
Setelah pulang dari lokasi proyek pembangunan hotel kedua Royal Malik, Ksatria mengajak Daysi dan Cheval makan bersama di sebuah restoran tak kalah mewah dari Royal Malik. Sebenarnya ada rasa tidak nyaman pada Daysi, ia melihat kesana kemari itu membuat Ksatria langsung menatapnya.
"Kenapa, apa ada masalah dengan tempatnya. Bukannya tempat ini sangat bagus dan nyaman?" Ksatria menggendong Cheval dalam pangkuannya.
"Iya bagus dan nyaman tapi Sat, tempat ini terlalu mahal aku tidak bisa bukannya kamu tau sendiri kan jika aku tidak suka tempat seperti ini!" Daysi tetap memakan pesanannya.
"Sesekali makan di sini tidak kenapa-kenapa kan. Lagian sekian lama kita menikah bisa di hitung dengan jari kita makan di tempat seperti ini." Ksatria menyuapi Cheval dengan puding rasa buah.
"Iya," Daysi melanjutkan makannya sampai habis terkadang ia menyuapi Ksatria karena Ksatria tidak bisa makan karena ulah Cheval yang menggemaskan.
Di tempat lain ada seorang wanita yang selalu mengintai dua insan yang saling melempar senyum ini, rasa iri merasuki dalam dirinnya. Setelah mengamati beberapa kali wanita tersebut pergi dari restoran tersebut karena ia tidak memesan apa-apa sedari tadi sampai ia di usir oleh ke amanan restoran mewah ini.
Daysi yang melihat ada seorang wanita yang di usir mendadak membuatnya tertawa sendiri, Ksatria yang melihat Daysi tertawa langsung mengikuti arah kemana Daysi melihat dan betul saja wanita yang pernah ia kencani di usir oleh pihak keamanan restoran.
"Tante tante," ucap polos Ksatria. Daysi yang mendengar Ksatria berucap barusan membuatnya tambah terpingkal-pingkal saja.
"AA... HAA... HAA..., ekspresimu ketika menyebut tante tante sangat lucu Sat, coba kamu ulangi lagi," Daysi masih saja tertawa.
"Memang apanya yang lucu sih Daysi, bukannya benar dia tante-tante?"
"Iya benar, untung nya umurku duapuluh enam tahun lebih jika tidak kamu akan aku sebut om-om saat ini, aa... haa... haa...," tertawa dengan renyah.
"Benarkah, tapi walau pun aku om om aku tetap masih kuat dan juga tampan loh, di usiaku segini aku sama mempesonannya loh sama aktor Korea itu," Ksatria mengeluarkan kaca kecil dari saku celanannya.
"Haduh, kebiasaan kaca kecil di bawa biasannya yang membawa kaca itu identik perempuan kenapa laki-laki seperti dia selalu membawannya kemana-mana," gumam lirih Daysi memijat pelipisnya.
"Aku bawa ini juga untuk menujang penampilanku, masa seorang Ksatria Malik tampil berantakan nanti majalah atau berita yang mengambil potretku kecewa lagi," timpalnya tambah kepedean nya.
Daysi mematung dengan ucapan Ksatria yang aneh plus tingkat tinggi ini, memang masih ada yang mengambil potretnya tapi tidak separah dahulu sebelum pernikahannya terbongkar ke publik.
__ADS_1
"Terserah, asal tidak berlebihan aku gak mau punya madu," meminum jus melon sampai habis.
"Haduh... Daysi andai dunia ini laki-laki semua seperti itu, bukannya sama saja aku tidak menghargai wanita yang aku cintai satu-satunya di dunia ini. Aku bukan mereka Daysi, percayalah." Ksatria menggengam erat tangan Daysi.
"Ayo kita pulang Sat, aku sudah kenyang," meraih Cheval dan menggedongnya.
Ksatria membayar tagihan kemudian menyusul Daysi yang sudah berjalan lebih dulu ke tempat parkir. Cheval yang berada di gendongan Daysi bermain dengan rambut Daysi dan meremas-remasnya.
"Aak... gemes deh," menghujani ciuman pada Cheval.
