ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
S3. 11


__ADS_3

"Ma rasanya ko beda, enak ma susunya." Tapi yang di tatap bukan susu yang ia minum tapi milik tubuh Daysi.


Daysi segera membalikkan badan dan tidak mempertontonkan pada Ksatria meski ia suaminya.


"Sudah tua bicaranya ngelantur lagi, dasar mata keranjang," mengomel tapi tersenyum-senyum.


Daysi memang suka sekali di goda suaminya, meski sudah tua ketampanan Ksatria Malik tetap ada bahkan semakin menggoda mungkin gara-gara rajin olah raga dan menjaga tubuhnya, meski tidak sebagus dulu sih waktu anak-anak masih kecil semua.


"Tua-tua begini yang penting jiwa masih muda umur dua puluh tahun loh Ma, apa mau lihat jika Papa masih muda dan selalu semangat." Nih yang selalu di hawatirkan Daysi.


"Terserah Papa deh, percaya juga jika masih muda," Daysi beranjak pergi dan membiarkan Ksatria menjemur Dilan pagi ini bersamaan dengan si kembar untuk terakhir di rumah ini.


Ksatria menatap cucu kembarnya.


"Hay ... cucu-cucu grandpa." Ksatria gemas dengan mereka, ia mengendong di kembar secara bergantian dan menciuminya, andai cucu kembar sudah besar umur 1 atau 2 tahunan pasti bertambah lucu dan enak di habiskan kedua pipinya dengan ciuman, kalau sekarang rasanya tidak tega menciuminya sampai menangis.


"Hay juga Grandpa," Momo menjawab dengan nada suara lucu dan menggemaskan.


"Kamu yakin Mo, mau pulang. Papa hawatir jika kamu--." Ksatria tidak enak hati membicarakannya.


Apalagi pernikahan Momo dan Lais sejak awal memang selalu ada masalah, bahkan beberapa kali Momo pulang ke rumah sebab perilaku Lais yang menurut Ksatria sangat plin plan sebagai laki-laki. Seharusnya jika sudah memiliki istri apalagi anak harus lebih dewasa dalam berpikir serta bertindak, kasian anak yang jadi korbannya.


Momo menghentikan Ksatria berbicara.


"Pa, minta doanya saja ya Pa," memeluk Ksatria.


"Papa akan selalu mendoakan kamu nak." Sambil mengusap punggung Momo.


Momo terharu dengan sikap Ksatria, ia seorang papa yang mampu melindungi keluarganya dan patut menjadi contoh.


"Mama gak di ajak pelukan nih." Daysi tersenyum dan mendekati suami dan keponakannya.


Momo merentangkan tangannya dan Daysi langsung memeluknya.


Usai berpelukan penuh air mata, Daysi masuk ke dalam kamar Sindy tapi tidak menemukan Sindy di manapun, kemana dia jam segini tidak bilang dulu mau keluar.


"Sindy ... Sindy ... kamu dimana nak?" Daysi mengetuk kamar mandi namun tidak ada suara yang menyahut dari dalam kamar mandi.


Sindy sedang berada di ruang musik, tepat di lantai paling atas dulu di gunakan untuk helikopter namun di rubah oleh Sindy jadi ruang musik dan tempatnya berlatih menari balet dan salsa serta tarian lainnya yang ia sukai dadakan kala itu.


Alunan piano yang lembut dan menyayat hati terdengar saat menaiki anak tangga bagian atas, Daysi berjalan pelan-pelan sambil melihat siapa yang berada di atas, sepertinya Sindy yang sedang bermain piano.


Wajah Sindy jika banyak orang akan ceria dan selalu menampilkan wajah galak dan kuatnya, namun saat ia sendiri tidak ada orang wajah sedih dan kesepian yang ada seperti alunan piano yang ia mainkan. Sadness and Sorrow alunan musik piano yang ada di salah satu anime Jepang yang juga terkenal di Indonesia.


Air mata Daysi tidak dapat di tahan lagi, ia sedih dan terluka saat mendengar alunan setiap nada yang ada melalui tangan-tangan lentik Sindy dan Daysi mendengarkannya sampai selesai barulah ia masuk ke dalam ruangan itu.


"Ma." Panggil Sindy yang mengejutkan Daysi.


