
Princess tersenyum manis sekali, ia juga sedikit terkejut dengan pertanyaan yang baru saja di lontarkan oleh seorang laki-laki yang tengah duduk di kursi sekretaris. Sepertinya dia pengganti cabe merah yang meresahkan itu.
"Ilan." Princess tersenyum ramah pada Tudou sebelum menjumpai sang kekasih hati.
"Jangan menampilkan senyum manis mu itu padanya Kak Princess," menatap tajam Tudou dengan tidak suka.
Tudou jadi serba salah sendiri, sepertinya bos barunya ini sedikit kekanak-kanakan dan posesif pada pasangannya. Semoga betah dan langgeng hubungannya dengan sang kekasih.
"Hem... biasa saja kali Ilan, lagian aku kesini di suruh Mama Momo untuk mengantar ini. Aku tidak tau ini apa, sepertinya penting untuk kamu." Princess memberikan sebuah amplop berisi surat dan juga foto.
Princess duduk di sofa sambil membaca beberapa status dalam akun media sosial yang ia ikuti. Princess tiba-tiba saja sedikit hawatir dengan hubungan yang baru ia jalani dengan Dilan kemarin.
Dilan yang membaca langsung pusing seketika, pikirannya bercabang kemana-mama saat ini. Bagaimana jika Princess kesayangannya tau akan hal ini, apakah dia akan terima kenyataan ini.
"Kak Princess." Dilan tiba-tiba berjalan menuju sofa dan memeluk erat tubuh Princess.
Sekretaris baru Dilan langsung pergi diam-diam agar tidak mengganggu keromantisan. Sedikit sakit saat melihat orang lain bercinta seperti ini, hati para jomblo meronta-ronta ingin memberontak.
"Kak ..., jika suatu hari nanti kita tidak bisa bersama. Aku mohon kamu jangan membenci aku ya." Dilan berbicara sambil menyembunyikan wajahnya di leher Princess.
Dirinya sadar memang seharusnya cinta terlarang tidak hadir di tengah-tengah persaudaraan, tapi bagaimana caranya menghentikan ini semua. Princess berpikir jernih bahkan sangat-sangat jernih, apa yang harus ia lakukan kedepannya. Agar semua orang tidak menyudutkan dirinya dan juga Dilan secara buruk, sebab masa lalu yang pernah papa Lais ceritakan adalah sebuah kenyataan.
"Kamu bicara apaan sih Ilan, aneh dan ngelantur saja. Bukannya kita selama ini selalu bersama-sama dan baik-baik saja, bukan," Princess menganggap ini hanya lelucon Dilan seperti biasanya.
Dalam diri dan hati Princess percaya jika ia dan Dilan akan baik-baik saja kedepannya tanpa ada yang menggangu lagi. Meski yah ... harus rela melihat saudaranya menikah dengan pasangan pilihannya sendiri.
Sore hari.
Dilan melamun di balkon sambil memikirkan cara untuk menolak, tapi jika menolak bagaimana reputasi keluarga Malik kedepannya.
"Kenapa aku harus diadopsi dari keluarga ini, dan kenapa harus satu bulan lagi setelah ulang tahunku yang ke dua puluh satu tahun. Kenapa aku tidak bisa dengan kakak saja, kenapa harus wanita lain yang jadi pendampingku kelak."
Princess yang berada di dapur merasa aneh dengan tingkah Dilan yang sering melamun saat di kantor bahkan saat perjalanan pulang tadi.
"Ada apa sih dengan Ilan, apa dia menyembunyikan sesuatu?" Princess segera menyelesaikan nasi goreng yang ia buat.
Dengan langkah yang penuh cinta ia menelusuri anak tangga dan menuju kamar Dilan yang bersebelahan dengan kamarnya. Princess masuk begitu saja saat melihat pintu kamar tersebut terbuka sedikit.
"Ilan." Dengan senyum gembira ia membawa nasi goreng.
Dilan yang duduk sambil mengetik mengerjakan tugas kuliah terkejut dengan bau nasi goreng yang sedikit gosong.
"Cobalah, sepertinya enak nasinya. Aku sudah mencicipi tadi, rasanya tidak buruk." Princess menatap Dilan sambil menanti jawaban sang pujaan hati.
