ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
247. Takut kehilangan


__ADS_3

Meski gak bisa banyak up nya, yang penting karya orisinil dan bukan plagiat.


***


"Beneran mau pulang sekarang sayang?" Lais masih saja memeluk pinggang Momo.


"Iya mas, aku bosan di sini!" Momo menggenggam erat pergelangan tangan Princess.


"Ya sudah jika ingin pulang, tidak apa-apa. Hati-hati sayang menjaga anak-anak kita." Lais mencium dahi Momo.


"Iya," Momo bergegas pergi dengan Princess.


Saat di perjalanan hanya ada suara tawa dari Momo dan Princess. Sopir yang mengemudikan jalan tersenyum melihat Bu boss dan nona mudanya bersenda gurau.


"Keluarga ini sudah lengkap dan indah, semoga langgeng sampai akhir nanti. Kami yang berkerja di rumah sangat bahagia melihat hubungan suami istri dan putri kecilnya itu." Sang sopir berdoa.


Kediaman Erdana Khan.


Sindy yang berada di rumah itu hanya menatap sekilas saat ia kerepotan membawa cat tembok yang beberapa ia beli tadi.


"Awas kalau nanti hasilnya bagus atau jelek di komen pedes banget, aku semprot pakai cat ini." Sindy menggerutu saat bicara.


"Sindy." Sayup-sayup Sindy mendengar seseorang memanggil namanya, ia pun langsung menoleh ke sumber suara itu.


Sindy mengerutkan alisnya, kenapa orang itu datang ke sini sedangkan Lais tidak ada di sini. Siapa yang ingin ia temui, masa iya istrinya.


"Eh... kamu Filan, lama gak bertemu beberapa minggu ini." Sindy sedikit bingung membuka percakapan seperti ini.


"Lagi apa, kenapa banyak sekali cat dan perlengkapannya di tangan kamu. Sini aku bantu, mau di letakkan kemana semua barang-barang ini?" Tanyanya tersenyum tampan.


"Biasa, bumil lagi mau dekorasi kamar bayinya!" Sindy berlalu pergi.


Filan hanya mengekor, lantaran ia tidak tau kamar yang akan di desain oleh Sindy. Kamar cukup luas untuk bermain bola basket. Benar-benar pemborosan menurut Filan, lagian anak masih kecil bahkan belum lahir kenapa menyiapkan kamar sebesar ini.

__ADS_1


"Em... Sindy, yakin mendesain kamar sebesar ini sendirian?" Filan mencoba bertanya, ia sedikit ragu jika Sindy mampu dalam bidang ini.


"Ternyata, ada orang yang meremehkan ahlinya. Lihat saja nanti jika sudah selesai. Oh... ya tadi kamu kesini ada apa? Bukan sedang menggoda istri orang kan?" Canda Sindy.


Filan yang mendengar itu hanya tersenyum kecut, lagian siapa yang mau menggoda istri orang. Seperti kurang pekerjaan saja pikirnya.


"Buktikan saja hasilnya, jangan sombong di dahulukan. Kenapa jadi bahas masalah itu sih, seperti aku seorang pebinor aja!" Jawab Filan meletakkan barang-barang tersebut dan pergi begitu saja.


Sindy hanya mengerutkan alisnya, sepertinya ucapannya barusan menyingung hati kecilnya. Biarlah, lagian memang apa adanya. Tidak dapat di elak seberapa playboy Filan, dari bangku sekolah sampai sekarang menjadi Dokter.


Filan duduk termenung di taman, benar ucapan Sindy. Kenapa ia selalu hawatir jika Momo di sakiti suaminya lagi. Bukannya sekarang Momo sudah bahagia dan baik-baik saja, bahkan ada calon bayi mereka yang akan segera lahir beberapa bulan lagi.


Momo yang baru saja menghantar Princess ke taman bermain kini menemui Filan.


"Ada apa kesini lagi, aku tidak mau ada kesalah pahaman di rumah tanggaku?" Momo duduk sangat jauh dari Filan.


"Apa aku sudah tidak boleh kemari, aku tau dan sadar diri Momo. Tapi aku cuma hawatir kamu di lukai dia lagi dan lagi!" Filan beranjak pergi setelah menyampaikan kehawatiran nya.


