ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
20 Sikap Daysi


__ADS_3

Ksatria mengingat-ingat orang tersebut siap kenapa serasa tidak asing dengan nama tersebut. Karena Ksatria lupa orang tersebut siapa akhirnya ia memasukkan kartu nama tersebut ke dalam dompetnya.


KKRRUUKKK..., suara perut Ksatria yang lapar. Ksatria yang melihat Okta baru saja keluar dari lift umum segera menyuruhnya untuk mendekat dengan mengisyaratkan tangannya. Okta yang melihat Ksatria mengisyaratkan tangannya untuk mendekat langsung melangkahkan kakinya ke tempat Ksatria duduk.


"Selamat pagi bapak Ksatria." Okta membungkuk dan memberikan salam.


"Suruh chef Dodi untuk membuatkan sarapan," ucap Ksatria dingin. Okta menangguk paham dan segera berpamitan ke Ksatria.


Setelah kepergian Okta sang manager hotelnya Ksatria langsung menekan ikon ponselnya untuk mencari tau siapa orang pemilik kartu nama tersebut.


Ksatria tersenyum dengan pemilik nama dalam kartu nama, Ksatria terus menggeser ikon ponselnya.


Chef Dodi yang mendapat tugas memasak langsung membuatkan menu untuk Ksatria sesuai kesukaannya selama ini. Ksatria masih mencari tau siapa orang yang menemukan kalung berliontin sementara para karyawannya semua tidak tau. Okta yang baru saja mendekat langsung memberikan informasi jika Daysi yang telah membersihkan kamar nomor 104.


"Dimana Daysi. Apa dia belum datang berkerja?" tanya Ksatria Malik saat Okta sudah kembali dan Ksatria membuka laptopnya dan berusaha mencari di balik CCTV yang terpasang di seluruh penjuru hotelnya.


"Hari ini Daysi libur pak!" jawab Okta sedikit gerogi.


Ksatria merasa tidak asing dengan postur tubuh yang ada di kamera CCTV. Seperti orang yang ia kenali walaupun mengenakan masker penutup mulut dan hidung.


Setelah makanan pagi Ksatria datang ia menutup laptopnya dan mengisi perutnya terlebih dahulu sebelum mencari informasi lagi.


Riri yang sedari tadi mendengar pembicaraan CEO Ksatria Malik dan salah satu pelangan yang ada di hotel ini. Tiba-tiba ia teringat waktu dirinya sengaja menyenggol tubuh Daysi. Seklebatan ingatan muncul di pikiran Riri.

__ADS_1


"Bukannya Daysi waktu itu memegang kalung berliontin dan memasukannya ke kantong celanannya? pasti dia mencuri kalung itu. Nahhh kesempatan bagus untuk membuat Daysi di pecat dari sini." Riri bergegas berjalan menemui wakil manager yaitu Vivi.


Vivi yang baru saja berbicara dengan Riri terkejut jika Daysi mengambil kalung berliontin tersrbut. Vivi segera menemui Ksatria Malik yang baru saja selesai sarapan pagi.


"Ksatria, aku ada informasi mengejutkan." Vivi duduk di sebrang Ksatria.


"Informasi apa?" Ksatria membuka laptopnya.


"Tadi salah satu cleaning servic di hotel ini berbicara jika Daysi mengambil dan menyimpan kalung berliontin tersebut. Kata temannya tadi Daysi sengaja mengambil karena ingin memiliki kalung tersebut. Dan bahkan temannya berbicara dengan baik untuk mengingatkan mengembalikan kalung tersebut, namun oleh Daysi di balas dengan kasar bahkan Daysi menamparnya sampai terjatuh dan di saat itu banyak orang berlalu lalang!" Vivi menyampaikan sesuai yang di katakan Riri.


Riri yang berada tidak jauh dari percakapan Ksatria dan Vivi tersenyum penuh kemenangan.


"YYEESS...," dalam hati Riri bersorak gembira.


Ksatria Malik berpikir keras, waktu melihat CCTV memang ia menampar temannya karena ia di tampar lebih dulu. Tetapi tentang kalung itu Ksatria Malik melihat Daysi memegang sesuatu.


"Iya, aku yakin pasti Daysi mencurinya. Dia kan tidak memiliki apa-apa dan dia kan karyawan baru, pasti saat mendaftar di hotel ini dia mengeluarkan kemampuannya merayu manager hotel ini." Ucap salah satu teman seprofesinya yang tidak menyukai kehadiran Daysi di tempat ini.


