ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
S3. Cinta yang besar


__ADS_3

Gauri tanpa curiga sedikitpun mengekori Raden, bahkan Raden membantu membukakan pintu mobil bagian belakang sopir bahkan ada sopir juga. Raden mengisyaratkan tangannya untuk diam pada sopir itu.


Gauri ragu-ragu akhirnya masuk ke dalam mobil tersebut tanpa curiga sedikitpun, sejak kapan Raden punya sopir dan lagian mobil semewah ini mana mungkin Raden punya, seperti mobil kantor. Tapi bukannya jabatan Raden hanya pengawas keluar masuknya barang-barang di gudang.


"Raden tumben pakai ini? naik jabatan kah?" tanya Gauri begitu polos.


Raden membelalak.


"Eh ... enggak ko, enggak naik jabatan. Tadi mobil kantor baru aku ambil dari bengkel, ada kerusakan kemarin itu!" cengengesan.


Awalnya sedikit curiga pada Raden, jawabannya aneh tapi masuk akal juga sih.


"Oh ... kirain naik jabatan dan langsung dapat fasilitas dari kantor. Oh ya kita mau kemana?" Gauri sebenarnya hatinya sangat terluka sekali.


Banyak kenangan di kontrakan itu bersama sang nenek tapi, mungkin ini sudah takdir selain itu tempat itulah dimana awal mula sakit hati atas perilaku Aldy padanya. Meski tidak sepenuhnya tempat kontrakan itu yang salah, tapi gara-gara salah faham membawa dirinya jatuh di jurang tercuram dan terdalam dalam hidupnya.


Apartemen.


Gauri matanya hampir lepas dari tempatnya bahkan bibirnya menganga tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang.


"Raden ... aku sudah tidak di dunia lagi ya, apa saat perjalanan tadi kita bertiga kecelakaan." Sambil meremas kuat lengan Raden.


"Sstt ... sakit Gauri," lengannya di remas Gauri begitu kencang.


"Ups ... sorry." Lebar sekali senyum Gauri.


Sopir tadi membantu memasukkan barang-barang milik Gauri ke dalam apartemen dan kemudian ia meminta izin untuk menunggu di tempat parkir.


Di ruang tamu bercampur ruang keluarga dan juga ruang makan yang dijadikan satu tertata rapi bahkan semua barang-barang yang ada sangat mewah dan terbaru.


"Apa tidak ada yang ingin di jelaskan Raden Hye?" sambil bersedekap dan kaki di silangkan.


"Em ... anu ... itu ..., aku ada pekerjaan di gudang lagi. Aku pergi dulu ya ... jangan lupa makan banyak stok itu!" berlari sambil memberikan kartu apartemen yang tertera pin kunci keluar masuk apartemen.


Gauri mendengus kesal di buatnya, kenapa sih Raden main petak umpet gak lucu loh. Di tambah lagi apartemen ini sebenarnya milik siapa dan kenapa semua terasa aneh dan kebetulan sekali, bahkan tadi Willy menyuruhnya meninggalkan kontrakan dengan cara tidak hormat di usir begitu saja sampai-sampai ia di lempar koper pula, lalu kemudian Raden datang dengan membawa mobil, terlalu aneh dan kebetulan sekali.


Tanpa bicara lebih dulu Raden bahkan membawanya ke apartemen ini, semua lengkap mulai dari dapur, meja makan, ruang tv, ruang tamu semua komplit.


Gauri mengelilingi ruangan tersebut dengan sangat teliti tidak ada debu sama sekali.


"Ko rasanya aneh ya? kenapa semua serba kebetulan. Apa yang sedang Raden sembunyikan dariku." Gauri memilih duduk di ruang tv dan menonton channel yang ada di tv LED.


Raden yang sedang berkerja berusaha fokus di pekerjaannya meski hati nya resah sekali memikirkan Gauri, pasti Gauri bakalan salah faham lagi.


Puk


"Iya." Raden terkejut saat ada seorang wanita menepuk pundaknya, siapa lagi jika bukan teman satu pekerjaan dengannya.


Dia adalah Risa wanita manis dan cantik tentunya, wajah mungil dan tubuh yang kecil menambah kesan karismanya, Risa Ayu gadis berumur 23 tahun. Masih muda dan energik seperti Raden, banyak yang mengira jika Raden Dan Risa sepasang kekasih sebab terlihat sangat cocok dengan Raden.


