
Kunci kesabaran ialah diam dan menikmatinya, jika sudah tidak mampu maka lepas dan ikhlaskan saja.
[POV Momo]
Lais masih tidak mau jujur dengan pesan singkat yang ia terima padaku, apa salahnya sih jujur pada istrinya. Kalau tidak mau berbicara jujur seharusnya ia tidak menampilkan ekspresi sesenang itu di depanku saat melihat ponselnya. Hhuuhh... baru juga menikah sudah seperti ini, bahkan pernikahan kita yang umurnya belum ada satu bulan.
Apa ini jawaban, mengapa dari dulu ayah tidak mengizinkan aku dengan Lais. Bahkan sebelum menikah saja dia sudah punya anak di luar pernikahan.
Senyum di wajah Momo seketika pudar begitu saja, hatinya kali ini benar-benar terluka dengan sikap Lais padanya. Meskipun ia terus berbohong dengan senyum palsunya, ia tidak mau terlihat terluka di depan Princess.
Lais menatapku dengan penuh tanda tanya, tanpa mau berucap dan menjelaskan apa isi pesan itu.
Usai makan malam, aku berjalan langsung ke kamar tanpa memperdulikan Princess yang hanya memanggilku. Amarah, kesal kian memuncak saja aku banting pintu dengan kerasnya.
"Lala, tidurkan Princess ya." Lais segera menuju kamarnya.
Sambil menatap seluruh penjuru ruangan, namun hasilnya nihil, sang istri tidak ada di seluruh penjuru kamarnya.
"Kemana Momo, bukannya ia tadi menuju kamar kenapa tidak ada. Apa jangan-jangan ia di kamar mandi." Lais mengecek kamar mandi namun Momo tidak ada di dalam kamar mandi.
"Haduh... menyesal aku, kenapa coba aku ngeprank dia tadi sewaktu di meja makan. Seharusnya aku tidak ngerjain dia, tuhkan pikirannya saat ini pasti negatif banget ini ke aku."
Suara angin kencang masuk melalui pintu kaca yang sedikit terbuka, Lais berniat menutup pintu tersebut tetapi tidak jadi saat melihat ada bayangan seseorang yang berada di balkon sambil menatap langit malam yang bertabur bintang.
"Momo sayang, maaf." Lais memeluk perutku dengan penuh cinta. Aku melihat ada penyesalan di wajah dan matanya.
"Apa tidak ingin menjelaskan sesuatu, apa kamu tau sikapmu tadi membuat hatiku terluka mas, aku istrimu tetapi mengapa kamu main rahasia di belakangku. Apa jangan-jangan kamu menikahi ku lantaran ingin balas dendam karena dulu almarhum ayah menolak perjodohan itu?" rentetan pertanyaan dan keluh kesahku dalam hati aku ungkapkan, biar semua jelas meski aku tidak tau jawaban apa yang keluar dari mulut suamiku ini.
"Siapa bilang aku ada main rahasia di belakang kamu dan satu lagi aku tidak pernah dendam dengan almarhum ayah karena menolak perjodohan kita dulu, justru aku senang dan bahagia. Andai saja kita menikah dulu belum tentu aku bisa meraih cintaku dengan benar!" tangan Lais mulai nakal dan berkelana kemana-mana.
"Aahh... mas...," aku memegang tangan Lais dengan erat agar dia mengentikan aksi nakalnya ini.
"Aku ingin sayang." Lais langsung menggendongku dan merebahkan tubuhku di atas ranjang.
Hampir satu jam kami berdua menuntaskan hasrat yang sudah memuncak di ubun-ubun. Lais beberapa kali juga sudah pelepasan, begitu juga denganku.
"Sayang."
"Eemm... aku lelah mas, apa mau lagi kamu?" aku menatap wajah Lais yang penuh dengan peluh yang belum di usap dan di bersihkan.
"Tidak, soal yang tadi di meja makan. Apa kami tidak ingin tau sayang, apa yang aku dapat dari pesan singkat itu."
Aku segera duduk bersandar di dada bidang Lais sambil aku memainkan jari jemarinya yang besar di genggaman tanganku.
"Apa coba, aku ingin tau ada main rahasia apa kamu selama ini," ucapku masih memendam kesal jika mengingat pesan singkat yang di terima Lais tadi.
