ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
128 S2 Sweat banget


__ADS_3

Semoga masih banyak yang membaca dan terimakasih sudah mampir dan berkenan membaca karya receh aku.


Selamat membaca.


***


Cheval dan Sindy keluar dari apartemen dan mengenakan pakaian sesuai musim disini. Sambil berpegangan tangan. Genggaman hangat dari Cheval merasuk ke dalam lapisan kulit terdalam. Sindy beruntung mendapat sosok suami yang hangat, penyabar, perhatian dan plus pandai dalam segala hal. Bahan tidak ada cacat sedikit pun dari sosok Cheval.


"Apakah aku bisa jadi istri yang luar biasa untukmu Aa?" tanya Sindy dalam hati, sambil menatap tubuh sang suami yang kini ada di sampingnya.


"Sindy."


"Iya Aa, ada apa?"


"I love you, Istriku!" Cheval memberikan kecupan di kening Sindy dengan sangat lama.


Dua pasangan yang saling jatuh cinta dan menikmati suasana kota ini.


"Sayang, kamu di sini berapa lama." Masih menggenggam erat jemari Sindy.


"Sampai liburan selesai Aa, memangnya kenapa," Sindy menatap wajah Cheval yang berbinar bahagia.


"Yes... senangnya aku ada penyemangat saat aku disini setiap harinya. Ayo belanja, kamu mau apa aku akan belikan." Menarik tangan Sindy dengan lembut.


Saat ini Cheval dan Sindy sedang menikmati suasana makan romantis di food truk di wisata kuliner kota ini. Banyak jenis makanan yang tersedia tetapi Cheval dan Sindy yang terlahir dari keluarga Muslim, membuatnya harus memilih makanan yang Halal dan baik untuk di konsumsi tubuh.


"Kita makan ini saja ya."


Cheval membeli banyak makanan khas kota ini dengan berbagai jenis dan sudah di pastikan halal untuk di konsumsi.


"Bagaimana rasa sandwich isi ayam, apakah enak." Cheval juga membuka roti isi yang dalamnya berisi ayam dan sayuran.

__ADS_1


"Iya Aa, enak sekali," sambil mengunyah dan menikmati suasana yang berbeda sekali orang-orang yang ada di Indonesia.


Meski sekarang banyak warga negara asing ke Indonesia, namun tetap saja berbeda. Setelah menikmati berbagai jenis makanan yang ada Cheval dan Sindy kembali ke apartemen untuk membersihkan tubuh dan beristirahat.


Dinner romantis.


Cheval menyiapkan lilin-lilin berwarna putih di atas meja dan di lantai, meski tidak ada kelopak bunga mawar karena tidak sempat membeli sedangkan Sindy yang sudah selesai membuat roti kini meriasnya dengan sedikit wippy cream di atas roti tersebut dan beberapa buah strawberry yang sudah ada di lemari pendingin.


Rasa grogi menyelimuti Sindy yang berpikiran tidak-tidak untuk malam nanti. Setelah selesai membuat roti dan meriasnya Sindy berjalan menuju satu ruangan untuk dinner romantisnya saat ini. Meski tidak mengenakan pakaian resmi dan formal seperti kebanyakan orang, cukup pakai pakaian santai dan menutupi tubuh itu saja sudah cukup untuk malam ini.


Cheval yang menatap tubuh Sindy dari pantulan sinar lilin hanya terkesima dengan penampilan sederhana Sindy yang masih sesuai dengan umurnya.


"Cantik, aku mencintaimu." Memberi kecupan singkat di pipi Sindy.


Sindy yang mendapati tingkah romantis Cheval sudah biasa namun masih ada sedikit rasa malu jika Cheval bersikap seperti ini, cinta pertama jatuh pada kakaknya dan sekarang menjadi suaminya.


"Aku juga Aa, bahkan lebih besar dari Aa," duduk di kursi yang sudah di persiapkan Cheval.


Dinner romantis berjalan dengan lancar makan bersama, potong kue yang di buat Sindy.


Mereka berdua larut dalam hal romantis dunia dan melakukan hal yang seharusnya di lakukan. Hanya ada kata-kata cinta yang terlontar di saat dua insan yang di mabuk asmara setelah menikah ini.


