ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
213. Menikah


__ADS_3

Lais mencoba menghubungi Momo dan mengajak ia ketemuan di tapi tidak ada jawaban dari Momo, berhari-hari Momo memblokir nomor Lais. Ia tidak mau di ganggu untuk sementara waktu dan yang menentukan hanya Momo. Setiap hari Lais berkunjung namun Momo tetap tidak ada, Momo pergi keluar tanpa memberi tau kemana tujuannya. Ingin sekali Lais menyuruh seseorang untuk membantu mencari Momo, tapi jika sampai Momo tau. Yang pasti Momo tambah enggan untuk bertemu dan bicara dengan Lais lagi.


"Salahkah aku jika aku masih kecewa, tunggu sebentar lagi Lais, beri aku waktu." Momo mengirimkan pesan singkat pada Lais dan segera mematikan ponselnya lagi setelah pesan terkirim.


1 minggu kemudian.


Sudah satu minggu aku tidak melihat Momo di rumahnya maupun tempat biasa yang ia tempati untuk bersantai, bahkan di taman juga tidak ada. Aku mencari dia, apa dia sudah mau menerima dan memaafkan aku.


"Apa kamu mengurung diri di rumah Momo, coba aku kesana saja di hubungi juga tidak bisa." Segera aku melajukan mobilku ke rumah Momo.


Aku bertanya pada satpam apakah Momo ada di rumah dan satpam bilang Momo sedang berada di danau untuk menenagkan pikirannya, aku segera menyusul Momo. Aku berharap Momo dapat menerima dan memaafkan aku yang tidak sempurna ini.


Danau buatan.


Aku menatap ada seorang perempuan bersandar di bawah pohon besar dan melamun menatap jernihnya air danau. Betapa cantiknya wajah natural dan polos Momo yang kian terpancar dengan senyumnya yang manis seperti gulali yang sering kita makan berdua dulu. Aku berjalan mendekati sang pujaan hati dengan berjalan hati-hati, takut ia kabur dan tidak dapat aku tangkap lagi.


"Apa pemandangan disini sangat indah, sehingga kamu bahagia di sini?" tanyaku menatap Momo yang hanya tersenyum dan tidak menatapku, ya dia tersenyum menatap sepasang burung yang sedang berterbangan saling melengkapi.


"Iya, saking indahnya aku terlena, seperti kamu diam-diam menghanyutkan!" Momo mengalihkan padangan nya menatap diriku seraya tersenyum padaku.


"Gombalan kamu basi Momo, naik apa kamu kesini? Kenapa aku tidak melihat kendaraan milikmu?" Tanyaku dan duduk di samping Momo.


"Tadi pesan taxi, aku tau kamu pasti mencari dan menyusul ku kesini," Momo berucap dengan iringan senyum dengan percaya diri seakan aku datang dan mencarinya, tapi tidak dapat di pungkiri, aku selalu mencari tau keberadaannya dan mengawasi rumahnya saat aku istirahat jam siang dan pulang berkerja.


"Momo." Sambil ku uluran tanganku padanya.


"Iya, ada apa Lais," Momo menyambut uluran tanganku.


"Ayo pulang, ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu." Ucapku meraih tangan Momo dan menggenggamnya dengan erat.


Kediaman Erdana Khan.


Momo menatap dengan heran kenapa kediaman ini ramai orang apa ada acara, atau jangan-jangan Lais benar-benar akan bertunangan dengan ibunya Princess.


"Momo."


"Iya, kenapa Lais,"


Lais berlutut di depan Momo.


"Aku ingin menikahi mu Momo, maukah kamu menjadi istriku satu-satunya." Lais memberikan sebuah cincin pada Momo yang sudah ia kantongi di saku celananya sedari tadi waktu ia berangkat mencari Momo.


Momo terharu, dia berpikir jika Lais tadi akan melamar ibu kandungnya Princess ternyata tidak justru dirinyalah yang di lamar.


"Iya," malu-malu Momo menjawabnya.


Semua orang langsung bersorak gembira. Tiba-tiba keluarga Malik datang dan membawa penghulu juga.


Momo yang masih terkejut hanya menatap haru.


"Lais, apa ini?" Momo bertanya padaku.


"Kita akan menikah sekarang sayang!" jawabku tersenyum.

__ADS_1


Setelah acara ijab qabul dadakan, aku dan Momo sekarang sudah resmi menikah secara agama dan negara. Memang aku sudah mengurusnya kemarin saat aku dan Momo belum ke Rumah Sakit untuk pengecekan apakah aku papa kandung Princess dan ternyata iya.


Dan aku beruntung mencintai Momo yang masih mau menerima aku yang sudah berbuat jelek di masa lalu.


Semoga ini awal yang bagus untuk kita berdua kedepannya, semoga Aura tidak menggangu rumah tangga ini dan sekuat tenaga aku akan berusaha merebut hak asuh Princess. Hanya aku yang berhak karena sedari dia lahir aku yang merawat dan membesarkannya.