Lais masih dengan senyum menawannya. Lais masih sengaja menggantungkan ucapannya.
__ADS_1
[POV Lais]
"Cepat bicara jujur kenapa, tidak usah berbelit-belit membosankan sekali kamu mas." Momo bangkit dari sandarannya di dadaku.
Momo sangat menggemaskan saat seperti ini.
"Baiklah-baiklah aku berbicara jujur padamu sayang, aku sudah dapat semua informasi mengenai Aura ibu kandung Princess dari Arman, sayang," aku meraih tangan Momo, aku tau jika perasaan Momo saat ini pasti campur aduk jika aku membahas tentang Aura.
"Informasi apa yang kamu dapat." Momo bertanya padaku dengan suara datar, menandakan jika ia benar-benar kecewa denganku.
Aku paham dan tau jika wanita cemburu dia akan bersikap dingin seperti ini, itu yang aku tau dari Momo istriku. Tetapi jika orang lain mungkin ada yang sama atau tidak aku juga tidak tau pasti. Mungkin bisa jadi marah-marah tidak karuan jika orang yang di cintai membahas wanita lain, atau bisa jadi pura-pura kuat dan tenang.
Aku menyentuh pipi Momo dengan lembut.
"Ini menyangkut hak asuh Princess sayang, jika Princess jatuh di pelukan ibu nya aku tidak yakin ibu nya akan merawatnya dengan benar, kamu tau sendirikan ibu nya tidak peduli sejak ia lahir dan membuangnya begitu saja demi karir modelnya. Aku tidak mau Princess salah dalam pergaulan ibu nya, lagian ibu nya selain model majalah dewasa dia juga wanita penghibur sayang, aku hanya takut putriku terjerumus ke dalam lembah gelap seperti ibunya." Aku menjelaskan semua keluh kesahku berharap Momo paham dan mengerti.
Bagaimanapun Princess tetap putri kandungku, meski dia lahir karena kesalahanku dulu dan seharusnya ia lahir di rahim Momo wanita yang aku kagumi dan aku cintai sejak SMA ini.
"Iya," jawab Momo datar, haduh benar-benar marah ya dia. Apa dia tidak kasihan padaku yang hari ini ulang tahun, masak iya ulang tahun kadonya di cuekin istri sendiri.
"Sayang, kamu masih marah padaku?" aku memanyunkan bibirku sampai bisa di kuncir seperti rambut.
"Tidak!" jawabnya segera pergi dari dadaku dan ia tidur memunggungi ku, haduh... betapa sakitnya aku sekarang.
Istriku masih marah, padahal aku sudah jujur apa adannya tapi tidak mempan. Bagaimana caraku membujuknya, baru kali ini aku melihat goresan terluka di diri Momo. Aku berusaha memeluk tubuh Momo yang masih ramping.
"Kenapa, apa kamu tidak nyaman aku peluk seperti ini sayang."
Momo membalikkan badannya, "aku nyaman ko mas," ucap Momo seraya tersenyum.
"Benarkah, terimakasih sayang." Aku memeluk Momo dengan erat.
Pagi hari.
[POV Momo]
Princess sudah rapi dengan seragam sekolahnya, memang Princess masih kecil tetapi umurnya sudah masuk usia sekolah dini atau paud. Mbak Lala yang mengantarnya ke sekolah, aku tidak mengantarnya karena ia ingin sekali cepat-cepat mempunyai sang adik.
Haduh anak sama papannya sama saja, menginginkan seorang anak kecil hadir dan datang di rumah ini.
"Princess sudah selesai makannya, mau nambah lagi biar mama ambilkan sayang." Tanyaku menatap Princess. Princess hanya menggeleng saja.
Lais yang merasa aku cuekin tanpa menawarinya sangat kesal, pasti ia membatin lagi. Princess... Princess lagi, aku cemburu.
"Aku tidak di tawari ini, aku juga butuh perhatian istriku loh sarapan pagi ini." Lais menatap piringnya yang masih ada sedikit nasi yang tersisa.
"Sini aku ambilkan lagi mas," jawabku menenagkan moodnya yang secepat kilat berubah. Aku melihat raut wajah Lais berubah kegirangan sekarang, benar-benar seperti anak kecil saja.
