ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
100 Pandai merayu


__ADS_3

Sacha dan Aurellia segera mengemasi barang barang yang tadi ia beli untuk oleh-oleh orang di rumah. Sacha melihat hanya sedikit barang yang di beli, perasaan tadi banyak yang ia ambil tetapi kenapa saat di buka cuma segitu, pertanyaan muncul di kepala Sacha.


"Apa barang-barang di curi Aurel?" menatap Aurellia yang sedang makan coklat.


"Eemm... tidak, aku segaja mengembali kan beberapa tadi. Terlalu banyak beli gak baik untuk kantong dompet." Ucap Aurellia dengan santai.


"Pelit sekali, padahal kita berdua honey moon juga gratis," Sacha duduk di dekat Aurellia.


"Hemat penting Sacha, apalagi saat kita punya bayi sendiri nanti." Melanjut kan makan nya.


Setelah menghabis kan banyak waktu dengan bujuk rayu maut nya, akhir nya Ksatria bisa meneng kan sang istri dengan membuat kan nya roti panggang keju coklat tanpa madu seperti biasa nya. Memang mood orang berbadan dua lebih sensitif dari orang yang datang bulan akan tetapi tergantung juga dengan orang serta hormon nya. Daysi yang sedari tadi melihat Ksatria yang berkutat dengan peralatan dapur membuat Daysi terpesona dadakan seperti baru pertama kali jatuh cinta saja.


"Tampan nya suamiku," dengan senyum memikat tanpa sadar Daysi berucap cukup keras di dengar Ksatria.


"Baru sadar kah jika suami mu begitu sepecial di segala bidang." Membawakan roti panggang dengan senyum merekah.


"Cuma saat ini saja tampan nya, detik berikut nya tidak tau," Daysi memotong roti tersebut lantaran masih panas.


"Benarkah...," memaju kan wajah nya dan mencium lembut pipi Daysi cukup lama.


Daysi menyipit kan mata nya, "mencari kesempatan dalam kesempitan." Mengangin-angin kan roti yang baru ia potong agar sedikit berkurang suhu panas nya. Andai di tiup tidak mendatang kan penyakit khusus nya jantung pasti sudah di lakukan sejak dari dulu.


"Apa masih panas, aku ambil kan kipas tangan ya." Bergegas mengambil kipas tangan yang berada di laci dekat ruang makan.


Daysi yang sedari tadi melihat Ksatria berjalan kesana kemari selalu membuat sudut bibir Daysi tersenyum, bahkan saat Ksatria beberapa kali sering kesandung karena ia terburu-buru berjalan.


"Kenapa terburu-buru sih." Saat Ksatria memberi kan kipas tangan nya. Daysi langsung menerima dan mengarah kan kipad tangan ke piring yang berisi roti panggang tersebut.

__ADS_1


"Tidak apa-apa takut nya baby yang ada di perut tidak sabaran ingin mencicipi roti buatan papa nya," menampil kan deretan gigi yang ada coklat nya.


"Ppufftt..."


"Kenapa, apa ada yang aneh denganku?" menujuk diri nya sendiri.


"Iya, aa... haa... haa... gigi kamu Sat," dengan terpingkal-pingkal Daysi menujuk wajah Ksatria.


Ksatria mengerut kan alis nya seraya mencari cermin atau sejenis nya untuk melihat penampilan gigi nya saat ini. Saat menemukan kaca di dekat kamar mandi ia langsung mengecek betapa terkejut nya gigi yang biasa nya putih tanpa noda kini banyak coklat yang mampir. Dengan segera Ksatria masuk ke kamar mandi dan berkumur untuk membersih kan gigi nya.


Betapa malu nya saat ini, gigi yang biasa nya bersih kini menampil kan hal pertama kali yang membuat malu tampilan nya apalagi di depan sang istri. Setelah bersih Ksatria keluar dari kamar mandi sambil membenar kan kemeja yang ia kenakan.


