ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
Promosi lagi


__ADS_3

judul Hot Daddy dan gadis Polosnya


Tantangan terberat ku mengendalikan naf..su Daddy.


"Daddy.. takut" wajahku menengadah menatap penuh sendu dari raut wajah cantikku yang akan memikat laki-laki manapun termasuk Daddy.


"Takut kenapa?" secara berpengalaman dan umur sudah bukan kategori remaja muda melainkan akut bukan aki-aki.


"Itu!" dengan polosnya menunjuk si benda panjang dan besar untuk di genggam.


"Kan sudah Daddy ajarin kemarin, gak perlu takut jika sudah masuk dan di diamkan sebentar pasti gak akan sakit lagi gadis kesayangan Daddy." Daddy berusaha menenangkan aku.


"Beneran Daddy?" tanyaku pada Daddy,aku rasa akan sakit jika benda di depan mataku ini melesak masuk.


Hay.. perkenalkan namaku Himalaya gak ada embel-embel nama Daddy sebab aku bukan anak angkatnya aku hanya gadis kecil yang ia rawat semenjak aku duduk di bangku SD kelas 6, cantik, modis tentunya dan badanku ini seperti gitar spanyol kata Daddy tapi aku tau dia berbohong dan sekarang aku ingin teriak sejadi-jadinya.


Umurku bukan belia lagi sebenarnya, sekarang usiaku menginjak 22 tahun. Tapi sayang seumur hidup tidak bisa pacaran sebab ini orang selalu saja menghantui setiap langkahku, apalagi di saat ada beberapa laki-laki yang hendak mendekatiku pasti Daddy selalu menghalanginya.


Tapi sebelum perkenalan yang lain aku mau mengenalkan Daddy ku ini, dia namanya Afzal Ezra Permadani. Umur jangan di tanyakan lagi dia sudah tidak muda lagi, umurnya sepuluh tahun lebih tua dari ku. Tahu kan sekarang umurnya berapa. Dan aku mau membahas nama belakang aku yang tidak pernah aku miliki, tapi kata Daddy aku akan mendapatkan nama itu setelah aku menikah nanti, tapi.. siapa calonnya jika Ezra menguasai aku.


"Apa aku boleh menolak Daddy?" tanyaku saat Daddy hendak memasukkan miliknya.


"Tidak boleh!" Daddy ku ini memang keras kepala.


"Kenapa aku tidak boleh menolaknya, lagian kita tidak ada ikatan pernikahan Daddy.. bukannya tidak boleh melakukan itu sekarang Daddy." Ucapku yang berhasil membuat Daddy menghentikan aksinya.


Yess.. berhasil lagian salah Daddy sendiri membawa wanita pakai pakaian kurang bahan di kantor kemarin.


"Kamu ini...," aku tau Daddy marah tapi biarkan saja marah. Dan bye... bye... Daddy ku yang malang.

__ADS_1


Kalau mau menuntaskan ya di kamar mandi main solo sendiri kata temenku waktu itu.


"Lagi apa?" saat aku memergoki salah satu teman laki-lakiku di kampus sebelum lulus beberapa bulan yang lalu.


"Eh.. gak lihat apa-apa, aku ke toilet dulu ya" alasan yang tidak masuk akal.


Setelah keluar aku di buat terkejut bukan main dia senyum lebar seperti itu, kalau Daddy tau dia bakalan babak belur.


puft


"Kenapa tertawa?"


"Celana kamu gembung tuh, kenapa begitu besar." aku menatap benda itu sambil ku tunjuk itunya, benda yang pernah aku lihat juga di celana Daddy tapi lebih menonjol milik Daddy dari pada milik Yuda.


"Barusan main solo di sana" menunjuk kamar mandi.


"Aku jelaskan ya.. main solo itu seperti apa ..." setelah selesai menjelaskan semua itu, aku baru paham dengan gembung an yang berada di dalam celana dan apa itu main solo.


Ternyata gak sia-sia aku kenal dengan Yuda, sableng-sablengnya Yuda ternyata masih ada gunanya untuk menimba ilmu dengan dia, benar-benar dapat ilmu yang bermanfaat untukku, jadi.. nanti saat Daddy tanya sesuatu aku tidak bingung lagi. Yess...