__ADS_1
Mudah ngambek dan marah sesukanya, padahal dulu dia tidak seperti ini kelakuannya. Tegas dan dewasa makannya aku suka, ehh... ternyata setelah menikah kemanjaannya dan juga kekanak-kanakan nya terlihat jelas, apa para suami seperti ini, jika ingin di manja istri. Harus berusaha lebih anak kecil dari pada anaknya.
[POV Lais]
Aku melihat Momo memegangi perutnya, aku yakin ada yang tidak beres dengannya.
"Ada apa, perut kamu sakit lagi. Kamu harus perhatian juga pada dirimu sayang, jangan hanya ke keluargamu saja. Kamu juga harus atur pola makan, biar maagmu tidak kambuh lagi." Aku memberikan air putih.
"Terimakasih mas," Momo segera mengambil obat pereda maagnya.
"Sejak kapan kamu minum itu sayang?" tanyaku menatap botol kecil yang di tuangkan ke sendok.
"Baru hari ini mas!" jawabnya dan langsung meminum obat tersebut.
Aku sedikit tidak percaya jika itu obat maag, setauku tidak ada obat maag dengan bentuk botol seperti itu dan satu lagi kenapa ia langsung mengantongi botol kecil itu ke dalam sakunya aku harus cari tau, apa yang Momo sembunyikan dariku akhir-akhir ini.
Momo segera bersikap baik-baik saja di depan Lais sang suami, padahal perutnya masih dalam keadaan tidak nyaman.
"Kamu beneran tidak kenapa-kenapa sayang." Aku mencoba bertanya lagi namun yang aku dapati malah Momo tersenyum dan melanjutkan makannya seolah tidak mau aku tau apa yang sedang ia sembunyikan sekarang.
Haduh rasa penasaranku kian masuk ke ubun-ubun seakan mau meledak saja dari otakku. Apa sih yang di sembunyikan Momo dariku.
Setelah makan.
"Sayang aku berangkat dulu ya, hati-hati di rumah jangan lupa jaga kesehatan ya." Ku usap pipi chubby milik Momo yang masih mengembang di raut wajah cantiknya.
Aku yang sudah berada di dalam mobil yang sedang di sopiri Arman berpikir keras, apa sih botol kecil yang di sembunyikan Momo padaku. Apa salahnya sih jika cerita ke suami sendiri, haahh... penasaran jadi ngak konsen tadi mau kemana.
"Arman."
"Iya pak boss ada apa, apa mau mampir ke suatu tempat pak?" Arman menatap Lais dari pantulan spion mobil.
"Tidak, nanti kalau aku sudah dapatkan sesuatu yang membuat aku penasaran, kamu saya kasih tugas. Ohh... yang liburan yang aku berikan jadi kamu ambil tidak." Aku menawarkan liburan mewah keliling Indonesia tanpa biaya sedikitpun.
"Jadi pak boss, saya juga butuh istirahat otak dan tenaga saya pak boss," jawab Arman dengan ekspresi antara suka dan senang.
"Cihh... senang sekali liburan, aku saja yang baru menikah saja belum honey moon kamu malah mau haney moon duluan." Ucapku ketus pada Arman.
"Tapi bukannya si boss sudah belah duren dengan bu boss," Arman sengaja menyulutkan api suapaya aku keceplosan kali ini, tidak akan enak saja masak urusan ranjang di umbar kan tidak special nanti kalau berduaan dengan Momo.
"Sok tau kamu." Aku segera menatap ke arah luar jendela.
Arman yang tidak percaya jika si bossnya ini belum belah duren. Jika belum pasti di kantor uring-uringan tidak jelas, seperti dulu saat Momo belum berkerja di perusahaan. Suram dan dingin sikapnya, bahkan tidak segan-segan mengomel seperti ibu-ibu pemilik kontrakan yang meminta uang sewa bulanan.
"Arman stop, aku mau ke apotek sebentar." Aku segera keluar dari mobil setelah Arman memarkirkan kendaraan.
Aku masuk ke apotek tersebut dan mencari botol yang sama persis seperti milik Momo, namun aku tidak menemukannya sama sekali. Momo awas ya kamu, akan aku ambil paksa botol kecil yang kamu sembunyikan di kantong celana kamu tadi, berani-beraninya menyembunyikan sesuatu dariku.
__ADS_1