ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
162 S2


__ADS_3

Jangan lupa tinggalkan jejak. Terimakasih untuk teman-teman yang sudah memberikan hadiah atau vote pada karyaku ini, dukungan kalian penyemangatku untuk terus berkarya, sekali lagi terima kasih ya.


Selamat membaca lagi.


***


Lais yang berada di jalan menutup kaca helmnya, ia sedikit mengeluarkan air matanya. Baru kali ini dia menangisi seorang wanita selain mamanya sendiri.


Rasanya sungguh sakit tidak di takdirkan berjodoh dengan wanita yang di cintai nya untuk sekarang, semoga tahun yang akan datang jodoh ini bisa bersama kembali, pulang ke tempatnya.


Apartemen Emillia.


Emillia sedang memasak makanan yang terbuat dari spaghetti, ia ingin sekali merasakan makanan ini saat di Indonesia dan menu lainnya.


"Sepertinya ini enak sekali." Emillia bermain ponsel sebelum ia makan, niatnya ingin meletakkan di samping kuah sup yang ia buat.


Ttaakk


Suara benturan mangkuk dengan benda lain yaitu ponsel kesayangannya. Emillia terkejut bukan main, iya meletakkan ponselnya tidak tepat di meja melainkan di mangkuk sup.


"Oh... my God." Emillia langsung mengambil ponsel tersebut dan meletakkannya di samping mangkuk, ia meremas kuat rambutnya.


Rasa lapar dalam perutnya seketika hilang saat benda pipih tersebut menyelam di mangkuk. Ia langsung mengambil mantel jasnya dan mengambil barang-barang pribadinya dan turun ke lantai dasar.


"Sial sekali, mau pesan taxi atau ojek tidak ada aplikasi gara-gara punya ponsel satu. Aku beli yang baru saja sambil menunggu perbaikan." Emillia menatap kesana kemari, mau bertanya bingung harus berawal dari apa.


Sejauh satu kilo meter Emillia berjalan kaki, sudah biasa baginya berjalan jauh lantaran ingin sehat dan menjaga badan, mengingat ia suka sekali dengan makanan siap saji.


Toko handphone.


Emillia masuk dan berjalan ke toko tersebut, sambil melihat-lihat Emillia menatap satu persatu ponsel yang cocok dan sesuai dengannya.


"Ini saja, tidak ada yang lebih bagus lagi. Sepertinya ini produk yang paling bagus di toko ini." Gumam lirih Emillia.

__ADS_1


Lais yang hari ini berkerja di pusat perbelanjaan hanya tersenyum dan melambaikan tangan untuk menawarkan produk, ia berada di tempat Emillia membeli ponsel.


Malam hari.


Filan sedang bersama Momo di kediaman Malik, mereka berdua belum kembali lantaran Filan yang ngotot pengen di rumah tersebut dengan alasan menemani Momo yang sedang sedih untuk menghiburnya.


"Benar-benar berharap lebih kamu, aku tidak bisa aku hanya bisa memberimu sebuah teman atau sahabat yang lain, maaf aku tidak bisa dan aku terlanjur mencintainya." Momo mengeluarkan isi hatinya.


"Aku tau, aku akan menemanimu sebagai sahabatmu saja. Jika kamu butuh sandaran aku siap jadi pendamping kegelisahan dan kegalauanmu," Filan berbicara dengan penuh keyakinan.


"Terimakasih Filan." Momo berlalu pergi.


Filan yang sudah memegang pintu mobil langsung membukanya dan masuk ke dalam, ia tersenyum menatap Momo yang melambaikan tangannya. Momo begitu cantik dan menggemaskan, sedikit bawel jika sudah mengenalnya lama.


Cheval yang tadinya ingin mengambil sesuatu di mobil ia urungkan dan lebih memilih mendengar pembicaraan Filan dan Momo.


"Ternyata mencari bahan untuk bergosip sangat mudah." Gumam lirih Cheval.


Momo terkejut saat berbalik badan dan melihat Cheval tengah tersenyum sambil menunjukkan kedua ibu jari tangannya, apa maksudnya coba.


"Tidak apa-apa, jika sudah move on Aa setuju dengan dia. Bisa jadi setelah denganmu dia taubat dan gak playboy lagi!" jawab Cheval mengangkat kedua bahunya dan meninggalkan Momo yang masih terpaku di tempatnya.