Pagi hari.


Sindy masih nyenyak di dalam balutan selimut tebalnya, ia malu untuk menampakkan dirinya dan hanya mengintip sedikit apakah Cheval masih ada di dalam kamar atau tidak, betapa terkejutnya saat Cheval dengan gagahnya keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan jubah handuk yang sangat terbuka bagian dadanya.


"Sayang, kamu tidak mandi. Apa tubuhmu tidak lengket setelah pertemuan kita semalam." Duduk di samping Sindy.


"Aa hadap sana, aku malu," masih menutupi semua anggota tubuhnya.


"Kenapa malu, semalam aku sudah melihatnya. Ayo sana mandi." Menarik selimut yang di gunakan Sindy untuk menutupi tubuh polosnya.

__ADS_1


Cheval tertawa melihat tubuh Sindy yang ada ruam-ruam merah hasil mahakaryanya. Sindy mendengus kesal setelah tubuh polosnya yang ada ruam-ruam merah di tertawakan oleh Cheval.


Sindy yang sudah berada di kamar mandi langsung masuk ke bath tup yang ternyata sudah di siapkan sang suami untuk dirinya, bahkan ada aroma terapi dan keperluan lainnya sudah siap tersedia.


"Haduh perhatiannya suamiku seperti seorang istri saja, ehhh istri bukan-bukan tetapi suami siaga 24 jam." Sindy segera membersihkan diri sambil berendam terlebih dahulu untuk melonggarkan otot-otot tubuhnya yang kaku akibat semalam.


Cheval yang sudah rapi dengan pakaian kasualnya sekarang menuju dapur dan membuatkan sesuatu untuk membangkitkan tenaga yang terkuras semalam.


"Masak ini saja deh, nanti belanja saja dengan Sindy untuk kebutuhan satu dua minggu kedepannya." Mengenakan clemek berwarna hitam dan mulai memotong beberapa sayuran dan seafood.


Sindy yang sudah selesai dengan mandinya kini mengenakan pakaian casual berwarna putih dan celana pendek sepaha karena ini di dalam rumah, kecuali dirinya dan Cheval jadi ia berani mengenakannya.


"Aa." Panggilnya lembut sambil berjalan mendekati Cheval.


Cheval yang sedari tadi berkonsentrasi memasak kini kehilangan fokus saat melihat sang istri mengenakan celana minim.


"Sindy, apa yang kamu kenakan atas ketat bawah minim. Tidak tidak kamu harus ganti yang lebih panjangan sedikit, selutut tidak apa-apa." Sambil mengibas-ngibaskan tangannya agar Sindy segera pergi.


Namun bukannya pergi Sindy malah menggoda Cheval.


"Aa... kenapa harus ganti sih, kan cuma kita berdua yang ada di sini," ucap Sindy dengan centil.


"Astaga ini anak, katanya tidak mau hamil. Kalau tidak mau cepat ganti atau aku makan kamu disini, hhaaeemmm." Sambil memeragakan menerkam mangsa.


"Iya... iya... aku ganti sekarang. Aa itu di atas meja apa?" menujuk bungkusan kecil.


"Ohh... itu, kamu minum untuk mencegah adanya bayi!" dengan santainya Cheval berucap.


Sindy segera mengambil obat tersebut, sebelum terjadi yang belum di inginkan lantaran masih sekolah, bukannya tidak mau satu tahun lagi sudah lulus SMA nanggung jika kurang sebentar tetapi tidak dapat menyelesaikan pendidikan menengah atas tersebut. Setidaknya tunggu lulus SMA saja tidak mengkonsumsi obat tersebut karena tidak terikat dengan sekolah.


***

__ADS_1


Catatan.


Disini dapat di petik dan diambil pelajaran ya, jangan ditiru ya yang di luaran sana. Karena sepasang suami istri yang di atas sudah sah di Agama dan Negara ya. Jadi wajar ya jika mereka membicarakan hal tersebut. Ambil pelajaran yang baik ya dari karyaku ini OKE.


__ADS_2