
Aurellia segera mengirim alamat pada Abang, hatinya ada rasa was-was saat ini. Bagaimana pun Abang masih ada rasa pada Daysi sahabat sekaligus kakak iparnya ini.
Sekitar setengah jam Abang sudah sampai di depan kontrakan yang Aurellia kirimkan tadi alamatnya.
"Apa benar ini tempatnya." Abang langsung melepas helm yang ia kenakan dan berjalan mengetuk pintu kontrakan tersebut, tiga body guard Ksatria langsung mendekat dan mencegah Abang.
"Anda siapa, sedang apa kemari?" tanya salah satu body guard yang ada di samping Abang.
"Eemmm saya temannya Aurellia, teman bisnisnya," jawab sedikit gugub di wajah Abang.
"Sebentar, saya tanyakan mbak Aurel," belum sempat masuk Aurellia sudah lebih dulu keluar.
"Tenang, dia rekan bisnisku bukan orang suruhannya(suruhan Rio), aman." Aurellia tersenyum.
"Masuklah dulu Abang," mempersilahkan Abang masuk ke ruang tamu. Abang mengangguk dan duduk di salah satu kursi.
"Rumahnya sangat nyaman ya." Ucap basa basi Abang.
"Ya nyamanlah ada pujaan hatimu di sini, malah aku yang tidak nyaman," gerutu Aurellia dalam hati.
"Eehh... sampai lupa, duduk bang aku buatkan minum dulu ya," Aurellia berlalu pergi menuju dapur.
Daysi yang menimang Cheval dalam pelukannya langsung menyapa, "eh Abang kesini, baru sampai bang?"
"Iya baru sampai, kamu dari mana." Balik menanyai Daysi.
Belum sempat Daysi menjawab di kejutkan dengan suara Ksatria yang baru masuk, "habis jalan-jalan mengajak Aak keliling RT sini." Ksatria langsung duduk di sebrang Abang.
Abang menganggukan kepalanya. Aurellia yang baru selesai membuat minum dan membuka camilan binggung sendiri tatapan saling tidak suka antara Abang dan Kakaknya. Daysi juga merasa akhirnya pergi masuk kedalam kamar untuk menidurkan Cheval.
"Minum dulu bang," meletakkan minuman di depan Abang.
"Kakak tidak kamu tawari, masa cuma dia doang yang kamu tawari?" sambil menujuk Abang.
"Kakak kan bukan tamu, ambil sendiri kan bisa!" jawab santai Aurellia.
"Dasar, ya sudah lanjutkan urusan kalian tapi awas kalau sampai macam-macam, habis." Mengancam dengan mengerakkan jari jemarinya ke leher.
__ADS_1
Abang hanya tersenyum ia paham maksud dari ucapan Ksatria.
"Jangan di dengarkan, dia orang aneh. Bagaimana bang konsepnya?" melihat gambar yang di bawa Abang.
Abang langsung menjelaskan ia memiliki konsep moderen tapi klasik pas untuk anak muda saat ini, Aurellia mengangguk paham dengan ucapan dan ide-ide cemerlang dari Abang.
Setelah selesai berdiskusi Abang berpamitan untuk kembali ke rumah, saat keluar rumah ia menatap sekilas kontrakan yang di tempati Daysi, wanita yang mengobrak abrikkan hatinya ini.
"Haahh... bagaimana caraku mengahapus jejakmu, andai hati terbuat dari kertas pasti sudah aku hapus sejak lama," mengenakan helmnya dan berlalu pergi.
Aurellia yang menatap kepergian Abang hanya tersenyum kecut, "haduh... masih cinta ternyata." Beranjak dari pintu masuk.
Daysi yang baru saja membuatkan kopi untuk Ksatria kini hanya tersenyum dan meletakkan kopi di meja kecil dekat dengan Ksatria bersantai.
"Apa kamu suka rumah seperti ini?" Ksatria menatap wajah cantik Daysi.
"Suka asalkan denganmu, oh ya Sat sampai kapan kita di sini." Duduk bersandar dekat Ksatria.
"Sampai semua selesai, aku tadi pagi mendapat kabar jika Rio sudah di tangkap dan sekarang di tahan, sebenarnya itu tidak seberapa hukumannya karena ia tidak hanya mencelakaiku tapi orang-orang di sekitarku bahkan Sacha pun kena imbasnya." Ksatria memijat kepalannya yang pusing.