"Aku juga mau di hujani ciuman kaya Aak." Membuka kunci mobil. Daysi hanya menatap sekilas wajah Ksatria yang mendekat tanpa menanggapi bualan Ksatria barusan.
Suara mobil terbuka dari kunci terdengar, Daysi segera masuk saat Ksatria membukakkan pintu mobil.
Kediaman Malik.
Aurellia tengah galau dilema sekali hatinya, bagaimana tidak hari pernikahannya hanya tinggal menghitung hari saja, meski tidak mengadakan acara besar namun ini pernikahan pertama yang syakral di agama dan negara.
Sacha saat ini tengah sibuk dengan pekerjaannya sudah satu minggu lebih ia istirahat tanpa memegang laptopnya setelah ke jadian penusukan waktu itu. Sacha menyusun semua ide yang ada di kepalanya saat ini dan langsung di salurkan dalam bentuk sketsa di laptopnya.
Ketukan pintu terdengar nyaring di luar kamar Sacha, Sacha segera menyuruh masuk pikirnya mbak Mala atau mbak Ria yang masuk namun saat menatap siapa yang masuk ia tersenyum masam.
"Haduh... ngapain lagi sih kamu temuin aku, ganggu pekerjaanku tau," protesnya pada Aurellia yang membawa makanan sambil tergopoh-gopoh jalannya.
"Sudah di bawakan protes pula, tau gini aku gak bawakan makanan," gerutu Aurellia meletakkan makanan di meja depan sofa.
"Yang kamu lakukan saat ini bisa membuat pekerjaan ku bertambah, bagaimana jika tadi kamu terjatuh lagi bukannya aku yang kerepotan lagi." Sacha menutup laptopnya dengan keras dan turun dari ranjangnya.
"Maaf ya kalau begitu, galak baget jadi orang," Aurellia berjalan keluar dari kamar Sacha.
__ADS_1
"Sesekali itu orang harus di galakin biar gak manja terus." Sacha menatap pintu yang sudah tertutup karena Aurellia pergi dari kamarnya.
Ksatria menidurkan Cheval sementara Daysi membersihkan diri dan menyiapkan pakaian santai untuk Ksatria kenakan.
"Kamu mandilah dulu Sat, aku mau ke dapur sebentar biar Aak di jaga mbak Ria." Sambil memberikan jubah handuk pada Ksatria.
Ria yang sudah ada di depan pintu langsung masuk saat Daysi menitipkan Cheval.
Ruang makan malam hari.
Hanya ada ke heningan saat makan malam, Aurellia bahkan hanya makan sedikit begitu juga dengan Sacha. Daysi yang melihat pemandangan ini langsung menatap Ksatria, Ksatria hanya megangkat bahunya karena ia tidak tau ada masalah apa antara Aurellia dan Sacha saat ini.
"Kalian ada masalah?" Daysi memecahkan keheningan saat ini.
"Tidak!" jawab serempak Aurellia dan Sacha.
"Benarkah, tapi sepertinya ia." Daysi menatap Sacha ingin tau ada masalah apa.
Aurellia tiba-tiba menutup sendoknya dengan keras, "aku kenyang, aku kembali ke kamar dulu." Aurellia bergegas pergi tanpa menuggu jawaban dari kakaknya.
"Kamu membentaknya seharian ini." Ksatria menimpali pertanyaan yang mencekik lehernya.
"Tidak, aku cuma bersikap tegas saja padannya hari ini." Ucap santai Sacha yang berhasil membuatnya terkena sendok melayang dari Ksatria. "Aaww sakit tau," mengusap dahinya yang terkena sendok melayang.
"Dasar, sudah tau perempuan gampang sensi bukannya baik-baik malah seperti itu." Ksatria menatap tajam Sacha.
"Eehhemmm aku juga perempuan loh, merasa ini yang di bicarakan," ucap Daysi sambil menahan tawa.
"Bukan kamu Daysi sayang." Menangkupkan kedua tangannya. Daysi tertawa lagi melihat ketakutan Ksatria yang tidak dapat jatah malam lagi.
__ADS_1
***