ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
156 S2


__ADS_3

Jangan lupa like, komen dan rate bintang lima ya.


Selamat membaca.


***


Ruang tamu.


Ksatria, Daysi dan Sindy menatap Emillia dengan tatapan mengintimidasi dan sudah dengan pakaian lengkap membawa senjata, seperti gayung, panci dan spatula juga ada. Emillia yang melihat atribut yang di kenakan keluarga Cheval ingin sekali tertawa, apa ada acara 17 Agustusan yang selalu di adakan di Indonesia yang pernah ia lihat di channel YouTube.


"Dari mana asal kamu, kenapa kamu menggangu rumah tangga putriku dengan mengirim pesan sayang sayang ke Aa suami putriku ini?" Daysi berkobar-kobar amarahnya.


"Eemm maaf tante, saya tidak bermaksud untuk mengacaukan semua ini. Tetapi saya cuma latihan untuk berbicara manis dengan calon istri saya yang berada di Indonesia!" ucap Emillia yang sebenarnya.


"Jadi, kamu menatapku seperti ada rasa itu." Cheval menyipitkan kedua matanya.


"Aa... ha... ha..., sebenarnya aku sedikit ada ketertarikan denganmu karena kamu tampan dan mempesona," jawab Emillia yang langsung mendapat pukulan ringan spatula dari Sindy di pundaknya.


Emillia mengeluh kesakitan dengan pukulan yang di berikan Sindy, spatula yang melayang di pundaknya terdengar nyaring.


"Oke... oke... aku minta maaf sebelumnya, tetapi itu hanya sesaat sebelum aku mengenal Dhela." Emillia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto Dhela di layar galerinya.


Semua orang langsung tertuju pada foto tersebut. Putri pemilik oke ikan.


"Dia wanita menyebalkan yang selalu menjelek-jelekkan istriku, buat apa kamu sukai," Cheval melipat kedua tangannya di dada dan duduk di sofa jauh dari Emillia.


"Benarkah, sepertinya tidak. Huuft... untung aku belum memiliki hubungan serius dengannya jadi aman, kenalan lebih dekat dulu saja dari pada kecewa di belakang." Emillia menghapus beberapa foto Dhela Randa.


Semua orang langsung menebah dadanya seketika saat Emillia ternyata bukan pelakor.


"Aa." Sindy langsung memeluk sang suami padahal tubuhnya ada penggorengan yang ia ikat di perutnya.

__ADS_1


"Aduh, sakit perut aku plus bagian itu," Cheval meringis menahan sakit karena Sindy memeluknya dengan terburu-buru dan lupa dengan atributnya.


"Maaf Aa." Sindy melepas pelukannya dan juga penggorengan yang ia gunakan untuk menutupi perutnya tadi, "apakah boleh peluk suamiku yang tampan ini?" Sindy menatap sang suami.


Cheval menganggukkan kepalanya, tamu yang tidak di undang tersebut tiba-tiba juga ikut berpelukan dan langsung mendapat jeweran telinga dari Daysi dan Ksatria secara bersamaan lantaran mau menggangu keromantisan sepasang suami istri lagi.


Makan malam.


Emillia hanya menatap menu yang ada di depannya, begitu sangat asing di penglihatannya. Masakan aneh untuk di cicipi.


"Apa makanan ini bisa di makan." Emillia menyentuh sayuran yang teramat asing untuknya yaitu sayur bunga pepaya.


"Bisa di makan itu rasanya sangat enak, cobalah," jawab Daysi mengambilkan untuk Emillia.


Emillia tidak bisa menolak pemberian dari mamanya Cheval yang baik dan cantik ini. Emillia langsung mencicipi masakan tersebut, ada rasa pahit sedikit di lidah namun enak untuk di nikmati.


Cheval menahan tawanya, orang asing ini sesekali di kerjain saja. Salah sendiri kenapa mengirim pesan aneh dan konyol yang hampir saja menghancurkan rumah tangganya yang harmonis.


"Sangat enak, sayang jika tidak di makan. Hitung-hitung merasakan kehidupan di Indonesia yang nikmat ini," terus melanjutkan makannya.


