ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
152 S2 Terpesona


__ADS_3

2 minggu kemudian.


Hari ini hari pertama masuk ke dalam Universitas Kebangsaan, mahasiswa dan mahasiswi baru wajib menggunakan pakaian dan atribut yang sudah di tentukan karena hari ini ospek pertama mereka para mahasiswa ataupun siswi.


Meski menggunakan atribut sesuai aturan kampus tidak mengurangi semangat para mahasiswa dan siswi baru di kebangsaan, demi bisa masuk universitas ini mereka rela memakainya.


"Cantik." Ucap beberapa senior laki-laki yang berusaha menggoda Sindy yang tengah maju di depan.


Cheval yang hari ini berada di kampus hanya menatap kemudian menghampiri pemuda-pemuda tersebut.


"Mata keranjang." Menepuk salah satu pundak mahasiswa yang tak lain adalah mahasiswanya sendiri. Semua langsung menatap ke arah Cheval dengan senyum yang teramat terpaksa, apalagi bertemu asisten Dosen yang super galak ini.


"Eehh... selamat pagi pak Cheval," jawab serempak 5 orang yang ada di tempat tersebut.


Haduh betapa konyol dan aneh perilaku mereka semua itu, bagaimana bisa mereka menyebut pak dengan sangat ringan sementara Cheval sendiri masih berumur sekitar 20 tahun bahkan lebih muda dari mahasiswa dan mahasiswinya, karena otak cerdasnya lah yang membuat ia harus mengalami seperti ini. Lulus di usia muda bahkan menikah di usia muda meski masih rahasia.


"Eehh... kalian kembali ke kelas sana apa tidak ada tugas dari Dosen." Usir Cheval dengan terang-terangan.


Semua menggelengkan kepala.


"Ya sudah kalian lanjutkan saja, tapi awas jika kalian berani menggoda Sindy." Dengan tatapan membunuh Cheval berbicara.


"Gglleekk..., siap pak," jawab kompak lagi.


"Enak saja mau menggoda istriku, lewati dulu aku jika bisa. Dasar laki-laki melihat bini orang langsung tertarik." Sebal dalam hati.


Memang pesona Sindy tidak dapat di pungkiri selalu bisa menjadi pusat perhatian.


Lais, Momo dan Sindy satu Universitas, karena banyak yang masuk universitas Kebangsaan tidak mudah untuk mereka bertemu mungkin satu atau dua kali lantaran berbeda jurusan yang di ambil. Sindy mengambil jurusan bisnis sedangkan Momo mengambil jurusan desain sama seperti Lais akan tetapi ia tidak tau jika mereka berdua berada di jurusan yang sama hanya beda kelas saja.


1 bulan kemudian.


Momo sedang mengerjakan tugasnya bersama teman-teman satu kelasnya. Tanpa sengaja Lais lewat di depannya, Momo yang tidak tau karena mengerjakan tugas dengan laptopnya ia tidak memperdulikan teman-temannya yang sedang kegirangan menatap Lais. Wajah Chinese dari sang ibu dan campur Amerika dari sang ayah membuatnya tambah terkesan tampan dan menarik hati.

__ADS_1


"Ya Allah tampannya, sungguh Ciptaanmu sangat mempesona Ya Allah." Ucap Lidia di sebelah Momo.


"Haahh... ada-ada saja nih Lidia, apa sih yang ia lihat?" Momo langsung menatap ke arah Lidia lihat. Lais menatap ke arah Momo.


DAG


DIG


DUG


Jantung Momo berdetak tidak karuan dan membuat tugas kuliah jadi berantakan lantaran senyum Lais mengembang saat bertatapan.


"Fokus Momo please, jangan terpesona lagi ingat ayah ingat ayah satu-satunya orang tua tunggal mu yang kamu punyai sekarang." Momo segera mengalihkan pandangannya.


"Lihatlah Momo dia tersenyum, tampan sekali wajahnya." Menepuk-nepuk lengan Momo dengan keras dan menyebabkan laptop yang ada di pangkuan Momo goyah dan terjatuh ke tanah.


Pprraakk.


