ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
85 Hobby baru


__ADS_3

Pagi hari.


Daysi melonggarkan otot-otot tubuh nya yang remuk, hampir saja ia tidak bisa bangun dari tidur rasanya badan lumpuh mendadak. Dengan sekuat tenaga Daysi bangun dan berhasil meski pun harus memakan waktu hampir 10 menit agar bisa bangun dari baringan tidurnya.


"Aduh... ini pinggang kenapa jadi kaku begini bahkan untuk bangun saja sangat susah, seperti orang mau lahiran saja," keluhnya pada diri sendiri.


Ksatria yang sudah bangun sedari pagi kini tengah joging sambil menghirup udara segar pagi hari di sekitar rumah. Ksatria yang melihat Daysi baru turun dan bangun kini menghampirin nya.


"Kenapa wajah kamu begitu lesu pagi ini, tidak seperti biasannya?"


"Gimana gak lesu, hampir saja aku tidak bisa bangun dari tempat tidur gara-gara bawaan bayi, tiba-tiba badanku seperti lumpuh total tidak bisa bergerak sedikit pun, butuh waktu lama agar aku bisa berdiri dan berjalan." Mengusap perut datarnya.


Ksatria tidak percaya dengan ucapan Daysi barusan, aneh menurut Ksatria. Biasannya ibu hamil akan merasakan sakit seperti itu saat hamil tua, ini berbeda dari yang ia ketahui seumur hidup. Daysi yang melihat sang suami tidak percaya mengabaikan nya, dari pada nanti emosi perasaanya.


"Untung si aak gak bikin pusing pagi-pagi," menghampiri Cheval yang sedang bermain air di kolam buatan.


Sarapan pagi.


Ksatria hanya makan sedikit tiba-tiba ia merasa kenyang melihat sang istri memakan ayam kecap buatannya sendiri, bahkan Aurellia dan Sacha juga ikut terperanga dengan nafsu makan dadakan Daysi saat ini.


"Saya hari ini mau ke kedai," Aurellia bersiap-siap pergi setelah selesai makan.


"Saya hantar kesana." Sacha segera menyusul sang istri yang tengah berjalan cepat.


Sekarang meja makan hanya tinggal Daysi dan Ksatria.


"Kenapa kamu makan hanya sedikit Sat?" sambil melahap ayam kecap kesukaan nya.


"Tidak, saya merasa kenyang tiba-tiba!" sambil tersenyum dalam hati ia sangat terkejut mengapa istrinya seperti kerasukan makhluk halus saja, makan banyak seperti tidak pernah makan saja. "Saya berangkat ke Hotel dulu, hati-hati dirumah," mengecup kening Daysi.


"Oke..., hati-hati juga di jalan suamiku. Eemmuahh." Memberi kecupan jauh.

__ADS_1


Ksatria menagkapnya dan memasukkannya dalam kantong jasnya. Daysi tertawa saat Ksatria memasukkan cium jauhnya kesaku jas.


Suara mobil meninggalkan garasi menuju keluar rumah terdengar, Daysi hanya menatap kepergian sang suami.


"Nak kamu ini ada-ada saja, masak honey moon dulu baru kamu ada disini." Mengusap lembut perutnya.


Daysi segera mandi setelah itu ia menuju kebun bunga, ada berbagai macam bunga yang ada tidak seperti dulu hanya mawar saja. Anggrek bulan bermekaran sangat cantik warnannya, Daysi menyentuh kelopak bunga satu persatu seperti orang menghitung saja. Tapi kenyataannya memang Daysi menghitung bahkan kalkulator bertengger di tangan kiri nya.


Mbok Yati dan Mala yang melihat Daysi seperti itu ingin sekali tertawa, mungkin jika di rumah ada pohon strawberry pasti biji strawberry di hitung juga.


Daysi yang sudah lelah menghitung kelopak bunga yang jumlahnya ada 2000 lebih kini merebahkan badan untuk mengisi energin nya lagi.


"Lumayan banyak juga ternyata, tapi aneh juga sih kenapa aku menghitung kelopak bunga, yang jelas-jelas sampai akhir tahun baru selesai melihat hamparan bunga yang begitu banyak ini." Mengusap keringat yang bercucuran di dahi Daysi serta lehern nya seperti iklan air bersoda di televisi.