Usai pernikahan sederhana tanpa resepsi kini Lais dan Momo hanya duduk termenung di dalam kamar tanpa berbicara sedikitpun. Suasana sangat canggung dan garing.


[POV Momo]


"Lais, bagaimana jika kita tidak bisa bersama lagi esok." Aku bertanya pada Lais, apa kira-kira tanggapannya.


Aku melihat Lais terkejut dengan ucapan ku barusan, baru juga menikah beberapa jam yang lalu kini aku berucap seolah-olah akan pergi meninggalkan dia dan tidak mencintai dia.


"Apa maksud kamu sayang, jangan berucap seperti itu. Kita baru saja menikah dan ini malam pertama kita, seharusnya kita lakukan dengan hal-hal untuk masa depan kita. Aku tidak mau hal buruk menggangu pikiranmu." Lais mulai tidak bisa mengontrol dirinya.


Dia menciumi seluruh wajahku dengan rakus, tanpa ada yang tertinggal. Aku cukup risih dengan ciuman yang seperti ini. Lais memberiku tanda di bagian leher dan tangan nakalnya mulai kemana-mana. Aku pasrah berada di bawah kungkungannya saat ini. Aku merelakan mahkotaku untuk suamiku tercinta, meski aku tau jika suatu saat nanti tidak akan sama seperti layaknya pengantin baru.


Lais begitu lihai dalam permainannya dan aku hanya kualahan menghadapi nafsu besarnya ini.


"Apa kamu mau lagi?" tanya Lais padaku dengan sedikit mendesah, aku tau dia yang menginginkannya karena tubuh kami masih menyatu.


Aku diam atas perilaku Lais yang sangat lembut padaku.


Keesokan harinya.


Aku yang baru bangun tidur karena lelah habis melayani nafsu suamiku, aku menatap ranjang sebelahku. Dia tidak ada di ranjang ini lantas dia kemana, aku buka selimut yang aku gunakan dan ternyata ada bercak darah di spray berwarna biru muda ini.


"Berhenti sayang, ini makan dulu aku tidak mau kondisi badanmu memburuk." Ucap Lais tersenyum jahil, aku tau pasti dia berpikir mesum satu kali di beri pasti akan memintanya lagi dan lagi nanti.


"Iya, terimakasih eemm... Lais atau sayang atau boss ngeselin," ucapku mendongakkan kepalaku menatap Lais yang masih berdiri di sampingku.


"Terserah yang penting bukan om atau aki-aki saja aku tidak apa-apa."


"Benarkah, kalau begitu aku panggil paman saja bagaimana sesuai dengan kamu yang berpenampilan seperti ini, brewokan dan plus punya satu anak, paman saja ya," aku menaikkan kedua alisku.


"Ohh... mau panggil paman, aku hukum kamu." Lais langsung merebut piringku dan meletakkan di meja sebelah ranjang.


Benar-benar gila dan nafsuan, baru saja aku selesai mandi kini aku di habisi Lais di atas ranjang.


"Panggil aku paman lagi, nanti kamu aku beri hukuman yang sama tetapi tidak satu ronde bisa jadi 2 sampai 3 ronde." Lais mengancamku dan mencium bibirku dengan penuh tekanan.


"Tidak, aku janji tidak akan memanggilmu dengan sebutan itu, percayalah," aku berusaha menenagkan suasana hati Lais biar tidak berkobar lagi marahnya, bisa-bisa aku kesulitan berjalan dengan benar nanti.


"Bagus, jadilah anak baik aku suka. Ayo habiskan makanan kamu setelah itu aku mau ke kantor ada beberapa pekerjaan yang harus segera di selesaikan."


"Apa harus berkerja hari ini, apa tidak bisa besok kita baru saja menikah Lais?" aku menghentikan kegiatanku memakan makanan yang di bawakan oleh Lais.


"Tidak bisa sayang, kamu tenang saja ya. Dan jangan lupa jaga kesehatan." Lais membelai surai rambutku.


Yah seperti inilah jika punya suami yang super sibuk, tiada hari tanpa berkerja. Time is money. Jadi aku harus memahami posisi suamiku dan berusaha membahagiakannya ketika ia pulang dari kantor agar para pelakor mampus sendiri.


Aku segera menghampiri Princess yang sekarang menjadi putri kecilku, aku bahagia melihat Princess tersenyum padaku dan memanggilku mama.

__ADS_1


"Sayang, sudah makan nak." Ucapku mengendong tubuh mungilnya di lenganku.


"Belum mama, Princess lapar mama," jawab Princess tersenyum sambil mencium pipiku dengan manja.


Seperti ini kelakuan Princess padaku, makannya Lais sering ngambek saat aku bersama Princess berlebihan.


Suara deringan ponsel terdengar nyaring di dalam kantong celana Momo, terlihat ada telpon masuk dan nomor tidak di kenal sama sekali.


TTRRINGG...


