
Sesampainya.
Kediaman Erdana Khan.
[POV Momo]
Lais segera memarkirkan mobilnya ke garasi. Momo yang sudah lebih dulu turun segera menemui Princess yang ternyata dia sudah tidur duluan.
"Selamat malam Princess sayang." Aku cium kening Princess sebentar.
Aku segera kembali masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri, aku belum puas tadi saat mandi di tempat umum. Saat aku berada di bath tub tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Meski ada kelambu yang menutupi bath tub tetapi tetap jelas siapa yang masuk.
"Lais." Kenapa wajahnya seperti itu.
"Sayang," Lais langsung melepas semua pakaiannya dan masuk ke dalam bath tub yang sama denganku.
Haduh... pasti nanti dia minta bagiannya lagi, sudahlah yang penting aku tidak memanggil dia dengan sebutan om atau paman. Sebenarnya itu panggilan sayangku padannya tetapi dia begitu sensitif aku panggil seperti itu, ya sudah kalau begitu. Mau aku panggil sayang umur juga tidak muda lagi, bingung juga aku sekarang.
"Aku tidak akan menyentuhmu di sini jadi kamu jangan berpikiran yang tidak-tidak, tentangku." Lais segera pergi dari bath tub setelah berbicara dengan nada dingin dan menguyur tubuhnya di bawah shower yang sangat keras.
"Siapa juga yang berpikiran aneh-aneh, pede banget," jawabku yang tak mau kalah darinya.
Sebenarnya kita berdua sama-sama memiliki sifat keras kepala, dan ini tidak baik untuk hubungan kita apalagi berumah tangga seperti ini. Akan terus-terusan terjadi perbedaan pendapat. Ya... aku berdoa saja semoga rumah tangga kami berdua di beri kelanggengan dan kerukunan sampai maut memisahkan kita berdua.
Lais yang sudah selesai membersihkan diri segera mengenakan jubah handuknya dan keluar dari kamar mandi begitu saja tanpa menatap diriku sedikit pun, sedih rasanya di abaikan seperti saat ini.
Haa... ada apa ini seharusnya aku yang masih marah pada dirinya, tetapi setelah aku pikir memang aku yang salah. Kenapa aku marah dia dekat dengan ibunya Princess, itukan hak dia dekat dengan siapapun. Meski aku tau hatiku akan terluka, mencintai seseorang harus siap dengan segala resikonya.
Aku segera membersihkan diriku dan keluar dari kamar mandi, namun naas di mana jubah handukku.
"LLAAIISS... dasar sialan."
Lais yang melihatku keluar dari kamar mandi tanpa handuk langsung jalan mendekatiku.
"Mana jubah handukku?" tanyaku dengan marah.
Tanpa pikir panjang Lais langsung menggendongku dan melempar ku ke atas tempat tidur. Aku menatap kebingungan mau apa Lais, semoga aku tidak di apa-apakan malam ini. Terus terang saja aku kelelahan seharian ini.
"Jangan pura-pura tidak tau dan tidak mengerti sayang. Kewajiban seorang istri melayani suami sampai puas, jadi malam ini layani aku sampai aku puas." Ucap Lais dengan tersenyum lalu memiringkan kepalanya dan mulai menikmati bibir Momo.
Pagi hari.
Momo yang sudah rapi dengan pakaian santai kini menyisir rambut panjangnya dan menguncir kuda rambutnya. Sungguh pemandangan yang sempurna.
"Cantik sekali istriku, aku mencintaimu sayang." Lais mencium keningku sangat lama. "Ayo katakan jika kamu juga mencintaiku sayangku, cintaku my baby Momo."
"Iya aku juga," ucapku tersenyum.
Aku melihat wajah bahagia Lais yang terpancar sangat-sangat sempurna.
"Lais."
"Iya ada apa Momo," Lais menarik satu kursi yang ada di bawah meja dan mengenakannya.
"Sebenarnya aku ingin bertanya padamu sejak lama, tetapi sepertinya kamu akan kebingungan menjawab pertanyaanku kali ini. Tapi semoga pertanyaanku tidak membuat kamu kesulitan menjawabnya."