Mbok Yati mendekati Daysi yang masih mengelap keringatnya, "minum dulu nak Daysi jusnya," meletakkan jus tomat wortel di samping Daysi beristirahat.


"Terimakasih ya mbok, mbok buatkan roti panggang dengan selai coklat keju yang banyak sampai tumpah di piring ya mbok," sambil meminum jus tersebut.


Sesampai di dapur Mala langsung di suruh mbok Yati untuk menyiapkan segalannya, untuk memanggang dan selai serta keju permintaan Daysi di siapkan. Karena tadi Daysi ingin mbok Yati yang membuatnya jadi Mala hanya membantu menyiapkan peralatan saja.


Tidak ada sepuluh menit roti panggang sudah jadi sesuai keinginan Daysi. Mala yang mencuci peralatan yang baru saja di gunakan hanya menggeleng kan kepala bagaimana membersihkan coklat yang melekat di tempat pemanggangan.


"Di rendam dulu saja deh, terlalu dangkal dan melekat. Sepertinya bulan ini harus membeli tempat pemanggangan yang keluaran terbaru yang anti lengket." Mala menyalakan kran air.


Daysi yang sudah menikmati roti panggangnya tersenyum saat roti tersebut masuk mulut, dengan lahap Daysi langsung menghabiskan roti tersebut.


"Kenyangnya," Daysi mengusap perut.


Sore hari.


Ksatria yang baru saja kembali dari hotel, pandangan nya mencari istrinya kesana kemari namun nihil hasil nya.

__ADS_1


"Kemana Daysi, sepi amat nih rumah." Berjalan menuju kebun bunga.


Daysi masih saja rebahan di kursi sambil memegang buku kecil. Ksatria yang penasaran apa yang di pegang langsung mengambilnya dan seketika tawa terdengar. Daysi yang terkejut langsung bangun dari tidurnya.


"Kenapa kamu mengejutkanku dengan tawamu yang kencang itu sih," Daysi mulai mengomel.


"Lucu saja, lihat nih buat apa kamu menghitung kelopak bunga bahkan kamu catat disini." Masih dengan tawa renyah nya.


Daysi segera mengambil catatan kecil yang ada di tangan Ksatria, "dari pada tidak ada kerjaan, lagian yang mau si baby bukan maman nya." Menujuk calon anak yang ada di perut.


"Baiklah-baiklah, anak papa di dalam tidak rewel kan." Menciumi perut datar Daysi. "Papa mau ketemu Aak dulu ya," menghujani ciuman di perut Daysi sampai Daysi merasa kegelian karena ulah Ksatria.


"Sudah-sudah, kamu segera temui Aak. Aku akan memasak untukmu." Menyentuh pipi Ksatria.


"Baiklah, hati-hati jangan sampai kelelahan oke," berjalan beriringan namun berbeda tujuan.


Daysi yang sudah sibuk dengan urusan dapur, sementara Ksatria bermain dengan Cheval di ruang main, tetapi sebelum menemui Cheval, Ksatria membersihkan diri terlebih dahulu.


Di tempat lain.


Sacha yang menjemput Aurellia tersenyum saat Aurellia melambai kan tangan nya. Abang yang melihat kemesraan sepasang suami istri ini tersenyum kecut. Sesampai nya di dalam mobil, Aurellia masih saja menampak kan deretan gigi putih membuat Sacha keheranan sendiri.


"Apa yang membuatmu bahagia sedari tadi saya lihat kamu tersenyum terus?" menjalankan mobil.


"Kamu!" jawab sepontan Aurellia.


Debaran jantung Sacha berdenyut tidak normal seperti lari maraton saja. "Masa sih, gak bohong bukan karena kerja dengan Abang hari ini."


"Tidak, dia cuek banget loh sama aku sekarang. Jadi aku semakin tenang saja, apalagi kamu mau membantuku melupakan nya," sambil tersenyum sendiri.


Sacha mengacak rambut Aurellia, rasanya gemas mendengar mulut manis nya tersebut. Aurellia yang mendapati Sacha seperti ini membuat semburat merah di pipi, bahagia senang bercampur.

__ADS_1


Sebelum kembali ke rumah, Sacha mengajak Aurellia kesebuah tempat yang akan menjadi saksi semakin eratnya hubungan mereka berdua.


__ADS_2