
Dukungannya ya, jangan lupa like, favorite, rate dan komen. Terimakasih.
***
Royal Malik.
Emillia menatap bangunan megah Royal Malik, di lihat dari segi manapun bangunan ini memang bagus dan terkesan mewah.
"Benar-benar anak orang kaya kamu Val." Emillia kembali memasukkan ponselnya.
Beberapa pesan masuk dengan keluarganya yang terus saja mencarinya dimana keberadaanya saat ini.
"Menyesal aku mengirimkan kabar pada kakak tertuaku." Emillia lebih memilih mematikan ponselnya dan enggan untuk membukanya kembali.
Suara ketukan pintu membuat Cheval terperanjat, ia terkejut karena sedari tadi dia menghayal tentang Sindy tadi malam dan kegiatannya pagi tadi.
"Iisshh menggangu orang bahagia, MASUK." Teriak Cheval dengan kesal.
Emillia yang masuk dengan wajah tertekuk membuat Cheval heran, bukannya tadi malam pendekatan, apa pendekatannya gagal total.
"Kenapa putus cinta?" Cheval merapikan berkas-berkas yang berada di mejanya.
"Bukan, sepertinya aku akan kembali ke New York dalam waktu dekat ini!" Emillia menyandarkan kepalanya di sofa.
"Cepat-cepatlah pergi, aku setuju." Cheval tidak menghiraukan Emillia yang kepalanya mau meledak seketika.
"Bukannya mencarikan solusi untukku malah memojokkan ku," Emillia memejamkan matanya. "Mana hadiah yang kamu tolak tadi malam, aku berikan saja pada Nadia?"
"Sudah robek dan aku buang ke tempat sampah tadi malam!" jawab Cheval berbohong.
Ia tidak mungkin jujur jika gara-gara lingerie sialan itu membuat ia tidak bisa menahan nafsu dan godaan dari tubuh indah dan berisi Sindy. Bahkan tadi pagi membuatnya tidak dapat menghentikan nafsunya jika mengingatnya, Cheval merutuki dirinya kenapa nafsunya terpancing lagi sekarang saat teringat tubuh istrinya.
__ADS_1
"Sial, pakai acara berdiri lagi. Tenang Cheval tenang atur nafas buang."
Emillia yang pusing tuju keliling tertidur di sofa.
1 minggu kemudian.
Yogyakarta, Malioboro pukul 04.30 waktu setempat.
Sindy sangat bahagia ia naik delman dan Cheval yang mengendalikan kudanya. Tidak menyangka sang suami multi talenta, hampir semua dia bisa dalam bidang olah raga bahkan berselancar dan bermain sky saja dia bisa. Sebab foto-foto Cheval sedang bermain di pantai sewaktu kuliah di Luar Negri ada. Sewaktu di Bali ketika masih SMP dia juga pandai berselancar.
"Kenapa sih menatapku seperti itu, ada sesuatu yang aneh di wajahku sayang?" Cheval berkonsentrasi mengendalikan kuda tersebut.
"Ada, kenapa kamu bisa semua Aa!" jawab Sindy keheranan sendiri.
Cheval hanya tersenyum dengan tampan.
"Baru sadar suamimu yang rupawan ini bisa segalanya, kamu ini ada-ada saja sayang. Aa belajar mengendalikan kuda sewaktu Aa latihan pacuan kuda yang sebenarnya Aa mau masuk lomba dulu sewaktu di sana." Cheval menghentikan kuda tersebut dan turun ke bahu jalan yang juga banyak terdapat andong.
Sang pemilik andong yang menunggu mengingatnya. Sementara Cheval yang menyewa andong tersebut langsung membayar biaya sewa.
"Ada apa, ayo kita ke Malioboro," jawab Cheval yang menggenggam erat jari jemari Sindy.
"Kamu tidak sadar Aa jika banyak orang yang menatapmu seperti itu?" Sindy berbicara tidak suka dengan orang-orang yang memperhatikan suaminya.
"Kamu cemburu sayang!" Cheval merangkul tubuh istrinya.
"Siapa bilang aku cemburu, tidak salah aku memang cemburu pada mereka, apalagi mereka cantik-cantik." Sindy mempererat pelukan sang suami.