Bahkan di ponsel Raden dan Risa banyak ko foto-foto mereka berdua, bukan karena apa tapi seringnya kerja bersama dan sama-sama jomblo juga jadi mereka berteman baik dan akrab.


"Kerja woy ... ngelamun aja sedari tadi, ada wanita yang mengganggu pikiranmu?" tanya Risa menyodorkan es kopi pada Raden.


Raden menerimanya.


"Iya, takut dia tau aku siapa dan takut dia pergi ninggalin aku!" galau bro ceritanya.


Risa tersenyum.


Sahabatnya sudah mendapatkan tambatan hati, harus mendukungnya kalau begitu. Biar temen-temen sekantor tidak meledeknya lagi bahwa dirinya kekasih Raden sungguhan.


"Terus dia dimana sekarang?" Risa duduk sambil menikmati jusnya.


"Di apartemen milikku!" jawabnya membuat Risa tercengang.


"What ... kamu bawa ke apartemen kamu, gila kamu Raden. Apa kamu mau membuat Raden Hye junior segera hadir." Di iringi gelak tawa.


"Apaan sih, gak segitunya kali Risa. Aku masih tau batasan, jika aku berbuat macam-macam yang ada dia kabur," Raden melanjutkan pekerjaannya lagi.


"Ish ... pasti dia wanita yang cantik dan luar biasa sekali, cewek tomboy sepertiku mana laku di tambah lagi Raden begitu tampan. Tapi ... jika dipikir-pikir aku sering bersama Raden kenapa tidak usaha lebih keras untuk mendapatkan dia." Risa bermonolog sendiri, ia harus melakukan sesuatu.

__ADS_1


Sore hari.


Raden mengantar Risa lebih dulu pulang ke rumahnya ia juga bertegur sapa dengan ibunya. Sudah menjadi hal bisa bagi Raden menghampiri dan mengantar Risa kembali ke rumah meski tetap Gauri yang ia utamakan.


Gauri memang tidak tau jadwal Raden dari pulang kerja dan berangkat kerja, sebab ia tidak mau mengusik hal pribadi Raden. Biarlah Raden simpan sendiri masalah pribadinya jika ia bercerita barulah akan bertanya.


Ceklek.


Gauri menatap ke arah pintu, Raden pulang dengan membawakan sebuah kantong kresek entah isinya apa.


"Gauri ... apa sudah makan?" Raden langsung menuju meja makan.


"Sudah tadi, makan mie instan!" jawabnya terlihat masih ada bungkusan mie instan di tempat sampah kecil dekat lemari pendingin.


"Pagi dan siang tadi makan apa? kenapa hanya ada satu bungkus mie saja?" Raden hawatir dengan kesehatan Gauri.


Beberapa minggu yang lalu Gauri masuk rumah sakit sebab kekurangan cairan dan juga pola makannya yang tidak teratur menyebabkan tubuhnya mudah lelah jika di biarkan berlarut-larut akan memicu maag kambuh lebih cepat.


"Tadi aku keluar jalan-jalan dan beli makanan di warung makan yang tidak jauh dari sini," Gauri tertunduk.


Tidak mau Raden kerepotan sebab menampungnya, maka dari itu selain cari makanan ia juga mencari pekerjaan seadanya tapi belum membuahkan hasil.


"Kirain kamu cari pekerjaan diam-diam." Sindir Raden langsung membuat Gauri tersedak air putih.


Uhuk


Uhuk


"Kamu ini bisa saja menebaknya, aku numpang di tempat kamu dan seharusnya aku cari pekerjaan di tempat baru, tidak ada yang aku tutup-tutupi dari kamu. Lagian aku harus lebih mandiri lagi bukan?" sedih sekali nasib Gauri.


"Tuhkan ... bener dugaan ku, apa tidak bisa sehari saja gak mikirin pekerjaan. Kamu ini istirahat dulu sehari atau dua hari begitu Gauri, bila perlu satu bulan kek. Aku masih mampu ko mencukupi kebutuhan kita berdua disini!" Raden terlalu posesif dan juga membanggakan dirinya sendiri.


"Tidak bisa." Gauri tidak mau kalah, buat apa menuruti Raden jika ujung-ujungnya tidak bisa melakukan hal ini dan itu.


Jarak di antara keduanya terkikis sedikit demi sedikit dan Raden mendekatkan wajahnya di sebelah telinga Gauri.


"Yakin masih ngeyel ingin kerja untuk sementara waktu?" semakin terkikis jarak di antara keduanya.