"Pertanyaan apa coba, bukannya kamu tau jika aku murid pintar di sekolah dan di Universitas," Lais begitu sangat percaya diri dengan ucapannya sekarang, aku yakin ia akan kebingungan dengan pertanyaanku yang akan aku ajukan.
"Sebenarnya... eemm..., racun apa yang kamu tabur pada Princess sebelum kita menikah. Kenapa dia bisa memanggilku dengan sebutan Mama, ayo jawab apa alasannya." Tanyaku sudah penasaran ingin tau seperti apa alasannya, semoga jawabannya tidak menggantung kayak jemuran baju.
"Ee... hee... hee..., sebenarnya--" Lais menggantungkan ucapannya.
Tuhkan di gantung sama Lais jawabannya, dasar berbelit-belit.
Lais masih saja cengngegesan tanpa menjawab pertanyaanku barusan, sungguh menyebalkan dia. Aku memanyunkan bibirku sama sepeti moncong bebek yang panjang.
"Kenapa itu bibir manyun, mau aku nikmati lagi atau yang semalam masih kurang." Lais bertanya sambil menggoda Momo.
"Stop, jangan mengalihkan pembicaraan. Ayo jawab mengapa Princess memanggilku dengan sebutan Mama waktu itu, kamu bicara apa saja pada dirinya yang masih polos dan lucu itu?" tanyaku menatap tajam wajah Lais.
"Oke... oke... aku jawab, sebenarnya ini!"
Lais membuka galeri ponselnya dan banyak sekali foto kami berdua semasa SMA dulu dan bahkan ada beberapa foto sewaktu aku kuliah bahkan saat wisuda juga ada. Lais menunjukkan semua foto tersebut padaku dan memberikan ponselnya padaku untuk aku lihat dan periksa.
Kenapa tidak ada foto wanita lain di ponselnya, ehh... tunggu-tunggu bukannya ini foto aku yang menyamar diam-diam untuk mengikuti akunnya selama ini. Jadi sebenarnya ia sadar aku follow diam-diam, tapi sudahlah aku tidak akan membahas ini jika aku bahas sekarang pasti dia meledekku habis-habisan.
"Jadi." Aku kebinggungan dengan foto yang di maksud oleh Lais.
"Jadi, begini sayang aku sengaja mengenalkan Princess jika kamu Mamanya, karena aku tau kamu akan menjadi mama yang paling baik di seluruh dunia ini dan yang paling aku cintai. Jadi saat Princess tanya mamanya seperti apa ya aku jawab kamu, jika dia tanya kenapa mama belum pulang aku jawab kamu masih di rumah grandpa dan Grandma," Lais tersenyum sangat menawan.
Aku hanya terbengong dengan ucapan Lais, kenapa harus aku kenapa tidak ibu kandung Princess yang di tunjukkan. Bukankah berarti aku merebut yang seharusnya bukan milikku. Haduh Lais kenapa kamu melibatkan aku seperti ini, aku tau jika aku sekarang mamanya dan takdir kedepannya bagaimana.
Sudahlah dari pada berpikir negatif lebih baik berpikir yang positif saja.
"Oo... seperti itu," aku mengembalikan ponsel tersebut pada Lais.
"Maaf Momo jika aku membuat kamu shock dengan pengakuanku ini. Tapi jujur Momo aku tidak bermaksud membuat kamu tertekan, aku... aku... hanya tidak mau Princess jatuh di tangan wanita itu. Wanita yang membuang Princess setelah ia lahir demi karir model yang untuk mengenyangkan nafsu duniawi nya saja." Lais terus mencoba meraih hatiku lagi.
Sungguh beruntung aku kenal Lais, dia selalu jujur apa adanya padaku. Dan sebenarnya aku sungguh prihatin dengan kehidupannya dari dulu sampai sekarang, ada saja cobaannya. Tetapi hatiku masih berat juga menerima kenyataan jika Lais pernah berbuat seperti itu sampai lahir Princess meski itu terjadi karena pengaruh obat bius.