"Eh iya Sindy, Mama terhanyut dengan alunan musik yang kamu mainkan sampai-sampai mama tidak dengar kamu panggil," tersadar dari lamunannya.


"Sejak kapan Mama disini?" Sindy menatap curiga jika Mamanya sudah di depan pintu dari tadi.


"Barusan ko, oh ya kamu nanti ikut tidak ke rumah Momo." Daysi berjalan beriringan menuruni anak tangga bersama Sindy.


"Boleh Ma, lagian suntuk di rumah terus setiap hari gak boleh kerja juga sama Aa," Sindy mengeluh.


"Gak boleh mengeluh sayang, apa yang di bilang Aa itu ada benarnya Sindy. Itu semua demi kebaikan dan kesehatan kamu sendiri, jika kamu sakit kan kasian Inre sayang." Daysi mengusap pelan pundak Sindy.


"Iya ma," sambil tersenyum.


Sindy memang tidak pandai berbohong tapi soal yang satu ini dia pandai berlaga di depan orang yaitu senyum palsu yang ia tampilkan, sedih pasti apalagi jika mengingat-ingat bayi yang belum sempat ia peluk gendong dan susui.


Siang menjelang sore.


Inre menangis saat melihat barang-barang milik Princess di kemas dan masuk ke dalam bagasi mobil.


"Hua ... gak boleh pulang gak boleh, Princess gak boleh pulang." Inre menangis keras.


Sindy kualahan menangani tangisan Inre yang sulit untuk di bujuk, Cheval yang biasanya menenagkan putri kecilnya ketika menangis.


"Inre, ingat pesan Papa. Jangan menangis lagi nanti teman-teman Inre takut." Sindy terpaksa bicara seperti ini supaya Inre diam dan tidak menangis lagi, sebab sudah banyak akal untuk menghentikan tangisan Inre percuma dari mainan bahkan di tawari jalan-jalan ke mall juga tidak mau atau bermain di taman kota juga tidak mau.

__ADS_1


"Benarkah Inre tidak akan punya teman jika menangis terus?" akhirnya diam juga.


Sindy mengangguk kepala.


"Maka dari itu Inre, putri Mama dan papa yang cantik jadi jangan menangis lagi supaya Inre cepat tumbuh besar kalau menangis lagi Inre gak akan besar-besar dan tidak bisa membantu orang-orang yang Inre sayangi seperti Papa Mama Grandpa dan Grandma, ayo masuk satu mobil dengan Princess!" Sindy mengendong putrinya, tubuhnya yang berisi membuat Sindy kualahan sekali.


"Siap Mama." Inre masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Princess.


"Inre, kamu menangis ya?" ledek Princess sambil menunjuk wajah Inre yang masih merah dan sembab.


"Tidak, kata Mama kalau menangis nanti teman-teman menjauh dan Inre gak jadi tumbuh besar dan tidak bisa membantu orang-orang yang Inre sayang!" nada lucu Inre berbicara, sungguh menggemaskan sekali.


Princess memberikan 2 jempolnya pada Inre.


"Semangat Inre, semangat jadi tumbuh besar." Pembicaraan anak-anak yang terkadang sulit di ungkapkan apa yang ia dengar itu yang ia ucapkan, jadi sebagai orang tua atau lebih besar dan dewasa darinya baik-baik berbicara pada anak kecil yang polos.


"Iya pastinya," tersenyum lebar.


Lalu mereka berdua bermain bersama dengan menggunakan ponsel pintar yang ia pegang jaman sekarang semua anak kecil pasti tau cara memainkan ponsel miliknya sendiri tapi tetap harus di jaga dan di perhatikan permainan apa saja yang di mainkan dan pembatasan waktu bermain ponsel selain itu main di luar rumah juga bagus untuk perkembangan anak-anak.


Sindy tidak satu mobil dengan Momo dan Lais ia tidak mau mengganggu keromantisannya lebih baik satu mobil dengan anak-anak dan juga Mama Papa, dari pada iri melihat kemesraan orang lain yang ada di dekatnya. Sekitar 4 mobil yang keluar dari Kediaman Malik hanya untuk mengantar Momo dan Lais pulang, bukannya berlebihan tapi barang-barang yang di bawa tidak sedikit bahkan ada satu tambahan lagi yaitu truk untuk mengangkut barang-barang.


Tring.