"KA ... MU ... MAU NGAPAIN?" Gauri mendadak merubah raut wajahnya menjadi sangat dingin dan menyeramkan sekali. Ketika bicara banyak sekali tekanan dengan raut wajah menggelegar.


Raden belingsut ketakutan, kenapa ini? niatnya mau menggoda dia malah sekarang terpojok sendiri.


"Gauri ... jangan marah, maaf aku terlena barusan!" Raden kemudian duduk di kursi dengan terpaksa.


"Iya, gak apa-apa." Gauri berbalik arah dan menjauhi Raden.


Saat sudah tidak terlihat ia menyentuh dada4nya yang berdegup kencang sekali.


"Kenapa sih pakai senam jantung segala, kayak di rumah sakit pakai alat pacu jantung. Kondisikan dong ... jangan berdetak terus menerus bisa-bisa kena serangan jantung ringan, sayang biaya rumah sakitnya jika harus berkunjung ke sana." Gumamnya masuk ke dalam kamar.


"Mendingan aku mandi dan menyegarkan tubuh dan pikiran saja." Gauri mengambil handuk kesayangan dan tak lupa perlengkapan lain serta baju bersih.


Raden hendak menyusul tapi ponselnya berdering kencang sekali.


📞 Hallo Risa, ada apa?


📞 Raden ... tolong aku!


Raden heran ada apa dengan Risa, apa dia ada masalah.


📞 Aku akan segera kesana, kamu tunggu sebentar ya.


Raden berusaha menenangkan Risa sahabat baiknya.


Raden menuju kamar Gauri, suara ketukan pintu beberapa kali terdengar.


Tok


Tok


Tok

__ADS_1


"Gauri ...." Panggilnya.


Gauri yang hendak merebahkan diri langsung bangkit lagi dan membukakan pintu untuk Re Raden.


"Ada apa?" menatap raut wajah Raden yang begitu hawatir dan ada sedikit gugup.


"Aku mau ke rumah Risa dulu ya, ada masalah dengannya. Nanti aku ceritain siapa dia, aku pergi dulu oke!" langsung mencium kening Gauri tanpa permisi.


Gauri menatap kepergian Raden, kenapa hati ini berkecambuk tidak karuan. Risa siapa dia? apa hubungan dengannya? terus seperti apa dia cantik, baik, anak orang kaya dan lulusan sarjana terbaik.


Tapi di sisi lain ia sedikit tersentuh dengan perhatian Raden dan poin terpenting ialah kenapa dia berpamitan sambil mencium kening.


"Apa... Raden ada rasa denganku?" Gauri menggeleng berkali-kali.


Ia harus menyadarkan diri lagi, bahwa mimpi tak seindah kenyataan. Sudahi mimpimu dan hadapi kenyataan mu yang pahit bin nyesek di hati.


"Pasti tidak ada, wong dia itu selalu perhatian ko sama orang-orang yang butuh dia. Berarti sikapnya ke aku selama ini juga sama dengan mereka, dia akan berlapang dad4 membantu semampunya."


Gauri ingat pernah meminta tolong juga saat hujan besar beberapa tahun yang lalu, Raden pun juga langsung datang dan membantu di karenakan sepeda yang ia gunakan rantainya putus.


Sedangkan Raden sudah sampai di rumah Risa, ternyata Risa sakit dan perlu di bawa ke Dokter. Pasti sakitnya kambuh lagi.


"Syukurlah kamu sudah datang Raden, tolong Risa Raden, dia kesakitan perutnya pasti maagnya kambuh lagi dan ia tak mau makan." Ibunya Risa sangat hawatir.


Raden mengangguk tapi saat sampai di dalam kamar Risa ternyata Risa sudah pingsan lebih dulu dan beberapa kali baik Raden maupun Ibunya Risa membanggakan Risa tapi tidak ada tanda-tanda Risa sadar.


Raden dengan sigap menolong Risa untuk membawanya ke Rumah sakit, untuk taxi yang ia pesan datangnya cepat. Sengaja Raden pesan lebih dulu takut seperti kemarin-kemarin dan ternyata prediksinya tidak meleset dan selalu tepat.


Saat berada di rumah sakit Raden mondar mandir bahkan ia lupa memberitahu Gauri tentang keberadaannya.


Sedangkan Gauri duduk termenung di dekat jendela sambil menikmati pemandangan luar biasa yang berada di luar apartemen milik Raden, Gauri bingung harus berbicara dan protes mulai dari mana.