"Lais, maaf ya jika aku marah dengan kamu dari kemarin. Tapi aku sungguh-sungguh sangat kesal kenapa wanita itu bisa masuk ruang kerja kamu sementara wanita lain tidak bisa termasuk, aku...," Momo menundukkan kepalannya.
__ADS_1
"Jadi ceritanya istriku cemburu, senangnya aku. Asal kamu tau sayang foto yang kamu lihat itu kejadian 2 tahun yang lalu. Saat Aura menggodaku lagi tapi itu sama sekali tidak bereaksi apapun padaku, tetapi beda dengan kamu kalau kita dekat seperti ini aku tidak bisa menahan lebih lama lagi." Lais menagkupkan kedua pipi Momo.
"Iya aku percaya, aku lapar ayo makan dulu terus kamu berangkat kerja," aku segera berdiri dari tempat dudukku.
Lais tidak tinggal dia ia menggengam erat tanganku saat kami berdua menuruni anak tangga, aku melihat beberapa asisten tersenyum bahagia melihat kami baik-baik saja.
Bahkan Arman juga sudah datang dan menyapa kami berdua.
"Selamat pagi pak... bu...." Sapa Arman dengan tersenyum.
"Pagi, sarapan sekalin setelah itu langsung pergi ke kantor," jawab Lais segera menuju ruang makan.
Arman yang terkejut dengan ucapan sang boss hanya menatap heran, kemarin kalang kabut sekarang damai.
"Pak boss sedang dalam mood baik, minta gajian deh hari ini siapa tau mau turun gajiannya." Arman sangat bahagia menuju ruang makan.
Suasana ruang makan ini sangat damai bahkan seorang Lais yang jarang tersenyum dan tertawa kini lepas kendali di depan Momo sang pujaan hatinya ini.
Arman yang melihat momen ini mengambil foto kebahagiaan bossnya dengan diam-diam. Princess juga ikut tertawa dengan candaan yang di berikan oleh Momo sang mama sambung.
Usai sarapan pagi, Lais langsung berpamitan ke kantor.
"Hati-hati ya." Momo mencium punggung tangan Lais.
"Iya, ccuupp..., jaga diri dirumah ya." Mencium bibir Momo sekilas, kemudian berjongkok menatap sang putri. "Papa pergi berkerja dulu ya, Princess."
"Iya papa," jawab Princess dengan lucunya.
Setelah kepergian Lais hati Momo seperti tidak rela melepas kepergian sang suami ada rasa yang mengganjal dalam dirinya.
Perusahaan Jam Berlian.
[POV Lais]
Aku keluar dari mobil dan langsung berjalan menuju lobby kantor, perusahaan yang dulu sangat kecil bahkan seperti rumah saja wujudnya kini sudah mulai besar bahkan bisa bersaing dengan jam-jam terkenal di negara ini, meski ada kekurangan di produknya tetapi jam bermerek Berlian ini masih bisa bersaing bahkan pendataan jam terkenal di negara ini, milik Lais termasuk ke dalam 20 merek jam terbaik.
Semoga perusahaan ini akan terus berjaya meski aku tau setiap usaha pasti naik turun dan tidak selalu berada di atas.
Aura yang baru datang menjadi sorotan orang-orang perusahaan ini, ada apa kemari.
Aku yang baru sadar ada orang mengikutiku dari belakang langsung aku lihat siapa, oh... ternyata ibu yang paling kejam di dunia ini. Yang tega membuang putri kandungnya dan untung saja aku mengikutinya dulu dan merawat Princess sampai sekarang.
"Ada apa kemari?" tanyaku tajam sambil menatap tubuh Aura dengan jijiknya.
Kenapa aku dulu bisa menyentuhnya, walaupun aku di beri obat bius. Eehh... ralat bukan obat bius sepertinya obat perangsang.
"Apa tidak ada kesempatan untukku Lais, aku juga ibunya Princess. Aku butuh putriku Lais," jawabnya dengan akting tingkat tinggi.