Pesan masuk dan Momo segera melihat siapa yang mengirim pesan padanya dan ternyata Lais dengan seorang wanita di dalam kantor lebih tepatnya ruang pribadinya yang Momo saja belum pernah di ajak masuk. Kemudian video masuk ke dalam email yang aku terima, aku penasaran dan aku buka video tersebut.


Pikiran buruk merasuki Momo bahkan berkelana kemana-mana. Siapa wanita beruntung itu yang bisa masuk ruangan Lais bahkan wanita itu merangkul lengan Lais dengan manja. Tapi sayangnya wajahnya tidak terlihat.


"Apa seperti ini kelakuan kamu di luaran sana Lais, baru kemarin kamu menikahi ku mendadak dan baru semalam aku menyerahkan mahkotaku padamu, tetapi ini balasannya Lais. Jadi pekerjaan pentingmu hari ini hanya untuk ini, untuk kesenanganmu saja." Momo menahan sekuat tenaga air matanya yang akan terjatuh.


Lala yang menyadari kesedihan Momo langsung mengambil alih Princess.


"Mbak Momo, jika mbak mau menenagkan diri saya siap menjaga Princess mbak." Ucap Lala pada Momo.


"Mbak Lala terimakasih ya," ucap Momo menaiki anak tangga dengan tidak berdaya.


"Apakah aku hanya di manfaatkan saja, setelah berhasil mengambil kesucian ku, aku di buang begitu saja. Aku segera mengusap air mataku yang terus jatuh berderai. Jika memang ini takdirku aku terima, meski hati ini akan terluka karena cinta. Mungkin orang lain akan mengatakan aku wanita terbodo* yang rela melihat suami dengan wanita lain demi kebahagiaan suaminya."


"Sayang." Ucap Lais yang terburu-buru memeluk Momo dari belakang.


Hembusan nafasnya sangat terasa di leher jenjang Momo, sedikit geli. Momo tidak berani menatap wajah suaminya, rasa takut kehilangan begitu menghantui pikirannya.


"Sayang, jawab aku kenapa kamu diam saja." Lais terus menanyai hal yang sama. Momo terdiam seribu bahasa berusaha terlihat tidak terjadi apa-apa, hatinya sungguh sakit sekali sekarang.


Aku mencoba melepas pelukan Lais namun sia-sia aku tidak mampu melepas pelukannya karena tenagaku habis untuk aku menangis tadi. Aku coba menahan air mataku tetapi ternyata jatuh juga. Momo berusaha menguatkan hatinya lagi.


"Ada apa denganmu Momo, kenapa kamu menangis. Aku ada salah apa hem... tadi jika Lala tidak menelpon ku aku juga tidak tau sekarang kamu seperti ini." Lais memutarkan badan Momo untuk melihat seperti apa raut wajah istrinya yang sudah sembab oleh air mata.


Lais mengajak Momo untuk duduk di sofa. Hanya ada kebisuan di antara mereka berdua, Momo masih tidak sanggup berbicara hatinya sakit berdenyut ngilu.


"Siapa dia, apa dia ibu kandung Princess Lais?" Momo mulai memberanikan diri bertanya meski nanti resikonya dia yang akan terluka, tetapi jika Momo tidak bertanya bukannya kisah ini akan bertele-tele dan berlanjut lama kesalah pahaman ini.


"Kamu kenapa berbicara seperti itu, kenapa aku merasa ada yang aneh dengan pertanyaan kamu!" jawab Lais kebingungan sendiri.


Lais meraih ponsel yang ada di genggaman Momo dan melihat apa yang terjadi. Seulas senyum terukir manis di wajah Lais.


Kenapa dia tersenyum seperti itu, apa segitu menariknya vidio dan foto dia dengan seorang wanita, dasar playboy cap tengil.


"Kamu cemburu sama dia, dia memang ibunya Princess sayang. Tetapi buat apa kamu cemburu lagian aku tidak mencintainya sayang dari dulu sampai sekarang, wanita yang aku cintai hanya kamu seorang." Lais menggenggam erat tangan Momo dan berusaha meyakinkannya lagi.


Benar-benar membuat Momo langsung luluh dengan ucapannya.


"Benarkah kamu mencintaiku, tetapi kenapa kamu mau di peluk dia di sentuh dia seperti itu. Bahkan dia dengan bebas masuk ke dalam ruang kerja kamu, padahal selama aku berkerja di perusahaan mu tidak ada yang boleh masuk, bahkan aku saja tidak kamu izinkan. Tetapi kenapa dia kamu izinkan?" Momo sangat penasaran dengan jawabannya, kira-kira dia mau beralasan apalagi sekarang.


Sudah ketahuan tidak mau mengaku lagi. Aku di buat sangat-sangat sebal sekali dengan sikap Lais yang seperti ini, kenapa dia sangat santai dan tidak menjelaskannya padaku secara detail.


Apa seperti ini sikap bos yang berkuasa, tidak peduli perasaan orang yang tertindas dan terkena tekanan lahir batin.

__ADS_1


__ADS_2