Jika Raden tersinggung takutnya langsung mengusir tanpa ampun seperti Willy tadi pagi, bayangan Willy mengusirnya masih teringat jelas. Padahal dirinya menganggap Willy orang terbaik dalam hidupnya setelah Raden namun nyatanya tidak.


"Nak Raden, terimakasih sudah menolong dan membantu Risa. Kalau tidak ada kamu pasti sakitnya Risa bertambah banyak, oh ... ya Raden selama ini yang ibu lihat kamu tidak memiliki kekasih. Apa bisa kamu membantu Risa dengan menjadikan dia pendamping kamu, ibu takut jika memasrahkan Risa ke laki-laki lain di luaran sana." Wajah ibunya Risa sangat memelas.


"Soal itu ...," tidak ingin menyinggung tapi harus dengan sopan.


"Tidak apa-apa nak Raden, saya memakluminya dan tolong pikirkan lagi nak Raden, hanya saja saya takut terjadi sesuatu dengan Risa kedepannya. Apalagi jaman sekarang pergaulan bebas bahkan satu rumah pun juga ada." Ucapan ibunya Risa secara tidak langsung menyindir Raden.


Benar saja yang di katakan ibunya Risa, pergaulan bebas itu memang ada bahkan itu terjadi pada Gauri meski tidak sepenuhnya salah Gauri tapi Gauri juga ikut dalam kubangan pergaulan bebas. Meski dalam kategori tidak kecanduan seperti wanita lain yang selalu kehausan akan hubungan sek$.


'Tapi itu semua belum tentu benar adanya, jika mau aku sudah lakukan padanya, di tambah Gauri begitu sangat ah ... menggoda sekali.' Raden memang menahan itu semua.


Kenapa ia tahan, sebab ia tidak mau di nilai sama seperti Aldy.


"Maaf Bu, tapi sepertinya saya hanya bisa menjaganya saja tidak bisa lebih. Ada seorang wanita yang sudah saya kagumi, saya sayangi dan cintai sejak saya masih duduk di bangku SMP sampai sekarang, dia hidup satu rumah dengan saya." Ucapan Raden bak sambar petir di dada ibunya Risa.


Bagaimana bisa ada wanita lain, tapi jika ada wanita lain kenapa begitu peduli dengan putrinya selama ini.


"Apakah ibu boleh tau siapa dia?" penasaran seperti apa sosoknya jangan-jangan orang tua atau apalah.


"Dia wanita seumuran denganku, dia baru saja mengalami musibah lebih tepatnya saya ingin menyelamatkan dia dari keterpurukannya dan ingin membawanya ke dalam pernikahan secepatnya!" jawab Raden berterus-terang.


Tidak mungkin ia bersembunyi dan menjadi laki-laki pengecut yang menyembunyikan sesuatu seperti Aldy. Laki-laki modelan begitu pantasnya di buang dan tidak di hargai sama sekali, di hargai saja harganya sudah tidak ada dan tidak layak ada nominal angkanya.


"Begitu, apa boleh ibu tau dia seperti apa. Maaf jika lancang, foto dia yang ibu maksud."


Raden mengeluarkan ponselnya dan membuka bagian galeri, hampir semua bertulisan My love baby.


Ibunya Risa terkejut dengan wajah gadis itu, sangatlah cantik luar biasa dan mengingatkan dirinya dengan mendiang sahabatnya yang sudah tiada berpuluh tahun yang lalu sebab kecelakaan, gara-gara kecelakaan itu sahabatnya itu tiada padahal putrinya masih kecil dan masih di dalam gendongan. Semenjak saat itu dirinya dan keluarga sahabatnya tidak bertukar informasi tentang keadaan masing-masing.


"Pantas saja, sangat cantik."


"Bukan hanya cantik di luar, tapi di dalam juga. Dia wanita pekerja keras dan sangat baik, dia tidak suka di bantu selagi dia mampu berbuat sesuatu. Saya tambah kagum dan semakin mencintai dia," Raden berbicara demikian sangat mengagumi wanitanya.


Risa yang sudah sadar dan hendak keluar dari ruangan rawat berhenti di dekat pintu dan mendengar semua percakapan antara Raden dan ibunya, meski sesak di dada tapi ia tahan dengan senyuman.


BERSAMBUNG


Jangan lupa tinggalkan jejak ya, terimakasih banyak sudah singgah dan membacanya.

__ADS_1


__ADS_2