Aura yang mendapat jawaban seperti ini sangat bersedih. Sepertinya ia benar-benar menyesali perbuatannya dulu yang membuang Princess demi karir duniawi ini.
"Mama janji akan merebut hak asuh kamu Princess, di dunia ini hanya kamu yang aku miliki nak. Tunggu mama sayang." Aura mencium foto putri semata wayangnya yang berada di layar ponsel.
Lais yang melihat Aura masih berada di perusahaannya langsung menutup laptopnya. Suasana hari ini sungguh jelek sekali. Padahal baru saja semalam mood baik.
Arman yang baru saja masuk memberikan berkas pada Lais binggung sendiri, kenapa ada hawa buruk yang akan terjadi.
"Pak boss, ini berkasnya yang harus di tanda tangani bapak." Arman meletakkan berkas tersebut di meja kerja Lais.
"Eemm, pergilah nanti jika sudah aku tanda tangani datanglah," Lais berucap tanpa melihat Arman yang sudah gerogi ketakutan saat ini.
Arman segera keluar dari ruangan dan bernafas lega. "Hhaah... selamat, memang hanya bu boss yang bisa membuat tenang si boss. Jika orang lain mengusiknya haduh... menakutkan sekali hawanya." Arman menebah dadanya berkali-kali.
Lais mengetuk kaca yang menyekat antara dinding dan balkon. Pikirannya terbang jauh kemana-mana, terutama Princess yang masih kecil.
Sudah satu jam lebih berkas yang harusnya sudah di tanda tangani di biarkan di atas meja tanpa membaca sedikitpun isi berkas tersebut.
"Tau begini aku tidak akan pergi ke kantor, bikin bad mood saja." Lais segera menuju meja kerjanya dan mulai membaca berkas sebelum ia tanda tangani.
Kemudian Lais menekan telpon pada sekretarisnya untuk mengambil berkas yang baru saja ia tanda tangani. Arman dengan buru-buru berlari dan mengetuk pintu ruangan Lais sebelum ia masuk kedalam ruangan.
TTOOKK...
TTOOKK...
"Masuk." Ucap Lais bad mood.
Arman segera mendekati meja Lais dan mengambil berkas tersebut dan cepat-cepat pergi namun belum beranjang 2 langkah kakinya di hentikan oleh Lais.
"Arman berhenti, jika kamu bisa melaksanakan tugas ini dengan rapi. Aku kasih kamu bonus dan libur 3 hari."
"Siap pak boss, apa tugasnya," Arman tersenyum sangat lebar. Kemudian wajahnya menjadi suram setelah mendengar perintah yang sepertinya dia akan di gantung kehidupannya.
"Bagaimana setuju atau tidak, jika tidak silahkan out pintu terbuka lebar di sebelah situ."
"Akan saya kerjakan pak boss, saya permisi dulu," ucap Arman pasrah dengan kehidupannya yang akan datang. Arman yang baru keluar dari ruangan Lais hanya menebah dadanya.
Arman menggeleng kepalannya berkali-kali melihat layar ponselnya, tugas aneh bin ajaib ini namannya. Bonusnya sih besar bahkan jika tidak berkerja 6 bulan masih bisa makan tetapi resikonya ini loh bisa-bisa kehilangan harta dalam dirinya.
CLUB MALAM.
"Haduh... si boss ini mau menjadikan aku mangsa para kucing garong ini. Ya Allah semoga selamat hidupku, meski aku pernah kesana tetapi ini tempat yang berbeda dari biasanya aku kunjungi ini namanya rajanya dunia malam terbesar di kota ini bahkan di negara ini." Arman segera mencari pakaian yang di perlukan untuk misinya nanti malam.
__ADS_1
Suara pesan masuk terdengar nyaring, Arman melihat ada uang baru masuk ke dalam kartunya, Arman segera menuju mall untuk membeli atribut yang ia butuhkan.
Setelah membeli pakaian yang ia butuhkan Arman menatap dirinya yang masih berada di dalam ruang ganti.
"Lumayan juga seperti aki-aki yang butuh dana untuk perawatan tubuh." Arman cekikikan sendiri melihat penampilannya.