Aku menunggu Daddy keluar dari kamar mandi, kenapa lama sekali padahal sudah dua puluh menit berlalu tapi Daddy tidak kunjung keluar? apa Daddy baik-baik saja? aku hawatir dengan Daddy lalu aku mendekati daun pintu kamar mandi dan mencoba mengeceknya.


"Ssseett.. ah..." Samar-samar aku mendengar suara Daddy yang berat itu.


Lagi apa sih Daddy, aku menempelkan telingaku tepat di pintu kamar mandi agar aku lebih jelas mendengarnya tapi cuma itu yang aku dengar ssseett.. ah.. doang tidak ada yang lain lagi. Nanti coba aku tanya ke Daddy apa yang Daddy lakukan barusan di kamar mandi kenapa ada suara begitu. Apa Daddy terjatuh di kamar mandi, tapi kenapa tidak ada suara gedebuk bruk atau klotak dan lainnya.


"Lama banget Daddy? apa Daddy masih di kamar mandi dengan suara aneh itu." Melangkah mendekati kamar mandi tapi suara handel pintu kamar mandi terbuka.


Ceklek.

__ADS_1


Himalaya sudah terbiasa melihat perut daddy-nya, tidak six pack tapi lumayan rata dan tertata rapi no buncit-buncit.


Waw.. perut Daddy, rasanya ingin memeluk Daddy.


Hendak memeluk.


"Mau ngapain? setelah membuat Daddy kepanasan lalu mau peluk-peluk lagi. No.. gadisnya Daddy." Tolaknya ke aku dengan kejam sekali bahkan badannya sudah ia bentengi dengan bersedekap di depan perutnya.


Apa salahnya sih Daddy? peluk dikit juga gak bakalan tuh perut jadi buncit.


"Daddy.. apa salahku Dad.. apa karena aku mendengar suara Daddy di kamar mandi tadi sampai-sampai Daddy marah?" aku berusaha menatap wajah Daddy dan aku tau pasti sebentar lagi mataku ini menangis.


Benar-benar cengeng, padahal Daddy tidak marah hanya melototkan mata saja.


"Kamu mendengar suara Daddy disana?" Daddy bertanya aku langsung mengangguk.


"Daddy tadi ngapain disana, bahkan Hima mendengar suara Daddy ssseett.. ah... Apa Daddy terjatuh?" lagi-lagi pertanyaanku di pelototi Daddy, apa ada yang salah.


"Kamu," Daddy langsung membopongku ke atas tempat tidur lagi seperti tadi sebelum Daddy masuk ke kamar mandi.


"Dad.. em..." Bakalan monyong ini bibir terus-menerus di hisap.


Sudah ciuman pertamaku di ambil Daddy dari waktu aku SMA kelas 2 dan sekarang dengan seenaknya sendiri Daddy bersikap aku ini seperti istrinya saja. Aku berusaha mendorong Daddy tapi percuma Daddy badannya lebih kuat dariku.


"Ini hukuman dari Daddy sebab gadis Daddy berani mendengar itu tanpa bertanggung jawab" aku terdiam mendengar perkataan Daddy, hukuman ko di cium mana ada.


Hukuman yang ada itu lari keliling lapangan atau yang lainnya, ini tidak hukuman ko nikmat seperti ini. Dulu saat masih sekolah tidak pernah aku merasakan hukuman begini, di tambah lagi saat aku dan Daddy baru bertemu Daddy tidak pernah menghukum ku dengan cara di cium seperti penyedot debu.


Terus kenapa harus bertanggung jawab? kan aku cuma menempelkan daun telingaku saja dan hanya mendengar suara Daddy saja tidak lebih dari itu. Apa salahnya jika kepo sedikit, lagian aku juga ingin tau seperti apa main solo secara live? apa seperti konsernya artis di atas panggung. Dengan goyangan maut yang aduhai menggugah selera seperti mie instan pakai telur satu dan cabai.

__ADS_1


__ADS_2