Momo hanya terdiam di tempat. Terkadang ucapan dari orang-orang yang berada di dekatnya ada benarnya juga.


"Apa nasibku harus seperti ini, kenapa???" Momo menatap ke bawah, air matanya tiba-tiba runtuh seketika. Apakah sikapnya selama ini selalu memberi harapan lebih pada orang lain, jika itu benar Momo berharap dan berdoa. Semoga ia mendapatkan pasangan yang lebih baik dari sebelumnya.


Lais yang berada di kantor mulai gelisah, ia terus saja memikirkan Momo yang berada di rumah. Apakah dia baik-baik saja, sudah makan dan istirahat atau belum.


Lais mencoba menghubungi Momo tapi tidak ada jawaban sama sekali, bahkan pesan singkatnya saja juga tidak ada tanggapan atau sekedar di lihat saja. Pada akhirnya Lais menelpon rumah, dan bertanya apa istri dan putrinya sudah kembali. Rasa hawatir Lais hilang seketika saat mengetahui istri dan anaknya sudah sampai rumah dengan sehat dan selamat.


"Ya Allah, jika suatu hari nanti tiba hari dimana aku tidak bisa memiliki dia lagi. Aku berusaha ikhlas Ya Allah." Momo menatap langit yang cerah.


Malam hari.


Momo bersikap seperti biasanya, ceria seolah tidak ada yang terjadi. Memang tidak ada yang terjadi maka dari itu Momo santai tanpa beban.


"Sayang." Lais memeluk sang istri.

__ADS_1


"Iya Mas," mengusap lengan milik Lais.


"Kenapa tidak menjawab telpon dan tidak membalas pesanku, apa kamu marah denganku sayang?" Lais membalikkan tubuh Momo.


Momo hanya menggelengkan kepalanya.


"Tidak apa-apa mas, mungkin kecapekan saja aku!" Momo membenarkan selimutnya dan mulai memejamkan matanya. Meski berat dan tidak mau terpejam Momo terus berusaha, rasanya ia tidak mau tertidur dan kehilangan suaminya.


"Apa sebegini takutku kehilangan orang yang di cintai, aku sudah kehilangan kedua orang tuaku kemudian aku gagal hamil sewaktu yang pertama itu dan... apa aku sanggup dan bisa kehilangan dia." Momo membatin dan menatap suaminya yang ternyata sudah tidur sambil bersandar di tempat tidur.


Momo memunggungi suaminya, sambil mengusap perutnya secara perlahan. Dalam setiap waktu Momo berdoa Kepada Yang Maha Pencipta, ia memohon untuk hidup bahagia di dunia dan akhirat.


Lais langsung merapatkan tubuhnya saat ia merasa Momo tidak ada di lengan kirinya. Pelukan hangat melingkar di perut Momo bagian atas.


"Aku mencintaimu sayang." Kecupan di rambut Momo.


"Aku juga mas, bahkan lebih besar," Momo berucap dalam hati.


Keesokan harinya.


Perut Momo serasa tidak nyaman, ia beberapa kali ke kamar mandi. Rasanya mual saat mencium masakan yang biasanya jadi makanan kesukaannya.


"Mas... singkirkan itu, perutku tidak nyaman sekali." Momo melambaikan tangannya dan masuk ke kamar mandi lagi.


Lais bergegas mengemasi makanan tersebut dan meletakkannya di meja dorong dan mengembalikan semua menu di dapur.


"Padahal aku berusaha memasak untuknya, ternyata ia tidak bisa mencium bau-bau masakan ku ini." Lais kembali ke ruang makan dan menunggu Momo yang masih berada di dalam.


Sebenarnya kamar mandi dan ruang makan berdekatan hanya tersekat satu ruangan, memang sengaja untuk berjaga-jaga saat darurat seperti ini.


"Sayang, perlu mas bantu?" Tanya Lais mengetuk pintu.


"Tidak mas!" Momo segera membuka pintu kamar mandi dan mengelap dengan tisu. Lais memberikan air putih pada istrinya.

__ADS_1


***


Berusaha up meski sibuk sekali, terimakasih buat yang baca sampai sini dan mendukung karyaku ini.


__ADS_2