Perut buncit, kumis tebal bahkan yang lebih parah rambut botak.
"AAA... HAA... HAA..., kayak kakek-kakek yang viral itu. Aa... haa... haa...." Arman terpingkal-pingkal saat mencoba pakaian seperti itu.
CCKKRREEKK
Arman segera mengirim gambar tersebut pada Lais sang boss yang menyuruh mengenakan pakaian seperti ini.
Lais yang mendapat foto tersebut sangat terkejut dengan apa yang ia lihat, apakah ini sekretarisnya atau aki-aki yang di sewa Arman untuk menggantikan tugas sulitnya malam ini.
💬 Apa ini benar kamu, Arman.
💬 Ya ini saya pak boss, bagaimana penampilan saya, tidak kelihatankan jika saya menyamar.
💬 Good job Arman, lakukan dengan baik dan benar cari bukti sebanyak-banyaknya tentang Aura. Saya tidak ingin Princess jatuh di tangan wanita yang tak punya hati itu.
Lais yang mendapati kabar bahagia ini langsung pulang, dari dulu sampai sekarang hanya Arman yang bisa di percaya dan semua tugas yang ia berikan selalu sukses entah itu masah bisnis atau percintaannya dengan Momo. Tanpa bantuan Arman yang membimbing tampilannya biar oke di depan Momo, sukses besar dan akhirnya Momo jadi istri Lais Erdana Khan seorang.
"Pulang nanti aku mau beli sesuatu saja untuk Momo, oh ya kemarinkan aku menyimpan kerang yang sangat di inginkan Momo. Aku coba buat sesuatu dari kerang itu saja nanti." Lais menatap kerang yang ia simpan di tas kecilnya.
Sore hari.
[POV Lais]
Lais mengusap perutnya yang mendadak lapar. Ia segera belokkan laju mobilnya di sebuah restoran terdekat.
Suara sepatu terdengar dan mendekatiku aku menatap siapa kira-kira orang itu, sedikit terkejut dengan apa yang baru saja aku lihat. Kenapa sepertinya pernah mengenalnya tapi dimana ya. Aku ingat, bukannya Dhela anak pemilik PT OK IKAN kenapa berkerja di restoran ini.
"Dhela." Sapaku dengan ramah.
"Eemm... maaf pak, apa anda mengenal saya?" Dhela bertanya padaku seperti tidak mengenaliku saja, dia bercanda sepertinya atau lagi ngeprank.
"Kamu Dhela kan yang dulu sekolah di SMA KEBANGSAAN." Aku tidak percaya jika dia tidak kenal nama sekolahnya sendiri dulu.
"Maaf pak, anda mau memesan apa ya pak, maaf saya tidak bisa menjawab pertanyaan bapak. Dan SMA itu saya juga tidak mengenalnya pak," jawab dengan sopan.
"???"
Ada yang tidak beres ini, kenapa dia aneh sekali sih. Sudahlah dari pada pusing memikirkan ini lebih baik aku segera pesan, perutku sudah berdemo sedari tadi.
"Nasi satu sama ayam goreng satu porsi saja ya, emm... minumnya air mineral saja." Ucapku seraya menutup buku menu.
Sambil menunggu Lais mengetik dan mencari informasi tentang PT OK IKAN. Lais mengerutkan alisnya seraya tidak percaya dengan artikel yang baru saja ia baca.
Lais matanya melotot seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat. WHAT jadi--, Lais menggantungkan pikirannya.
Aku foto diam-diam saja deh dia, masak iya dia bukan Dhela Randa sih. Orang yang sering buat masalah di sekolah dan membenci Sindy.
Makanan pesanan Lais sampai dan yang mengantar orang lain bukan Dhela, karena Dhela melayani pembeli lain. Yang kebetulan restoran ini meski kecil makanannya enak dan ramai pengunjung.
"Mbak maaf sebentar, orang itu siapa ya namannya. Bukannya dia itu Dhela anak pemilik OK IKAN di kota ini?" tanyaku penasaran.