Sindy menatap ponselnya ada yang mengirimkan pesan singkat ia kira dari suaminya tapi ternyata dari Nadia temannya juga.


πŸ’¬ Maaf gak bisa bantu, mendadak sihπŸ₯ΊπŸ™


πŸ’¬ Tidak apa-apa mbak, batu doa saja semoga selamat sampai tujuan😊 perjalanan jauh ini🀣


πŸ’¬ Seperti jaraknya puluhan kilo saja, gak ada 30 menit sudah sampaiπŸ˜‚ bercanda Sindy. Aku doakan semoga sampai di tujuan dengan selamat, oh ya nanti acara 3 bulanan aku kamu datang ya ajak semua orang


πŸ’¬ Ceritanya ngasih kabar mau ada acara nih


πŸ’¬ Iya, sengaja biar gak bingung gitu mau ngundang kalian


πŸ’¬ Terus terang sekali kamu mbak


πŸ’¬ A ... ha ... ha ..., kelihatan banget ya lagi butuh tenaga ekstra gratis🀣🀣🀣


πŸ’¬ Ya sudah hati-hati di jalan, oke


πŸ’¬ Mbak salah info nih, harusnya kirim pesan ke pak sopir bukan aku sebab yang mengendarai dia bukan aku


Nadia tertawa renyah, bagaimana bisa ada orang sekonyol ini. Emillia ikut tersenyum sebab sedari tadi ia melihat percakapan singkat di ponsel Nadia.


πŸ’¬ 🀣🀣🀣🀣 aku gak bisa berkata apa-apa lagi Sindy, sudah dulu ya my husband manja😊


πŸ’¬ Oke mbak


Sindy menutup ponselnya tapi belum sempat ia masukkan ke dalam tas suara deringan panggilan masuk dari Cheval.


πŸ“ž Dimana sayang? katanya mengantar Momo


πŸ“ž Iya Aa, sudah dulu ya Aa nanti sampai di sana baru telpon lagi


πŸ“ž Kayaknya sudah sampai deh, kedengeran tuh gerbangnya di buka (seperti telinga banyak di mana-mana)


πŸ“ž E ... he ... he ... sudah sampai ternyata, saking asiknya sih tadi saling balas pesan dengan mbak Nadia


πŸ“ž Iya, Aa lanjut kerja ya sayang jangan lupa makan dan jaga kesehatan dan satu lagi jangan lupa Inre


πŸ“ž Iya Aa, Assalamualaikum Aa


πŸ“ž Waalaikumsalam sayang


Cheval menutup telpon dan melanjutkan pekerjaannya yang menumpuk setinggi gunung.


Acara bebenahnya sudah selesai tanpa harus mengeluarkan keringat berlebihan sebab semua sudah dilakukan oleh pembantu rumah tanpa satupun majikan menyentuh kecuali barang-barang tertentu.


"Minum dulu sayang." Lais memberikan air putih pada Momo, Momo memang terlihat kelelahan saat menyusui si kembar bergantian.

__ADS_1


Sindy jadi ikut-ikutan di buat baper oleh tingkah mereka berdua yang romantisnya gak ketulungan untuk sekarang ini tapi entah beberapa menit atau jam lagi pasti mereka tidak akur lagi, benar-benar seperti tom and Jerry satu rumah tapi bertengkar terus.


"Ro ... man ... tis." Secara bersamaan Sindy, Daysi dan Ksatria berucap.


Lais dan Momo tertawa bagaimana bisa mereka satu keluarga sekompak itu dalam berucap.


Kediaman Filan.


Nisa sedang menanti Daylon datang dengan gembira harap-harap ia tidak datang telat, Filan yang baru pulang dari Rumah Sakit mencium aroma parfum yang teramat ia kenali.


"Mau pergi kencan?" ketusnya bertanya.


"Iya!" jawab datar Nisa, lagi pula perasaannya pada Filan mendadak sirna begitu saja semenjak bertemu dengan Daylon yang jauh lebih tampan, sempurna dan yang paling penting tulus yang ia tunjukkan bukan abal-abal apalagi barang palsu tidak ada sama sekali.


"Hati-hati jaga tubuh, meski dia calon suami kamu." Mengingatkan lalu beranjak pergi.


Filan dari dulu memang seperti ini dingin pada siapapun jika ia tidak suka meski hidup dalam satu rumah sekalipun.