"Terserah Aa deh," ucap lirih Momo. "Aa... aku pulang, sopir ayah sudah menjemput." Momo berteriak sambil berjalan menuju ke dalam rumah dan berpamitan terlebih dahulu sebelum ia pulang.


Dalam perjalanan Momo menatap lampu kelap kelip di sepanjang jalan yang di lalui, banyak yang sudah berubah jalanannya. Dulu tempat ini tidak seramai sekarang yang banyak berjualan, hampir setiap rumah berjualan ini dan itu.


Keesokan harinya.


Sindy menyiapkan pakaian untuk Cheval, hari ini sang suami memaksakan diri ingin ke kampus. Padahal sudah di larang mati-matian oleh Sindy namun tetap saja Cheval bersikukuh untuk masuk dengan alasan mengawasi ujian.


"Aa yakin ke kampus hari ini, baru kemarin loh Aa keluar rumah sakit. Aku tidak mau Aa kenapa-kenapa, apa Aa tidak kasihan dengan istrimu yang cantik ini berjuang ujian." Rentetan kehawatiran Sindy muncul.


Cheval menyentuh kepala Sindy dan sedikit mengacak-acak rambut Sindy.

__ADS_1


"Tidak apa-apa percaya denganku sayang, bukannya semalam sudah terbukti aku kuat dan tidak pingsan ataupun demam lagi," Cheval mengingatkan kejadian semalam.


Betapa malunya Sindy saat sang suami di suruh untuk menggarukkan punggungnya yang terasa gatal dan tidak cepat mereda. Apalagi di bagian pakaian dalam atas.


"Iya... iya... aku percaya, ya sudah ayo turun perutku sudah lapar dan minta di isi dengan segera." Sindy meraih tas.


Ksatria dan Daysi juga sudah rapi dengan pakaian setianya selama ini, karena mereka berdua yang menangani hotel Royal Malik.


"Aa, ada yang ingin papa sampaikan." Ucap di sela-sela makannya.


"Di kunyah dulu pa, baru bicara," Daysi menyodorkan air putih pada Ksatria yang hampir tersedak makanan karena seret makanannya.


"Ada apa sih pa, sepertinya penting?" Cheval mengambil lauk dan meletakkannya di piring.


"Sangat penting Aa, kamu harus mengambil alih Royal Malik bagian hotel dan apartemen!" jawab Ksatria yang masih mengunyah sarapannya.


"Papa kenapa tiba-tiba menyuruhku terjun ke hotel dan apartemen sih, bukannya papa tau aku ingin jadi Dosen. Apalagi aku sudah mengajukan jadi Dosen tahun ini dan akan bertugas di Surabaya." Cheval langsung tidak semangat sarapan pagi.


"Terus siapa lagi jika bukan kamu Aa, Sindy masih baru masuk kuliah begitu juga dengan Momo, apa kamu tega membiarkan istri dan adik perempuanmu Momo berkerja keras yang seharusnya kamu lakukan, kamu anak laki-laki sendiri di keluarga ini dan satu-satunya putra yang sudah lulus S2 di New York," Ksatria mengomel lagi.


"Baiklah jika seperti itu pa, kapan Aa mulai berkerja di kantor papa?" Cheval mengunyah makanan dengan malas.


Sementara Sindy menggenggam erat tangan kiri Cheval untuk menyemangatinya.


"Secepatnya, karena hotel dan apartemen kita juga butuh inovasi baru dari pemikiran muda sepertimu!" Ksatria mengambil tisu mengelap bibirnya. "Ayo ma kita berangkat." Ksatria mengenakan jasnya.


"Papa tunggu kamu di perusahaan." Ksatria menatap sekilas putra dan putrinya.


"Sudah pa ayo, kalian berdua masih muda ayo semangat. Papa dan mama berangkat dulu." Daysi berlalu pergi menyusul sang suami.


Sindy menyentuh pipi Cheval dan memberikan ciumannya.


"Semangat Aa suamiku." Sindy hanya bisa menyemangati sang suami.

__ADS_1


"Padahal Aa ingin sekali menjadi Dosen dan tidak terjun ke dunia bisnis, apalagi properti. Meski Aa tau bisnis ini sangat menguntungkan jangka panjang tapi Aa ingin berbagi ilmu supaya ilmu yang Aa dapatkan bermanfaat, dunia akhirat," Cheval benar-benar tidak melanjutkan makannya.


Sindy langsung berdiri dan mengambil kotak makan dan menyiapkan bekal untuk suaminya.


__ADS_2