"Biarkan saja mereka, lagian cuma kamu bidadari di dunia ini dan Surgaku," memberikan kecupan di dahi Sindy.
Seketika orang-orang yang terpesona dengan ketampanan Cheval langsung patah hati mendadak dan masal. Hah... kasihan.
__ADS_1
"Kita mau beli apa Aa, oleh-oleh saja ya Aa." Sindy sudah memilih pernak pernik dan pakaian.
Tawar menawar pun terjadi bukannya bisa memperoleh barang yang di harapkan justru Sindy mengembalikan lantaran kalah menawar dengan sang penjual. Bukannya sang penjual tidak mau melepas barang dagangnya, melainkan menawarnya seperti menawar cabai setengah ons yang saat ini seharga sekitar sepuluh ribu rupiah ini.
"Sayang jangan seperti itu, lihat itu harga sudah murah cuma dua puluh ribu rupiah kenapa kamu tawar lagi dan lagi, padahal sang penjual sudah menurunkan harga dari tiga puluh ribu ke dua puluh ribu sayang. Jadi tidak jika tidak biar orang lain yang mengambil itu." Cheval memegang kaos bertuliskan Jogja dan yang lainnya.
"Pak boleh ya lima belas ribu deh aku akan membeli banyak, lima belas biji?" Sindy masih menawar lagi.
Sang penjual tersebut melepaskannya, lagian ia tidak mau pelanggan yang membeli di lapaknya kabur lantaran harga kaos yang ia jual menurutnya kemahalan.
Usai membeli oleh-oleh Sindy masih ingin jalan-jalan menikmati indahnya malam hari Malioboro. Pemandangan di Malioboro sangat cantik ketika malam hari lampu-lampu menghiasi suasana di sekitar.
Barang-barang yang tadi di beli sudah masuk ke dalam bagasi dan jog mobil yang ia parkir kan di tempat parkir kemudian kembali lagi masuk ke Malioboro dan menikmati suasana malam.
"Aa, besok pagi ke candi Borobudur ya Aa." Sindy menyantap makanan sate ratu.
"Iya, kamu makan dulu sayang sate ratunya, baru setelah selesai kamu bicara lagi soal besok pagi mau kemana," terang Cheval yang mengambil sate tersebut.
Sate ratu berbeda dengan sate-sate ayam pada umumnya yang berbumbu kacang atau kecap, sate ratu berwarna merah dengan bumbu-bumbu yang di proses dengan penuh cinta dan menghasilkan makanan yang sangat nikmat seperti ini. Perendaman bumbunya saja sampai tiga jam lamanya, maka dari itu cita rasa sate ratu sangat nikmat dan memanjakan lidah pengunjungnya.
"Enak sekali sate ratu ini." Cheval tidak bisa berhenti menikmati sate tersebut apalagi sang istri yang sedari tadi anteng (diam) di tempat sambil menikmati sate tersebut.
Untung tadi Cheval memesan 3 porsi sate jika tidak Sindy pasti merengek ingin lagi dan lagi. Makanan yang baru saja datang tersebut langsung di sergap oleh Sindy.
"Pelan-pelan sayang tidak akan ada yang merebutnya." Cheval mengambil satu tusuk sate yang ada di depannya.
"Ini enak Aa, aku tidak mau Aa habiskan. Lihat mulut Aa sudah comot sana sini juga," menunjuk bibir Cheval.
Cheval lebih mengalah pada sang istri dari pada nanti berdebat lagi, apalagi sekarang ada di sini hanya mereka berdua tanpa keluarga Malik yang lainnya. Andai tadi pagi semua jadi ikut betapa hebohnya mereka jika ikut, yang pasti mereka akan menggangu momen keromantisan sepasang suami istri yang sedang berkencan di Yogyakarta tersebut.
Cheval ragu jika malam ini akan segera istirahat, sepertinya tidak. Tau begini tadi berangkat menyewa jasa sopir mobil dan sekarang tidak kelelahan seperti ini, ia tidak yakin jika besok pagi bisa pergi mengunjungi candi Borobudur atau yang lainnya.
__ADS_1
"Capek Aa, kita ke hotel saja yuk Aa istirahat." Ajak Sindy ke hotel.
"Ayo," Cheval melajukan mobilnya ke salah satu hotel di sekitar Malioboro.