ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
86 Sakit


__ADS_3

Pantai.


Aurellia langsung melepas sepatu yang ia kenakan, air laut mengigatkan nya pada sang kakak sewaktu masih duduk di bangku SMA dulu, sering sekali Ksatria mengajak nya ke pantai sedangkan sekarang ia kesini dengan orang baru yaitu suami nya Sacha Mahendra.


Aurellia menata wajah tampan Sacha yang terkena angin laut yang kuat. Sacha yang merasa di lihat terus oleh Aurellia segera menghancur kan tatapan buas Aurellia.


"Jangan di tatap terus, di cium juga boleh loh," tersenyum jahil.


"Siapa juga yang menatapmu, saya cuma heran kenapa ada orang setampan dirimu, uuppss keceplosan." Sambil cengegesan.


"Tambah pandai mengombal ya," mengacak rambut Aurellia yang sudah berantakan karena terterpa angin laut. "Apa kamu menyukai tempat ini." Menatap ke arah laut.


"Iya, disini tenang dan damai. Hatiku sangat bahagia," Merentang kan tangan nya.


"Jika denganku apa kamu tidak bahagia," tiba-tiba bibir Sacha mendekati pipi Aurellia dan mencium sekilas. Aurellia yang hendak memejam kan mata nya langsung terkejut dengan perbuatan Sacha barusan.


"Tambah mesum suamiku," berjalan mendekati air yang ada di pantai.


"Hati-hati saya tidak mau terjadi apa-apa padamu, nanti pulang-pulang saya di jemur lagi oleh kakak ipar Ksatria." Goda Sacha sambil merangkul pinggang Aurellia.


"Cih... modus, mau peluk aja bawa-bawa kakak," menyenderkan kepal nya di dada sebelah kiri Sacha.


"Sesekali biar romantis walau pun cara nya salah." Mengerat kan pelukan nya.


Setelah menikmati matahari terbenam Sacha menggengam erat tangan Aurellia seakan enggan untuk terpisah, perut Aurel tiba-tiba berdemo minta di isi sesegera mungkin.


"Ayo kita makan di warung itu," ajak nya masih menggengam erat jemari kecil Aurel.


Kediaman Malik.


Daysi yang sudah selesai memasak kini langsung menata semua makanan di meja makan, Daysi memastikan jika makana nya baik untuk di konsumsi. Daysi yang melihat Ksatria yang begitu sangat mencintai Cheval ada rasa iri di hati nya mungkin hormon hamil saat ini.

__ADS_1


"Jika nanti anak kita lahir apa kamu akan seperhatian itu Sat?" tanya dalam hati.


Daysi berjalan mendekat ke tempat bermain. "Ayo makan dulu, biar Aak aku yang suapi."


Ksatria menimang-nimang Cheval dalam pangkuan nya. "Tidak usah, biar saya yang menyuapi Aak, kamu makan dulu ya." Sambil tersenyum.


"Baiklah, ini kamu suapi Aak. Aku makan dulu," beranjak pergi setelah memberi kan mangkuk kecil pada Ksatria.


Daysi yang berada di meja makan kehilangan selera tiba-tiba, gelisah mulai terpancar di wajah pucat Daysi. Daysi menghela nafas panjang dan meletak kan sendok nya ke piring dan berlalu pergi dari ruang makan.


Mbok Yati yang melihat Daysi tidak menyentuh makanan nya sama sekali merasa hawatir dan langsung melaporkan pada Ksatria.


"Mbok ada apa?" tanya Ksatria yang masih menyuapi Cheval dengan telaten.


"Nak Daysi tidak mau makan den." Ucap mbok Yati berterus terang.


"Baiklah mbok, ini suapi Aak dulu. Seperti nya ia tidak nafsu saat ini. Biar saya yang membwakan makan untuk Daysi," Ksatria berlalu pergi.


KKRRIIEETT..., suara pintu terbuka lebar dengan senyum merekah Ksatria membawa kan Daysi makannan. Daysi menatap sekilas siapa yang masuk, ternyata sang suami sambil tersenyum membawa nampan.


