang sakit lagi.


"Maaf ya pak, ini buburnya." Gauri berusaha ramah tamah dengan tamu di warung bubur Bu Titin.


Baik sih Bu Titin kalau duitnya banyak yang beli banyak, tapi kalau yang beli satu dua orang langsung terlihat singa nya mau menerkam mangsanya tanpa ampun. Sebab tadi ramai dan sekarang sepi sedangkan bubur kacang hijau masih ada di panci meski tidak banyak.


"Kenapa sih lama banget, rugi saya beli di tempat ini. Saya tidak mau tau, saya tidak mau bayar dan untuk kamu saya pastikan kamu di pecat di hari pertama kamu berkerja. Bu ... tolong ya pecat pegawai baru ibu yang tidak becus ini, saya di buat marah terus oleh wanita ini." Sambil menunjuk-nunjuk wajah Gauri yang tertunduk sedih.

__ADS_1


Baru juga berkerja tapi sudah di pecat.


"Gauri, besok tidak usah kemari ya." Titin berusaha ramah tamah di depan umum demi pencitraan saja tentunya.


Cih bermuka dua sekali ibu-ibu sok baik dan kaya ini, kaya dengan akhlak yang minus maksudnya.


"Iya Bu Titin, sekali lagi saya minta maaf Bu," ketika jualan hari ini sudah habis.


Gauri mendapatkan upah layak meski dapat kata-kata kasar dari Titin sebab menghilangkan pelanggan setia buburnya setiap hari.


"Sudah.. sana ..sana pergi yang jauh, oh ya jangan lupa Siti suru kembali besok kalau tidak mau bilang saja segera lunasi hutang secara kontan tanpa cicilan." Pesan Bu Titin langsung di anguki Gauri.


Gauri tidak mau mendapatkan masalah baru lagi, cukup sekian dan hari ini saja masalah menimpa dirinya.


"Hah ... capek juga hari ini, beli sesuatu deh untuk di makan nanti siang dan sore." Perutnya memang kelaparan tapi Gauri menahannya, sayang uangnya jika di hambur-hamburkan tapi jika pelit pada diri sendiri juga sama saja.


Kerja dan mengumpulkan uang untuk kehidupan baik di dunia dan di akhirat dengan cara sodaqoh dan lainnya.


"Ya sudah deh aku putuskan untuk makan dan beli sesuatu, lagian selama ini aku gak pernah belanja macam-macam. Jadi apa salahnya jika hari ini menghamburkan uang sedikit dan membeli beberapa kebutuhan untuk stok makan juga di kontrakan kecil itu, eh .. tunggu dulu sepertinya aku harus cari tempat lain deh. Siti ... terlalu ketus dan galak di tumpangi rumahnya." Gauri bergumam sendiri.


Tapi entah sial atau orang itu cari masalah, dimana-mana selalu bertemu dengan laki-laki yang namanya Aldy Aldy itu, pasti laki-laki itu seorang psikopat ya, atau hacker jangan-jangan. Tapi jika mau memusnahkan dirinya ini kenapa tidak langsung saja istilahnya to the points begitu langsung ke sasarannya.


Di tambah lagi Gauri tidak memiliki apa-apa, jadi mau apa yang di rampok atau di sandera. Tubuhnya rasanya tidak mungkin, apalagi bagian bawah yang ia jaga mati-matian untuk orang tercinta dan gara-gara mimpi sialan itu membuat Gauri lebih waspada lagi kedepannya.


Aldy memang sengaja selalu mengawasi Gauri secara langsung, ia ingin tau apa yang di lakukan Gauri setelah di pecat. Tidak seberapa ini dari pada kekasihnya yang harus meregang nyawa sebab ulah wanita yang sok baik dan polos itu.


"Aku akan terus mengikuti kamu dan akan membuat kamu gagal lagi dan lagi untuk mencari uang. Lagian kamu pantas menderita Gauri pembawa sial." Cicit lirihnya dengan mengertakkan giginya.


Gauri langsung saja tancap gas, hidupnya seperti di teror terus kenapa sih dia mengikuti kemana pun dirinya pergi, atau jangan-jangan itu orang ada rasa lagi.


Gauri menghentikan langkahnya.


"Kenapa kamu mengikuti saya, ada perasaan?" Gauri menatap tajam laki-laki yang sedari tadi mengikuti tanpa ada senyum di wajahnya.


"Iya, saya ingin kamu hancur di tangan saya. Gara-gara kamu saya kehilangan kekasih saya!" dingin dan sedih.


Gauri sedikit iba tapi ia tersadar jika laki-laki yang berada di hadapannya tidak seharusnya ia ajak bicara lebih. Kasihan boleh tapi harus waspada dan lebih mengasihani diri sendiri untuk berjaga-jaga.


"Apa hubungannya dengan saya, bahkan saya tidak pernah bertemu dengan anda pak. Saya permisi." Hendak pergi tapi pergelangan tangannya langsung di cekal kuat oleh Aldy.


Gauri merasakan sakit di cekal begitu kuat bahkan ia yakin tangannya akan memerah dan gosong jika di cengkraman sekuat ini, apa tenaga dia sebegitu kuatnya.


"Sakit... lepaskan." Memberontak, bukannya longgar malah semakin kuat dan membuat Gauri meringis lagi.


Ia tahan rasa sakit, tidak seberapa sudah biasa tersiksa dan di siksa oleh orang lain padahal ia sendiri tidak tahu apa kesalahannya. Pernah menyesal hidup tapi ia segera sadar dab bersyukur akan kehidupannya yang penuh dengan lika liku.


"Aku akan membawa kamu pulang dan menyiksa kamu tanpa ampun." Galak dan menakutkan.


Gauri kesulitan menelan salivanya.


Di dalam mobil ini Gauri di culik oleh orang bernama Aldy, pria kasar, arogan, semena-mena, dingin dan semua yang minus-minus ada pada diri Aldy Samporna.


Kenapa tidak di tenggelamkan saja ke laut terdalam, hiks.. menyakitkan sekali.


Nasib baik belum berpihak pada dirinya, apa yang harus di perbuat selain sabar menghadapi semua ini dengan ikhlas bukan.

__ADS_1


Gauri terpaksa melihat ke arah jalan raya tidak ada yang menarik di dalam mobil, meski yang memilikinya sangatlah rupawan dan mempesona dimana-mana tapi di hati dan pikiran Gauri dia hanya laki-laki sombong mentang-mentang orang kaya dan punya segalanya jadi dengan orang miskin ia abaikan dan di singkirkan lantaran tidak layak sama sekali.


__ADS_2