"Em..., enak kak. Enak malahan, aku suka nasi goreng sedikit gosong ini," ucapnya sambil menikmati nasi goreng tersebut.
Ada rasa sedih sekaligus bahagia di wajah Dilan. Ia sedih tidak bisa bicara jujur pada Princess yang selalu menampilkan wajah manisnya dan yang kedua ia tidak mau melukai Princess apalagi kehilangan dia. Bahagianya adalah bisa merasakan nasi goreng buatan sang pujaan, meski ia tau ini masakan terakhir yang bisa ia makan.
"Ada apa Ilan, kenapa kamu melamun lagi. Apa ada masalah besar? Sedari tadi aku lihat kamu sering melamun dan murung Ilan?" Princess tersenyum sangat manis sekali malam ini.
Dilan tidak mampu menghancurkan senyum di wajah kakaknya. Berbohong demi kebaikan sepertinya lebih baik, meski ia tau bom yang ia pegang saat ini bisa meledak besok atau nanti.
"Tidak apa-apa, aku merasa tidak enak badan. Aku istirahat dulu ya sayang." Dilan mendekati Princess dan mencium keningnya dengan sangat lama.
Princess kemudian keluar dari kamarnya dan menuju dapur untuk membereskan kekacauan yang tadi, meski ada pembantu ia tak mau merepotkan mereka.
"Kenapa Dilan tidak bicara jujur saja, sepertinya dia menyembunyikan sesuatu. Besok aku ke rumah Mama saja." Princess segera beristirahat.
Keesokan harinya.
Pukul 09.00 WIB.
__ADS_1
Princess menaiki anak tangga sebanyak 10 untuk masuk ke dalam rumah mewah kediaman Utama Erdana Khan. Ada perasaan tidak enak saat masuk ke dalam rumah tersebut.
"Kenapa jadi tidak enak sih masuk ke rumah ini, sepertinya aku tidak di terima saja kehadiranku di sini. Padahal rumah ini rumah papaku sendiri."
"Princess sayang." Momo sebagai Mama langsung menjemput kehadiran Princess yang sudah sebagai putrinya.
"Mama," Princess mencium punggung tangan Momo.
"Ayo duduk, sini... sini...." Dengan gembira sang Mama mengajak duduk di ruangan besar ini, ruang tamu yang sama persis dengan aula hotel bintang 5 yang besarnya bisa jadi setengah dari lapangan stadion saja.
"Ada apa sih Ma, tumben senyum Mama tidak padam?" Princess mulai bingung sendiri.
"Ini, untuk pertunangan dan pernikahan. Mana yang lebih bagus dan cocok untuk Dilan adik kamu kan kalian satu rumah dengan adik kamu!" Jawab Momo yang membuat Princess tersipu malu.
Princess tidak tau jika Dilan yang sudah di jodohkan dan akan menikah dengan wanita lain, bukan dirinya.
"Semua bagus Ma, Ma boleh princess tau. Kemarin Mama memberikan apa pada Dilan?" Princess masih menampilkan senyum cantiknya.
"Em... itu Princess, tapi sebelum Mama menjawab pertanyaanmu. Kamu belum berpacarankan dengan Dilan, sekitar satu bulan lagi Dilan akan menikah setelah ulang tahunnya. Ini mendadak sekali, bahkan Mama saja sebagai ibunya terkejut bukan main. Andai papa Ksatria dan Mama Daysi kamu tidak memaksa, Mama juga ingin ikut menyeleksi calon istri Dilan. Tapi Mama tidak mampu menolak pilihan grandpa dan Grandma kamu, maafkan Mama Princess jika ini dadakan semua!" Jawab Momo bagai petir tanpa hujan di pagi hari.
Princess hanya menggigit bibir bawahnya sambil menahan agar air matanya tidak tumpah saat ini juga, jangan tanyakan rasa sakitnya seperti apa. Luar biasa hancur berkeping-keping di saat bersamaan ia kecewa dengan Dilan sang pujaan yang tidak jujur dari kemarin.
"Ma... Princess pulang dulu, salam untuk papa dan juga adik-adik ya." Princess berusaha tenang setenang-tenangnya.
Ia masih ingin bahagia dan menikmati hidup serta harinya, meski ia merasa di khianati tapi suatu hari nanti ia pasti bahagia, meski saat ini sakitnya sangat sakit.
