ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
171 S2


__ADS_3

Jangan lupa pencet love, like, rate bintang 5. Terimakasih dan selamat membaca.


***


Sesampainya di hotel Cheval dan Sindy merebahkan diri di ranjang ukuran pas untuk dua orang.


"Aa." Panggil Sindy dengan lembut


"Hem, ada apa sayang," menoleh ke samping kiri dan menatap sang istri yang melihat langit-langit kamar hotel tersebut.


"Tidak jadi Aa, hari ini aku seneng banget Aa. Bisa jalan-jalan ke Malioboro dan makan sate ratu yang super nikmat tadi, Aa kita jalan-jalan ke keraton yuk Aa." Menatap sang suami yang sudah terlelap dalam mimpinya.


"Iisshhh di ajak bicara malah sudah tidur dulu." Sindy mendekati sang suami dan memeluknya dari samping.


Wajah tampan Cheval membuat siapapun akan langsung terpikat hatinya di tambah lagi sikap hangatnya untuk orang tercinta.


"Alis yang bagus di tambah ini hidung yang sempurna dan bibir yang seksi sangat pas dan menawan di wajah ini." Sindy menyentuh seluruh wajah suaminya.


Pagi hari.


Sindy melonggarkan tubuhnya dari pelukan sang suami yang masih terlelap dalam tidurnya, kemudian Sindy membersihkan diri dan menuju restoran yang berada di lantai satu dan memesan makanan dan minuman. Tidak lama setelah memesan seorang pelayan hotel mengetuk pintu kamarnya dan menghantar pesanan makanan tersebut.


"Aa... bangun Aa." Sambil mencolek-colek bagian tubuh Cheval yang geli.


"Apa sayang," sambil menatap Sindy yang tengkurap dan terlihat bagian dadanya.


"Bangun, sarapan dulu Aa." Sindy duduk dan mengambilkan sarapan untuk suaminya.


Dengan penuh cinta Sindy menyuapi sang suami yang benar-benar malas mengunyah, pagi-pagi mata belum 100 persen terbuka di tambah lagi belum menggosok gigi.


"Tidak enak ya Aa, masakannya?" Sindy meletakkan piring tersebut di atas meja dorong.


"Bukannya tidak enak tapi banget sayang, apa kamu tidak sadar jika Aa baru bangun dan belum seratus persen nyawa Aa terkumpul dan langsung kamu suapi, berminyak pula makanannya. Aa mau mandi dulu!" Cheval segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.


Museum Keraton Yogyakarta.

__ADS_1


Karena di larang masuk ke dalam bagian keraton, jadi hari ini Cheval dan Sindy mengunjungi museum yang ada di tempat tersebut. Museum yang berarsitektur khas Jawa ini di dalamnya terdapat berbagai macam koleksi seperti, peralatan rumah tangga, keris, tombak, gamelan, naskah kuno, wayang, foto dan lukisan yang di perkirakan ada yang sudah berumur 200 tahun.


"Lukisannya bagus ya Aa." Sindy menatap salah satu lukisan yang terlihat sangat natural seperti benar-benar asli hidup lukisan tersebut.


"Iya, apa kamu ingin lihat yang lain sayang?" Cheval mengajak Sindy untuk melihat-lihat yang lainnya juga.


Usai mengunjugi museum Yogyakarta mereka berdua masih berada di tempat tersebut dan berkeliling seperti kemarin, namun jika kemarin menyewa delman kalau hari ini sekalian dengan sang kusir kuda.


Sindy dan Cheval banyak bergaya di depan kamera untuk mengambil beberapa foto saja tidak sampai 200 foto.


"Sepertinya ini sudah cukup berfotonya, setelah berkeliling seperti ini masih ingin ke Borobudur atau kita sambung besok sayang, mumpung ini masih siang."


"Sekarang saja Aa, lagian kita sudah membeli oleh-oleh untuk orang di rumah, sekalian kita pulang nanti," jawab Sindy dengan penuh keyakinan.


"Baiklah kalau begitu."


Keesokan harinya.