"Sudah habis, apa segitu enak nya sampai tidak tersisa noda coklat di piringmu." Mengusap sudut bibir Daysi yang sedikit belepotan.


"Iya, sayang kalau di sisakan apalagi ini buatan kamu,"


"Isshh... tambah pandai mengombal ya. Bagaimana nanti jika anak kita lahir terus program hamil lagi seperti nya aku akan membuat kan kamu banyak generasi penerus kedepan nya." Dengan senyum nakal nya.


"Oke... oke maaf kan aku, jangan marah ya." Merangkul tubuh Daysi.


DDREETT... DDRREETT..., ponsel Ksatria bergetar terus. Ksatria yang moment romantis nya terganggu langsung melihat siapa yang menelpon nya.


Ksatria melirik Daysi meminta izin menerima telpon.


"Angkat saja, mungkin ada kepentingan dia." Ucap Daysi penuh penekanan.


GGLLEEKK...

__ADS_1


Ragu-ragu Ksatria mengangkat nya karena di layar ponsel tidak ada nama yang tertera pasti salah satu dari mereka yang telpon namun dugaan salah ternyata yang menelpon mandor proyek kedua Royal Malik. Ksatria bernafas lega saat yang menelpon mandor proyek nya.


Daysi yang sedari tadi cemberut kini berganti senyum di wajah nya.


Kediaman Hugo.


Dhita yang sudah membersih kan diri dan menata semua perlengkapan yang sama persis dengan miliki Cheval tertawa, rasa nya sangat senang sekali hari ini. Hugo yang baru selesai makan kini menghampiri sang istri apa yang membuat ia sebahagia ini sampai-sampai sedari tadi senyum dan tawa terlihat di pendengaran dan pandangan nya.


"Ada apa sih kenapa hari ini kamu sangat bahagia, apa yang membuat kamu bahagia sayang." Memeluk dan mencium pundak Dhita.


"Kamu tau sayang, hari ini aku jalan-jalan loh di mall bareng Daysi dan si tampan Cheval aduh sayang kamu tau ngak Cheval tambah tampan loh hari ini, rasa nya tidak sabaran aku jika Cheval jadi menantu laki-laki ku kelak," membalas pelukan Hugo.


"..." Hugo hanya tersenyum getir, heran kenapa sang istri ngotot pengen Cheval menjadi menantu nya padahal garis jodoh bukan kita yang menentu kan tetapi Sang Maha Pencipta.


Ditempat lain.


Sacha dan Aurellia membeli beberapa buah tangan untuk di bawa pulang nanti, rasa nya tidak sabar ingin segera pulang esok pagi karena sudah ada satu minggu ia di tempat ini dan tak terasa waktu sangat singkat, mungkin karena nyaman dan di sugguhi pemandangan yang luar biasa untuk di nikmatu mata telanjang seperti ini tanpa bantuan teleskop seperti melihat benda luar angkasa.


"Apa semua sudah di beli, tidak ada yang kamu kembali kan barang-barang nya seperti waktu itu?" menatap semua barang-barang yang ada di kasir pembayaran.


"Isshh... kamu curiga aku mengembalikan barang-barang nya, berprasangka buruk banget ke istri," menyipit kan mata nya.


"Gimana gak berprasangka buruk, kan kamu sendiri yang melaku kan nya. Aku cuma tanya tidak menuduh yang bukan-bukan." Segera membayara dan mengakhiri perdebatan tiada ujung tersebut.


Aurellia masih ngedumel sendiri, mentang-mentang duit nya lebih tebal saat ini. Mau tidak mau Aurellia mengikuti kemauan sang suami, Aurellia menutar bola mata nya saat dua kantong kresek ukuran lumayan besar ia tenteng di tangan kanan kiri nya, sementara Sacha membawa kan tas pribadi nya.


***

__ADS_1


**Author sakit mohon doa nya ya teman"


Terimakasih pembaca setia IBAM**


__ADS_2