"Kamu tidak makan?" mendekati Daysi dan duduk di samping nya.


"Tidak, aku tidak mau makan sore ini!" dengan ketus Dayai menjawab.


"Kamu kenapa sih saya tanyai baik-baik jawaban kamu ngegas begitu." Ksatria menatap heran pada Daysi.


"Jika tidak suka jawaban ku jangan mendekat bikin orang marah saja," merebahkan tubuh nya dan memunggungi Ksatria.


Ksatria meletak kan nampan nya di atas meja bawah lampu tidur. Ksatria mendekat dan memberikan kecupan singkat di pipi Daysi, Daysi yang masih mode marah membiar kan Ksatria melakukan itu.


"Beneran marah ini, ya sudah saya pergi. Jangan lupa di makan." Ksatria beranjak dari ranjang, belum juga keluar dari kamar Ksatria mendengar isakan tangis Daysi.

__ADS_1


Ksatria segera menghampiri Daysi, "kenapa kamu menangis sayang," sambil memeluk tubuh Daysi dengan lembut. Daysi hanya menggelengkan kepala nya.


"Lapar, suapi aku," nada manja Daysi keluar.


Ksatria yang heran ingin sekali tertawa, di kira Ksatria tadi istrinya akan meminta untuk tidak pergi ternyata hanya berucap lapar saja.


"Saya suapi?" mengambil nampan yang ada di meja lampu.


"Tidak usah sini, bisa makan sendiri aku bukan bayi." Memakan dengan lahap.


Ksatria yang ingin beranjak langsung di hentikan dengan tatapan mencekik Daysi. "Kenapa mata bulatmu seperti itu." Dengan bercanda.


"Suka-suka aku, ini mata aku mau melotot atau menyipit itu hak ku," melajutkan makan nya. Setelah habis Daysi memberikan pada Ksatria.


"Iisshh... dasar ibu hamil." Berdiri mengambil air yang ada di meja dekat sofa.


"Biarin, gini-gini siapa yang buat aku hamil. Sudah punggungku mati rasa setelah berbaring di tambah pertanyaanmu yang konyol," celoteh Daysi.


"Jadi kamu menangis tadi gara-gara punggung kamu yang tidak bisa bangun?" Ksatria menatap Daysi, Daysi cengegesan.


Setelah banyak berbicara ini itu Daysi yang kelelahan akhir nya merebahkan badan nya. Sementara Ksatria seperti biasa makan terlebih dahulu di ruang makan kemudian ia akan berolah raga. Daysi yang hafal dengan tubuh nya akhir-akhir ini hanya menghela nafas jika nanti ingin ke toilet. Dan benar saja ia terasa ingin buang air kecil.


"Tuh... kan rewel nih badan tidak mau bangun, kalau aku kencing disini kan bau nanti." Dengan susah payah Daysi bangun dengan sekuat tenaga. Setelah berhasil Daysi menuju kamar mandi dengan tergopoh-gopoh.


Di dalam mobil.


Sepasang suami istri ini sedang menikmati masa-masa bahagia nya tanpa ada gangguan sedikit pun dari orang lain, namun kebahagiaan itu hilang sekejab saat mobil yang di kendarai Sacha bertabrakan dengan mobil lain yang lebih besar darinnya.


"Sacha awas," teriak Aurel namun naas mobil menghantam lebih dulu dan mengakibat kan kecelakaan dua mobil.


Aurellia yang sedikit sadar menyentuh pipi Sacha sebelum ia pingsan menyusul suaminnya. Suara mobil ambulan yang di telpon oleh saksi tempat kejadian sudah datang dan polisi juga langsung olah TKP. Banyak lumuran darah baik dari Aurellia mau pun Sacha. Sesampai nya di Rumah Sakit Sacha dan Aurellia segera di selematkan oleh Dokter dan kebetulan Dokter yang menagani adalah Ano. Dokter Rumah Sakit ini serta pribadi kediaman Malik. Ano yang masih melakukan operasi kini hanya berharap nyawa kedua nya bisa terselamat kan jika tidak pasti Ksatria akan mengubur nya hidup-hidup.

__ADS_1


__ADS_2