"Adik sepupu Papa aku, ia tidak terima karena papaku beruntung di tambah lagi papa bisa mendapatkan hati Mama waktu muda dulu, itu yang membuat dia iri dengan papa." Menggengam erat tangan Daysi.
"Sabar ya," diselingi senyum. "Minumlah dulu kopinya," menyodorkan ke Ksatria.
"Terimakasih ya." Meminum kopi buatan Daysi, "ahh... rasanya nikmat kopi buatan istri memang tiada duannya."
"Ihhh... menggobal lagi, kebiasaan deh."
Sore hari.
Daysi membersihkan halaman di bantu Aurellia, sementara Ksatria mengajak bermain pasir dan air pada Cheval sesekali Cheval memasukkannya kedalam mulut.
"Aak... jangan di makan, jika mama tau papa habis saat ini Aak." Membersihkan mulut Cheval dengan segera agar Daysi tidak tau namun Daysi lebih dulu melihatnya.
Daysi datang langsung menjewer telinga Ksatria, "jangan di biarkan makan tanah, kalau sakit perut kamu yang tanggu." Melepas tangannya yang menjewer telinga Ksatria.
"Iya... iya... janji tidak akan di ulangi," sambil mengendong Cheval.
__ADS_1
"Sini Cheval denganku saja, kamu lanjutkan menyapunya." Menujuk halaman yang masih kotor.
"Kan ada Aurel, biarkan dia sedikit olah raga hitung-hitung membakar lemaknya," sambil menujulurkan lidahnya pada Aurellia yang sedari tadi menatap berharap di bantu bersih-bersih.
"Baiklah kalau begitu, kamu mandikan Aak kalau begitu jangan lupa pakaikan popok nya oke." Daysi berjalan lebih dulu.
Daysi menyiapkan air hangat dan pakaian untuk Cheval, setelah semua siap Ksatria memandikan Cheval untuk yang ke dua kalinya pasalnya selama ini Ksatria memandikan Cheval denga terpaksa, waktu itu saat Daysi sakit dan semua orang sibuk mau tidak mau ia memandikan Cheval untuk pertama kalinnya dan saat ini untuk yang ke dua kalinya.
"Kakak lihat aku seudah selesai menyapunya," sambil memamerkan sapu yang ia bawa.
Ksatria hanya menatap tanpa membalas ejekan Aurellia, baginya hanya angin lewat saja.
Ksatria mendengar dan merasakan sesuatu yang aneh dari badan Cheval, "Daysi... tolong aku, Aak lagi buang sesuatu."
Daysi langsung melihat dan benar saja, "kamu ganti popoknya dengan yang baru jangan lupa di bersihkan dengan air dan sabun biar tidak iritasi." Daysi mengambilkan popok baru.
"Tapi...,"
"Sudah kerjakan, jangan semuanya aku. Aku juga capek merawat Aak sendirian apalagi saat ini." Memotong sayuran.
Aurellia yang baru saja selesai mandi langsung membantu Daysi, "masak apa." Menatap sayuran yang asing menurutnya.
"Masak sayur terong, apa kamu belum pernah merasakannya," memotong dan memasukkannya ke dalam wadah berisi air agar terong tidak berubah warna nantinya.
"Aku bantu kupas-kupas bumbu oke," mengambil bumbu dapur.
Ksatria yang berhasil membersihkan Cheval kini tersenyum lega, "haahh... akhirnya setelah menutup hidung sekian lama aku bisa bernafas lega," menebah dadanya berkali-kali.
Aurellia menyenggol pundak Daysi. "Kakak habis kenapa tu?" menatap Ksatria yang menciumi badan Cheval.
"Biasa Cheval buang sesuatu setelah mandi, seperti biasa," melanjutkan memotong sayuran yang lain.
"Ohhh... pantesan aneh." Aurellia tertawa geli sendiri melihat ke anehan Ksatria barusan.
Ksatria langsung memberikan tatapan mematikan pada Aurellia, seketika Aurellia menciut nyalinya. Daysi hanya menggelengkan kepalannya melihat kakak adik yang sering melempar candaannya.
"Sudah, jangan bertengkar kasihan tetangga yang dengar, nanti tidak berhenti tertawa mereka." Ledeknya pada Aurellia dan Ksatria.
__ADS_1