Sementara teman perempuan Daysi satu-satunya telah mengundurkan diri karena berpindah provinsi. Abang sebagai sahabat dekat Daysi serasa tidak percaya jika Daysi mencuri kalung berliontin tersebut, pasalnya selama ini ia selali jujur. Apalagi waktu kemarin Abang mengantarkan Daysi pulang diam-diam, melihat Daysi memasuki rumah mewah bak Istana Merdeka serasa tidak mungkin ia mencuri perhiasan tersebut.


Kediaman Ksatria Malik.


Daysi tengah asik menikmati masa liburnya tiba-tiba terkejut saat ada tangan yang menariknya masuk ke dalam ruangan. Ruangan bergaya khusus seperti ruang persidangan saja. Jantung Daysi berdegup kencang saat mendapati tatapan maut Ksatria Malik.

__ADS_1


Daysi hanya menundukkan kepala betapa gerogi dan takut saat ini, seperti seorang pencuri yang terdakwa.


"Kamu kemarin membersihkan ruangan 104 di hotel?" Ksatria menautkan kedua tangan dan jarinya sebagai tumpuan kepalanya.


Daysi yang berdiri di depan Ksatria Malik langsung menatapnya. Tatapan tajam Ksatria masih menyorot.


Daysi tersenyum. "Iya betul aku mengambil dan menyimpannya, kemarin aku mau menitipkan ke meja resepsionis tapi aku tidak percaya dengan mereka karena mereka selalu menjauhiku saat aku bertanya!" Daysi berusaha tenang saat menjelaskan.


"Benarkah, tetapi aku tidak percaya. Bukannya kamu butuh uang, makanya kamu berkerja dan tidak menggunakan 1 rupiah pun kartu yang aku berikan, bukankah itu terlihat jelas jika kamu sangat butuh uang Nona sok polos?" Ksatria Malik mengucapkan kata-kata yang teramat kejam di dengar oleh indra pendengar.


Sekuat tenaga Daysi menguatkan hati dan air matanya agar tidak jatuh. "Sabar Daysi, bukannya dari dulu sampai sekarang kamu di hina terus. Maka tunjukkan kekuatanmu yang sesungguhnya." Dalam batin Daysi.


"Memang benar saya orang yang pandai bersikap polos, jadi saya akan menujukkan seberapa polosnya ucapanku. Apakah anda tau alasan saya menyimpan kalung berliontin tersebut pasti anda tidak tau kan alasannya, dan saya berencana langsung mengembalikannya kepada sang pemilik kalung tersebut, jika tidak ada keperluan lagi saya permisi Tuan arogan," Daysi membungkukkan tubuhnya dan langsung membuka pintu dengan sekali dorong.


Ksatria Malik terkejut dengan ucapan sebegitu formalnya Daysi. Dengan ketegasan dan kekuatan hatinya yang sebenarnya sangat rapuh.


"Memang wanita unik. Apa dia tidak pernah menangis, ucapanku barusan tadi sebegitu kejamnya kenapa ia bertahan dan malah menjawab dengan tegas dan cerdas. Aisshhh... megagumkan." Ksatria tersenyum dan bergegas berdiri dari tempat duduknya dan keluar untuk mencari udara segar.


Ksatria Malik setiap hari pasti akan beristirahat di gasebo kediamannya. Dengan camilan dan jus buah kesukaannya.


Daysi yang sedang asik menyentuh tanaman-tanaman yang mengelilingi kediaman Ksatria Malik tidak sengaja melihat Ksatria tengah menyenderkan tubuhnya sambil memejamkan matanya.


"Walau pun tampan tapi kelakuannya seperti itu, aduhhh sungguh buta mata orang yang mencintainya. Relli Relli kamu segitu baiknya mengapa memiliki Kakak yang begitu arogan dan semena-mena ucapannya." Gerutu Daysi dalam hati dan segera pergi dari tempat tersebut.

__ADS_1


Ksatria Malik mengosok-gosok hidungnya karena sangat gatal dan seperti digelitikki.


"HHAACCHING... HAACINGG..., hah... leganya setelah bersin." Ksatria tersenyum setelah berhasil bersin.


__ADS_2