"Tidak apa-apa meski hari ini dan esok bahkan seterusnya merasakan sakit hati, bukannya kamu sendiri sudah bilang dan menguatkan dirimu jika suatu hari nanti Dilan menikahi wanita lain dalam hidupnya, bukannya sepasang kekasih biasa terjadi seperti itu. Pacaran denganku menikahnya dengan yang lain."
Princess mengemudikan motor matik yang ia gunakan kemana-mana, motor hasil kerjanya selama ini. Tanpa ikut campur uang pemberian dari keluarga Malik dan juga Erdana Khan.
Dilan yang berada di kantor berjalan kesana kemari, ia sempat tadi mencegah Princess untuk pergi ke rumah Mama. Tapi ia tidak bisa mencegah saat tiba-tiba ada masalah di kantor.
"Hu... hu... hu..., sakit banget rasanya." Princess menepikan motor kesayangannya, lalu ia mampir di sebuah warung pinggir jalan untuk mengisi perutnya yang lapar sebab sedari tadi ia bersedih.
Princess makan dengan lahapnya, ia tidak mau jatuh sakit lantaran patah hati. Masa iya gara-gara cinta perutnya jadi korban kan tidak lucu jika ada yang tau.
Princess yang sudah selesai makan ia tidak langsung pulang, ia menatap ke arah luar warung tersebut yang kebetulan dekat dengan persawahan, pemandangan di sini sangat bagus dan sejuk.
"Nanti saat di rumah, aku harus bersikap bagaimana? Aku tidak boleh terus-terusan bersedih aku harus meminta jawaban dari Ilan, enak saja memainkan hati anak gadis sepertiku ini meski umur sudah lebih dari dua puluh lima tahun lebih sedikit bukan berarti expayed kan. Bukan perawan tua loh aku cuma calonnya seperti itu."
Dalam hati Princess membenarkan dirinya, padahal dalam kenyataan memang iya. Perawan tua jika tinggal di Desa.
Dilan yang berada di kantor di buat kebingungan sediri, sebab Princess tidak dapat di hubungi sama sekali. Dimana dia dan bagaimana keadaannya saat ini. Dilan memutuskan ke rumah Erdana Khan sang papa dan juga mama sambungnya, untuk bertanya apakah Princess ada di rumah atau tidak.
"Kamu tangani pekerjaanku hari ini, jika ada yang penting langsung hubungi saya." Dilan segera mengenakan jas kebesarannya dan berlalu pergi menggunakan mobil Jeep kesayangannya.
Dilan meremas kuat rambutnya saat sang Mama sudah lebih dulu memberi tau Princess.
"Mama kenapa tidak berbicara padaku lebih dulu sih, apa Mama tau kak Princess itu kekasih Dilan Mama." Ucapnya dengan nada sedikit emosi.
Ia kecewa pada dirinya sendiri sekarang.
Momo hanya menutup mulutnya, ia sudah tidak mampu berbicara lagi.
Tiba-tiba sang papa Lais datang dan langsung menampar Dilan Malik.
PLAK
"Anak tidak tau diri, sudah di besarkan. Sampai kapan pun papa tidak akan pernah mengizinkan kamu untuk menikahi putri kecil kami, dia itu kakak kamu Dilan, kamu harusnya sadar diri Dilan." Lais begitu sangat menyayangi putri kecilnya.
"Papa, kenapa papa jahat sekali dengan Dilan. Apakah tidak boleh sesama saudara beda ayah dan tidak sepersusuan menikah. Bukannya kami sama-sama tidak sepersusuan?" Seperti biasa Dilan mengeluarkan ekspresi memelas dan menggemaskan saat di lihat mata.
__ADS_1
Lais yang sudah biasa di akali oleh Dilan yang sudah di anggap anaknya kini tidak mempan lagi dengan kemalangan sang anak angkat.
"Tidak mempan akal-akal lan kamu Dilan, kamu tetap akan bertunangan dua minggu lagi dan setelah ulang tahun kamu. Kamu harus menikah dengan perempuan baik-baik dari keluarga baik juga. Papa sangat mengenalnya, dia cantik bahkan tidak kalah cantik dari kakak kamu." Ucap Lais pergi dari tempat tersebut begitu saja lagian pekerjaan hari ini sangat padat.