Daylon sedang berada di perjalanan untuk menjemput sang calon istri, di perkirakan sekitar 1 bulan lagi mereka akan menikah bukan karena terpaksa atau terjadi kecelakaan tapi untuk menghindarkan dari sesuatu yang bukan-bukan kedepannya.


Sesampainya di depan rumah Filan ia tanpa sengaja melihat Filan yang berada di balkon sepertinya kamarnya tapi iya tidaknya Daylon tidak tau dan gak ingin tanya juga meski Filan akan menjadi kakak ipar angkatnya, Daylon sudah tau jika Nisa anak angkat sebab Nisa berbicara jujur namun ia memohon agar keluarganya tidak di beri tau hal ini biarkan ini menjadi urusan pribadi.


"Nisa sayang." Panggilnya sambil menghampiri Nisa yang sudah stay sedari tadi.


"Kak Day," memeluk erat tubuh Daylon.


Daylon sengaja memeluk calon istrinya bukan sengaja tapi mencari kesempatan dalam kesempitan, ia tiba-tiba punya ide untuk memberi tau Filan jika Nisa adalah miliknya ia tidak berhak mengatur segala urusan yang ingin Nisa lakukan.


Cup


Filan mengerutkan dahinya.


"Dasar adik ipar Dajjal." Ia mencibir pelan Daylon tapi tetap melihat adegan ++ itu, baginya sudah biasa melihat adegan yang familiar seperti ini.


Nisa memundurkan kepalanya.


"Jangan di lanjutkan Kak, belum resmi." Menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Baik ... baik ...," mengacak-acak rambut Nisa.


Daylon dan Nisa pergi ke salah satu butik ternama sesuai dengan rencana yang sudah di susun kemarin secara dadakan juga bahkan pemilik butik sempat mengira jika Nisa sudah berbadan dua, kenapa pesan gaun pengantin dadakan sekali. Tapi setelah tau jika mereka ingin segera halal langsung di buatkan sesuai pesanan dan tentunya pengeluaran uang tidak sedikit.


Ketika di butik.


"Bagus ya Kak." Menunjukkan salah satu foto yang ada di album foto untuk prewedding.


"Iya, mau seperti ini?" menawarkan Nisa untuk foto seperti yang barusan Nisa tunjuk spontan.


"Boleh kak, tapi tunggu sebentar sepertinya yang lainnya juga banyak nih kak!" membolak-balik kan halaman.


Daylon bukannya fokus pada album-album foto justru ia sedari tadi menatap wajah cantik Nisa, ia memang kagum padanya sejak pertama bertemu entah sihir apa yang di pakai Nisa yang jelas ia nyaman dan tidak ingin kehilangan dia.


"Kak, gimana? yang ini atau-- itu--." Melambai-lambaikan tangannya namun tidak di respon Daylon. Nisa mendengus kesal saat ia bicara namun di abaikan, kacang mahal.


"Kak Day," Nisa mencubit pelan lengan Daylon yang sedikit ada bulunya.


"Aw ... ssttt ... sakit Nisa." Mengusap-usap lengannya.


"Salah kak Day sediri sih ... di ajak bicara serius malah ngelamun, kena cubitan dahsyat kan," Nisa berdecak ngambek.


Daylon mengacak-acak rambut Nisa.


"Iya ... iya ... kak Day yang salah, maaf ya," di iringi dengan senyum sambil menjewer telinganya sendiri.


Setelah perdebatan kecil barulah mereka berdua berdamai untuk menentukan tema prewedding di outdoor atau indoor semua bagus-bagus dan membuat bingung Nisa dan Daylon.


*


Sindy pada akhirnya memutuskan untuk membuat sesuatu di rumah ini yaitu camilan, gara-gara obat itu membuat dirinya jadi gemar makan ini dan itu benar-benar seperti anak kecil yang nafsu makannya tidak terkontrol sama sekali.


"Makan banyak tetap kurus gak gendut." Ledek Momo diselingi tawa, Momo sedang membuat susu formula untuk anak kembarnya.

__ADS_1


"Aa ... ha ... ha ... hitung-hitung mengurangi isi lemari es di rumahmu Momo," Sindy tertawa.


Mereka berdua sama-sama tertawa nyaring di dapur, seseorang yang melihat kebahagiaan ini bernafas lega sekali.


__ADS_2