"Iya, benar. Tetapi yang saya tau ia tidak ingat masalalunya pak, saya permisi pak!" jawab waiters yang mengantar makanan tersebut.
Lais yang tadinya penasaran kini sudah tidak lagi setelah mendengar jawaban dari waiters tersebut.
"Ternyata begitu ceritanya, kasihan sekali hidupnya orang tuanya meninggal karena kecelakaan beruntun di jalan tol, yang paling sedih jika nanti ingatan dia kembali dan mengingat masalalu saat kejadian. Aku saja yang melihat mamaku tiada di rumah sakit saja aku sangat terpukul." Lais menatap makanan yang ia pesan dan mendadak perutnya yang lapar jadi kenyang.
Lais langsung memanggil salah satu waiters untuk membungkus makanan tersebut.
Di dalam mobil.
Lais yang baru saja melajukan mobilnya langsung berhenti saat melihat seorang tukang mengambil sampah yang sedang menahan lapar sambil mendorong gerobaknya.
Dalam diri Lais langsung tergugah, ia turun dari mobilnya dan memberikan makanan tersebut kepada orang yang sedang membuka bak sampah di depan ruko.
"Permisi pak, ini ada rezeki sedikit untuk bapak." Ucapku seraya memberikan kantong keresek berisi makanan, lalu aku buka dompetku yang hanya ada uang berwarna merah sekitar 4 lembar aku berikan karena aku hanya punya segitu.
"Terimakasih banyak nak, semoga rezeki kamu berlimpah dan langgeng dalam berumah tangga," dengan terharu tukang mengambil sampah tersenyum padaku.
"Iya, sama-sama pak." Ucapku berlalu pergi dan kembali ke dalam mobil.
Masih begitu banya orang yang membutuhkan kehidupan yang layak di negara ini, yang aku lihat hanya sebagian kecil. Dulu aku juga pernah berkerja seperti ini, tetapi aku masih bisa makan dan tidak menahan lapar lantaran orang-orang baik dan mau memberiku sesuap nasinya. Aku mengalami ini saat aku mama mulai sakit dan tidak bisa berkerja lagi sampai beliau meninggal dunia.
Aku segera masuk ke dalam mobil yang aku parkirkan di tepi jalan dan segera aku lajukan ke sebuah toko perhiasan khusus untuk mendesain barang-barang. Sesampainya di sana aku menatap toko yang dulu nampak bagus sewaktu aku kecil dulu kini mulai berubah, menjadi toko yang seperti tidak berpenghuni.
Kenapa, apa sang pemilik toko telah menjualnya dan berpindah tangan atau di ganti oleh anaknya namun tidak di rawat. Aku terperana dengan apa yang aku lihat, mewah dan megah dalamnya kenapa dari luar nampak tidak terawat, banyak rumput yang merambat ke dinding atau jangan-jangan aku salah tangkap, sepertinya iya... aa... haa... haa....
"Selamat datang pak, ada yang bisa saya bantu. Silahkan pak pilih yang mana. Semua perhiasan di toko ini keluaran terbaru bulan ini." Ucap pelayan perempuan cantik dengan sopan.
"Eemm... begini mbak, saya mau memesan perhiasan tetapi menggunakan kerang ini liontinnya. Bisakan?" tanyaku menatap pelayan toko tersebut.
"Bisa pak, bapak mau mendesain seperti apa!" jawabnya sambil memberikan tab padaku.
Waaww... sangat canggih di era digital ini, semua dapat keuntungan. Baik penjual jasa atau penerima jasa, membuat orang malas membeli buku tulis atau buku gambar.
__ADS_1
Aku segera mengambar sesuai yang aku inginkan, sebenarnya di perusahaanku aku ingin mendesainnya tetapi Momo kan tau desain perusahaan lantaran dia pernah berkerja di bagian desain. Tetapi kalau aku yang langsung turun tangankan berbeda desainnya, tapi tidaklah berbagi rejeki ke orang lain saja lebih baik. Tidak selalu menguntungkan perusahaan terus menerus kasihan para karyawan kalau mengeluh kelebihan gaji dan nanti ngelunjak.