Dilan meratapi hidupnya yang akan hancur sebentar lagi, bahkan menghitung hari saja.
"Ma...." Dilan menatap sang Mama.
Momo hanya mengangkat kedua bahunya, ia juga tidak bisa apa-apa selain berbakti bada sang papa dan mama yang membesarkan dirinya sejak ia kecil bahkan setelah kedua orang tuanya meninggal.
Dilan berpamitan pulang, rasa laparnya hilang begitu saja. Yang ia pikirkan bagaimana kelanjutan hubungannya dengan kakaknya, apa yang Princess putuskan sebentar lagi.
Princess yang sudah merasa lelah, ia kembali ke rumah yang ia tempati sekarang. Rasanya ingin menangis saat ia masuk ke dalam rumah, banyak sekali kenangan yang ada bahkan setiap sudut rumah penuh dengan kenangan dirinya dan juga Dilan sang kekasih dan juga calon suami orang lain.
Tanpa sadar air mata Princess menetes begitu saja. Salah satu pembantu yang melihat nona mudanya menangis langsung menghampirinya.
"Nona, apakah nona baik-baik saja?" Tanya Mamik yang merupakan pembantu di rumah ini.
Princess mengangguk.
"Iya, tidak apa-apa cuma mengingat banyak kenangan di rumah ini!" Jawabnya menutupi luka di hatinya saat ini.
Dilan yang baru datang langsung berlari masuk ke dalam rumah dengan ngos-ngosan. Ia sedikit membungkuk sambil memegang kedua lututnya.
"Huft... huft..., Kak Princess." Panggilnya yang masih ngos-ngosan.
Princess menatap Dilan sekilas, ia kecewa dan sedih.
Di ruang makan.
Suara sangat hening, bahkan canda tawa dan saling jahil kini seolah sirna tanpa bekas. Princess yang tadi pagi masih tertawa kini berubah menjadi dingin bahkan sangat dingin.
"Kak Princess maafkan aku, aku mohon maafkan aku. Sejujurnya kemarin aku bingung harus berbicara mulai dari mana, tapi satu hal yang harus kamu tau. Aku sangat mencintaimu dan tidak ingin senyum di wajahmu ini sirna dan padam." Ucap Dilan menyentuh pipi kiri Princess.
PLAK
"Tidak usah menjelaskan apa-apa, aku sudah sadar diri sejak dulu. Dan seharusnya dari dulu aku tidak memendam perasaan padamu dan seharusnya seperti ini saja, ini lebih baik," Princess segera menutup sendok yang ia gunakan untuk makan malam.
Princess segera masuk ke dalam kamar, ia duduk di balkon sambil menatap ke arah langit. Dilan yang kamarnya ada di samping Princess menatap gadis manis dan cantiknya.
"Kak .... Aku tidak kuat jika harus seperti ini, bantu aku meyakinkan Papa Ksatria dan juga Mama Daysi supaya kita bisa sama-sama." Dilan berbicara ke arah Princess.
Entah Princess mendengarnya atau tidak, yang jelas Princess seperti mayat hidup tanpa nyawa sedikit pun. Princess memutuskan untuk keluar dari kamar dan mengenakan hoodie kuningnya.
Dilan mengikuti Princess pergi secara diam-diam.
Srek.
Princess langsung menatap ke sumber suara.
"Kenapa kamu mengikuti aku Ilan, pergilah dan berbaktilah pada mereka semua. Aku tidak akan menghalanginya, lagi pula memang sesama saudara tidak ada rasa, bukan." Princess seolah bisa mengerti apa yang di pikirkan Dilan.
Dilan anak yang patuh kepada Orang Tua, pasti ia akan menuruti keinginan Orang Tua yang sudah membesarkannya.
"Kak, kenapa kita jadi seperti ini sih?" Pertanyaan Dilan membuat Princess tersenyum kecut.
"Kamu yang memulai dan kamu yang harus mengakhiri. Ayo kita selesaikan hubungan terlarang ini, aku tidak mau jadi pelakor atau apa itu sebutannya!" Jawaban Princess bagai sambaran petir di malam hari.
Bleder
Dilan ternganga tidak percaya.
__ADS_1