Momo segera memungut laptopnya, Lidia sangat hawatir saat akan ikut pergi dengan Momo langsung di cegah oleh Lais.


"Biar aku saja yang pergi dengan Momo." Ucap Lais mengikuti Momo dari belakang.


Benar-benar seperti penguntit saja.


"Hah... pakai acara rusak lagi, kalau mau beli sayang uangnya tetapi kalau mau memperbaiki habis berapa ya, untung servis laptop dari kampus lumayan dekat bahkan bisa di tempuh dengan jalan kaki." Momo langsung menuju tempat servisan laptop tersebut.


Lais juga ikut masuk ke toko tersebut, Momo yang sudah sadar sedari tadi di ikuti Lais membiarkannya.


"Jangan jadi penguntit kenapa, apa tidak ada pekerjaan lain selain mengikutiku?" Momo menatap ke arah lain.


"Tidak ada pekerjaan lain, makanya aku mengikutimu!" Lais tersenyum.


Orang yang membetulkan laptop tersebut berbicara jika tidak bisa langsung di perbaiki karena banyak juga servisan yang perlu di perbaiki.

__ADS_1


"Lusa kembali ke sini ya mbak." Ucap tukang servis.


"Baik pak terimakasih," Momo segera pergi, tetapi sebelum pergi Momo menanyakan berapa biaya perbaikan.


***


Sore hari.


Hari ini resmi kedai bunda Aurellia tutup dan tidak akan di buka kembali, dengan alasan pengunjung sudah tidak ada semenjak kepergian Aurellia untuk selama-lamanya. Abang yang dulu ikut mengurus juga pergi entah kemana sampai detik ini juga tidak ada kabar.


"Ayah, apa benar kedai ini harus tutup?" Momo menatap sendu kedai yang kini tergembok rapi.


Lais yang masih berkerja di kedai tersebut hanya pasrah, mata pencariannya berhenti sampai di sini juga. Meski ia memiliki kakek yang kaya tetapi bukan berarti ia bermanja-manja dan menghabiskan uangnya, itu bukan identitas Lais jika ia harus hidup dengan boros dan enak.


"Jika ada sesuatu yang perlu di bicarakan kalian bicarakan, jangan lupa pulang jangan sampai larut malam." Sacha mengusap lembut surai rambut Momo.


Lais yang mendapatkan lampu hijau dari Sacha kegirangan bukan main, tetapi berbeda dengan Momo yang hanya tertunduk lesu dan tidak semangat empat lima seperti Lais.


"Apa kamu tidak senang kita di beri waktu untuk berbicara berdua?" Lais menyentuh kedua pundak Momo untuk berhadapan dengan dirinya.


"Iya, aku tidak senang!" jawab dingin Momo yang berhasil membuat ribuan bunga yang bermekaran dalam hati Lais layu seketika.


"Baiklah jika kamu tidak senang dan tidak bahagia, ayo aku hantar pulang." Tawarnya pada Momo.


Momo tidak menjawab kemudian ia naik ke atas motor Lais dan tidak lupa mengenakan helmnya. Momo berusaha tidak kepedean dengan sikap baik dan manis yang di tunjukkan oleh Lais, juga tidak bermaksud sok jual mahal. Hanya dia menjaga diri dari laki-laki demi masa depannya sendiri. Ia tidak mau hancur di usianya yang masih sangat muda dan labil seperti sekarang ini.


"Aku harap kamu tidak menjauhiku lagi Momo." Lais menarik tangan Momo agar pelukan Momo tambah erat lagi di tubuhnya.


Benar-benar orang modus tingkat tinggi, untung Lais berwajah tampan dan mempesona jika tidak sudah terkena pukulan dan cubitan berkali-kali lantaran keganjenan seperti sekarang ini.


"Tergantung, semua berbeda semenjak perjodohan itu. Aku tidak mau kehilangan satu-satunya orang tuaku Lais," jawab Momo yang menempelkan wajahnya di punggung Lais.


"Aku paham dan aku akan menunggu hari itu." Lais mengusap lembut jari jemari Momo dan menggenggamnya dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2