"Ya... iyalah gratis, kalau beli pasti tidak mau." Cheval mencibir dengan pelan.


Sindy menepuk paha Cheval agar sang suami tidak mengajaknya berdebat setidaknya besok saja berdebat nya, hemat tenaga untuk malam ini.


Usai makan malam, Emillia menginap di kediaman Malik lantaran sedari tadi Cheval sudah menyuruhnya untuk mencari hotel namun menolak dengan keras bahkan ia sampai menangis di bawah kaki Daysi.


Ksatria yang melihat adegan menyebalkan ini hanya mendengus kesal, kenapa perilakunya seperti Sacha Mahendra dulu sewaktu muda namun bedanya Sacha tidak menangis tersendu-sendu seperti Emillia.


"Anak muda yang punya banyak trik licik." Ksatria berlalu pergi.


Cheval dan Sindy berada di dalam kamar, Sindy begitu sibuk setelah makan malam tadi ada banyak tugas kuliah yang harus ia kerjakan, merangkum dan membuat makalah.

__ADS_1


"Aa bantu bagaimana, ini soal muda untuk Aa." Cheval mengambil alih laptop yang ada di depan Sindy.


"Tidak usah Aa, aku bisa mengerjakan ini. Jangan mentang-mentang Aa lulus S2 dengan cepat Aa bisa seenak nya sendiri menawarkan diri. Aku juga mau mandiri Aa dan jadi wanita karir," Sindy tidak mau sang suami ikut campur dalam tugasnya tersebut.


"Baiklah, belajar yang rajin jangan jadi pemalas." Cheval mengambil majalah dan membacanya.


Kenapa hanya ada majalah perempuan ini sangat membosankan, kemudian Cheval mencari majalah yang lain dan menemukan majalah dewasa.


"Waw...," mata Cheval yang tadinya mengantuk langsung jernih seketika dan rasa kantuk menghilang.


Sindy yang curiga dengan apa yang di baca sang suami langsung menoleh, tapi saat Sindy menatap sang suami Cheval langsung menyentuh ponselnya dan berlaga sedang menonton cartoon di channel youtube.


"Iisshh... mungkin aku yang salah lihat, masa iya sih Aa lihat majalah dewasa. Perasaan aku tidak pernah membelinya." Gumam lirih Sindy dan melanjutkan tugasnya.


Cheval yang merasa aman langsung mengambil majalah tersebut dan menikmati pemandangan yang menyejukkan mata. Cuci mata mumpung Sindy tidak tau.


Pikiran nakal Cheval berkembang biak begitu saja, melihat sesuatu yang terpampang nyata dan besar.


"Oohhh jadi sedang menikmati tubuh wanita-wanita yang sedang berpose itu dan berencana mencicipinya." Ucap lantang Sindy dengan menunjuk bibir Cheval yang terbuka lebar.


"Eehh... sayang bukan begitu, Aa sungguh-sungguh tidak ada niatan untuk mencicipi mereka, punya kamu saja sudah sangat waw," alasan Cheval dengan menciumi punggung tangan Sindy.


"Terus Aa dapat dari mana majalah itu jika bukan Aa yang membelinya, ada nomornya pula. Aa... mau memesan mereka." Menunjuk nomer telpon yang tertera di majalah tersebut.


"Aa benar-benar tidak membelinya sayang, Aa kira kamu yang membelinya lantaran tertumpuk dengan yang lainnya," menutup majalah tersebut.


"Aku tidak pernah membelinya Aa, masih baru pula." Sindy membuang majalah tersebut ke tempat sampah.


Cheval yang sedang menikmati gambar-gambar yang ada di majalah hancur sudah padahal lumayan tuh jika bisa melihat lebih lama lagi.


"Kenapa tempat sampah di lihatin terus, masih mau melihat gambar-gambar itu?" Sindy mengambil majalah tersebut. "Ini Aa dan jangan lupa pintu kamar di buka lalu Aa tidur di luar sana." Sambil menunjuk pintu kamar.

__ADS_1


Cheval yang mendapati ucapan Sindy yang seperti ini langsung membuang majalah tersebut ke segala arah, ia tidak mau tidur sendiri dan kedinginan.


__ADS_2