Ternyata perjalanan jauh membuat tubuh Sindy dan Cheval lemah. Ada beberapa botol minuman penambah ion yang di beli oleh Mala di toko dekat rumah.


"Iya Ma, apalagi bahu aku dan punggung rasanya mau rontok saja Ma!" jawab Cheval meminum minuman botol tersebut.


"Ya sudah kalian istirahat saja dulu, lusa jika tubuh kamu sudah membaik pergilah ke hotel bantu papa dan ayahmu." Daysi meninggalkan mereka.


"Baik ma," Cheval memeluk Sindy dari samping.


"Lepas Aa, aku juga capek Aa." Sindy menggeserkan tubuhnya.


Sindy yang menjauh dari Cheval, langsung saja Cheval menarik tubuhnya dan memeluknya sangat erat.


"Kenapa sih Aa, ada apa kenapa memelukku seperti ini. Tubuhnya panas banget lagi."


Makan siang terasa sunyi sekali, sang suami demam dan dia sendirian di rumah yang besar ini.


"Sepi banget ini rumah, telpon Momo saja deh." Mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak Momo.

__ADS_1


Momo yang tidak ada kegiatan langsung mengangkatnya dan akan ke sana sebentar lagi.


"Sindy ada apa?" Momo mencolek sambal tomat dan mengambil gorengan dan langsung memakannya.


"Tuh di kamar itu ada banyak barang-barang kemarin habis ke Malioboro!" menunjuk salah satu ruangan.


"Benarkah, aku ke sana dulu ya. Bye." Momo dengan gembiranya langsung masuk ke ruangan tersebut dan memeriksa apa benar ada buah tangan untuknya yang pas.


Momo terpanah dengan kaos dan aksesoris yang lain, serta barang-barang yang lain.


"Sindy ini, tidak pandai belanja namun sekali belanja pasti sesuai dengan kesukaan orang terdekatnya." Momo mengambil secukupnya lagian salah Sindy sendiri kenapa di suruh memilih sendiri oleh-olehnya, kan jadi khilaf seperti sekarang ini.


Momo kembali ke ruang makan dan mengambil nasi dan lauk untuk menyantap makan siang yang tadi tertunda, padahal tadi ia sedang masak mie instan. Karena di telpon ia langsung memberikan mie tersebut pada asisten rumahnya.


"Bagaimana, ada yang kamu sukai tidak?" Sindy menutup sendok dan garpu lantaran sudah selesai makan.


"Ada banyak, tuh!" jawab Momo yang sudah mengunyah makanan lezatnya.


"Kamu merampok ya, kenapa banyak sekali sih." Sindy mengomel.


"Aku tidak merampok ko, lihat saja di ruang tengah itu berapa banyak yang kamu beli. Satu tempat kamu beli apa. Lihat tuh, buka lebar mata kamu apa jangan-jangan kamu mengantuk ya," Momo juga ikut-ikutan mulai emosi.


Sindy yang berjalan ke arah ruangan tersebut, menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ternyata benar bahkan ruangan tersebut tidak ada yang tersisa untuk duduk.


"Kenapa bisa segini banyaknya, apa kemarin sewaktu ke Malioboro aku belanja banyak." Sindy kembali ke ruang makan.


Momo menatap kedatangan Sindy. "Sudah sadar seberapa banyak kamu membeli barang-barangnya?" Sindy menganggukkan kepala dan tersenyum.


"Makanya kalau belanja kira-kira dan lihat berapa banyak yang di beli, malu sendiri kan jadinya. Untung makanannya enak jadinya aku bahagia."


Usai makan siang di kediaman Malik, Momo masih asik berbaring di kamar bundanya. Benar-benar rasa rindu dengan bundanya memuncak. Momo memutuskan nanti sore mengunjungi makam bunda.


"Ke makam bunda saja, aku rindu dengannya."


Momo segera pergi dari kediaman Malik, karena tidak menemukan Sindy ia hanya menitipkan pesan pada Mala, jika dirinya pulang.

__ADS_1


 


__ADS_2